Polda Sulsel Bongkar Sindikat Uang Palsu di Kampus UIN Alauddin: Mesin Cetak dari China, Motif Politik, dan Otak Pelaku Masih Buron (Tangkapan Layar)
Buletinmedia.com – Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) terus mendalami kasus sindikat uang palsu yang mengejutkan masyarakat. Fakta baru mengungkapkan peran seorang pengusaha berinisial ASS, yang kini menjadi buronan polisi.
ASS, yang dikenal sebagai pengusaha sukses dan memiliki hubungan dengan seorang mantan perwira tinggi Polri asal Sulsel, diduga sebagai otak di balik produksi uang palsu di wilayah ini. Polisi menyatakan bahwa kegiatan produksi awalnya berlangsung di rumah ASS di Jalan Sunu, Makassar. Namun, seiring meningkatnya kebutuhan, lokasi produksi dipindahkan ke Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM) di Samata, Gowa. Kapolda Sulsel, Irjen Pol Yudhiawan Wibisono, menjelaskan bahwa produksi di kampus dimungkinkan oleh peran tersangka lainnya, Dr. Andi Ibrahim, Kepala UPT Perpustakaan UINAM. Peralatan besar senilai Rp600 juta yang dipesan dari China, melalui Surabaya, dibawa ke ruang bekas toilet di perpustakaan kampus tersebut.
Mesin ini mampu mencetak uang palsu dalam jumlah besar dengan kualitas tinggi. Menurut Irjen Yudhiawan, uang palsu yang dihasilkan bahkan tidak terdeteksi x-ray, menunjukkan kecanggihan teknologi yang digunakan. Dalam penggeledahan, polisi menyita barang bukti berupa mesin cetak, kertas khusus, tinta impor dari China, dan 40 rim kertas yang cukup untuk mencetak uang palsu hingga Rp48 miliar. Dr. Andi Ibrahim, salah satu aktor utama dalam kasus ini, memiliki ambisi politik yang menjadi motif di balik tindakannya. Polisi menyebut bahwa ia berencana mencalonkan diri sebagai Wali Kota Makassar pada Pilkada 2024. Namun, kurangnya dukungan partai politik membuatnya mencari cara alternatif untuk mendanai kampanye.
Bahkan, Ibrahim sempat menawarkan proposal kerja sama kepada kandidat lain dalam Pilkada Kabupaten Barru. Untungnya, kerja sama tersebut batal, sehingga uang palsu yang diproduksi tidak digunakan untuk money politics. Penyelidikan mendalam mengungkapkan bahwa sindikat ini telah beroperasi sejak 2010. Selama lebih dari satu dekade, mereka mencetak uang palsu dengan total mencapai puluhan miliar rupiah. Dalam sebuah konferensi pers di Mapolres Gowa, polisi menunjukkan proposal Pilkada yang diajukan Andi Ibrahim, bersama dengan barang bukti lainnya. Kasus ini terungkap pada Jumat (13/12/2024), ketika polisi menemukan mesin cetak uang di Perpustakaan Syekh Yusuf, UIN Alauddin. Andi Ibrahim dan seorang staf perpustakaan langsung ditangkap. Hingga kini, total 16 orang telah ditetapkan sebagai tersangka, sementara ASS, yang disebut sebagai penyandang dana utama, masih buron.
Kapolda Sulsel berjanji akan menangkap ASS dan menuntaskan kasus ini. “DPO ini akan kami tangkap dan periksa hingga tuntas,” tegasnya. Pengungkapan ini tidak hanya mengejutkan masyarakat Sulsel tetapi juga mencoreng nama institusi akademik yang dijadikan tempat produksi uang palsu. Mahasiswa UINAM mengaku tidak menyadari keberadaan mesin pencetak uang palsu di kampus mereka, karena alat tersebut disembunyikan di ruang yang sebelumnya adalah toilet.
Kasus ini menjadi peringatan akan bahaya ambisi tanpa batas yang dapat membawa dampak buruk bagi masyarakat luas. Polisi terus mengupayakan pengungkapan lebih dalam untuk memastikan sindikat ini benar-benar dihentikan.
