sumber illustrasi : freepik
Saat kita mendengar kata “vitamin C”, mungkin yang langsung terbayang adalah rasa asam jeruk atau lemon. Padahal, menurut dr. Nurul Ratna Mutu Manikam, M.Gizi, Sp.GK, rasa asam bukan satu-satunya penanda utama dari kandungan vitamin C dalam suatu makanan.
Dalam wawancaranya dengan Kompas.com (4/7/2025), dokter spesialis gizi klinis ini menjelaskan bahwa vitamin C atau asam askorbat memang secara kimiawi memiliki sifat asam. Karena itulah, suplemen vitamin C biasanya memiliki cita rasa yang masam. Meski begitu, tidak semua makanan tinggi vitamin C memiliki rasa yang asam. Ada buah dan sayuran yang rasanya cenderung netral bahkan manis, namun tetap kaya akan nutrisi ini.
“Tingkat keasaman tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah vitamin C yang dikandung,” jelas dr. Nurul.
Jeruk memang identik sebagai ikon vitamin C, namun ternyata bukan yang tertinggi dalam daftar. Berdasarkan penjelasan dr. Nurul, posisi puncak justru dipegang oleh jambu biji merah, diikuti oleh kiwi, lalu stroberi dan mangga.
Berikut urutan dan kadar vitamin C dari beberapa buah dan sayur, berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber:
🌟 Buah-Buahan:
-
Jambu biji merah – 103 mg vitamin C per buah
-
Kiwi – 74,7 mg per 100 gram
-
Stroberi – 58,8 mg per 100 gram
-
Jeruk sunkist – 59,1 mg per 100 gram
-
Mangga – 36,4 mg per 100 gram (sekitar 60 mg per satu cangkir mangga potong)
🥬 Sayur-Sayuran:
-
Wortel – 5,9 mg vitamin C per 100 gram
-
Selada – 2,8 mg per 100 gram
Artinya, sumber vitamin C bisa berasal dari berbagai jenis makanan, tak terbatas pada buah yang masam saja. Bahkan, sayuran seperti wortel dan selada yang cenderung hambar pun bisa menyumbang asupan vitamin C, meski dalam jumlah lebih kecil.
dr. Nurul juga menyarankan agar masyarakat mengonsumsi buah-buahan dengan beragam warna. Sebab, selain vitamin C, mereka juga kaya antioksidan lain seperti flavonoid dan beta-karoten yang baik bagi imunitas dan kesehatan kulit.
