Sering Tersesat Bahkan di Rumah Sendiri? Bisa Jadi Ini Penyebabnya (Ilustrasi)
Buletinmedia.com – Tersesat ketika berada di tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya merupakan hal yang cukup umum. Saat bepergian ke kota lain, memasuki kawasan baru, atau berkunjung ke negara yang belum pernah didatangi, seseorang bisa saja salah mengambil jalan atau kebingungan menentukan arah.
Biasanya, kondisi tersebut hanya berlangsung sementara. Setelah beberapa kali melewati jalan yang sama atau mengenali sejumlah bangunan dan tanda di sekitar lokasi, seseorang mulai memahami lingkungan tersebut.
Namun, bagaimana jika seseorang justru sering kehilangan arah di tempat yang sudah sangat dikenalnya?
Ada orang yang sejak kecil mengalami kesulitan dalam menemukan jalan, termasuk ketika berada di lingkungan yang seharusnya sudah familiar. Mereka mungkin mengetahui bahwa sebuah gedung, toko, jalan, atau taman berada di suatu tempat, tetapi kesulitan memahami bagaimana cara mencapai lokasi tersebut.
Dalam kondisi yang lebih berat, seseorang bahkan bisa mengalami kebingungan ketika berada di rumah sendiri.
Kondisi seperti ini dikenal dengan istilah developmental topographical disorientation (DTD) atau disorientasi topografi perkembangan.
DTD merupakan kondisi ketika kemampuan navigasi seseorang sangat terganggu meski tidak terdapat gangguan umum lain yang dapat menjelaskan kesulitan tersebut. Kondisinya bersifat seumur hidup dan berbeda dengan gangguan orientasi yang muncul setelah cedera otak atau penyakit neurologis tertentu.
Pembahasan mengenai DTD kembali menarik perhatian setelah terbitnya tinjauan sistematis terbaru yang mencoba melihat pola kesulitan navigasi pada orang-orang dengan kondisi tersebut.
Apa Itu Developmental Topographical Disorientation?
Developmental topographical disorientation atau DTD adalah kondisi yang membuat seseorang mengalami kesulitan berat dalam bernavigasi di lingkungan sekitarnya.
Istilah tersebut pertama kali digunakan dalam laporan kasus yang diterbitkan pada 2009. Dalam laporan itu, Giuseppe Iaria dan rekan-rekannya menggambarkan seorang perempuan yang sejak lama mengalami kesulitan untuk menemukan arah, meskipun kemampuan sensorik dan intelektualnya tetap baik dan tidak ditemukan cedera otak struktural yang dapat menjelaskan masalah tersebut.
Salah satu hal yang menarik dari kasus tersebut adalah kemampuan perempuan tersebut untuk mengenali lingkungan tidak sepenuhnya hilang.
Ia tetap dapat mengenali sejumlah tanda atau objek tertentu. Masalah utamanya justru muncul ketika ia harus menggunakan berbagai informasi tersebut untuk membangun gambaran mengenai hubungan antar-tempat.
Dengan kata lain, seseorang dengan DTD bisa saja mengetahui bahwa sebuah minimarket berada di dekat stasiun, tetapi belum tentu mampu memahami bagaimana posisi minimarket tersebut terhadap rumah, sekolah, jalan utama, atau tempat lainnya.
Kesulitan tersebut berkaitan dengan kemampuan membangun apa yang disebut sebagai cognitive map atau peta kognitif.
Apa Itu Peta Kognitif?
Peta kognitif bukan berarti seseorang menyimpan gambar seperti Google Maps di dalam otaknya.
Istilah tersebut mengacu pada representasi mental mengenai lingkungan dan hubungan spasial antara satu lokasi dengan lokasi lainnya.
Sebagai contoh, bayangkan seseorang tinggal di dekat sebuah stasiun kereta.
Ia mengetahui bahwa di sebelah utara stasiun terdapat minimarket. Tidak jauh dari minimarket terdapat taman. Di sisi lain taman terdapat sekolah. Sementara rumahnya berada beberapa blok di sebelah timur stasiun.
Informasi mengenai hubungan antara lokasi-lokasi tersebut membantu seseorang memahami lingkungan secara keseluruhan.
Ketika jalan utama ditutup, misalnya, orang tersebut masih bisa mencari jalan lain karena memiliki gambaran mengenai hubungan antara berbagai lokasi.
Kemampuan seperti inilah yang dapat mengalami gangguan pada orang dengan DTD.
Dalam penelitian awal mengenai DTD, gangguan utama pada kasus yang diteliti berkaitan dengan kemampuan membentuk representasi mental mengenai lingkungan. Penelitian tersebut juga menemukan perbedaan aktivitas pada bagian otak yang berkaitan dengan pembentukan peta kognitif ketika pasien menjalankan tugas navigasi tertentu.
Bukan Sekadar Tidak Bisa Membaca Peta
DTD tidak sama dengan sekadar tidak pandai membaca peta.
Seseorang yang kurang terbiasa membaca peta mungkin masih bisa menghafalkan rute setelah beberapa kali melewatinya. Ia juga dapat menggunakan petunjuk jalan, mengenali persimpangan, dan memahami posisi tempat tertentu setelah mendapatkan pengalaman.
Pada DTD, persoalannya dapat jauh lebih mendasar.
Seseorang dapat mengalami kesulitan dalam menggabungkan berbagai informasi mengenai lingkungan menjadi sebuah gambaran ruang yang utuh.
Karena itu, mengandalkan rute yang sudah dihafalkan bisa menjadi salah satu strategi yang digunakan.
Masalah baru muncul ketika rute tersebut berubah.
Misalnya, seseorang biasanya pergi dari rumah ke tempat kerja melalui jalan tertentu. Ia sudah hafal setiap belokan dan bangunan yang dilewati.
Suatu hari, jalan tersebut ditutup karena perbaikan.
Bagi sebagian orang, kondisi tersebut mungkin hanya membutuhkan sedikit penyesuaian. Mereka bisa melihat peta, mengenali jalan lain, kemudian memilih rute alternatif.
Namun, bagi orang yang mengalami DTD, perubahan tersebut dapat menjadi masalah besar karena mereka kesulitan menggunakan pemahaman mengenai lingkungan untuk membangun rute baru.
Bisa Terjadi di Tempat yang Sudah Dikenal
Salah satu hal yang membuat DTD berbeda dari kebingungan arah biasa adalah kesulitannya dapat terjadi di lingkungan yang sudah dikenal.
Seseorang mungkin sudah tinggal bertahun-tahun di sebuah lingkungan, tetapi masih mengalami kesulitan menentukan arah ketika harus menuju lokasi tertentu.
Dalam kasus yang lebih berat, kesulitan navigasi bahkan dapat terjadi di rumah sendiri.
Literatur ilmiah mengenai DTD mencatat adanya kasus ketika seseorang mengalami kesulitan mempelajari rute yang sangat familiar. Ada pula laporan mengenai individu yang bahkan dapat tersesat di dalam rumahnya sendiri.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kemampuan navigasi manusia sebenarnya terdiri atas banyak komponen.
Mengenali tempat hanyalah salah satunya.
Otak juga perlu memahami posisi, arah, hubungan antar-tempat, serta rute yang dapat digunakan untuk berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
Apa Penyebab DTD?
Hingga sekarang, mekanisme DTD belum sepenuhnya dipahami.
Hal ini salah satunya berkaitan dengan masih terbatasnya penelitian mengenai kondisi tersebut.
Tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam Neuropsychology Review pada 2026 menyebutkan bahwa sejak pertama kali dideskripsikan pada 2009, sejumlah penelitian mengenai DTD telah dilakukan. Namun, sampai saat ini belum tersedia definisi klinis yang benar-benar baku yang dapat digunakan sebagai dasar alat pemeriksaan standar.
Para peneliti dalam tinjauan tersebut menganalisis 15 penelitian empiris yang membahas DTD.
Hasil kajian menunjukkan bahwa pola kesulitan navigasi pada DTD terutama berkaitan dengan buruknya kualitas peta mental, khususnya dalam kemampuan memahami lokasi secara allocentric dan pengetahuan mengenai jalur.
Sementara itu, kemampuan mengenali landmark atau penanda lingkungan pada banyak kasus relatif tetap terjaga.
Artinya, seseorang bisa saja masih mengenali sebuah gedung atau tempat tertentu, tetapi kesulitan menggunakan informasi tersebut untuk menentukan bagaimana ia harus bergerak menuju lokasi lain.
Mengapa Landmark Masih Bisa Dikenali?
Landmark adalah objek atau tempat yang mudah dikenali dan dapat digunakan sebagai penanda saat seseorang bernavigasi.
Contohnya antara lain:
- Gedung tinggi
- Monumen
- Sekolah
- Masjid
- Stasiun
- Taman
- Jembatan
- Toko dengan papan nama yang mencolok
Ketika seseorang mengatakan, “Belok setelah gedung tinggi itu,” sebenarnya ia sedang menggunakan landmark sebagai petunjuk navigasi.
Pada DTD, kemampuan mengenali landmark dalam banyak kasus tidak menjadi masalah utama.
Seseorang mungkin dapat mengatakan bahwa ia mengenali gedung tersebut.
Namun, mengenali gedung dan mengetahui bagaimana posisi gedung tersebut dalam keseluruhan lingkungan merupakan dua kemampuan yang berbeda.
Inilah salah satu alasan mengapa orang dengan DTD dapat terlihat cukup baik ketika hanya diminta mengenali sebuah tempat, tetapi mengalami kesulitan ketika diminta menjelaskan bagaimana cara mencapai tempat tersebut dari lokasi lain.
DTD Berbeda dengan Lupa Arah Biasa
Hampir semua orang pernah lupa arah.
Seseorang yang sedang terburu-buru bisa salah mengambil jalan. Orang yang kurang tidur mungkin tidak terlalu fokus terhadap lingkungan. Bahkan orang yang biasanya memiliki orientasi ruang baik pun dapat kebingungan ketika berada di kawasan dengan banyak jalan yang bentuknya serupa.
Kondisi tersebut tidak otomatis berarti seseorang mengalami DTD.
DTD berkaitan dengan pola kesulitan navigasi yang sudah berlangsung sejak perkembangan awal dan memiliki dampak yang jauh lebih luas.
Dalam literatur yang membahas DTD, salah satu karakteristik yang sering digunakan adalah kesulitan tersebut sudah muncul sejak masa kanak-kanak, terjadi berulang kali, dan tidak dapat dijelaskan oleh gangguan kognitif atau kondisi neurologis lain. Namun, penelitian terbaru juga menekankan bahwa definisi dan kriteria DTD masih perlu dikembangkan lebih lanjut.
Karena itu, seseorang tidak dapat menyimpulkan dirinya mengalami DTD hanya karena beberapa kali tersesat.
DTD Bisa Memengaruhi Kehidupan Sehari-hari
Kemampuan menemukan arah mungkin terlihat seperti keterampilan sederhana.
Padahal, hampir seluruh aktivitas di luar rumah membutuhkan kemampuan navigasi.
Pergi ke sekolah, berangkat bekerja, mengunjungi keluarga, berbelanja, mencari rumah teman, menggunakan transportasi umum, hingga melakukan perjalanan wisata semuanya membutuhkan kemampuan untuk memahami lingkungan.
Jika seseorang mengalami gangguan navigasi yang berat, aktivitas tersebut dapat menjadi jauh lebih sulit.
Tinjauan sistematis pada 2026 menyebutkan bahwa DTD dapat memberikan konsekuensi serius terhadap kehidupan sehari-hari, termasuk memengaruhi pilihan pendidikan dan pekerjaan serta membatasi mobilitas seseorang.
Seseorang mungkin memilih pekerjaan yang lokasinya mudah dijangkau karena khawatir tersesat.
Ada pula kemungkinan seseorang menghindari bepergian sendirian ke tempat baru.
Dalam jangka panjang, keterbatasan tersebut dapat membuat ruang gerak seseorang menjadi semakin sempit.
Ketergantungan pada Rute yang Sudah Dihafal
Salah satu strategi yang dapat digunakan oleh orang yang mengalami kesulitan navigasi adalah menghafalkan rute.
Misalnya, dari rumah menuju kantor harus:
“Keluar rumah, belok kiri, lurus sampai minimarket, belok kanan setelah masjid, kemudian melewati jembatan dan belok kiri.”
Rute tersebut dapat diingat sebagai rangkaian langkah.
Masalah muncul ketika kondisi di lapangan berubah.
Jika minimarket tersebut pindah, jalan ditutup, atau seseorang melewatkan satu persimpangan, ia bisa kehilangan orientasi.
Orang yang memiliki peta mental lingkungan yang lebih baik biasanya masih dapat menggunakan informasi lain untuk menyesuaikan perjalanan.
Sebaliknya, orang yang sangat bergantung pada urutan rute dapat mengalami kesulitan lebih besar ketika urutan tersebut berubah.
Peran GPS bagi Orang yang Sulit Bernavigasi
Perkembangan teknologi memberikan bantuan yang cukup besar bagi orang yang mengalami kesulitan orientasi.
GPS pada ponsel memungkinkan seseorang mendapatkan petunjuk arah secara langsung.
Google Maps, Apple Maps, Waze, dan aplikasi navigasi lainnya dapat memberikan informasi mengenai posisi pengguna, arah perjalanan, serta rute menuju tujuan.
Bagi orang yang mengalami kesulitan membangun peta mental, teknologi semacam ini dapat menjadi alat bantu yang sangat praktis.
Namun, GPS bukan berarti menghilangkan kesulitan navigasi tersebut.
Jika seseorang kehilangan sinyal, baterai ponsel habis, salah membaca petunjuk, atau berada di area dengan informasi peta yang kurang lengkap, masalah navigasi dapat kembali muncul.
Karena itu, kemampuan memahami lingkungan tetap memiliki peran penting.
Bagaimana Otak Membantu Kita Menemukan Jalan?
Ketika seseorang berjalan dari rumah menuju toko, otak tidak hanya mengingat nama jalan.
Ada banyak informasi yang diproses secara bersamaan.
Otak perlu mengenali bangunan, memperkirakan jarak, mengingat belokan, mengetahui posisi tubuh, memahami arah, serta menghubungkan lokasi yang satu dengan lokasi lainnya.
Semua informasi tersebut kemudian digunakan untuk menentukan langkah berikutnya.
Proses ini berlangsung begitu cepat sehingga kita sering tidak menyadarinya.
Misalnya, ketika pulang ke rumah melalui rute yang sudah biasa, kita mungkin tidak lagi memikirkan setiap belokan secara sadar.
Namun, otak tetap menggunakan informasi lingkungan untuk memastikan kita berada di jalur yang benar.
Pada kondisi seperti DTD, proses tersebut tidak berjalan dengan cara yang sama.
Penelitian tentang DTD Terus Berkembang
DTD masih menjadi bidang penelitian yang relatif baru.
Kasus pertama yang secara khusus menggunakan istilah developmental topographical disorientation dilaporkan dalam penelitian Giuseppe Iaria dan rekan-rekannya yang diterbitkan pada 2009. Penelitian tersebut menggambarkan seorang perempuan dengan kesulitan navigasi sepanjang hidupnya, tanpa adanya cedera otak struktural yang menjelaskan kondisi tersebut.
Setahun kemudian, penelitian lain melaporkan 120 kasus baru DTD yang dikumpulkan melalui internet dan menjalani serangkaian pengujian kemampuan orientasi dan kognitif.
Penelitian tersebut menemukan bahwa perbedaan utama antara peserta dengan DTD dan kelompok kontrol berada pada kemampuan yang berkaitan dengan orientasi dan navigasi. Kemampuan membentuk peta kognitif menjadi salah satu faktor paling penting yang membedakan kedua kelompok tersebut.
Temuan tersebut kemudian menjadi bagian dari perkembangan penelitian mengenai kemampuan navigasi manusia.
Mengapa Definisi DTD Masih Belum Sepenuhnya Baku?
Salah satu tantangan dalam penelitian DTD adalah belum adanya alat pemeriksaan standar yang dapat digunakan secara luas.
Tinjauan sistematis terbaru dari van der Ham dan Claessen menunjukkan bahwa berbagai penelitian sebelumnya menggunakan metode dan pengujian yang berbeda-beda.
Ada penelitian yang menguji kemampuan seseorang dalam menghafalkan rute.
Ada pula yang meminta peserta menggambar peta lingkungan yang familiar.
Sebagian penelitian menguji kemampuan mengenali lokasi, sementara penelitian lain menilai kemampuan seseorang berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Perbedaan metode tersebut membuat para peneliti perlu mencari pola yang konsisten.
Dalam tinjauan terhadap 15 studi, para peneliti menemukan bahwa kualitas peta mental menjadi salah satu karakteristik yang paling konsisten terkait dengan DTD. Namun, mereka juga menekankan perlunya pengembangan karakterisasi klinis dan alat pemeriksaan yang lebih tepat.
Apakah Sering Tersesat Berarti Mengalami DTD?
Jawabannya belum tentu.
Sering tersesat bisa terjadi karena banyak faktor.
Seseorang mungkin tidak terbiasa dengan lingkungan tertentu, kurang memperhatikan tanda jalan, terburu-buru, tidak fokus, atau memang memiliki kemampuan orientasi ruang yang kurang baik.
DTD merupakan kondisi yang jauh lebih spesifik.
Kesulitan navigasi pada DTD bersifat menetap dan telah berlangsung sejak masa perkembangan. Kondisi tersebut juga tidak sekadar muncul sesekali ketika seseorang berada di tempat baru.
Karena itu, seseorang tidak sebaiknya mendiagnosis dirinya sendiri berdasarkan pengalaman tersesat.
Jika kesulitan menemukan arah sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, pemeriksaan oleh tenaga profesional dapat membantu mencari penyebab yang lebih tepat.
Terlebih lagi, kesulitan orientasi yang baru muncul secara tiba-tiba, terutama pada seseorang yang sebelumnya tidak memiliki masalah serupa, merupakan situasi yang berbeda dari DTD dan dapat memiliki penyebab lain yang perlu dievaluasi secara medis.
Apa yang Bisa Dilakukan Jika Sulit Menemukan Arah?
Bagi orang yang memang memiliki kesulitan navigasi, beberapa strategi praktis dapat membantu.
Salah satunya adalah menggunakan teknologi navigasi seperti GPS.
Selain itu, rute dapat dipelajari secara bertahap. Jangan langsung mencoba menghafalkan seluruh kawasan.
Kenali beberapa landmark yang mudah dikenali.
Misalnya:
“Setelah SPBU belok kiri.”
Atau:
“Stasiun berada di sebelah kanan setelah jembatan.”
Petunjuk berbasis landmark seperti ini dapat membantu seseorang menghubungkan rute dengan lingkungan yang dilihat secara langsung.
Menyimpan peta secara offline juga dapat menjadi langkah antisipasi ketika bepergian ke tempat baru.
Untuk perjalanan penting, seseorang juga dapat mempelajari rute terlebih dahulu sebelum berangkat.
Jika memungkinkan, perjalanan pertama ke lokasi baru dapat dilakukan bersama orang yang sudah mengenal kawasan tersebut.
DTD Menunjukkan Betapa Rumitnya Kemampuan Navigasi Manusia
Kemampuan menemukan jalan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang otomatis.
Kita keluar dari rumah, berjalan menuju kendaraan, melewati beberapa jalan, kemudian tiba di tempat tujuan tanpa harus memikirkan setiap proses yang terjadi di dalam otak.
Padahal, navigasi merupakan kemampuan kompleks yang melibatkan berbagai jenis informasi.
Kita perlu mengenali landmark, memahami posisi, mengingat rute, memperkirakan hubungan antar-lokasi, serta mengambil keputusan ketika kondisi lingkungan berubah.
DTD memperlihatkan bahwa kemampuan tersebut sebenarnya terdiri atas sejumlah komponen yang dapat bekerja dengan tingkat kemampuan berbeda.
Seseorang mungkin dapat mengenali sebuah gedung dengan baik, tetapi kesulitan mengetahui bagaimana cara menuju gedung tersebut.
Orang lain mungkin mampu mengikuti petunjuk langkah demi langkah, tetapi kesulitan membuat gambaran keseluruhan mengenai lingkungan.
Itulah sebabnya penelitian mengenai DTD menjadi penting untuk memahami bagaimana otak manusia membangun representasi ruang.
Kesimpulan
Sering tersesat tidak selalu berarti seseorang memiliki ingatan yang buruk.
Dalam kondisi tertentu, kesulitan menemukan arah dapat berkaitan dengan kemampuan navigasi dan pembentukan peta kognitif.
Developmental topographical disorientation (DTD) merupakan kondisi yang ditandai dengan gangguan navigasi berat dan berlangsung sepanjang hidup, meskipun kemampuan kognitif umum seseorang dapat tetap terjaga. Kondisi tersebut pertama kali dideskripsikan secara khusus pada 2009 dan sejak saat itu terus menjadi objek penelitian.
Tinjauan sistematis yang diterbitkan pada 2026 menemukan bahwa masalah pada DTD terutama berkaitan dengan kualitas peta mental dan kemampuan memahami hubungan spasial serta jalur. Sementara itu, kemampuan mengenali landmark pada banyak kasus relatif tetap terjaga.
Kondisi ini juga dapat memberikan dampak nyata terhadap kehidupan sehari-hari. Kesulitan navigasi dapat membuat seseorang membatasi perjalanan, bergantung pada rute yang sudah dikenal, bahkan memengaruhi pilihan pendidikan dan pekerjaan.
Meski demikian, tidak semua orang yang sering tersesat mengalami DTD. Kondisi ini masih terus diteliti dan belum memiliki alat diagnosis standar yang disepakati secara luas.
Bagi masyarakat umum, penggunaan GPS, mempelajari rute sebelum bepergian, mengenali landmark, dan menggunakan petunjuk yang jelas dapat membantu ketika menghadapi kesulitan orientasi.
Pada akhirnya, kemampuan menemukan jalan bukanlah keterampilan sederhana. Ada proses kompleks di dalam otak yang bekerja setiap kali seseorang mencoba mengetahui di mana dirinya berada dan bagaimana cara mencapai tujuan.
Dan bagi sebagian orang, proses yang biasanya terasa otomatis tersebut ternyata membutuhkan usaha yang jauh lebih besar.
Sumber : www.cnnindonesia.com
