Ilustrasi overthinking. Foto: Getty Images/AsiaVision
Buletinmedia.com – Pernah merasa pikiran justru semakin ramai ketika malam tiba? Setelah seharian beraktivitas, tubuh memang terasa lelah. Namun, begitu berbaring di tempat tidur, pikiran malah mulai memikirkan banyak hal. Mulai dari pekerjaan yang belum selesai, percakapan dengan orang lain, masalah keuangan, hubungan dengan pasangan, hingga berbagai kemungkinan yang sebenarnya belum tentu terjadi.
Kondisi seperti ini cukup sering dialami banyak orang. Malam hari yang seharusnya menjadi waktu untuk beristirahat justru berubah menjadi waktu untuk memikirkan berbagai persoalan. Tidak sedikit orang yang akhirnya kesulitan tidur karena terus memutar ulang kejadian sepanjang hari atau membayangkan apa yang mungkin terjadi pada hari berikutnya.
Fenomena tersebut sering dikaitkan dengan overthinking. Secara sederhana, overthinking merupakan kondisi ketika seseorang terus memikirkan suatu hal secara berlebihan atau berulang-ulang tanpa menemukan penyelesaian yang jelas.
Lantas, mengapa overthinking lebih mudah muncul pada malam hari?
Salah satu faktornya berkaitan dengan perubahan kondisi tubuh dan aktivitas otak sepanjang hari. Saat malam, aktivitas mulai berkurang, lingkungan menjadi lebih tenang, dan seseorang memiliki lebih banyak waktu untuk memperhatikan pikirannya sendiri.
Keseimbangan hormon juga dapat ikut berperan. Namun, overthinking pada malam hari tidak hanya disebabkan oleh satu faktor. Kebiasaan sehari-hari, kondisi emosional, penggunaan ponsel, hingga kekhawatiran terhadap hari berikutnya juga dapat membuat pikiran semakin sulit berhenti.
Berikut sejumlah alasan mengapa malam hari sering menjadi waktu ketika overthinking muncul.
- Perubahan hormon membuat tubuh memasuki fase istirahat
Salah satu faktor yang dapat berkaitan dengan kondisi pikiran pada malam hari adalah perubahan hormon.
Dilansir dari situs resmi Hannah Joseph Hospital, kadar kortisol cenderung menurun pada malam hari. Kortisol merupakan salah satu hormon yang berkaitan dengan respons tubuh terhadap stres dan membantu seseorang tetap waspada.
Pada siang hari, seseorang biasanya berada dalam kondisi yang lebih aktif. Berbagai kegiatan membuat perhatian tertuju pada pekerjaan, sekolah, perjalanan, komunikasi, maupun aktivitas lainnya.
Ketika malam datang, tubuh mulai bersiap untuk beristirahat. Aktivitas berkurang dan suasana menjadi lebih tenang. Kondisi tersebut membuat seseorang memiliki kesempatan lebih besar untuk memperhatikan apa yang sedang ada di dalam pikirannya.
Hal-hal yang sebelumnya tidak sempat dipikirkan ketika sibuk pada siang hari akhirnya muncul kembali.
Inilah salah satu alasan mengapa persoalan tertentu terasa jauh lebih besar pada malam hari. Bukan berarti masalah tersebut baru muncul ketika malam, tetapi perhatian terhadap masalah itu menjadi lebih kuat karena tidak banyak gangguan dari lingkungan sekitar.
Ketika seseorang mulai memikirkan satu persoalan, pikiran dapat berkembang ke berbagai arah. Satu pertanyaan dapat memunculkan pertanyaan lain. Dari sinilah pola overthinking dapat terbentuk.
- Aktivitas pada malam hari jauh lebih sedikit
Siang hari biasanya dipenuhi berbagai aktivitas. Seseorang mungkin harus bekerja, belajar, mengurus rumah, bepergian, bertemu orang lain, atau menyelesaikan berbagai tugas.
Banyaknya aktivitas tersebut membuat perhatian terus berpindah dari satu hal ke hal lainnya.
Ketika malam tiba, situasinya berubah. Pekerjaan sudah selesai, komunikasi mulai berkurang, kendaraan di jalan semakin sedikit, dan suasana rumah menjadi lebih tenang.
Keadaan yang tenang sebenarnya penting untuk membantu tubuh beristirahat. Namun, bagi sebagian orang, kondisi tersebut justru memberikan ruang lebih besar untuk memikirkan hal-hal yang selama ini tertunda.
Misalnya, seseorang seharian sibuk bekerja sehingga tidak sempat memikirkan masalah dengan rekan kerja. Begitu berada di kamar dan suasana mulai sunyi, percakapan yang terjadi beberapa jam sebelumnya kembali teringat.
Kemudian muncul pertanyaan seperti, “Tadi saya salah bicara atau tidak?”
Pertanyaan tersebut dapat berkembang menjadi berbagai kemungkinan lain.
“Apakah dia tersinggung?”
“Apakah hubungan kami akan berubah?”
“Bagaimana kalau masalah ini menjadi lebih besar?”
Padahal, belum tentu semua kekhawatiran tersebut benar-benar terjadi.
Karena itu, malam hari sering terasa seperti waktu ketika pikiran menjadi lebih ramai. Sebenarnya bukan malam yang secara langsung menciptakan masalah, melainkan berkurangnya aktivitas membuat seseorang lebih sadar terhadap pikirannya sendiri.
- Tubuh sudah lelah, tetapi pikiran belum tentu ikut tenang
Ada anggapan bahwa tubuh yang lelah akan membuat seseorang langsung tertidur. Kenyataannya, rasa lelah secara fisik tidak selalu berarti pikiran sudah siap beristirahat.
Setelah menjalani aktivitas sepanjang hari, tubuh memang membutuhkan waktu untuk memulihkan tenaga. Namun, jika masih ada persoalan yang mengganggu pikiran, otak dapat tetap aktif meskipun tubuh sudah terasa sangat lelah.
Situasi seperti ini cukup mudah dikenali.
Seseorang sudah mandi, mematikan lampu, berbaring di tempat tidur, dan memejamkan mata. Akan tetapi, bukannya tertidur, pikiran malah mulai memutar berbagai kejadian sepanjang hari.
Ada yang kembali mengingat percakapan dengan pasangan. Ada pula yang memikirkan pekerjaan yang belum selesai. Sebagian lainnya mulai memikirkan kondisi keuangan atau rencana masa depan.
Semakin berusaha untuk berhenti berpikir, terkadang justru semakin banyak hal yang muncul.
Akibatnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk tidur menjadi lebih panjang. Ketika seseorang melihat jam dan menyadari bahwa waktu sudah semakin larut, muncul kekhawatiran baru karena besok harus bangun pagi.
Kondisi tersebut kemudian dapat membentuk lingkaran yang membuat seseorang semakin sulit rileks.
- Ponsel dan media sosial bisa membuat pikiran semakin aktif
Ponsel menjadi salah satu benda yang paling sering menemani seseorang sebelum tidur.
Ketika suasana malam terasa sepi, membuka media sosial, menonton video, membaca berita, atau membalas pesan memang bisa menjadi cara untuk mengisi waktu.
Namun, terlalu lama menggunakan ponsel sebelum tidur juga dapat membuat pikiran semakin aktif.
Media sosial, misalnya, membuat seseorang melihat berbagai aktivitas orang lain dalam waktu singkat. Ada yang membagikan pencapaian pekerjaan, perjalanan, hubungan, gaya hidup, hingga kehidupan sehari-hari.
Tanpa disadari, hal tersebut dapat memicu perbandingan sosial.
Seseorang mungkin mulai bertanya mengapa dirinya belum mencapai hal yang sama. Dari satu unggahan, muncul pikiran lain mengenai pekerjaan, keuangan, hubungan, atau masa depan.
Padahal, apa yang terlihat di media sosial hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Unggahan biasanya tidak menggambarkan keseluruhan kondisi yang sedang dialami orang tersebut.
Selain media sosial, konten berita atau video yang memiliki muatan emosional juga dapat membuat pikiran semakin aktif. Jika seseorang mengonsumsi terlalu banyak informasi menjelang tidur, otak masih harus memproses berbagai informasi tersebut ketika tubuh sebenarnya sedang bersiap untuk beristirahat.
Karena itu, kebiasaan menggunakan ponsel dalam waktu lama sebelum tidur dapat membuat rutinitas malam menjadi kurang tenang.
- Kekhawatiran tentang hari esok mulai muncul
Malam juga sering menjadi waktu ketika seseorang mulai memikirkan aktivitas pada hari berikutnya.
Besok harus melakukan apa? Apakah pekerjaan akan selesai? Bagaimana menghadapi rapat? Apakah tugas sudah cukup baik? Bagaimana jika menghadapi situasi yang tidak diinginkan?
Pertanyaan seperti itu bisa muncul menjelang tidur.
Kekhawatiran mengenai sesuatu yang belum terjadi merupakan salah satu hal yang dapat membuat pikiran terus bekerja. Otak mencoba memprediksi berbagai kemungkinan agar seseorang merasa lebih siap menghadapi situasi yang akan datang.
Masalahnya, tidak semua kemungkinan yang muncul dalam pikiran akan benar-benar terjadi.
Ketika seseorang terlalu lama memikirkan skenario terburuk, rasa khawatir dapat semakin besar. Bahkan, situasi yang sebenarnya sederhana bisa terasa seperti masalah yang sangat besar.
Misalnya, seseorang akan melakukan presentasi pada pagi hari. Pada awalnya, ia hanya memikirkan materi presentasi. Namun, kemudian muncul kekhawatiran lain.
Bagaimana jika lupa materi? Bagaimana jika salah menjawab pertanyaan? Bagaimana jika presentasi tidak disukai? Bagaimana jika mendapat kritik?
Semakin banyak kemungkinan yang dipikirkan, semakin sulit pikiran berhenti.
- Suasana malam yang sunyi membuat perhatian lebih tertuju pada diri sendiri
Lingkungan juga memiliki peran dalam munculnya overthinking.
Pada siang hari, seseorang menerima banyak rangsangan dari lingkungan. Suara kendaraan, percakapan, pekerjaan, notifikasi, aktivitas rumah, dan berbagai kegiatan lain membuat perhatian terus teralihkan.
Malam hari biasanya berbeda.
Ketika lampu mulai dimatikan dan lingkungan menjadi sunyi, jumlah rangsangan yang diterima tubuh berkurang. Bagi sebagian orang, suasana tersebut terasa menenangkan.
Namun, bagi orang yang sedang memiliki banyak pikiran, kesunyian justru bisa membuat perhatian semakin terpusat pada masalah yang sedang dihadapi.
Tidak ada pekerjaan yang perlu dilakukan. Tidak ada percakapan yang harus diikuti. Akhirnya, pikiran sendiri menjadi sesuatu yang paling dominan.
Itulah sebabnya masalah yang pada siang hari terasa biasa saja bisa terasa lebih berat ketika malam.
- Masalah yang belum selesai cenderung kembali muncul
Hal lain yang dapat memicu overthinking adalah persoalan yang belum memiliki penyelesaian.
Manusia cenderung memikirkan sesuatu yang dianggap belum selesai. Jika sepanjang hari seseorang menunda memikirkan suatu persoalan karena kesibukan, bukan berarti persoalan tersebut benar-benar hilang.
Ketika waktu luang muncul, pikiran bisa kembali pada masalah tersebut.
Contohnya, seseorang sedang mengalami masalah dalam hubungan. Pada siang hari, ia harus bekerja sehingga tidak memiliki banyak kesempatan untuk memikirkannya.
Malam hari, ketika sudah berada sendirian di kamar, persoalan tersebut kembali terlintas.
Pikiran kemudian mencoba mencari jawaban. Sayangnya, jika tidak ada informasi baru atau solusi yang bisa dilakukan saat itu, proses berpikir justru dapat berputar pada hal yang sama.
Seseorang mengingat kejadian sebelumnya, mencoba memahami perkataan orang lain, kemudian membayangkan kemungkinan yang akan terjadi.
Jika terus berlangsung, kondisi tersebut bisa membuat seseorang semakin sulit tidur.
- Pengalaman buruk pada siang hari dapat terbawa hingga malam
Tidak semua overthinking muncul tanpa pemicu. Pengalaman yang kurang menyenangkan pada siang hari juga bisa terbawa hingga malam.
Misalnya, seseorang mendapat teguran dari atasan, mengalami konflik dengan teman, menerima pesan yang membuat khawatir, atau menghadapi kejadian yang tidak sesuai harapan.
Pada saat kejadian berlangsung, seseorang mungkin memilih untuk tetap menjalankan aktivitas seperti biasa.
Namun, ketika sudah memiliki waktu sendiri, pengalaman tersebut kembali dipikirkan.
Ada kecenderungan untuk mengulang kejadian di dalam kepala. Seseorang mungkin bertanya apakah seharusnya ia mengatakan sesuatu yang berbeda atau mengambil keputusan lain.
Pikiran semacam ini dapat membuat seseorang terjebak dalam kejadian masa lalu.
Padahal, kejadian tersebut sudah berlalu dan tidak selalu bisa diubah.
- Kekhawatiran terhadap masa depan membuat pikiran sulit berhenti
Selain memikirkan masa lalu, overthinking pada malam hari juga dapat berkaitan dengan masa depan.
Masa depan penuh dengan ketidakpastian. Karena itu, seseorang bisa mencoba membayangkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi.
Masalah pekerjaan, pendidikan, hubungan, keluarga, keuangan, dan rencana hidup sering menjadi bahan pikiran ketika suasana mulai tenang.
Memikirkan masa depan sebenarnya merupakan hal yang wajar. Perencanaan juga diperlukan agar seseorang dapat mengambil keputusan dengan lebih baik.
Namun, perencanaan berbeda dengan terus menerus memikirkan kemungkinan buruk tanpa menghasilkan langkah yang bisa dilakukan.
Ketika pikiran hanya berputar pada “bagaimana kalau”, seseorang bisa semakin sulit mendapatkan rasa tenang.
- Rasa sepi pada malam hari dapat memperkuat pikiran negatif
Bagi sebagian orang, malam hari juga dapat menghadirkan rasa sepi.
Ketika orang-orang di sekitar mulai tidur dan komunikasi berkurang, seseorang yang sedang menghadapi persoalan emosional mungkin merasa lebih sendirian.
Perasaan tersebut dapat membuat masalah terasa semakin berat.
Dalam kondisi seperti itu, pikiran negatif lebih mudah mendapatkan perhatian. Hal kecil yang terjadi sepanjang hari dapat terasa lebih penting ketika seseorang sedang sendirian.
Karena itu, rasa sepi dan kebiasaan mengisolasi diri pada malam hari juga dapat menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang lebih mudah overthinking.
Apakah overthinking pada malam hari selalu berarti ada masalah serius?
Tidak selalu.
Sesekali memikirkan pekerjaan, hubungan, masa depan, atau kejadian yang baru dialami merupakan hal yang normal. Setiap orang bisa mengalami malam ketika pikirannya terasa lebih aktif dibandingkan biasanya.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika kebiasaan tersebut berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Misalnya, seseorang hampir setiap malam kesulitan tidur karena pikirannya tidak berhenti. Akibatnya, tubuh sering merasa lelah pada pagi hari, sulit berkonsentrasi, produktivitas menurun, atau aktivitas sehari-hari mulai terganggu.
Jika kondisi tersebut berlangsung lama dan terasa semakin berat, berbicara dengan tenaga profesional dapat menjadi salah satu pilihan.
Cara mengurangi overthinking sebelum tidur
Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat dicoba untuk membantu membuat malam terasa lebih tenang.
Kurangi penggunaan ponsel sebelum tidur
Memberikan jeda dari ponsel sebelum tidur dapat membantu mengurangi paparan terhadap berbagai informasi yang membuat pikiran terus aktif.
Daripada terus menggulir media sosial, seseorang bisa mencoba melakukan aktivitas yang lebih tenang, seperti membaca buku, melakukan peregangan ringan, atau mendengarkan musik yang menenangkan.
Tuliskan hal yang sedang dipikirkan
Jika banyak hal memenuhi kepala, menuliskannya di buku atau catatan bisa menjadi cara untuk merapikan pikiran.
Tidak perlu menulis panjang. Cukup tuliskan apa yang sedang dikhawatirkan dan apa yang bisa dilakukan pada hari berikutnya.
Dengan begitu, seseorang tidak harus terus mengulang persoalan yang sama di dalam kepala.
Bedakan antara masalah dan kemungkinan
Ketika sedang overthinking, penting untuk membedakan sesuatu yang benar-benar sedang terjadi dengan sesuatu yang baru berupa kemungkinan.
Misalnya, “Saya belum mendapatkan jawaban dari pesan” merupakan fakta.
Sementara pikiran seperti “Dia pasti marah kepada saya” masih merupakan asumsi.
Membedakan keduanya dapat membantu seseorang melihat situasi dengan lebih realistis.
Siapkan rutinitas sebelum tidur
Rutinitas yang dilakukan secara konsisten dapat membantu tubuh mengenali bahwa waktu istirahat sudah tiba.
Rutinitas tersebut bisa berupa mandi, merapikan kamar, membaca, melakukan peregangan ringan, atau aktivitas lain yang membuat tubuh lebih rileks.
Hindari membawa pekerjaan ke tempat tidur
Jika memungkinkan, tempat tidur sebaiknya digunakan untuk beristirahat. Membawa pekerjaan, tugas, atau aktivitas yang membuat stres ke tempat tidur dapat membuat otak mengaitkan tempat tersebut dengan aktivitas dan kekhawatiran.
Jangan memaksa diri untuk langsung tidur
Ketika seseorang terlalu memaksakan diri untuk segera tidur, rasa frustrasi justru bisa meningkat.
Jika pikiran sedang sangat aktif, cobalah melakukan aktivitas tenang terlebih dahulu hingga tubuh dan pikiran terasa lebih siap beristirahat.
Mengapa malam hari terasa lebih berat untuk sebagian orang?
Pada akhirnya, malam hari bukanlah penyebab tunggal seseorang mengalami overthinking.
Malam hanya menciptakan kondisi yang membuat pikiran lebih mudah terdengar. Ketika aktivitas berkurang, tubuh mulai beristirahat, lingkungan menjadi lebih sunyi, dan ponsel atau media sosial menjadi salah satu sumber hiburan, perhatian seseorang bisa kembali tertuju pada persoalan yang sebelumnya terabaikan.
Perubahan hormon, berkurangnya aktivitas, kelelahan fisik, penggunaan perangkat digital, pengalaman sepanjang hari, serta kekhawatiran mengenai masa depan dapat saling berkaitan.
Itulah sebabnya seseorang yang terlihat baik-baik saja sepanjang hari bisa tiba-tiba merasa pikirannya sangat ramai ketika malam tiba.
Overthinking pada malam hari juga tidak selalu berarti seseorang sedang menghadapi masalah besar. Terkadang, seseorang hanya baru memiliki waktu untuk berhenti sejenak dan menyadari berbagai hal yang selama siang hari tertutup oleh kesibukan.
Namun, jika pikiran yang terus berputar mulai mengganggu tidur dan aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.
Mengenali pemicunya merupakan langkah awal yang dapat membantu. Apakah pikiran muncul karena pekerjaan? Masalah hubungan? Penggunaan media sosial? Kekhawatiran tentang masa depan? Atau karena ada persoalan yang belum selesai?
Dengan mengetahui pemicunya, seseorang dapat mulai mencari cara yang lebih tepat untuk mengelolanya.
Pada dasarnya, malam hari seharusnya menjadi waktu bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat. Karena itu, membangun rutinitas malam yang lebih tenang, mengurangi paparan informasi yang berlebihan, serta memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat dapat membantu mengurangi kebiasaan overthinking sebelum tidur.
Jika sesekali pikiran menjadi ramai saat malam, hal tersebut merupakan pengalaman yang bisa terjadi pada siapa saja. Yang terpenting adalah tidak membiarkan kebiasaan tersebut terus mengganggu kualitas tidur dan kehidupan sehari-hari.
Sumber : www.voi.id
