Ilustrasi Mager (Foto: Shutterstock)
Buletinmedia.com – Terlalu lama duduk atau berbaring tanpa aktivitas fisik yang cukup dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan serius. Kebiasaan malas gerak atau mager, yang sering kali dianggap sepele, ternyata dapat menyebabkan berbagai gangguan, seperti pelemahan otot dan peningkatan risiko demensia atau kepikunan. Dr. Widya Eka Nugraha, seorang dosen Fakultas Kedokteran IPB University, menjelaskan bahwa gaya hidup sedenter atau kurangnya aktivitas fisik ringan ini berbeda dengan sekadar jarang berolahraga. Gaya hidup sedenter terjadi ketika seseorang bahkan tidak melakukan aktivitas ringan sehari-hari, seperti berdiri atau berjalan. Hal ini membuat tubuh cenderung melambat dalam hal metabolisme dan fungsi tubuh secara keseluruhan.
Dalam dunia medis, aktivitas fisik sering diukur dengan satuan METs (metabolic equivalents), di mana aktivitas dengan nilai METs kurang dari atau sama dengan 1,5, seperti duduk atau berbaring, termasuk dalam kategori sedenter. Jika seseorang lebih dari enam jam sehari menghabiskan waktunya dengan duduk tanpa bergerak, maka mereka sudah tergolong menjalani gaya hidup sedenter yang berisiko besar terhadap kesehatan. Dr. Widya menekankan bahwa kebiasaan duduk terlalu lama bukan hanya menurunkan kebugaran tubuh, tetapi juga dapat memperburuk fungsi tubuh secara umum, termasuk menyebabkan penumpukan gula darah dan kolesterol, yang sangat berbahaya dalam jangka panjang.
Duduk terlalu lama memang terbukti memiliki dampak serius bagi kesehatan. Meskipun seseorang sudah rutin berolahraga, kebiasaan duduk terlalu lama dalam satu sesi tetap meningkatkan risiko kematian dini. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa duduk lebih dari 15 menit dalam satu kali duduk dapat meningkatkan risiko kematian lebih tinggi dibandingkan duduk kurang dari 10 menit per sesi. Oleh karena itu, penting untuk mengurangi waktu duduk yang berlarut-larut dan menyelinginya dengan aktivitas fisik ringan, seperti berdiri atau berjalan cepat. Dr. Widya mengingatkan bahwa meskipun seseorang rajin berolahraga, kebiasaan duduk dalam waktu yang lama tetap berisiko terhadap kesehatan.
Secara fisiologis, gaya hidup sedenter mempengaruhi metabolisme tubuh secara negatif. Metabolisme yang melambat mengakibatkan otot jarang digunakan dan berisiko kehilangan fungsinya. Ini juga mengganggu aliran darah dan meningkatkan kadar gula serta kolesterol dalam darah. Bahkan, gaya hidup yang terlalu banyak duduk ini bisa mempengaruhi fungsi otak, meningkatkan risiko demensia, serta memengaruhi kesehatan jantung. Dr. Widya menambahkan bahwa semakin lama seseorang terjebak dalam gaya hidup sedenter, semakin besar pula risiko terhadap masalah kesehatan yang lebih serius, yang pada akhirnya bisa berujung pada kematian dini.
Untuk menghindari dampak buruk dari gaya hidup sedenter, Dr. Widya memberikan beberapa saran agar tubuh tetap aktif. Menggunakan standing desk, naik sepeda, berdiri di transportasi umum, atau bergabung dengan komunitas olahraga adalah beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga tubuh tetap aktif. Selain itu, menyediakan sarana yang mendukung, seperti sepatu olahraga, pakaian yang nyaman untuk bergerak, atau alat olahraga sederhana, juga dapat membantu seseorang agar tetap bergerak. Dr. Widya menegaskan bahwa tubuh manusia sejatinya diciptakan untuk aktif bergerak, bukan hanya untuk duduk lama atau terbaring sepanjang hari. Dengan mengubah kebiasaan menjadi lebih aktif, kita bisa mencegah berbagai penyakit yang berhubungan dengan gaya hidup sedenter dan menjaga kualitas hidup tetap optimal.
