Foto: mstar.com.my
Setelah momen Lebaran, tradisi halal bihalal kerap diadakan di berbagai sekolah sebagai bentuk silaturahmi antara guru dan siswa. Acara ini biasanya diisi dengan kegiatan bersalaman, bercengkerama, hingga makan bersama dengan membawa hidangan secara potluck. Namun, sebuah unggahan viral menunjukkan bahwa tidak semua orang menyambutnya dengan senang hati—terutama ketika aturan jadi terlalu spesifik.
Seorang ibu yang tidak disebutkan namanya membagikan kekecewaannya terhadap permintaan tidak biasa dari guru anaknya terkait kegiatan halal bihalal di sekolah. Unggahannya, yang dilansir oleh MStar.com.my pada Sabtu (12/04/2025), memperlihatkan rasa kesal lantaran sang anak diminta membawa tiga jenis makanan khas Lebaran: sate, lemang, dan ketupat.
Menu Wajib atau Saran? Ketidakjelasan Guru Tuai Protes
Permintaan yang sangat spesifik tersebut membuat sang ibu merasa acara potluck sekolah justru kehilangan esensi fleksibilitasnya. Alih-alih membebaskan murid dan orang tua memilih hidangan yang sesuai kemampuan dan preferensi, pihak guru malah menetapkan menu yang dianggap “kelas berat” untuk standar anak-anak sekolah.
“Aku sampai bingung. Ini makanan buat anak-anak atau selera guru yang ingin dipuaskan?” tulis ibu tersebut dalam unggahannya.
Tak hanya sampai di situ, guru juga disebut-sebut membagikan kontak penjual sate, lemang, dan ketupat—seolah ingin memastikan makanan yang dibawa benar-benar sesuai spesifikasi.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Si ibu mengaku takut jika makanan berat yang dikumpulkan justru tidak dibagikan secara adil kepada murid, melainkan dibawa pulang oleh para guru, sementara anak-anak hanya mendapat kudapan ringan.
Viral & Menuai Perdebatan di Kalangan Netizen
Unggahan sang ibu langsung menyulut perdebatan hangat di media sosial. Sebagian besar netizen ikut geram dengan kebijakan yang dianggap terlalu memaksa dan tidak peka terhadap kondisi masing-masing orang tua.
“Ini sih bukan potluck namanya, tapi semacam catering berjamaah yang didanai orang tua,” tulis seorang netizen.
Yang lain menyindir, “Serius guru sampai siap-siap kasih nomor penjual? Kreatif sih… tapi terlalu niat!”
Namun tidak sedikit pula warganet yang mencoba berpikir positif. Mereka meyakini bahwa instruksi dari guru tersebut mungkin hanya sebatas saran, bukan kewajiban mutlak.
“Mungkin itu hanya untuk menghindari semua anak bawa makanan manis. Kalau nggak diatur, semua bisa bawa kue nastar dan keripik kentang,” ujar netizen yang memberi perspektif lain.
Ada juga yang menyebut bahwa guru kemungkinan hanya ingin mengatur keberagaman menu agar halal bihalal terasa lebih meriah, bukan bermaksud memaksa.
Inti Potluck: Kebersamaan, Bukan Kekangan
Tradisi membawa makanan secara potluck sejatinya dimaksudkan untuk membangun rasa kebersamaan tanpa tekanan. Namun, ketika aturan menjadi terlalu mendikte—bahkan sampai menyarankan vendor tertentu—esensi sukarela dari kegiatan itu bisa bergeser menjadi beban.
Kasus ini pun menjadi pengingat bahwa dalam acara kebersamaan, fleksibilitas dan empati terhadap kondisi masing-masing keluarga adalah hal penting yang tak boleh diabaikan.
