Mengenal Kopi Slush yang kini Digemari Anak Muda Foto: iStock
Buletinmedia.com – Kopi slushie belakangan menjadi salah satu minuman yang ramai diperbincangkan di media sosial. Tren ini banyak menarik perhatian pencinta kopi karena menawarkan cara berbeda untuk menikmati minuman berkafein, terutama ketika cuaca sedang panas.
Berbeda dari kopi dingin pada umumnya yang menggunakan es batu, kopi slushie dibuat dengan cara membekukan kopi seduh terlebih dahulu. Setelah membeku, kopi kemudian dihancurkan atau dihaluskan hingga menghasilkan tekstur menyerupai es serut. Hasil akhirnya berupa minuman dingin dengan tekstur lembut yang terasa menyegarkan.
Cara membuat kopi slushie juga terbilang sederhana sehingga banyak orang mencoba membuatnya sendiri di rumah. Kopi yang sudah diseduh cukup dibekukan, kemudian dihaluskan menggunakan blender atau alat penghancur makanan hingga mencapai tekstur yang diinginkan.
Meski terlihat menarik dan cocok untuk dikonsumsi saat musim panas, muncul pertanyaan mengenai kandungan gizi kopi slushie. Apakah kopi yang dibekukan menjadi lebih sehat dibandingkan kopi biasa? Atau justru bahan tambahan yang digunakan dapat membuat minuman tersebut menjadi kurang sehat?
Menurut ahli gizi, cara penyajian kopi dalam bentuk beku bukanlah faktor utama yang menentukan sehat atau tidaknya minuman tersebut. Hal yang lebih perlu diperhatikan adalah bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam kopi.
Kopi Beku Tidak Mengubah Kandungan Gizinya
Ahli gizi sekaligus ahli diet asal South Carolina, Amerika Serikat, Lauren Manaker, menjelaskan bahwa proses membekukan kopi pada dasarnya tidak mengubah nilai gizinya secara signifikan.
Pernyataan tersebut dikutip dari Fox News pada 31 Juli 2026.
Menurut Manaker, kopi yang disajikan dalam bentuk slushie pada dasarnya tetap memiliki karakteristik gizi yang sama seperti kopi yang diminum dalam kondisi hangat. Perubahan utama hanya terletak pada suhu dan teksturnya.
“Sejujurnya, penyajian dalam bentuk beku tidak membuat kopi menjadi lebih sehat atau lebih tidak sehat dibandingkan saat diminum hangat. Itu tetap kopi, hanya lebih dingin dan lebih menyenangkan dinikmati saat musim panas,” ujar Manaker.
Dengan demikian, anggapan bahwa kopi slushie secara otomatis lebih sehat hanya karena dibuat dengan cara dibekukan tidak sepenuhnya tepat.
Sebaliknya, kopi slushie juga tidak otomatis menjadi minuman yang tidak sehat hanya karena memiliki tekstur seperti es serut. Kandungan akhirnya sangat bergantung pada bahan yang digunakan selama proses pembuatan.
Jika kopi hanya dibuat dari seduhan kopi tanpa tambahan gula berlebihan, minuman tersebut dapat menjadi pilihan yang relatif sederhana. Namun, kondisi bisa berubah ketika berbagai bahan tambahan mulai dimasukkan.
Bahan Tambahan Jadi Faktor Penting
Kandungan kopi slushie dapat berubah cukup signifikan tergantung resep yang digunakan.
Kopi yang awalnya rendah kalori dapat berubah menjadi minuman dengan kandungan gula dan kalori yang jauh lebih tinggi ketika dicampur dengan berbagai sirup, krimer manis, saus, atau topping.
Hal inilah yang menurut Manaker perlu diperhatikan oleh masyarakat ketika mengikuti tren kopi slushie di media sosial.
“Sirup berperisa, krimer manis, dan aneka topping bergula dapat diam-diam mengubah kopi es sehari-hari menjadi lebih mirip sebagai dessert,” katanya.
Tambahan bahan tersebut memang dapat membuat rasa kopi menjadi lebih manis dan menarik. Namun, konsumsi gula tambahan secara berlebihan tentu bukan pilihan yang ideal apabila minuman dikonsumsi secara rutin.
Apalagi, tren minuman di media sosial sering kali menampilkan resep dengan berbagai tambahan untuk menghasilkan rasa dan tampilan yang lebih menarik. Tidak sedikit resep yang menggunakan sirup dengan berbagai varian rasa, whipped cream, saus karamel, cokelat, hingga taburan manis.
Bahan-bahan tersebut bukan berarti harus dihindari sepenuhnya. Namun, jumlah dan frekuensi konsumsinya perlu diperhatikan.
Kopi Slushie Bisa Jadi Alternatif Minuman Musim Panas
Menurut Manaker, kopi slushie buatan sendiri justru dapat menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan sejumlah minuman slushie komersial yang biasanya memiliki kandungan gula tambahan cukup tinggi.
Salah satu keuntungannya adalah konsumen dapat mengontrol sendiri bahan yang digunakan.
Saat membuat kopi slushie di rumah, jumlah gula, susu, krimer, serta bahan pelengkap lainnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan.
Dengan begitu, seseorang tidak harus mengikuti resep yang menggunakan banyak pemanis hanya untuk mendapatkan tekstur dan rasa yang menarik.
Kopi slushie juga dapat dibuat dengan bahan sederhana. Kopi seduh menjadi bahan utama, sementara susu dapat ditambahkan untuk membuat rasa lebih lembut sekaligus meningkatkan kandungan protein.
Manaker menyarankan penggunaan susu sapi sebagai salah satu pilihan campuran.
Menurutnya, susu sapi mengandung 13 nutrisi esensial serta protein berkualitas yang dapat membantu memberikan rasa kenyang.
Penambahan susu juga membuat cita rasa kopi menjadi lebih lembut. Bagi sebagian orang yang kurang menyukai rasa kopi hitam yang kuat, susu dapat menjadi pilihan untuk membuat minuman lebih mudah dinikmati.
Susu Bebas Laktosa Bisa Menjadi Pilihan
Tidak semua orang dapat mengonsumsi susu sapi biasa dengan nyaman.
Bagi orang yang memiliki intoleransi laktosa, susu bebas laktosa dapat digunakan sebagai alternatif untuk membuat kopi slushie.
Menurut Manaker, susu bebas laktosa tetap dapat memberikan manfaat gizi yang serupa sehingga dapat menjadi pilihan bagi mereka yang sensitif terhadap laktosa.
Dengan pilihan tersebut, tren kopi slushie tetap dapat dinikmati tanpa harus selalu menggunakan susu biasa.
Namun, sama seperti bahan lainnya, pemilihan susu juga sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Konsumen dapat memilih susu dengan kandungan gula tambahan yang lebih rendah apabila ingin membuat minuman yang lebih sederhana.
Kopi Slushie Tidak Harus Selalu Manis
Salah satu kesalahan yang sering terjadi ketika membuat minuman kopi kekinian adalah menganggap kopi harus dibuat manis agar terasa lebih enak.
Padahal, kopi memiliki cita rasa yang cukup kompleks. Tingkat kemanisan dapat disesuaikan dengan karakter biji kopi dan metode penyeduhannya.
Kopi slushie juga tidak harus menggunakan banyak gula.
Bagi pencinta kopi, rasa asli dari kopi justru dapat menjadi daya tarik utama. Tekstur dingin dan lembut yang dihasilkan dari proses pembekuan sudah memberikan pengalaman berbeda tanpa harus menambahkan banyak pemanis.
Jika ingin memberikan rasa tambahan, penggunaan bahan dalam jumlah secukupnya dapat menjadi pilihan.
Misalnya, susu dapat digunakan untuk memberikan rasa creamy tanpa harus menggunakan banyak krimer manis. Sementara itu, pemanis bisa ditambahkan sesuai kebutuhan.
Dengan cara tersebut, kopi slushie tetap terasa nikmat tanpa berubah menjadi minuman pencuci mulut dengan kandungan gula yang tinggi.
Mengapa Kopi Cocok Dibuat Menjadi Slushie?
Selain soal rasa, ada alasan lain mengapa kopi cukup mudah diolah menjadi minuman bertekstur slushie.
Pendiri brand kopi Incredibrew asal Texas, Chandra Holt, mengatakan kopi memiliki kandungan air yang sangat tinggi. Menurutnya, kopi terdiri atas sekitar 95 persen air.
Kondisi tersebut membuat kopi relatif mudah dibekukan tanpa harus menambahkan es batu dalam jumlah banyak.
“Karena sebagian besar kopi adalah air, Anda cukup membekukannya tanpa perlu menambahkan es. Itulah yang membuat kopi sangat cocok dijadikan slushie,” jelas Holt.
Hal tersebut sekaligus menjadi pembeda antara kopi slushie dan sejumlah minuman dingin lainnya.
Pada kopi es biasa, es batu ditambahkan ke dalam minuman. Ketika es mencair, rasa kopi dapat menjadi lebih encer.
Sementara itu, pada kopi slushie, bagian yang dibekukan berasal dari kopi itu sendiri.
Karena itu, pencinta kopi dapat memperoleh tekstur dingin tanpa harus terlalu khawatir minumannya menjadi encer akibat es batu yang mencair.
Bisa Menggunakan Cold Brew atau Kopi Panas
Holt menjelaskan bahwa kopi slushie dapat dibuat menggunakan berbagai jenis kopi.
Cold brew bisa menjadi salah satu pilihan. Namun, kopi panas yang sudah didinginkan juga dapat digunakan sebagai bahan dasar.
Artinya, orang tidak harus memiliki peralatan khusus untuk mencoba tren minuman tersebut.
Yang perlu diperhatikan adalah tingkat kekuatan kopi.
Ketika kopi nantinya dicampur dengan susu atau bahan tambahan lainnya, cita rasa kopi dapat menjadi lebih ringan. Oleh karena itu, Holt menyarankan penggunaan seduhan kopi yang lebih pekat apabila minuman akan dicampur dengan susu.
Kopi dengan seduhan yang lebih kuat akan membantu mempertahankan karakter rasa setelah mengalami proses pembekuan dan ditambahkan bahan lain.
Hal ini juga dapat menjadi pertimbangan bagi orang yang menyukai rasa kopi yang lebih kuat.
Cara Membuat Kopi Slushie di Rumah
Secara sederhana, kopi slushie dapat dibuat menggunakan kopi seduh yang kemudian dibekukan.
Kopi yang sudah disiapkan dapat dimasukkan ke dalam wadah yang aman untuk freezer. Setelah membeku, kopi kemudian dihancurkan atau diblender sampai menghasilkan tekstur seperti es serut.
Setelah mendapatkan tekstur yang diinginkan, kopi dapat langsung dinikmati atau dicampur dengan susu.
Bagi yang menyukai rasa manis, pemanis dapat ditambahkan sesuai selera. Namun, jumlahnya sebaiknya tidak berlebihan.
Tambahan seperti sirup, krimer, whipped cream, atau topping lainnya juga dapat digunakan, tetapi perlu diperhatikan jumlahnya karena bahan-bahan tersebut dapat meningkatkan kandungan gula dan kalori minuman.
Dengan membuat sendiri di rumah, konsumen memiliki kendali lebih besar terhadap komposisi kopi slushie.
Perhatikan Kandungan Gula
Kopi pada dasarnya bukan sumber utama gula tambahan. Masalah biasanya muncul ketika kopi dicampur dengan berbagai bahan pemanis.
Karena itu, orang yang sedang mencoba mengurangi konsumsi gula tetap dapat menikmati kopi slushie dengan memilih resep yang lebih sederhana.
Kopi tanpa gula tambahan dapat menjadi pilihan. Susu juga dapat digunakan untuk memberikan tekstur yang lebih lembut.
Jika membutuhkan rasa manis, jumlah pemanis bisa diatur sendiri.
Hal tersebut menjadi salah satu keuntungan membuat kopi slushie sendiri dibandingkan membeli minuman yang komposisinya sudah ditentukan.
Konsumen dapat mengetahui bahan apa saja yang masuk ke dalam gelas dan berapa banyak jumlahnya.
Kopi Slushie Viral Tidak Otomatis Sehat
Tren kopi slushie menunjukkan bahwa sebuah minuman tidak bisa dinilai hanya berdasarkan bentuk atau cara penyajiannya.
Kopi yang dibekukan tidak otomatis menjadi lebih sehat. Sebaliknya, proses pembekuan juga tidak membuat kopi menjadi minuman yang harus dihindari.
Yang lebih menentukan adalah komposisi akhirnya.
Kopi slushie dengan sedikit atau tanpa tambahan gula tentu berbeda dengan kopi slushie yang menggunakan banyak sirup, krimer manis, saus, dan topping.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak hanya melihat tampilan minuman ketika mengikuti tren makanan dan minuman di media sosial.
Resep yang terlihat menarik belum tentu memiliki komposisi yang sama dengan resep lain.
Khusus untuk kopi slushie, bahan tambahan menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
Tetap Bisa Dinikmati dengan Resep Sederhana
Pada akhirnya, kopi slushie tetap dapat menjadi pilihan minuman yang menyegarkan, terutama ketika cuaca panas.
Cara pembuatannya cukup sederhana dan dapat dilakukan di rumah. Kopi seduh hanya perlu dibekukan kemudian dihancurkan hingga memiliki tekstur seperti slushie.
Jika ingin menambahkan susu, susu sapi atau susu bebas laktosa dapat digunakan sesuai kebutuhan.
Hal yang paling penting adalah memperhatikan bahan tambahan, terutama sirup, krimer manis, dan topping yang mengandung gula.
Dengan resep yang lebih sederhana, kopi slushie tidak harus berubah menjadi minuman manis seperti dessert.
Tren kopi slushie pada akhirnya bukan soal apakah minuman tersebut sehat atau tidak sehat hanya karena disajikan dalam keadaan beku. Nilai gizinya tetap bergantung pada bahan yang digunakan.
Jadi, bagi pencinta kopi yang ingin mencoba tren ini, tidak ada salahnya membuat kopi slushie sendiri. Selain bisa menyesuaikan rasa, jumlah gula dan bahan tambahan juga dapat dikontrol.
Dengan begitu, sensasi menikmati kopi dingin bertekstur slushie tetap bisa didapat tanpa harus berlebihan dalam menambahkan bahan pelengkap.
Sumber : www.food.detik.com
