Matcha (Ilustrasi/Freepik)
Buletinmedia.com – Minuman berbahan dasar teh hijau, Matcha, kembali menarik perhatian setelah hasil penelitian terbaru mengungkap manfaatnya dalam membantu mengurangi frekuensi bersin akibat alergi. Studi yang dilakukan oleh Universitas Hiroshima, Jepang, menunjukkan bahwa matcha berpotensi memberikan efek positif bagi penderita rinitis alergi atau yang sering dikenal sebagai hay fever.
Temuan ini menjadi kabar menarik, terutama bagi mereka yang kerap mengalami gangguan alergi hidung seperti bersin berulang, hidung tersumbat, hingga rasa gatal yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan mencoba mengungkap bagaimana matcha bekerja dalam meredakan gejala alergi, bukan hanya dari sisi imun, tetapi juga dari sistem saraf.
Matcha dan Kandungan yang Bermanfaat
Matcha selama ini dikenal sebagai salah satu minuman sehat yang kaya nutrisi. Bubuk berwarna hijau ini berasal dari daun teh yang dikeringkan, kemudian digiling hingga sangat halus. Tidak seperti teh biasa, matcha dikonsumsi secara utuh, sehingga seluruh kandungan nutrisinya dapat masuk ke dalam tubuh.
Di dalam matcha terdapat berbagai senyawa penting seperti antioksidan, polifenol, serta asam amino. Kandungan tersebut telah lama dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan, mulai dari menjaga fungsi jantung, meningkatkan konsentrasi, hingga membantu menurunkan peradangan.
Karena sifat antiinflamasi yang dimilikinya, para peneliti tertarik untuk mengetahui apakah matcha juga dapat berperan dalam meredakan gejala alergi, khususnya yang berkaitan dengan sistem pernapasan.
Fokus Penelitian pada Rinitis Alergi
Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Hiroshima ini dipimpin oleh Osamu Kaminuma dari Research Institute for Radiation Biology and Medicine. Ia menjelaskan bahwa meskipun beberapa studi sebelumnya telah menunjukkan potensi teh hijau dalam meredakan alergi, mekanisme pastinya masih belum sepenuhnya dipahami.
Untuk itu, tim peneliti melakukan eksperimen menggunakan model hewan. Mereka menggunakan tikus yang telah direkayasa untuk menunjukkan gejala mirip rinitis alergi pada manusia. Pendekatan ini memungkinkan para ilmuwan mengamati secara detail bagaimana tubuh merespons paparan alergen dan bagaimana matcha memengaruhi respons tersebut.
Dalam percobaan, tikus diberikan matcha secara rutin, yaitu dua hingga tiga kali dalam seminggu selama lebih dari lima minggu. Selain itu, mereka juga menerima dosis tambahan sebelum terpapar pemicu alergi.
Hasil Penelitian: Bersin Berkurang Signifikan
Hasilnya cukup menarik. Tikus yang mengonsumsi matcha menunjukkan penurunan frekuensi bersin secara signifikan dibandingkan dengan kelompok yang tidak mendapatkan perlakuan tersebut.
Yang membuat temuan ini semakin unik adalah cara kerja matcha yang ternyata berbeda dari obat alergi pada umumnya. Dalam sistem imun, alergi biasanya melibatkan antibodi seperti immunoglobulin E (IgE), sel mast, dan sel T. Ketika tubuh terpapar alergen, IgE akan memicu sel mast untuk melepaskan histamin, yang kemudian menyebabkan gejala seperti bersin dan gatal.
Namun dalam penelitian ini, matcha tidak secara signifikan memengaruhi komponen-komponen tersebut. Artinya, matcha tidak bekerja dengan cara menekan respons imun seperti obat antihistamin pada umumnya.
Sebaliknya, efek matcha justru terlihat pada sistem saraf, khususnya di bagian otak yang mengatur refleks bersin.
Cara Kerja Matcha yang Berbeda
Menurut Kaminuma, matcha mampu menekan aktivitas neuron di batang otak yang berkaitan dengan refleks bersin. Dengan kata lain, matcha bekerja langsung pada pusat kendali bersin di otak, bukan hanya pada reaksi alergi di tingkat sel.
Untuk membuktikan hal tersebut, para peneliti mengamati aktivitas gen bernama c-Fos. Gen ini sering digunakan sebagai penanda aktivitas saraf ketika tubuh merespons rangsangan tertentu, termasuk alergen.
Pada kondisi normal, paparan alergen akan meningkatkan aktivitas gen c-Fos di area otak yang mengatur bersin. Namun, pada tikus yang diberikan matcha, peningkatan aktivitas tersebut jauh lebih rendah. Bahkan, dalam beberapa kasus, nilainya mendekati kondisi normal.
Temuan ini menunjukkan bahwa matcha dapat membantu meredakan gejala alergi dengan cara menenangkan respons saraf, bukan hanya dengan menghambat reaksi imun.
Potensi sebagai Pendukung Terapi Alergi
Hasil penelitian ini membuka peluang baru dalam penanganan rinitis alergi. Selama ini, pengobatan alergi umumnya berfokus pada penggunaan obat antihistamin atau terapi imun. Namun, pendekatan berbasis makanan seperti matcha bisa menjadi pelengkap yang lebih alami.
Kaminuma menegaskan bahwa tujuan dari penelitian ini bukan untuk menggantikan pengobatan medis, melainkan memberikan alternatif tambahan yang didukung oleh bukti ilmiah.
Pendekatan ini dinilai lebih aman untuk penggunaan jangka panjang, terutama bagi mereka yang ingin mengurangi ketergantungan pada obat-obatan kimia.
Masih Perlu Uji pada Manusia
Meski hasil penelitian ini menjanjikan, para ilmuwan menekankan bahwa uji coba pada manusia masih diperlukan. Studi yang dilakukan saat ini masih terbatas pada model hewan, sehingga efektivitasnya pada manusia belum dapat dipastikan sepenuhnya.
Langkah selanjutnya adalah melakukan penelitian klinis untuk melihat apakah efek yang sama juga terjadi pada penderita alergi manusia. Jika hasilnya konsisten, bukan tidak mungkin matcha akan menjadi bagian dari rekomendasi diet bagi penderita rinitis alergi.
Gaya Hidup Sehat Jadi Kunci
Selain mengonsumsi matcha, menjaga gaya hidup sehat tetap menjadi faktor penting dalam mengelola alergi. Menghindari pemicu alergi, menjaga kebersihan lingkungan, serta memperkuat daya tahan tubuh adalah langkah-langkah yang tidak kalah penting.
Matcha bisa menjadi tambahan yang membantu, tetapi bukan satu-satunya solusi. Konsultasi dengan tenaga medis tetap diperlukan, terutama bagi mereka yang memiliki alergi berat.
Kesimpulan
Penelitian dari Universitas Hiroshima memberikan perspektif baru tentang manfaat matcha dalam membantu mengurangi bersin akibat alergi. Dengan mekanisme kerja yang berbeda dari obat konvensional, matcha menawarkan pendekatan yang unik melalui sistem saraf.
Meski masih memerlukan penelitian lanjutan pada manusia, temuan ini menunjukkan potensi besar dari bahan alami sebagai pendukung kesehatan. Bagi pecinta matcha, ini bisa menjadi kabar baik sekaligus alasan tambahan untuk menikmati minuman hijau ini.
Ke depan, kombinasi antara pola hidup sehat, konsumsi makanan bergizi, dan pemahaman ilmiah yang terus berkembang diharapkan mampu memberikan solusi yang lebih efektif bagi penderita alergi.
Sumber : www.kompas.com
