Dokter Sebut Waktu Olahraga Paling Efektif Bakar Lemak Perut (Ilustrasi/Tangkapan Layar)
Buletinmedia.com – Perut buncit menjadi salah satu masalah yang paling sering dikeluhkan, baik oleh pria maupun wanita. Meski sudah rutin berolahraga, tidak sedikit orang yang merasa lemak di area perut sulit berkurang. Kondisi ini sering menimbulkan pertanyaan mengenai cara paling efektif untuk mengecilkan lingkar perut sekaligus menurunkan berat badan.
Menurut sejumlah pakar kesehatan, keberhasilan mengurangi lemak perut tidak hanya ditentukan oleh jenis olahraga yang dilakukan. Waktu berolahraga, pola makan setelah latihan, kualitas tidur, hingga konsistensi menjalani gaya hidup sehat juga memiliki peran penting.
Salah satu dokter yang membahas hal tersebut adalah Dr. Danielle Kelvas. Dalam wawancara yang dikutip dari GB News, ia menjelaskan bahwa olahraga pada pagi hari berpotensi memberikan manfaat lebih besar dalam membantu menurunkan berat badan sekaligus mengurangi lemak di area perut. Meski demikian, ia juga mengingatkan bahwa berolahraga kapan pun tetap jauh lebih baik dibandingkan tidak melakukan aktivitas fisik sama sekali.
Mengapa Perut Buncit Sulit Dihilangkan?
Lemak di area perut termasuk jenis lemak yang relatif sulit dikurangi karena dipengaruhi banyak faktor.
Selain pola makan yang tinggi kalori, kebiasaan duduk terlalu lama, kurang tidur, stres berkepanjangan, hingga perubahan hormon juga dapat menyebabkan penumpukan lemak di sekitar pinggang.
Banyak orang hanya fokus melakukan latihan perut seperti sit-up atau crunch setiap hari.
Padahal, latihan tersebut tidak secara langsung membakar lemak pada bagian tertentu.
Tubuh membakar lemak secara keseluruhan, sehingga penurunan lemak di perut juga dipengaruhi oleh keseimbangan antara asupan kalori dan energi yang digunakan setiap hari.
Karena itulah para ahli menilai bahwa strategi menurunkan berat badan harus dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya mengandalkan satu jenis olahraga.
Dokter Sebut Pagi Hari Waktu Terbaik untuk Berolahraga
Menurut Dr. Danielle Kelvas, olahraga pada pagi hari memberikan keuntungan tersendiri bagi tubuh.
Ia menyebutkan bahwa sejumlah penelitian menunjukkan aktivitas fisik yang dilakukan pada pagi hari dapat membantu meningkatkan metabolisme sejak awal hari.
Metabolisme yang bekerja lebih aktif memungkinkan tubuh menggunakan energi dengan lebih efisien.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi membantu proses pembakaran kalori dan mendukung penurunan berat badan.
Kelvas secara khusus merekomendasikan waktu olahraga antara pukul 07.00 hingga 09.00 pagi.
Pada rentang waktu tersebut, tubuh dinilai mulai siap melakukan aktivitas sehingga olahraga dapat memberikan manfaat yang lebih optimal.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa rekomendasi tersebut bukan berarti olahraga pada siang atau malam hari tidak efektif.
Jika seseorang hanya memiliki waktu luang setelah bekerja, tetap berolahraga pada sore atau malam hari masih jauh lebih baik dibandingkan tidak berolahraga sama sekali.
Olahraga Pagi Membantu Menjaga Konsistensi
Selain berkaitan dengan metabolisme, olahraga pagi juga dinilai lebih mudah dijadikan kebiasaan.
Banyak orang yang awalnya berniat berolahraga setelah pulang kerja akhirnya membatalkan rencana karena merasa lelah atau memiliki aktivitas lain.
Sebaliknya, ketika olahraga dilakukan sebelum memulai aktivitas harian, peluang untuk melewatkannya menjadi lebih kecil.
Konsistensi inilah yang menjadi faktor utama keberhasilan dalam menurunkan berat badan.
Program olahraga terbaik bukanlah yang paling berat, melainkan yang dapat dilakukan secara rutin dalam jangka panjang.
Sarapan Setelah Olahraga Tidak Boleh Sembarangan
Olahraga pagi sebaiknya diikuti dengan pola makan yang tepat.
Dr. Danielle Kelvas mengingatkan bahwa banyak orang justru menggagalkan manfaat olahraga karena memilih menu sarapan yang tinggi gula.
Beberapa makanan seperti muffin, pancake, donat, minuman kopi dengan tambahan gula berlebih, hingga jus kemasan dapat menyebabkan lonjakan gula darah dalam waktu singkat.
Akibatnya, rasa lapar kembali muncul lebih cepat sehingga seseorang cenderung mengonsumsi lebih banyak makanan sepanjang hari.
Karena itu, ia menyarankan memilih menu sarapan yang kaya protein tanpa lemak.
Protein Membantu Menjaga Massa Otot
Protein menjadi salah satu nutrisi penting bagi orang yang sedang menjalani program penurunan berat badan.
Asupan protein membantu memperbaiki jaringan otot setelah berolahraga sekaligus memberikan rasa kenyang lebih lama.
Dr. Kelvas merekomendasikan telur sebagai salah satu menu sarapan yang baik bagi sebagian besar orang.
Namun, bagi mereka yang memiliki masalah kolesterol atau memiliki kondisi medis tertentu, pemilihan menu sebaiknya disesuaikan dengan anjuran dokter.
Selain telur, sumber protein lain seperti daging tanpa lemak, ikan, ayam tanpa kulit, maupun yoghurt tanpa pemanis juga dapat menjadi pilihan.
Ia juga menyebutkan bahwa bakon atau sosis tanpa nitrat dinilai lebih baik dibandingkan memulai hari dengan makanan atau minuman yang mengandung gula tinggi, meskipun konsumsinya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Pilih Karbohidrat yang Lebih Sehat
Banyak orang menghindari karbohidrat ketika sedang menjalani program diet.
Padahal, tubuh tetap membutuhkan karbohidrat sebagai sumber energi.
Yang terpenting adalah memilih jenis karbohidrat yang tepat.
Kelvas menyarankan memilih steel-cut oats dibandingkan oatmeal instan yang telah ditambahkan gula.
Steel-cut oats memiliki kandungan serat lebih tinggi sehingga membantu menjaga rasa kenyang lebih lama.
Pilihan lainnya adalah yoghurt tanpa pemanis yang dipadukan dengan buah segar atau sedikit madu.
Menu tersebut memberikan kombinasi protein, serat, vitamin, dan mineral yang baik untuk tubuh.
Intermittent Fasting Jadi Salah Satu Pilihan
Dalam wawancara tersebut, Dr. Danielle Kelvas juga mengungkapkan bahwa dirinya menjalani intermittent fasting.
Intermittent fasting merupakan pola makan yang mengatur waktu makan dan puasa dalam periode tertentu.
Salah satu metode yang cukup populer adalah pola 16:8, yaitu berpuasa selama sekitar 16 jam dan makan dalam jendela waktu delapan jam.
Menurut Kelvas, pola tersebut membantunya mengatur pola makan sehari-hari.
Namun, ia mengingatkan bahwa metode ini belum tentu cocok untuk semua orang.
Mereka yang memiliki penyakit tertentu, sedang hamil, menyusui, atau memiliki kondisi kesehatan khusus sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum menjalankannya.
Minuman Probiotik untuk Menjaga Kesehatan Usus
Kelvas juga mengaku mengonsumsi minuman probiotik seperti kombucha dan Japanese koso saat perut kosong.
Menurutnya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa probiotik berpotensi memberikan manfaat lebih baik ketika dikonsumsi sebelum makan.
Probiotik membantu menjaga keseimbangan bakteri baik di dalam usus.
Kesehatan saluran pencernaan yang baik diyakini berperan dalam proses metabolisme, penyerapan nutrisi, hingga pengelolaan berat badan.
Meski demikian, konsumsi probiotik sebaiknya tetap disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing.
Jangan Berlebihan Mengonsumsi Kopi
Banyak orang menjadikan kopi sebagai teman sebelum berolahraga.
Kelvas mengaku tetap mengonsumsi kopi, tetapi membatasi jumlahnya maksimal dua cangkir setiap hari.
Konsumsi kafein dalam jumlah berlebihan dapat mengganggu kualitas tidur.
Padahal, tidur yang cukup merupakan salah satu faktor penting dalam proses pembakaran lemak dan pemulihan tubuh setelah berolahraga.
Kurang tidur juga diketahui dapat meningkatkan hormon yang memicu rasa lapar sehingga membuat seseorang lebih mudah makan berlebihan.
Jangan Hanya Terpaku pada Timbangan
Dalam laporan yang sama, dokter lain, Dr. Farrell, mengingatkan agar masyarakat tidak hanya berfokus pada angka yang muncul di timbangan.
Berat badan memang dapat menjadi salah satu indikator, tetapi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan program penurunan berat badan.
Seseorang bisa saja memiliki berat badan yang tidak banyak berubah, tetapi mengalami penurunan lemak tubuh dan peningkatan massa otot.
Sebaliknya, angka timbangan yang turun drastis belum tentu menunjukkan hasil yang sehat apabila penurunan tersebut justru berasal dari berkurangnya massa otot.
Menurut Farrell, kehilangan massa otot secara bertahap akan membuat tubuh membakar lebih sedikit kalori setiap hari.
Akibatnya, proses menurunkan berat badan menjadi semakin sulit.
Perhatikan Komposisi Tubuh
Farrell menyarankan agar masyarakat lebih memperhatikan komposisi tubuh dibandingkan hanya mengejar angka timbangan.
Lingkar pinggang, persentase lemak tubuh, kekuatan otot, hingga kebugaran fisik memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi kesehatan seseorang.
Selain itu, penting untuk memastikan kebutuhan protein harian tercukupi agar massa otot tetap terjaga selama menjalani program diet.
Kunci Utama Tetap Konsisten
Pada akhirnya, tidak ada cara instan untuk mengecilkan perut buncit.
Olahraga pagi memang berpotensi memberikan manfaat lebih besar bagi sebagian orang, terutama jika dilakukan secara konsisten dan diikuti pola makan yang seimbang.
Namun, hasil terbaik tetap diperoleh melalui kombinasi berbagai kebiasaan sehat, seperti rutin beraktivitas fisik, mengonsumsi makanan bergizi, tidur yang cukup, mengelola stres, serta menjaga asupan kalori sesuai kebutuhan tubuh.
Dengan menerapkan pola hidup sehat secara berkelanjutan, proses mengurangi lemak perut dapat berlangsung lebih efektif sekaligus membantu meningkatkan kesehatan secara menyeluruh. Perubahan mungkin tidak terjadi dalam hitungan hari, tetapi konsistensi menjalankan kebiasaan sehat akan memberikan hasil yang lebih nyata dan bertahan dalam jangka panjang.
Sumber : www.kompas.com
