Ilustrasi Bumi dan Bulan.(NASA)
Buletinmedia.com – China terus mengembangkan teknologi komunikasi untuk mendukung ambisi eksplorasi Bulan pada masa depan. Terbaru, peneliti China berhasil menguji teknologi komunikasi laser yang mampu mengirimkan data antara Bumi dan Bulan dengan kecepatan hingga 100 Mbps.
Teknologi tersebut digadang-gadang dapat menjadi salah satu fondasi infrastruktur komunikasi berkecepatan tinggi bagi manusia yang nantinya tinggal, bekerja, atau menjalankan berbagai misi penelitian di Bulan.
Pengembangan jaringan komunikasi di Bulan menjadi semakin penting seiring meningkatnya rencana eksplorasi antariksa. Jika misi manusia ke Bulan semakin sering dilakukan dan fasilitas penelitian mulai dibangun, kebutuhan untuk mengirim data dari Bulan ke Bumi juga akan meningkat secara signifikan.
Data yang dikirimkan tidak hanya berupa pesan atau informasi sederhana. Astronaut dan kendaraan penjelajah nantinya dapat menghasilkan foto beresolusi tinggi, video, hasil penelitian ilmiah, data lingkungan, hingga informasi dari berbagai instrumen yang ditempatkan di permukaan Bulan.
Dalam kondisi tersebut, jaringan komunikasi dengan kapasitas besar akan menjadi bagian penting dari infrastruktur misi.
Penelitian mengenai komunikasi laser ini dilakukan oleh tim dari Technology and Engineering Center for Space Utilization atau CSU yang berada di bawah naungan Chinese Academy of Sciences.
Setelah menjalani pengujian di orbit selama lebih dari satu tahun, para peneliti berhasil membangun koneksi komunikasi laser dua arah antara Bumi dan Bulan. Jarak komunikasi tersebut mencapai lebih dari 400.000 kilometer.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem tersebut mampu menerima data dari Bulan menuju Bumi dengan kecepatan hingga 100 Mbps. Sementara itu, data yang dikirimkan dari Bumi menuju Bulan mencapai kecepatan hingga 1,25 Mbps.
Pencapaian tersebut menjadi salah satu langkah penting dalam pengembangan komunikasi optik untuk misi antariksa jarak jauh.
China Mulai Uji Komunikasi Laser Bumi-Bulan
Komunikasi antara Bumi dan Bulan sebenarnya bukan sesuatu yang baru dalam misi antariksa. Selama ini, komunikasi dengan wahana antariksa banyak mengandalkan gelombang radio atau gelombang mikro.
Teknologi tersebut telah digunakan selama puluhan tahun dan terbukti mampu mendukung berbagai misi eksplorasi luar angkasa.
Namun, perkembangan kebutuhan data membuat para ilmuwan mulai mencari teknologi komunikasi yang mampu menawarkan kapasitas lebih besar. Salah satu teknologi yang dianggap menjanjikan adalah komunikasi berbasis laser.
Berbeda dengan komunikasi radio, sistem komunikasi laser memanfaatkan cahaya untuk membawa informasi. Karena karakteristik cahaya memungkinkan penggunaan bandwidth yang sangat besar, teknologi tersebut berpotensi menyediakan kecepatan transfer data yang jauh lebih tinggi.
Inilah alasan mengapa komunikasi laser mulai mendapat perhatian dalam pengembangan teknologi antariksa generasi berikutnya.
Dalam pengujian yang dilakukan peneliti China, sistem komunikasi laser digunakan untuk membangun koneksi dua arah antara Bumi dan Bulan. Tantangannya tentu jauh lebih besar dibandingkan menghubungkan dua perangkat yang berada di permukaan Bumi.
Jarak antara Bumi dan Bulan mencapai sekitar 384.400 kilometer secara rata-rata. Jarak tersebut juga terus berubah karena orbit Bulan tidak berbentuk lingkaran sempurna.
Karena itu, perangkat yang berada di Bumi dan wahana yang berada di sekitar Bulan harus mampu menentukan posisi satu sama lain dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi.
Kesalahan kecil dalam mengarahkan pancaran laser dapat menyebabkan sinyal tidak mengenai penerima.
Kecepatan Download Mencapai 100 Mbps
Salah satu hasil yang paling menarik dari pengujian tersebut adalah kemampuan sistem dalam menerima data dari Bulan menuju Bumi dengan kecepatan hingga 100 Mbps.
Sebagai gambaran sederhana, kecepatan 100 Mbps secara teori memungkinkan data berukuran besar dikirimkan dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan sistem komunikasi dengan bandwidth rendah.
Bagi kebutuhan eksplorasi Bulan, kemampuan tersebut sangat penting.
Sebuah kendaraan penjelajah yang bekerja di permukaan Bulan dapat menghasilkan data dalam jumlah besar. Kamera yang digunakan untuk memotret permukaan Bulan, misalnya, dapat menghasilkan banyak gambar dengan resolusi tinggi.
Begitu pula instrumen ilmiah yang mengukur kondisi tanah, temperatur, radiasi, komposisi material, hingga karakteristik lingkungan sekitar.
Jika seluruh data tersebut harus dikirimkan ke Bumi menggunakan jaringan dengan kapasitas terbatas, proses pengiriman bisa memakan waktu lama.
Dengan teknologi komunikasi laser berkecepatan tinggi, proses tersebut berpotensi dilakukan secara lebih efisien.
Namun, angka 100 Mbps dalam pengujian ini tidak serta-merta berarti manusia di Bulan nantinya akan mendapatkan koneksi internet seperti yang tersedia di rumah atau kantor di Bumi.
Koneksi tersebut lebih tepat dipahami sebagai sistem komunikasi antariksa yang dirancang untuk mendukung pertukaran data antara fasilitas di Bulan dan pusat kendali di Bumi.
Kecepatan Upload dari Bumi ke Bulan 1,25 Mbps
Selain kemampuan menerima data, sistem tersebut juga berhasil mengirimkan data dari Bumi menuju Bulan.
Dalam pengujian, kecepatan komunikasi dari Bumi ke Bulan mencapai hingga 1,25 Mbps.
Angka tersebut memang jauh lebih rendah dibandingkan kecepatan penerimaan data dari Bulan ke Bumi yang mencapai 100 Mbps.
Perbedaan kemampuan tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor teknis yang berkaitan dengan desain sistem komunikasi, kondisi jalur komunikasi, perangkat pemancar dan penerima, serta karakteristik pengujian.
Dalam sebuah misi antariksa, kebutuhan komunikasi memang tidak selalu sama antara arah Bumi ke Bulan dan Bulan ke Bumi.
Data yang dikirim dari Bulan menuju Bumi bisa jauh lebih besar karena mencakup hasil pengamatan dan penelitian. Sementara komunikasi dari Bumi menuju Bulan dapat lebih banyak berupa perintah, konfigurasi perangkat, instruksi kepada kendaraan penjelajah, serta data tertentu yang diperlukan astronaut.
Karena itu, kemampuan mengirim data dalam dua arah tetap menjadi aspek penting meskipun kecepatannya berbeda.
Mengapa Komunikasi Laser Dibutuhkan di Bulan?
Rencana eksplorasi Bulan pada masa depan diperkirakan akan melibatkan lebih banyak wahana, kendaraan penjelajah, satelit, serta kemungkinan fasilitas permanen.
Semakin banyak perangkat yang beroperasi di Bulan, semakin besar pula kebutuhan komunikasi.
Bayangkan jika terdapat astronaut yang melakukan penelitian di permukaan Bulan, kendaraan penjelajah yang bergerak beberapa kilometer dari habitat, serta sejumlah instrumen ilmiah yang terus mengumpulkan data.
Semua perangkat tersebut membutuhkan sistem komunikasi yang dapat menghubungkan mereka dengan pusat kendali.
Tidak hanya itu, sebagian besar data ilmiah yang dikumpulkan di Bulan pada akhirnya perlu dikirimkan ke Bumi untuk dianalisis oleh para peneliti.
Foto permukaan Bulan, video aktivitas astronaut, hasil pemindaian tanah, pengukuran radiasi, hingga data dari berbagai eksperimen dapat memiliki ukuran sangat besar.
Kondisi ini membuat kapasitas jaringan komunikasi menjadi salah satu kebutuhan utama dalam pembangunan infrastruktur Bulan.
Komunikasi laser menawarkan salah satu solusi yang menjanjikan karena memiliki potensi bandwidth lebih besar dibandingkan teknologi komunikasi radio konvensional.
Selain kecepatan tinggi, komunikasi laser juga berpotensi menggunakan perangkat yang lebih ringkas.
Hal tersebut menjadi keuntungan tersendiri dalam misi antariksa. Setiap kilogram berat yang dibawa dari Bumi menuju luar angkasa membutuhkan biaya dan perencanaan yang besar.
Jika perangkat komunikasi dapat dibuat lebih kecil dan efisien, desain kendaraan antariksa maupun satelit juga dapat dioptimalkan.
Tantangan Mengarahkan Laser ke Bulan
Meski menawarkan banyak keunggulan, membangun komunikasi laser antara Bumi dan Bulan bukan pekerjaan sederhana.
Salah satu tantangan terbesar adalah memastikan pancaran laser dapat diarahkan secara tepat ke target.
Pada jarak lebih dari 400.000 kilometer, kesalahan arah yang sangat kecil dapat membuat pancaran laser melenceng jauh dari perangkat penerima.
Kondisi tersebut berbeda dengan komunikasi di Bumi. Ketika dua perangkat berada dalam jarak relatif dekat, perubahan posisi kecil mungkin tidak terlalu berpengaruh.
Namun, dalam komunikasi antariksa, perbedaan sudut yang sangat kecil dapat menghasilkan penyimpangan posisi yang besar ketika sinar mencapai tujuan.
Selain itu, wahana antariksa juga terus bergerak mengikuti orbitnya.
Bumi berputar, Bulan bergerak mengelilingi Bumi, dan wahana antariksa juga memiliki lintasan masing-masing. Artinya, sistem komunikasi harus terus menghitung posisi target secara real time.
Atmosfer Bumi juga menjadi faktor yang harus diperhitungkan.
Pancaran laser yang bergerak dari luar angkasa menuju teleskop atau stasiun penerima di Bumi harus melewati atmosfer. Kondisi atmosfer dapat memengaruhi perjalanan cahaya dan membuat proses deteksi sinyal menjadi lebih sulit.
Karena alasan tersebut, sistem komunikasi laser membutuhkan teknologi akuisisi dan pelacakan yang sangat presisi.
Sistem Pelacakan Harus Sangat Akurat
Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim peneliti mengembangkan sistem akuisisi dan pelacakan khusus.
Sistem ini dirancang dengan mempertimbangkan sejumlah faktor, termasuk pergerakan orbit, gangguan atmosfer, serta keterlambatan perjalanan sinyal.
Tujuannya adalah memastikan perangkat pemancar dan penerima tetap dapat menemukan satu sama lain meskipun posisinya terus berubah.
Proses ini dapat dibayangkan seperti mengarahkan senter ke sebuah benda yang berada ratusan ribu kilometer jauhnya, tetapi benda tersebut terus bergerak dan cahaya yang dipancarkan juga dipengaruhi kondisi lingkungan.
Perbedaannya, sistem komunikasi laser antariksa bekerja dengan perhitungan dan sensor yang jauh lebih kompleks.
Perangkat harus mengetahui posisi target dengan sangat akurat, kemudian menyesuaikan arah pancaran laser agar sinyal tetap mengenai penerima.
Jika pelacakan gagal, koneksi dapat terputus.
Karena itu, kemampuan mempertahankan koneksi menjadi salah satu bagian terpenting dari pengembangan teknologi ini.
Sinyal Laser Melemah Saat Sampai di Bumi
Tantangan lain muncul ketika sinyal laser yang telah menempuh jarak ratusan ribu kilometer akhirnya tiba di Bumi.
Pancaran cahaya yang dikirim dari Bulan dapat menjadi sangat lemah setelah menempuh perjalanan panjang.
Masalahnya semakin rumit karena penerima di Bumi tidak hanya menangkap sinyal laser yang dikirimkan dari Bulan.
Ada berbagai sumber cahaya lain yang juga dapat masuk ke sistem deteksi.
Cahaya Bulan, cahaya bintang, hingga sumber cahaya buatan dari kawasan perkotaan dapat menjadi gangguan.
Perangkat penerima harus mampu membedakan sinyal laser yang sangat lemah dari berbagai cahaya latar tersebut.
Jika tidak, data yang dikirimkan berpotensi mengalami kesalahan atau bahkan tidak dapat diterima sama sekali.
Untuk mengatasi masalah ini, peneliti CSU menggunakan teknologi deteksi foton tunggal berbasis superkonduktor.
Teknologi tersebut memungkinkan sistem mendeteksi cahaya dalam kondisi yang sangat lemah.
Sistem deteksi tersebut kemudian dikombinasikan dengan algoritma khusus yang bertugas memisahkan sinyal laser dari berbagai gangguan cahaya.
Kemampuan mendeteksi foton dalam jumlah sangat kecil menjadi bagian penting dalam komunikasi optik jarak jauh.
Teknologi Foton Tunggal Jadi Bagian Penting
Dalam komunikasi biasa, perangkat penerima dapat menerima sinyal dengan kekuatan tertentu sehingga informasi lebih mudah dibaca.
Namun, semakin jauh jarak yang ditempuh, energi sinyal dapat berkurang.
Dalam komunikasi Bumi-Bulan, kondisi tersebut menjadi persoalan serius karena jaraknya sangat jauh.
Teknologi deteksi foton tunggal membantu meningkatkan kemampuan perangkat dalam menangkap sinyal yang sangat lemah.
Konsepnya bukan sekadar meningkatkan kekuatan laser, tetapi juga membuat perangkat penerima jauh lebih sensitif terhadap sinyal yang datang.
Dengan demikian, komunikasi tetap dapat berlangsung meskipun jumlah cahaya yang diterima sangat kecil.
Penggunaan superkonduktor dalam sistem deteksi juga menunjukkan bahwa pengembangan komunikasi antariksa tidak hanya membutuhkan laser yang kuat.
Diperlukan pula perangkat penerima yang sangat sensitif serta perangkat lunak yang mampu mengolah sinyal secara akurat.
Kombinasi antara perangkat keras dan algoritma tersebut menjadi bagian penting dalam menciptakan sistem komunikasi antariksa berkecepatan tinggi.
Bukan Berarti Bulan Akan Punya Internet Seperti Bumi
Istilah “internet di Bulan” memang terdengar menarik dan mudah dipahami masyarakat.
Namun, istilah tersebut perlu dipahami dalam konteks yang tepat.
Keberhasilan komunikasi laser Bumi-Bulan tidak berarti manusia yang berada di Bulan nantinya dapat langsung membuka media sosial, menonton video streaming, melakukan panggilan video, atau menjelajah internet seperti saat menggunakan jaringan broadband di Bumi.
Teknologi yang diuji peneliti China merupakan teknologi komunikasi antariksa.
Fungsi utamanya adalah menyediakan jalur pertukaran data antara perangkat yang berada di Bulan dan sistem yang berada di Bumi.
Jika suatu saat manusia benar-benar membangun permukiman atau fasilitas penelitian di Bulan, jaringan seperti ini dapat menjadi bagian dari infrastruktur komunikasi yang lebih luas.
Astronaut dapat menggunakannya untuk mengirim hasil penelitian kepada ilmuwan di Bumi.
Kendaraan penjelajah juga dapat mengirim foto dan data kondisi permukaan Bulan.
Sebaliknya, pusat kendali di Bumi dapat mengirim perintah kepada kendaraan, mengatur instrumen penelitian, atau mengirim data yang diperlukan oleh astronaut.
Dengan kata lain, teknologi tersebut dapat menjadi semacam jalan tol data antara Bumi dan Bulan.
Foto dan Video dari Bulan Bisa Dikirim Lebih Cepat
Salah satu manfaat paling mudah dibayangkan adalah pengiriman foto dan video.
Misi eksplorasi modern sangat bergantung pada kamera.
Setiap kendaraan penjelajah biasanya membawa sejumlah kamera untuk mendokumentasikan lingkungan sekitar, mencari objek menarik, serta membantu operator menentukan jalur perjalanan.
Semakin tinggi kualitas kamera, semakin besar pula ukuran file yang dihasilkan.
Video memiliki kebutuhan bandwidth yang lebih tinggi lagi.
Jika manusia nantinya melakukan aktivitas di Bulan, kebutuhan tersebut akan meningkat.
Astronaut mungkin perlu mengirim rekaman aktivitas penelitian, kondisi habitat, dokumentasi eksperimen, atau tayangan dari lokasi tertentu.
Komunikasi laser dengan kecepatan tinggi berpotensi membuat pengiriman data semacam itu menjadi lebih cepat.
Hal tersebut tidak hanya memberikan keuntungan untuk komunikasi publik, tetapi juga sangat penting bagi penelitian.
Data ilmiah yang dapat diterima lebih cepat memungkinkan peneliti di Bumi melakukan analisis dalam waktu yang lebih singkat.
Mendukung Kendaraan Penjelajah Bulan
Kendaraan penjelajah atau rover menjadi salah satu perangkat penting dalam eksplorasi Bulan.
Rover dapat bergerak ke wilayah yang sulit dijangkau manusia dan melakukan pengamatan menggunakan berbagai instrumen.
Namun, rover membutuhkan komunikasi yang stabil dengan pusat kendali.
Perintah perjalanan harus dikirimkan ke rover, sementara informasi mengenai kondisi kendaraan dan lingkungan harus dikirim kembali.
Pada misi tertentu, pengiriman data bahkan dapat menjadi sangat kompleks karena rover membawa sejumlah instrumen ilmiah.
Komunikasi laser dapat membantu menyediakan kapasitas lebih besar untuk kebutuhan tersebut.
Dengan bandwidth yang lebih tinggi, pusat kendali berpotensi menerima data lebih banyak tanpa harus menunggu terlalu lama.
Hal ini dapat meningkatkan efisiensi operasi misi.
Potensi Mendukung Pembangunan Fasilitas di Bulan
Dalam jangka panjang, eksplorasi Bulan tidak hanya berkaitan dengan kunjungan singkat.
Berbagai negara dan lembaga antariksa tengah mengembangkan teknologi untuk misi Bulan yang semakin kompleks.
Jika suatu hari terdapat fasilitas penelitian atau habitat manusia di Bulan, sistem komunikasi akan menjadi kebutuhan dasar.
Sebuah fasilitas penelitian tidak dapat bekerja secara optimal tanpa pertukaran informasi dengan pusat kendali di Bumi.
Data dari laboratorium, sistem pendukung kehidupan, perangkat pemantauan lingkungan, kendaraan, dan astronaut semuanya membutuhkan jaringan komunikasi.
Dalam skenario tersebut, komunikasi laser dapat menjadi salah satu pilihan teknologi yang digunakan untuk menghubungkan Bulan dengan Bumi.
Tentu saja, masih dibutuhkan banyak pengembangan sebelum sistem tersebut dapat digunakan sebagai infrastruktur permanen.
Pengujian yang dilakukan saat ini merupakan bagian dari proses panjang untuk memastikan teknologi dapat bekerja dalam kondisi antariksa yang sebenarnya.
China Perluas Pengembangan Komunikasi Laser
Keberhasilan pengujian komunikasi laser Bumi-Bulan juga menunjukkan perkembangan teknologi komunikasi optik China.
Sebelumnya, teknologi komunikasi laser telah dikembangkan untuk berbagai kebutuhan di orbit dekat Bumi.
Namun, komunikasi antara Bumi dan Bulan membawa tantangan yang jauh lebih besar.
Jarak yang lebih jauh, perubahan posisi objek, kondisi atmosfer, serta lemahnya sinyal yang diterima membuat kebutuhan teknologinya semakin kompleks.
Karena itu, pengujian ini dapat dilihat sebagai salah satu langkah menuju penerapan komunikasi optik pada misi antariksa yang lebih jauh atau deep space.
Pengembangan tersebut menjadi semakin relevan karena aktivitas manusia di luar orbit Bumi diperkirakan akan meningkat pada masa depan.
Jika misi menuju Bulan berkembang, kebutuhan komunikasi juga akan ikut berkembang.
Masih Banyak Tahapan Sebelum Bisa Digunakan Secara Luas
Meski hasil pengujian terlihat menjanjikan, teknologi tersebut masih berada pada tahap eksperimen.
Keberhasilan satu rangkaian pengujian belum berarti sistem tersebut sudah siap digunakan sebagai jaringan komunikasi permanen di Bulan.
Masih terdapat banyak aspek yang harus diuji.
Sistem harus mampu bekerja dalam berbagai kondisi orbit dan lingkungan.
Keandalan koneksi juga harus diperhatikan karena komunikasi dalam misi antariksa memiliki konsekuensi yang jauh lebih besar dibandingkan jaringan komunikasi di Bumi.
Jika koneksi internet di Bumi terputus, pengguna mungkin hanya perlu menunggu beberapa saat hingga jaringan kembali normal.
Dalam misi Bulan, gangguan komunikasi dapat memengaruhi operasi kendaraan, pengumpulan data, bahkan keselamatan astronaut.
Karena itu, sistem komunikasi masa depan kemungkinan akan membutuhkan lebih dari satu jalur komunikasi sebagai cadangan.
Teknologi radio dan laser dapat saja digunakan secara bersamaan agar misi tetap memiliki jalur komunikasi ketika salah satu sistem mengalami gangguan.
Komunikasi Laser Punya Masa Depan di Eksplorasi Antariksa
Pengembangan komunikasi laser tidak hanya penting untuk Bulan.
Jika teknologi tersebut berhasil dibuat semakin stabil dan efisien, penggunaannya dapat diperluas untuk misi antariksa yang lebih jauh.
Misi menuju Mars, misalnya, akan membutuhkan sistem komunikasi dengan kapasitas tinggi karena jarak antara Bumi dan Mars jauh lebih besar daripada jarak Bumi-Bulan.
Data yang dikumpulkan wahana di Mars juga dapat berjumlah sangat besar.
Foto permukaan planet, video, peta, hasil penelitian atmosfer, hingga data dari berbagai instrumen ilmiah semuanya perlu dikirimkan kembali ke Bumi.
Komunikasi laser berpotensi menjadi salah satu teknologi yang dapat membantu mengatasi kebutuhan tersebut.
Tentu, komunikasi Mars-Bumi memiliki tantangan yang lebih kompleks lagi karena jaraknya berubah secara signifikan dan terdapat jeda waktu perjalanan sinyal.
Namun, pengalaman mengembangkan komunikasi laser Bumi-Bulan dapat menjadi dasar untuk penelitian komunikasi antariksa jarak jauh.
Internet Bulan Bisa Menjadi Infrastruktur Masa Depan
Bayangan mengenai manusia yang tinggal di Bulan mungkin masih terdengar seperti cerita fiksi ilmiah.
Namun, berbagai perkembangan teknologi menunjukkan bahwa sejumlah konsep yang sebelumnya hanya muncul dalam film atau novel mulai diteliti secara serius.
Komunikasi menjadi salah satu komponen penting dalam mewujudkan masa depan tersebut.
Tidak cukup hanya memiliki roket yang mampu membawa manusia ke Bulan. Diperlukan kendaraan, sumber energi, sistem pendukung kehidupan, fasilitas penelitian, navigasi, dan tentu saja jaringan komunikasi.
Tanpa komunikasi yang baik, aktivitas manusia di Bulan akan sangat terbatas.
Karena itu, pengujian komunikasi laser Bumi-Bulan yang dilakukan China menjadi salah satu perkembangan menarik dalam teknologi antariksa.
Kecepatan penerimaan data hingga 100 Mbps menunjukkan bahwa komunikasi optik memiliki potensi besar untuk menangani kebutuhan data misi masa depan.
Namun, masih terlalu dini untuk menyebut teknologi tersebut sebagai “internet Bulan” dalam pengertian yang sama seperti internet di Bumi.
Yang sedang dibangun adalah fondasi teknologi komunikasi berkapasitas tinggi yang suatu hari dapat menjadi bagian dari jaringan komunikasi antariksa.
Langkah Awal Menuju Jaringan Komunikasi Bulan
Keberhasilan peneliti dari Technology and Engineering Center for Space Utilization di bawah Chinese Academy of Sciences membangun komunikasi laser dua arah sejauh lebih dari 400.000 kilometer menunjukkan bahwa teknologi komunikasi optik semakin berkembang.
Kecepatan penerimaan data hingga 100 Mbps menjadi salah satu hasil penting dari pengujian tersebut. Sementara itu, pengiriman data dari Bumi menuju Bulan dapat mencapai 1,25 Mbps.
Di balik pencapaian tersebut terdapat sejumlah teknologi yang harus bekerja secara bersamaan, mulai dari sistem akuisisi dan pelacakan, teknologi laser, deteksi foton tunggal berbasis superkonduktor, hingga algoritma untuk memisahkan sinyal dari gangguan cahaya.
Semua komponen tersebut diperlukan agar komunikasi tetap dapat berlangsung pada jarak yang sangat jauh.
Teknologi ini memang belum bisa membuat Bulan memiliki internet seperti Bumi. Namun, potensinya untuk mendukung aktivitas manusia di Bulan cukup besar.
Ketika misi eksplorasi semakin kompleks dan kebutuhan pengiriman data semakin tinggi, komunikasi berkecepatan tinggi akan menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan.
Foto, video, data penelitian, perintah kendaraan penjelajah, hingga informasi dari fasilitas penelitian semuanya membutuhkan jalur komunikasi yang andal.
Jika pengembangan teknologi komunikasi laser terus berlanjut, sistem tersebut berpotensi menjadi salah satu bagian penting dari infrastruktur komunikasi untuk misi Bulan di masa depan.
Dengan demikian, pengujian yang dilakukan China bukan sekadar soal mengejar angka kecepatan 100 Mbps. Lebih dari itu, penelitian tersebut menjadi bagian dari upaya membangun cara baru bagi manusia untuk berkomunikasi dengan wahana dan fasilitas yang berada jauh dari Bumi.
Bulan dapat menjadi salah satu tujuan awal dalam pengembangan jaringan komunikasi antariksa berkecepatan tinggi. Dari sana, teknologi yang sama berpotensi dikembangkan untuk menjangkau wilayah antariksa yang lebih jauh.
Untuk saat ini, komunikasi laser Bumi-Bulan masih berada dalam tahap eksperimen. Namun, hasil yang diperoleh memberikan gambaran mengenai bagaimana kebutuhan komunikasi manusia dapat berubah ketika aktivitas eksplorasi tidak lagi hanya berlangsung di Bumi.
Jika suatu hari manusia benar-benar membangun fasilitas penelitian permanen di Bulan, jaringan komunikasi berkecepatan tinggi kemungkinan akan menjadi salah satu infrastruktur yang sama pentingnya dengan listrik, navigasi, dan sistem pendukung kehidupan.
Dan teknologi laser yang kini sedang diuji dapat menjadi salah satu fondasi untuk mewujudkan jaringan tersebut.
Sumber : www.kompas.com
