Gorengan khas Haiti, pates, jadi alat membunuh anggota geng kriminal. Foto: Getty Images/peuceta
Buletinmedia.com – Seorang wanita di Haiti baru-baru ini menjadi sorotan internasional setelah melakukan tindakan balas dendam yang menghebohkan terhadap geng kriminal yang bertanggung jawab atas kematian keluarganya. Wanita yang dikenal sebagai pedagang pates (sejenis empanada Haiti) di distrik Kenscoff, Port-au-Prince, memanfaatkan profesinya untuk membalas dendam kepada anggota geng yang telah meneror dan membunuh keluarganya. Dalam aksi nekatnya, dia menggunakan gorengan sebagai senjata pembunuh, mencampurkan insektisida industri yang kuat ke dalam pates yang dia tawarkan secara gratis kepada para anggota geng. Geng tersebut dikenal dengan nama ‘Viv Ansanm’ dan berafiliasi dengan seorang mantan polisi yang menjadi pemimpin kejahatan, Jimmy Cherizier, yang lebih dikenal dengan julukan ‘Barbecue.’
Wanita ini menyusun rencana balas dendam dengan sangat hati-hati, berpura-pura memberikan pates kepada anggota geng sebagai bentuk terima kasih karena mereka dianggap “melindungi” lingkungan tempat dia tinggal. Tak ada yang curiga dengan niatnya, karena dia sudah lama dikenal sebagai pedagang pates di kawasan itu. Namun, setelah menyantap pates yang telah dicampur racun, para anggota geng mulai merasakan gejala keracunan. Mereka mengalami sakit perut parah dan muntah-muntah, dan akhirnya meninggal dunia sebelum sempat mendapat pertolongan medis. Totalnya, 40 anggota geng ‘Viv Ansanm’ ditemukan tewas dalam kejadian ini, yang semakin memperburuk reputasi geng tersebut.
Aksi wanita ini membuat heboh media lokal, yang melaporkan kejadian tersebut sebagai salah satu kasus balas dendam yang paling ekstrem di Haiti. Anggota geng yang menjadi korban, sebagian besar, adalah individu yang memiliki catatan kejahatan berat, termasuk pembunuhan dan pemerasan. Serangan terhadap mereka memberikan gambaran betapa kejamnya dunia kriminal yang menguasai beberapa wilayah di Haiti, tempat di mana banyak keluarga menjadi korban kekerasan tanpa ada perlindungan yang memadai dari pihak berwenang. Namun, meskipun para korban memiliki reputasi sebagai penjahat, banyak pihak yang terkejut dengan cara wanita tersebut melakukan pembalasan dendam.
Setelah pembunuhan tersebut, wanita yang namanya tidak diungkapkan oleh media merasa takut akan balasan dari geng. Tak lama setelah insiden peracunan itu, rumahnya dibakar habis oleh anggota geng yang tersisa. Merasa tidak aman, wanita itu melarikan diri dan pergi ke tempat yang tidak diketahui. Namun, meskipun ia mencoba bersembunyi, akhirnya ia menyerahkan diri ke polisi Haiti dan mengaku bertanggung jawab atas peracunan yang menewaskan 40 orang tersebut. Dalam penyelidikan, wanita itu menjelaskan bahwa ia merancang dan melaksanakan rencana tersebut seorang diri, dengan alasan untuk membalas dendam atas kematian keluarganya yang telah dibunuh oleh geng tersebut.
Kasus ini menimbulkan banyak pertanyaan mengenai hukum di Haiti, di mana kekerasan geng telah menjadi masalah kronis. Beberapa pihak berpendapat bahwa wanita ini seharusnya diadili atas tindakannya, sementara yang lain melihatnya sebagai bentuk keputusasaan seorang ibu yang kehilangan orang-orang yang paling berharga dalam hidupnya. Meskipun belum ada informasi lebih lanjut apakah wanita ini akan menghadapi tuntutan hukum, kejadian ini menjadi cerminan betapa besar dampak dari kekerasan geng terhadap kehidupan masyarakat Haiti. Pemerintah setempat diharapkan dapat mengambil langkah-langkah lebih tegas untuk mengatasi masalah ini dan memberikan rasa aman kepada warga yang menjadi korban dari aksi-aksi kriminal semacam ini.
