Sering Menahan Emosi? Ini Bahaya yang Bisa Terjadi pada Tubuh (Ilustrasi)
Buletinmedia.com – Memendam emosi sering dianggap sebagai cara paling mudah untuk menghadapi situasi yang membuat tidak nyaman. Seseorang mungkin memilih diam ketika sedang marah, menahan tangis saat merasa sedih, atau berpura-pura baik-baik saja ketika sebenarnya sedang kecewa. Dari luar, sikap tersebut memang dapat terlihat sebagai bentuk ketenangan dan kemampuan mengendalikan diri.
Namun, antara menahan reaksi dan benar-benar memendam emosi terdapat perbedaan yang cukup penting.
Dalam kondisi tertentu, menunda untuk meluapkan emosi memang bisa menjadi pilihan yang tepat. Misalnya ketika seseorang sedang berada dalam situasi yang membutuhkan konsentrasi, harus menyelesaikan persoalan mendesak, atau belum berada di tempat yang dirasa aman untuk membicarakan perasaannya.
Masalah dapat muncul ketika kebiasaan tersebut dilakukan berulang kali tanpa memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk mengenali dan memproses emosi yang muncul.
Perasaan yang terus ditekan tidak serta-merta hilang hanya karena seseorang tidak menunjukkannya kepada orang lain. Emosi yang tidak diproses dapat tetap memberikan respons pada tubuh dan memengaruhi cara seseorang menjalani aktivitas sehari-hari.
Karena itu, penting untuk memahami perbedaan antara mengelola emosi dan memendam perasaan. Keduanya mungkin terlihat serupa dari luar, tetapi memiliki cara kerja yang berbeda.
Menahan Emosi Tidak Sama dengan Mengelola Perasaan
Orang yang sedang menahan emosi belum tentu sedang melakukan sesuatu yang buruk. Dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak keadaan yang memang mengharuskan seseorang menunda reaksinya.
Seseorang yang sedang marah kepada rekan kerja, misalnya, mungkin memilih tidak langsung membalas perkataan yang membuatnya tersinggung karena situasinya belum memungkinkan. Ia bisa saja menunggu sampai suasana lebih tenang sebelum membicarakan masalah tersebut.
Begitu pula ketika seseorang menghadapi situasi yang menakutkan atau sangat berat. Fokus utama pada saat itu mungkin bukan memikirkan seluruh perasaan yang muncul, melainkan memastikan dirinya dapat melewati situasi tersebut terlebih dahulu.
Pekerja Sosial Klinis Berlisensi, terapis, dan pendiri Cowtown Therapy Center, Kinley Springs, LCSW, menjelaskan bahwa memendam emosi berarti menyingkirkan atau memblokir perasaan karena perasaan tersebut dianggap menyedihkan, tidak nyaman, atau tidak aman untuk dialami.
Menurut Springs, kondisi tersebut berbeda dengan keputusan untuk tidak bertindak berdasarkan emosi.
Ada kalanya seseorang memang perlu memberikan jarak antara perasaan dan tindakan. Marah bukan berarti seseorang harus langsung berteriak. Kecewa bukan berarti harus segera mengirim pesan kepada orang yang dianggap sebagai penyebab masalah. Begitu pula rasa sedih tidak selalu harus langsung ditunjukkan kepada orang lain.
Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang tidak hanya menunda reaksinya, tetapi juga berusaha menghilangkan atau menyangkal perasaan tersebut.
Mengapa Seseorang Memilih Memendam Emosi?
Ada banyak alasan mengapa seseorang terbiasa menyimpan perasaan sendiri.
Sebagian orang mungkin merasa tidak nyaman ketika harus menunjukkan kesedihan atau kemarahan di hadapan orang lain. Ada pula yang takut dianggap lemah jika mengakui bahwa dirinya sedang terluka.
Dalam situasi tertentu, seseorang bisa merasa bahwa membicarakan perasaan hanya akan memperbesar masalah. Akibatnya, diam dianggap sebagai pilihan yang lebih aman.
Kebiasaan tersebut juga dapat terbentuk karena pengalaman sebelumnya. Seseorang yang pernah merasa tidak didengarkan ketika mengungkapkan perasaan mungkin akhirnya memilih menyimpannya sendiri.
Ada juga orang yang sejak kecil terbiasa mendengar bahwa menangis adalah tanda kelemahan, marah harus selalu ditahan, atau persoalan pribadi sebaiknya tidak dibicarakan dengan orang lain.
Padahal, memiliki emosi merupakan bagian dari kehidupan manusia. Marah, sedih, kecewa, takut, malu, frustrasi, dan berbagai perasaan lainnya dapat muncul sebagai respons terhadap sesuatu yang terjadi.
Memiliki emosi bukan berarti seseorang tidak mampu mengendalikan diri. Justru, mengenali emosi dapat membantu seseorang memahami apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Memendam Emosi Bisa Membuat Seseorang Sulit Mengenali Perasaannya
Kinley Springs menjelaskan bahwa ketika seseorang berulang kali menyingkirkan emosi, ia memiliki lebih sedikit kesempatan untuk memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan.
Seseorang menjadi kurang terbiasa memperhatikan bagaimana sebuah emosi muncul di dalam tubuh, apa yang memicunya, serta pesan apa yang mungkin terkandung di balik perasaan tersebut.
Sebagai contoh, seseorang mungkin mengatakan bahwa dirinya sedang stres. Namun, setelah diperhatikan lebih jauh, ternyata perasaan yang muncul bukan hanya stres.
Bisa saja ada rasa kecewa karena tidak dihargai, marah karena diperlakukan tidak adil, sedih karena kehilangan sesuatu, atau cemas karena menghadapi ketidakpastian.
Penggunaan label yang terlalu umum terkadang membuat seseorang semakin sulit memahami kebutuhan dirinya.
Konselor kesehatan mental dan pendiri Interactive Counselling di Kanada, Amy Mosset, MPCC, RPC, menyarankan agar seseorang mencoba menggunakan kata-kata yang lebih spesifik ketika menggambarkan emosinya.
Menurut Mosset, mengatakan “saya frustrasi dan sedikit terhina” dapat lebih membantu dibandingkan hanya mengatakan “saya stres”.
Dengan mengenali emosi secara lebih spesifik, seseorang memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai apa yang sedang dialaminya.
Tubuh Tetap Bisa Merespons Emosi yang Disembunyikan
Salah satu alasan memendam emosi tidak dapat dianggap sebagai solusi jangka panjang adalah karena tubuh tetap dapat memberikan respons terhadap tekanan emosional.
Seseorang mungkin terlihat tenang dari luar. Ia tidak menangis, tidak berteriak, dan tidak menunjukkan kemarahan. Namun, kondisi tersebut tidak selalu berarti bahwa tubuh dan pikirannya benar-benar sudah tenang.
Dalam sebuah studi eksperimental yang disebutkan dalam laporan tersebut, orang yang diminta menahan emosinya memang dapat terlihat lebih tenang secara kasatmata. Namun, tubuh mereka tetap memberikan respons, salah satunya melalui peningkatan detak jantung.
Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak memperlihatkan emosi kepada orang lain bukan berarti respons terhadap emosi otomatis berhenti.
Reaksi tubuh dapat tetap muncul meskipun seseorang berusaha menyembunyikannya.
Karena itu, penting untuk membedakan antara mengendalikan perilaku dan menolak keberadaan emosi.
Mengendalikan perilaku berarti seseorang menyadari bahwa dirinya sedang marah, tetapi memilih tidak melakukan tindakan yang merugikan. Sementara itu, memendam dapat berarti berusaha meyakinkan diri bahwa kemarahan tersebut tidak boleh dirasakan atau tidak seharusnya ada.
Dampak Memendam Emosi Bisa Muncul dalam Kehidupan Sehari-hari
Emosi yang tidak diproses dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan sehari-hari.
Salah satu bentuknya adalah perubahan respons terhadap persoalan kecil.
Ketika seseorang terus menumpuk perasaan tanpa pernah memberikan ruang untuk menghadapinya, masalah yang sebenarnya sederhana dapat terasa jauh lebih besar.
Hal yang biasanya dapat diselesaikan dengan percakapan singkat mungkin justru memicu kemarahan berlebihan. Seseorang bisa menjadi lebih mudah tersinggung atau tiba-tiba marah karena persoalan kecil.
Padahal, pemicu pada saat itu mungkin bukan satu-satunya masalah yang sedang dihadapi.
Ada kemungkinan terdapat berbagai pengalaman sebelumnya yang belum selesai diproses dan kemudian ikut terbawa ke dalam situasi baru.
Inilah salah satu alasan mengapa mengenali emosi sejak awal penting dilakukan.
Dengan mengetahui bahwa dirinya sedang kecewa, marah, sedih, atau cemas, seseorang dapat memiliki kesempatan untuk mencari tahu penyebabnya sebelum perasaan tersebut menumpuk terlalu jauh.
Memendam Emosi Juga Dapat Memengaruhi Hubungan dengan Orang Lain
Kebiasaan memendam perasaan tidak hanya berkaitan dengan hubungan seseorang dengan dirinya sendiri.
Dampaknya juga dapat terasa dalam hubungan dengan pasangan, keluarga, teman, atau rekan kerja.
Seseorang yang selalu mengatakan “tidak apa-apa” ketika sebenarnya merasa terluka dapat membuat orang lain tidak memahami masalah yang sedang terjadi.
Dalam jangka panjang, pola tersebut dapat menciptakan jarak.
Orang lain mungkin mengira semuanya berjalan baik karena tidak pernah mendapatkan penjelasan mengenai apa yang dirasakan.
Sebaliknya, orang yang memendam emosi dapat merasa bahwa dirinya tidak dimengerti, meskipun ia sendiri tidak pernah menyampaikan apa yang sebenarnya sedang dirasakan.
Situasi tersebut dapat menjadi lingkaran yang sulit dihentikan.
Masalah kecil tidak dibicarakan. Perasaan terus disimpan. Kemudian muncul persoalan baru yang menambah beban emosional.
Pada akhirnya, emosi dapat keluar dalam bentuk yang tidak sesuai dengan masalah awal.
Jangan Menunggu Emosi Meledak
Tidak sedikit orang yang baru menyadari bahwa dirinya memiliki masalah setelah emosi sudah menumpuk.
Padahal, mengelola perasaan tidak harus menunggu sampai seseorang mengalami ledakan emosi.
Langkah sederhana dapat dimulai dengan memperhatikan perubahan dalam diri.
Misalnya, apakah seseorang menjadi lebih mudah marah? Apakah tubuh terasa tegang? Apakah tidur mulai terganggu? Apakah pikiran terus kembali pada kejadian tertentu? Apakah seseorang mulai menghindari percakapan atau orang tertentu karena tidak ingin berhadapan dengan perasaannya?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi bahan untuk melakukan refleksi.
Tujuannya bukan untuk mencari kesalahan pada diri sendiri, melainkan memahami apa yang sedang terjadi.
Emosi tidak harus langsung diselesaikan dalam satu waktu. Yang penting adalah memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk mengakuinya.
Cara Sehat Mengelola Emosi
Memproses emosi tidak berarti seseorang harus selalu mengungkapkan semua perasaan kepada orang lain.
Ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi emosi dengan lebih sehat.
Langkah pertama adalah menyadari bahwa perasaan tersebut ada.
Ketika sedang marah, akui bahwa sedang marah. Ketika sedih, tidak perlu memaksa diri untuk langsung merasa baik-baik saja. Ketika kecewa, berikan kesempatan untuk memahami sumber kekecewaan tersebut.
Menerima keberadaan sebuah emosi bukan berarti menyetujui tindakan yang muncul akibat emosi tersebut.
Seseorang tetap dapat memilih bagaimana dirinya akan bertindak.
Hal ini menjadi perbedaan penting antara mengelola emosi dan mengikuti emosi secara impulsif.
Beri Nama pada Perasaan yang Sedang Muncul
Salah satu langkah yang dapat dicoba adalah memberi nama pada emosi secara lebih spesifik.
Alih-alih hanya mengatakan “saya sedang tidak baik-baik saja”, seseorang dapat mencoba mencari tahu perasaan yang lebih tepat.
Apakah sedang marah?
Apakah kecewa?
Apakah merasa dipermalukan?
Apakah takut?
Apakah merasa diabaikan?
Apakah sedih?
Apakah frustrasi?
Semakin spesifik seseorang mengenali emosinya, semakin mudah pula untuk memahami apa yang mungkin menjadi pemicunya.
Amy Mosset mengatakan bahwa sebagian besar masalah besar yang datang ke tempat praktiknya berawal dari serangkaian hal yang awalnya dianggap terlalu sepele untuk dibicarakan.
Artinya, masalah tidak selalu dimulai dari satu kejadian besar.
Sering kali ada banyak kejadian kecil yang dibiarkan menumpuk.
Jangan Menganggap Semua Perasaan Harus Langsung Ditindaklanjuti
Menerima emosi bukan berarti seseorang harus langsung bertindak berdasarkan perasaan tersebut.
Seseorang dapat merasa marah tanpa harus melampiaskan kemarahan kepada orang lain.
Seseorang juga dapat merasa kecewa tanpa harus mengambil keputusan besar saat sedang berada dalam kondisi emosional.
Di sinilah kemampuan mengelola perasaan menjadi penting.
Emosi dapat diakui, tetapi tindakan tetap dipilih dengan pertimbangan.
Jika sedang berada dalam situasi yang tidak aman atau sangat mendesak, seseorang bahkan mungkin perlu menunda proses tersebut sampai keadaan memungkinkan.
Kinley Springs menjelaskan bahwa mengabaikan perasaan untuk sementara waktu terkadang memang diperlukan ketika tidak ada waktu, rasa aman, atau kapasitas untuk memprosesnya.
Dengan kata lain, menunda bukan selalu berarti memendam.
Perbedaan utamanya terletak pada apakah seseorang kembali memberikan ruang untuk memproses emosi tersebut setelah situasi memungkinkan.
Aktivitas Fisik Bisa Menjadi Jeda Saat Emosi Terasa Berat
Ketika emosi terasa terlalu kuat, seseorang tidak harus memaksakan diri untuk langsung membicarakan semuanya.
Amy Mosset menyarankan aktivitas fisik ringan sebagai salah satu cara untuk mengalihkan intensitas emosi sementara sebelum kembali memprosesnya.
Berjalan kaki, berolahraga, atau sekadar berdiri dan melakukan peregangan tubuh dapat menjadi pilihan sederhana.
Aktivitas tersebut bukan berarti menghilangkan masalah.
Fungsinya lebih sebagai jeda agar seseorang tidak langsung bereaksi ketika emosinya sedang berada pada tingkat yang tinggi.
Setelah kondisi terasa lebih stabil, seseorang dapat kembali memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
Dengan cara tersebut, keputusan yang diambil tidak semata-mata berdasarkan luapan emosi sesaat.
Jangan Menyamakan Tenang dengan Tidak Punya Masalah
Seseorang yang jarang menunjukkan kemarahan belum tentu tidak pernah merasa marah.
Begitu pula orang yang selalu tersenyum belum tentu tidak pernah merasa sedih.
Ekspresi yang terlihat dari luar tidak selalu menggambarkan kondisi emosional seseorang secara keseluruhan.
Inilah mengapa kebiasaan memendam emosi terkadang sulit dikenali.
Seseorang bisa menjalani rutinitas seperti biasa, bekerja, berinteraksi, bercanda, dan melakukan berbagai aktivitas, tetapi tetap menyimpan perasaan yang belum selesai.
Kondisi tersebut juga membuat orang di sekitarnya mungkin tidak menyadari bahwa ada persoalan yang sedang dihadapi.
Karena itu, penting untuk tidak menjadikan penampilan luar sebagai satu-satunya ukuran kondisi emosional seseorang.
Memendam Emosi Bukan Bentuk Kekuatan
Ada anggapan bahwa orang yang kuat adalah mereka yang mampu menahan semua perasaan.
Padahal, kekuatan emosional tidak selalu berarti mampu menyimpan semuanya sendirian.
Mengenali bahwa diri sendiri sedang marah, sedih, takut, atau kecewa juga membutuhkan keberanian.
Demikian pula ketika seseorang memutuskan untuk membicarakan perasaannya dengan orang yang dipercaya.
Mengakui emosi bukan berarti kehilangan kendali.
Justru, pengenalan terhadap emosi dapat membantu seseorang menentukan tindakan yang lebih tepat.
Sementara itu, terus-menerus menyangkal perasaan dapat membuat seseorang semakin jauh dari apa yang sebenarnya sedang dibutuhkan.
Perasaan Positif Juga Bisa Ikut Terpengaruh
Amy Mosset menjelaskan bahwa ketika seseorang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengecilkan kemarahan atau kesedihan, perasaan positif yang muncul juga dapat ikut meredup.
Hal tersebut menjadi pengingat bahwa kebiasaan mematikan emosi tidak selalu hanya memengaruhi perasaan negatif.
Ketika seseorang terbiasa mengatakan kepada dirinya bahwa tidak boleh terlalu merasakan sesuatu, kemampuan untuk menikmati perasaan positif pun dapat ikut berubah.
Karena itu, tujuan mengelola emosi bukanlah membuat seseorang hanya merasakan hal-hal menyenangkan.
Semua jenis emosi merupakan bagian dari pengalaman manusia.
Yang perlu dilakukan adalah belajar mengenali dan menghadapi emosi tersebut sehingga seseorang tidak sepenuhnya dikendalikan oleh perasaan yang muncul.
Keluhan Fisik Tidak Selalu Boleh Diabaikan
Dalam pengalamannya menangani klien, Mosset menyebut emosi yang terpendam dapat muncul bersamaan dengan keluhan fisik seperti rahang atau bahu yang kaku, sakit kepala, hingga gangguan tidur.
Namun, keluhan fisik tetap perlu diperhatikan secara serius dan tidak sebaiknya langsung dianggap hanya disebabkan oleh emosi.
Jika seseorang mengalami keluhan kesehatan, pemeriksaan medis tetap menjadi langkah penting untuk mengetahui penyebabnya.
Mosset menyebut, ketika pemeriksaan medis dinyatakan bersih, seseorang dapat mulai bertanya apakah ada sesuatu yang sedang ditanggung tubuh tetapi belum pernah diungkapkan.
Pendekatan tersebut bukan berarti menggantikan pemeriksaan medis, melainkan menjadi bagian dari upaya memahami hubungan antara kondisi emosional dan pengalaman tubuh.
Kapan Sebaiknya Mulai Memproses Emosi?
Tidak ada aturan bahwa seseorang harus langsung membicarakan perasaan beberapa menit setelah sesuatu terjadi.
Setiap orang memiliki kemampuan dan waktu pemulihan yang berbeda.
Namun, masalah dapat muncul ketika penundaan berubah menjadi kebiasaan untuk selamanya.
Jika seseorang terus mengatakan “nanti saja”, tetapi tidak pernah benar-benar kembali membahas atau memahami perasaannya, emosi tersebut berpotensi terus terbawa.
Karena itu, setelah situasi yang mendesak berakhir, cobalah memberikan waktu untuk kembali melihat apa yang sebenarnya dirasakan.
Tidak perlu selalu dalam bentuk percakapan panjang.
Menulis apa yang sedang dipikirkan, berjalan kaki sambil merenung, berbicara dengan orang yang dipercaya, atau melakukan aktivitas yang membuat tubuh lebih rileks dapat menjadi titik awal.
Tidak Semua Masalah Harus Diselesaikan Sendiri
Kebiasaan memendam emosi sering kali muncul karena seseorang merasa harus mampu menyelesaikan semuanya sendiri.
Padahal, berbicara dengan orang lain dapat membantu seseorang melihat masalah dari sudut pandang berbeda.
Orang yang dipercaya tidak harus selalu memberikan solusi.
Terkadang, memiliki ruang untuk bercerita tanpa merasa dihakimi sudah cukup membantu seseorang memahami apa yang sedang dirasakan.
Jika persoalan terasa terlalu berat atau terus mengganggu kehidupan sehari-hari, mencari bantuan profesional juga dapat menjadi pilihan.
Konselor atau terapis dapat membantu seseorang memahami pola emosi yang selama ini sulit dikenali.
Yang paling penting adalah tidak menganggap meminta bantuan sebagai kegagalan.
Mengelola Emosi Bukan Berarti Harus Selalu Terlihat Bahagia
Ada tekanan sosial yang membuat seseorang merasa harus selalu terlihat baik-baik saja.
Di tempat kerja, seseorang mungkin merasa harus terlihat kuat. Dalam keluarga, seseorang mungkin merasa harus menjadi pihak yang selalu sabar. Dalam pertemanan, seseorang mungkin tidak ingin dianggap terlalu sensitif.
Akibatnya, berbagai emosi akhirnya disimpan sendiri.
Padahal, manusia tidak mungkin selalu berada dalam kondisi emosional yang sama.
Ada hari ketika seseorang merasa bahagia. Ada hari ketika seseorang merasa kecewa. Ada waktu ketika seseorang sangat bersemangat dan ada pula saat ketika ia membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Menerima perubahan tersebut dapat membantu seseorang memiliki hubungan yang lebih sehat dengan emosinya.
Jangan Menganggap Emosi sebagai Musuh
Emosi pada dasarnya merupakan bagian dari pengalaman manusia.
Rasa marah dapat memberi tahu bahwa ada sesuatu yang dianggap tidak adil. Kesedihan dapat muncul setelah kehilangan. Rasa takut dapat membuat seseorang lebih berhati-hati. Kekecewaan dapat menunjukkan bahwa ada harapan yang tidak terpenuhi.
Tentu saja, emosi tidak selalu memberikan gambaran sempurna mengenai situasi.
Namun, emosi dapat menjadi informasi awal yang membantu seseorang memahami dirinya.
Masalah bukan terletak pada keberadaan emosi, tetapi bagaimana seseorang meresponsnya.
Ketika emosi muncul, seseorang memiliki pilihan untuk berhenti sejenak, mengenalinya, kemudian menentukan tindakan.
Memendam atau Mengelola? Kenali Perbedaannya
Perbedaan antara memendam dan mengelola emosi sebenarnya dapat dilihat dari bagaimana seseorang memperlakukan perasaannya.
Memendam berarti berusaha menyingkirkan perasaan karena tidak ingin merasakannya. Sementara itu, mengelola emosi berarti menyadari bahwa perasaan tersebut ada, tetapi memilih kapan dan bagaimana meresponsnya.
Memendam cenderung membuat seseorang menjauh dari emosinya.
Mengelola justru membuat seseorang lebih mengenal emosinya.
Memendam juga tidak menyelesaikan penyebab munculnya perasaan.
Sebaliknya, mengelola emosi memberikan kesempatan bagi seseorang untuk memahami pemicu, kebutuhan, serta tindakan yang dapat dilakukan setelahnya.
Seperti yang dijelaskan Amy Mosset, perbedaannya terletak pada keputusan mengenai waktu dan keputusan mengenai izin untuk merasakan.
Menunda reaksi bisa menjadi keputusan yang sehat.
Namun, menolak memberikan izin kepada diri sendiri untuk merasakan emosi justru dapat menjadi kebiasaan yang merugikan.
Langkah Sederhana untuk Mulai Berhenti Memendam Emosi
Bagi seseorang yang sudah lama terbiasa menyimpan perasaan, perubahan tidak harus dilakukan secara drastis.
Mulailah dari hal sederhana.
Pertama, akui bahwa emosi sedang muncul.
Kedua, coba beri nama pada perasaan tersebut secara spesifik.
Ketiga, cari tahu apa yang mungkin menjadi pemicunya.
Keempat, tanyakan kepada diri sendiri apa yang sebenarnya dibutuhkan.
Kelima, tentukan apakah perlu melakukan sesuatu atau cukup memberikan waktu sampai emosi lebih tenang.
Jika perlu membicarakan masalah dengan orang lain, pilih waktu ketika kondisi sudah lebih memungkinkan.
Langkah-langkah tersebut tidak menjamin setiap masalah langsung selesai. Namun, setidaknya seseorang tidak lagi sepenuhnya mengabaikan apa yang sedang dirasakan.
Kesimpulan
Memendam emosi mungkin terasa seperti jalan paling mudah untuk melewati situasi yang tidak nyaman. Seseorang dapat terlihat tenang, tetap bekerja seperti biasa, dan tidak menunjukkan masalah kepada orang lain.
Namun, ketenangan dari luar tidak selalu berarti kondisi di dalam diri benar-benar baik.
Menahan reaksi untuk sementara waktu dalam situasi tertentu merupakan hal yang wajar. Ketika seseorang sedang berada dalam kondisi mendesak, menakutkan, atau belum aman untuk memproses perasaan, menunda dapat menjadi pilihan yang masuk akal.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika menunda berubah menjadi kebiasaan untuk terus menghindari emosi.
Memendam perasaan dalam waktu lama dapat membuat seseorang semakin sulit mengenali apa yang sedang dirasakan. Tubuh juga tetap dapat memberikan respons terhadap kondisi emosional, meskipun perasaan tersebut tidak ditunjukkan kepada orang lain.
Karena itu, mengelola emosi bukan berarti harus selalu meluapkannya.
Mengelola emosi berarti berani mengakui bahwa perasaan tersebut ada, memberikan waktu untuk memahaminya, lalu menentukan tindakan yang tepat.
Mulailah dengan langkah sederhana. Kenali apakah sedang marah, sedih, kecewa, takut, frustrasi, atau merasa tidak dihargai. Jangan buru-buru menganggap perasaan tersebut sebagai sesuatu yang harus dihilangkan.
Jika emosi terasa terlalu berat, beri diri sendiri jeda. Berjalan kaki, melakukan aktivitas fisik ringan, berbicara dengan orang yang dipercaya, atau mencari bantuan profesional dapat menjadi pilihan sesuai kebutuhan.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan bukan hanya tentang memperhatikan apa yang terlihat secara fisik. Memberikan ruang untuk memahami perasaan juga menjadi bagian penting dari cara seseorang merawat dirinya.
Jadi, jangan terus-menerus memendam emosi hanya karena ingin terlihat kuat. Tidak semua perasaan harus langsung diluapkan, tetapi setiap perasaan juga layak untuk dikenali dan dipahami.
Sumber : www.kompas.com
