Musim kemarau dimanfaatkan petani garam untuk mulai panen di tambak-tambak garapan mereka di Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon. (Foto : Darfan)
CIREBON, Buletinmedia.com – Musim kemarau yang mulai berlangsung di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, membawa berkah bagi para petani garam. Cuaca panas yang stabil membuat produksi garam meningkat dan sejumlah tambak mulai memasuki masa panen. Namun, melimpahnya hasil panen justru diiringi kabar kurang menggembirakan. Harga garam di tingkat petani terus merosot hingga hanya mencapai Rp800 per kilogram, sehingga banyak petani mengaku kesulitan memperoleh keuntungan.
Kondisi tersebut menjadi keluhan utama para petani garam di wilayah sentra produksi, khususnya di Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon. Mereka terpaksa menjual hasil panen dengan harga rendah karena membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Memasuki musim kemarau, aktivitas panen garam mulai terlihat di berbagai tambak. Para petani memanfaatkan cuaca cerah untuk memanen garam yang telah mengkristal di lahan produksi. Tumpukan garam putih tampak memenuhi area tambak, menandakan produksi tahun ini mulai meningkat dibandingkan saat musim hujan.
Di salah satu sentra produksi garam di Kecamatan Pangenan, para petani tampak sibuk mengumpulkan hasil panen ke dalam karung sebelum diangkut oleh pengepul. Meski hasil produksi cukup melimpah, raut wajah para petani tidak menunjukkan kegembiraan. Mereka justru khawatir karena harga garam terus mengalami penurunan.
Menurut para petani, penurunan harga mulai terjadi sejak akhir Juni 2026. Saat itu, harga garam kasar di tingkat petani masih berada di kisaran Rp1.500 per kilogram. Namun, seiring semakin banyaknya wilayah yang memasuki masa panen, harga perlahan terus turun.
Kini harga garam hanya berada di kisaran Rp900 hingga Rp800 per kilogram. Penurunan tersebut terjadi secara bertahap hampir setiap hari, sehingga membuat para petani tidak memiliki kepastian mengenai harga jual hasil panen mereka.
Petani garam, Rokim, mengatakan hasil panen sebenarnya cukup baik berkat cuaca yang mendukung proses produksi. Akan tetapi, harga yang terus turun membuat pendapatan petani ikut merosot.
“Ya mulai panen, hasil panennya lumayan. Cuma harganya terus turun karena banyak yang panen. Sekarang harganya Rp900 sampai Rp800 per kilogram. Kemarin masih Rp1.400, lumayan. Turunnya hampir setiap hari, kadang Rp200, Rp100, bahkan Rp50. Ada yang cuma dihargai Rp800 per kilogram. Empat karung paling dapat Rp100 ribu. Kalau disimpan, kami tidak punya uang untuk kebutuhan sehari-hari, jadi terpaksa dijual murah. Harapannya harga bisa naik lagi, minimal Rp1.500 per kilogram. Tapi kemungkinan masih turun,” ujar Rokim.
Pengakuan Rokim menggambarkan kondisi yang dihadapi sebagian besar petani garam di Cirebon. Mereka tidak memiliki pilihan selain menjual hasil panen meskipun harga sedang rendah. Berbeda dengan komoditas lain yang dapat disimpan dalam jangka waktu tertentu, sebagian petani garam memilih segera menjual hasil panen karena membutuhkan dana untuk memenuhi kebutuhan keluarga maupun biaya produksi berikutnya.
Penurunan harga garam yang berlangsung hampir setiap hari juga membuat para petani sulit memperkirakan pendapatan. Mereka khawatir harga akan kembali turun ketika wilayah lain mulai memasuki masa panen dalam beberapa pekan ke depan.
Petani garam lainnya, Kusnadi, juga mengaku merasakan dampak langsung dari turunnya harga garam. Menurutnya, penurunan mulai terjadi setelah sejumlah tambak di wilayah sekitar mulai melakukan panen.
“Sekarang panen, tapi harganya turun jadi Rp900 per kilogram. Sejak daerah sebelah mulai panen, harga terus turun. Tadinya Rp1.500, sekarang Rp900, bahkan di tempat lain hanya Rp800,” kata Kusnadi.
Melimpahnya produksi garam memang menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga di tingkat petani. Ketika pasokan meningkat dalam waktu bersamaan, harga jual cenderung mengalami penurunan karena jumlah barang yang tersedia jauh lebih besar dibandingkan permintaan pasar.
Meski demikian, para petani berharap penurunan harga tidak berlangsung terlalu lama. Mereka menginginkan adanya harga yang lebih stabil sehingga hasil panen yang diperoleh mampu memberikan keuntungan yang layak.
Selain menghadapi harga jual yang rendah, petani juga harus menanggung berbagai biaya produksi. Mulai dari biaya pengolahan tambak, pembelian peralatan, hingga kebutuhan tenaga kerja selama proses produksi berlangsung. Ketika harga garam turun drastis, keuntungan yang diperoleh petani menjadi sangat tipis, bahkan tidak sedikit yang mengaku hanya mampu menutup biaya operasional.
Sebagian petani sebenarnya ingin menunda penjualan dengan menyimpan garam hingga harga kembali membaik. Namun, keterbatasan modal membuat langkah tersebut sulit dilakukan. Mereka membutuhkan uang tunai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga hasil panen harus segera dijual kepada pengepul meski harganya rendah.
Para petani memperkirakan harga garam masih berpotensi turun dalam beberapa waktu ke depan. Pasalnya, masih banyak tambak garam di wilayah Cirebon yang belum memasuki masa panen. Ketika produksi semakin melimpah, pasokan garam diperkirakan akan terus meningkat dan berpengaruh terhadap harga di pasaran.
Kondisi ini menjadi perhatian para petani karena setiap musim kemarau mereka selalu dihadapkan pada persoalan yang hampir sama. Saat produksi meningkat, harga justru mengalami penurunan. Sebaliknya, ketika harga mulai membaik, produksi garam menurun akibat musim hujan.
Para petani berharap pemerintah bersama pihak terkait dapat mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga garam di tingkat petani. Salah satu harapan mereka adalah adanya kebijakan penyerapan hasil panen atau penguatan tata niaga garam sehingga harga tidak jatuh terlalu dalam saat musim panen raya.
Selain itu, petani juga berharap adanya dukungan berupa fasilitas penyimpanan atau gudang garam yang memadai. Dengan adanya tempat penyimpanan, petani tidak harus menjual seluruh hasil panen saat harga sedang rendah dan dapat menunggu hingga harga kembali stabil.
Stabilitas harga dinilai sangat penting untuk menjaga keberlangsungan usaha para petani garam. Sebab, komoditas garam tidak hanya menjadi sumber penghasilan utama bagi ribuan keluarga di kawasan pesisir Cirebon, tetapi juga berperan dalam memenuhi kebutuhan industri dan konsumsi masyarakat.
Dengan panen yang masih berlangsung di berbagai wilayah, para petani berharap harga garam segera kembali membaik. Mereka optimistis produksi garam tahun ini cukup tinggi, namun kesejahteraan petani baru dapat meningkat apabila hasil panen tersebut diimbangi dengan harga jual yang layak di tingkat petani.
