Ilustrasi lansia. Peneliti Rusia mengungkap secara teoretis usia manusia bisa mencapai 156 tahun.(Dok. Freepik/Freepik)
Buletinmedia.com – Berapa lama sebenarnya manusia bisa hidup? Selama ini, usia manusia dianggap memiliki batas yang cukup jelas. Rata-rata harapan hidup memang berbeda di setiap negara, tetapi tubuh manusia pada akhirnya tetap mengalami proses penuaan yang tidak bisa dihindari.
Dalam berbagai literatur kuno, usia 70 tahun bahkan kerap digunakan sebagai gambaran mengenai panjang umur manusia. Seiring perkembangan ilmu kedokteran dan teknologi, angka harapan hidup terus mengalami peningkatan. Namun, pertanyaan mengenai seberapa jauh usia manusia dapat diperpanjang masih menjadi bahan penelitian para ilmuwan.
Belakangan, berbagai metode untuk memperlambat penuaan juga semakin populer. Di media sosial, misalnya, banyak muncul pembahasan mengenai anti-aging, biohacking, suplemen, hingga berbagai metode yang diklaim mampu membuat tubuh tetap muda lebih lama.
Namun, penelitian terbaru memberikan gambaran yang cukup menarik. Manusia secara teoritis memang memiliki kemungkinan untuk hidup jauh lebih lama dibandingkan usia rata-rata saat ini. Akan tetapi, tubuh manusia tetap memiliki batas biologis yang sangat sulit ditembus.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal NPJ Aging memperkirakan bahwa manusia secara teoritis dapat hidup hingga usia sekitar 146 sampai 194 tahun apabila sebagian besar mekanisme penuaan berhasil dikendalikan.
Angka tersebut tentu terdengar sangat jauh dari usia manusia pada umumnya. Namun, para peneliti menemukan adanya satu proses biologis yang masih dapat menjadi penghambat utama, yaitu mutasi somatik.
Mengapa Manusia Mengalami Penuaan?
Penuaan merupakan salah satu proses biologis yang paling kompleks. Setiap manusia mengalaminya, tetapi para ilmuwan masih terus berusaha memahami seluruh mekanisme yang menyebabkan tubuh kehilangan kemampuan untuk mempertahankan fungsi secara optimal.
Penuaan tidak terjadi hanya karena seseorang bertambah usia. Di dalam tubuh, terdapat berbagai perubahan pada tingkat sel dan jaringan yang berlangsung secara perlahan.
Salah satu penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cell pada 2023 mengidentifikasi 12 ciri utama penuaan biologis.
Ciri-ciri tersebut mencakup berbagai perubahan, mulai dari meningkatnya mutasi genetik ketika sel membelah, gangguan dalam produksi dan pemeliharaan protein, perubahan komunikasi antarsel, hingga menurunnya fungsi mitokondria yang berperan penting sebagai penghasil energi bagi sel.
Perubahan tersebut berlangsung secara bertahap. Dalam kondisi tertentu, sebagian mekanisme penuaan sebenarnya dapat diperlambat.
Salah satu contohnya adalah pemendekan telomer. Telomer merupakan bagian pelindung yang berada di ujung kromosom dan berfungsi membantu menjaga kestabilan DNA.
Seiring sel mengalami pembelahan, telomer secara bertahap dapat memendek. Proses tersebut kemudian dikaitkan dengan penuaan sel.
Sejumlah penelitian terus dilakukan untuk mengetahui apakah proses tersebut dapat diperlambat atau bahkan dimodifikasi. Namun, sampai saat ini belum ada terapi yang terbukti mampu menghentikan seluruh proses penuaan manusia.
Mutasi Somatik Jadi Perhatian Utama
Dalam penelitian terbaru, para ilmuwan memberikan perhatian khusus terhadap mutasi somatik.
Mutasi somatik merupakan perubahan materi genetik yang terjadi pada sel-sel tubuh. Berbeda dengan mutasi pada sel reproduksi, mutasi somatik tidak diwariskan kepada keturunan.
Perubahan tersebut dapat terjadi secara alami ketika sel mengalami pembelahan.
Tidak semua mutasi somatik berbahaya. Sebagian perubahan genetik tidak memberikan dampak berarti terhadap fungsi tubuh.
Namun, ada pula mutasi yang dapat mengganggu fungsi sel. Dalam kondisi tertentu, kerusakan tersebut dapat menyebabkan sel mati atau berkembang secara tidak terkendali dan meningkatkan risiko penyakit, termasuk kanker.
Masalahnya, mutasi somatik dapat terus bertambah sepanjang kehidupan seseorang.
Artinya, semakin lama seseorang hidup, semakin banyak pula perubahan genetik yang berpotensi menumpuk di dalam sel tubuh.
Jeremy Clerc, asisten profesor Divisi Precision Medicine and Optimal Aging Institute di NYU Grossman School of Medicine yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, menjelaskan bahwa orang yang telah berusia 80-an dapat memiliki ribuan mutasi somatik pada setiap sel tubuhnya.
“Tubuh tidak memiliki mekanisme untuk memperbaiki kerusakan genetik yang sudah telanjur tertanam dalam genom sel,” jelas Clerc.
Akumulasi kerusakan tersebut dapat membuat sel kehilangan kemampuan untuk bekerja secara optimal. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi fungsi organ dan meningkatkan risiko berbagai penyakit.
Manusia Bisa Hidup Sampai 194 Tahun?
Lantas, dari mana angka 146 hingga 194 tahun tersebut berasal?
Para peneliti mencoba menjawab pertanyaan tersebut melalui sebuah model matematika.
Model tersebut digunakan untuk memperkirakan bagaimana mutasi somatik berkembang pada berbagai jaringan tubuh manusia. Para ilmuwan kemudian menghitung kemungkinan umur manusia apabila sebagian besar mekanisme penuaan lainnya berhasil dikendalikan.
Hasil pemodelan menunjukkan bahwa apabila seluruh mekanisme penuaan selain mutasi somatik berhasil dihilangkan, umur manusia secara teoritis masih akan memiliki batas.
Batas tersebut diperkirakan berada pada kisaran 146 hingga 194 tahun.
Angka tersebut memang sangat tinggi jika dibandingkan dengan usia rata-rata manusia saat ini. Namun, hasil tersebut tidak berarti manusia dalam kondisi normal dapat hidup hingga hampir 200 tahun.
Temuan tersebut merupakan hasil pemodelan matematika berdasarkan sejumlah asumsi biologis.
Dengan kata lain, angka 194 tahun bukanlah prediksi bahwa manusia akan segera memiliki umur sepanjang itu.
Penelitian tersebut lebih menunjukkan adanya batas biologis yang mungkin tetap bertahan meskipun berbagai proses penuaan berhasil dikendalikan.
Bagaimana Jika Semua Proses Penuaan Dihilangkan?
Para peneliti juga mencoba membuat skenario yang jauh lebih ekstrem.
Dalam model matematika tersebut, bagaimana jika seluruh mekanisme penuaan, termasuk mutasi somatik, berhasil dihilangkan?
Hasilnya jauh lebih mengejutkan.
Model tersebut memperkirakan bahwa umur rata-rata manusia secara teoritis dapat mencapai sekitar 1.759 tahun. Bahkan, usia maksimum yang dihitung dalam skenario tersebut hampir mencapai 30 ribu tahun.
Namun, angka tersebut jelas bukan gambaran realistis mengenai masa depan manusia.
Tidak ada teknologi saat ini yang mampu menghilangkan seluruh proses penuaan pada tubuh manusia. Selain itu, pemodelan tersebut menggunakan asumsi yang sangat ideal dan tidak sepenuhnya mencerminkan kompleksitas biologis manusia.
Egle Pavyde, peneliti bidang pengobatan regeneratif dan sel punca yang tidak terlibat dalam penelitian, mengingatkan agar hasil penelitian tersebut tidak ditafsirkan secara berlebihan.
“Ini hanyalah pemodelan matematika, bukan eksperimen pada manusia. Penelitian ini menggunakan berbagai asumsi yang sangat disederhanakan dan belum mencerminkan kondisi biologis yang sebenarnya,” ujarnya.
Karena itu, angka 194 tahun lebih tepat dipahami sebagai gambaran mengenai batas teoritis dalam kondisi tertentu, bukan target usia yang bisa dicapai manusia dalam waktu dekat.
Tidak Semua Organ Menua dengan Kecepatan Sama
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa setiap jaringan tubuh memiliki karakteristik yang berbeda.
Tidak semua sel mengalami penuaan dengan kecepatan yang sama. Ada sel yang memiliki kemampuan memperbarui diri secara relatif tinggi, sementara jenis sel lainnya memiliki kemampuan regenerasi yang sangat terbatas.
Sel hati, misalnya, termasuk salah satu jenis sel yang memiliki kemampuan regenerasi cukup baik.
Dalam model penelitian, sel-sel hati secara teoritis dapat bertahan dalam jangka waktu yang sangat panjang jika hanya mutasi somatik yang diperhitungkan dan faktor biologis lainnya diabaikan.
Namun, kondisi berbeda ditemukan pada sel otot jantung dan neuron di otak.
Kedua jenis sel tersebut memiliki kemampuan membelah dan memperbarui diri yang sangat terbatas.
Ketika sel-sel tersebut mengalami kerusakan, tubuh tidak memiliki kemampuan yang sama seperti pada jaringan lain untuk menggantinya.
Kondisi inilah yang membuat jantung dan otak menjadi perhatian penting dalam pembahasan mengenai batas usia manusia.
Jantung dan Otak Bisa Menjadi Batas Umur
Para peneliti menyebut jantung dan otak sebagai critical lifespan bottlenecks, atau titik yang dapat menjadi batas utama dalam menentukan berapa lama tubuh manusia mampu bertahan.
Jantung memiliki fungsi vital untuk menjaga aliran darah ke seluruh tubuh. Sementara itu, otak mengendalikan hampir seluruh fungsi penting manusia, mulai dari gerakan, ingatan, kemampuan berpikir, hingga berbagai fungsi otomatis tubuh.
Jika sel-sel pada organ tersebut mengalami kerusakan yang tidak dapat diperbaiki secara efektif, kemampuan tubuh untuk mempertahankan fungsi normal juga akan menurun.
Karena itu, memperpanjang umur manusia bukan hanya persoalan membuat seseorang terlihat lebih muda.
Yang jauh lebih sulit adalah menjaga agar organ-organ vital tetap berfungsi dengan baik selama mungkin.
Anti-Aging Belum Bisa Menghentikan Penuaan
Perkembangan teknologi anti-aging memang semakin pesat. Berbagai penelitian dilakukan untuk mencari cara memperlambat kerusakan sel, memperbaiki jaringan, dan meningkatkan kualitas hidup pada usia lanjut.
Namun, hingga saat ini belum ada teknologi yang terbukti mampu menghentikan seluruh proses penuaan manusia.
Berbagai produk atau metode yang beredar di media sosial juga tidak semuanya memiliki bukti ilmiah yang kuat.
Karena itu, klaim mengenai seseorang dapat hidup jauh lebih panjang hanya dengan metode tertentu perlu disikapi secara hati-hati.
Penuaan merupakan proses yang melibatkan banyak sistem tubuh sekaligus. Mengubah satu mekanisme belum tentu dapat menghentikan seluruh proses tersebut.
Cara Sederhana Tetap Penting untuk Memperpanjang Usia Sehat
Meski penelitian mengenai umur manusia hingga ratusan tahun terus berkembang, para ahli tetap menilai bahwa cara paling masuk akal untuk menjaga kesehatan dan memperpanjang usia sehat saat ini berasal dari kebiasaan sehari-hari.
Pavyde menyebut belum ada teknologi yang mampu memberikan manfaat sebesar pola hidup sehat dalam menjaga kondisi tubuh.
Beberapa kebiasaan yang disarankan antara lain tidak merokok, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang didominasi bahan pangan utuh, menjaga kualitas tidur, serta mempertahankan hubungan sosial yang baik.
Pemeriksaan kesehatan secara berkala juga penting untuk mendeteksi berbagai masalah kesehatan sejak dini.
Kebiasaan tersebut memang terdengar sederhana. Namun, justru konsistensi dalam menjalankannya yang sering kali menjadi tantangan.
Menurut Pavyde, kebiasaan hidup sehat berpotensi memberikan tambahan sekitar 10 hingga 20 tahun usia sehat.
Artinya, pembahasan mengenai umur panjang bukan semata-mata mengenai seberapa banyak angka usia yang dapat ditambahkan.
Yang tidak kalah penting adalah berapa lama seseorang dapat menjalani kehidupan dengan kondisi tubuh yang tetap sehat dan mandiri.
Menjaga Kesehatan Jantung dan Otak Jadi Prioritas
Clerc juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan jantung dan otak.
Jika organ yang memiliki kemampuan regenerasi terbatas menjadi salah satu faktor yang menentukan batas usia manusia, maka menjaga kedua organ tersebut sejak usia muda menjadi langkah yang sangat penting.
Tidur cukup, mengonsumsi makanan bergizi, rutin bergerak, mengelola stres, serta menghindari kebiasaan yang merusak kesehatan merupakan bagian dari upaya tersebut.
Tidak ada satu kebiasaan yang bisa menjamin seseorang hidup hingga usia tertentu. Namun, kombinasi berbagai kebiasaan sehat dapat membantu menurunkan risiko penyakit dan menjaga fungsi tubuh dalam jangka panjang.
Jadi, Apakah Manusia Bisa Hidup 194 Tahun?
Studi mengenai umur manusia hingga 194 tahun memang menarik perhatian karena menunjukkan bahwa batas usia manusia mungkin jauh lebih tinggi jika berbagai proses penuaan dapat dikendalikan.
Namun, angka tersebut bukan berarti manusia saat ini sudah memiliki cara untuk hidup hampir dua abad.
Hasil penelitian berasal dari pemodelan matematika yang mencoba menggambarkan batas teoritis umur manusia berdasarkan peran mutasi somatik.
Bahkan jika sebagian besar proses penuaan berhasil dikendalikan, mutasi somatik masih dapat menjadi salah satu hambatan utama.
Di sisi lain, skenario yang menghilangkan seluruh proses penuaan menghasilkan angka umur yang sangat ekstrem, tetapi masih berada pada ranah teori dan tidak dapat diterapkan pada kondisi manusia saat ini.
Penelitian ini justru memberikan gambaran bahwa penuaan merupakan proses yang sangat kompleks. Untuk benar-benar memperpanjang umur manusia secara signifikan, para ilmuwan harus memahami dan mengatasi berbagai mekanisme biologis yang bekerja secara bersamaan.
Sambil menunggu perkembangan penelitian tersebut, menjaga kesehatan tetap menjadi langkah yang paling realistis.
Tidak merokok, aktif bergerak, menjaga pola makan, tidur cukup, mengelola stres, memelihara hubungan sosial, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin masih menjadi pilihan yang jauh lebih masuk akal dibandingkan mengejar klaim anti-penuaan yang belum terbukti.
Pada akhirnya, umur panjang bukan hanya tentang mencapai angka setinggi mungkin. Yang tidak kalah penting adalah mempertahankan kualitas hidup agar tubuh tetap mampu berfungsi dengan baik selama usia bertambah.
Sumber : www.cnnindonesia.com
