Ho Chi Minh City Street Food (Tangkapan Layar)
Buletinmedia.com – Kota Ho Chi Minh, Vietnam, kembali menunjukkan kekuatannya sebagai salah satu destinasi kuliner paling menarik di Asia. Dalam daftar kota dengan street food terbaik di dunia 2026 yang dirilis Time Out, Ho Chi Minh berhasil menempati posisi pertama, mengungguli sejumlah kota yang selama ini dikenal sebagai surga kuliner, termasuk Kuala Lumpur, Jakarta, Taipei, Bangkok, hingga Mumbai.
Ho Chi Minh memperoleh tingkat persetujuan sebesar 63 persen dalam daftar tersebut. Capaian ini sekaligus menjadi pencapaian penting bagi kota terbesar di Vietnam tersebut karena untuk pertama kalinya Ho Chi Minh berhasil menduduki peringkat teratas sebagai kota terbaik di dunia untuk menikmati jajanan kaki lima.
Yang menarik, Jakarta juga berhasil masuk ke jajaran teratas. Ibu kota Indonesia tersebut berada di peringkat ketiga dengan skor 59 persen, berbagi posisi dengan Taipei, Taiwan. Hasil ini menjadi kabar membanggakan bagi dunia kuliner Indonesia karena makanan kaki lima Jakarta mampu bersaing dengan berbagai destinasi kuliner populer dari sejumlah negara.
Daftar yang dirilis Time Out tersebut memperlihatkan bahwa street food masih menjadi salah satu daya tarik utama dalam perjalanan wisata. Bagi banyak wisatawan, mencicipi makanan yang dijual langsung di pinggir jalan justru memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan makan di restoran mewah.
Ho Chi Minh Jadi Juara Street Food Dunia 2026
Ho Chi Minh berada di posisi pertama dalam daftar street food terbaik dunia 2026 dengan tingkat persetujuan sebesar 63 persen. Kota yang dahulu dikenal dengan nama Saigon tersebut memang memiliki tradisi kuliner kaki lima yang sangat kuat.
Di berbagai sudut kota, wisatawan dapat dengan mudah menemukan pedagang yang menjajakan makanan dari pagi hingga malam hari. Mulai dari pho, banh mi, nasi, mi, makanan laut, hingga berbagai makanan ringan tersedia di lapak-lapak sederhana yang berada di pinggir jalan.
Time Out menilai salah satu daya tarik utama street food di Ho Chi Minh adalah kesegaran makanan yang disajikan. Banyak makanan dibuat langsung ketika pelanggan memesan. Aroma masakan yang keluar dari wajan panas juga menjadi bagian dari pengalaman ketika menjelajahi kawasan kuliner di kota tersebut.
Pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati rasa makanan. Mereka juga dapat melihat langsung bagaimana makanan tersebut disiapkan. Aktivitas memasak di tengah keramaian jalan menjadi bagian dari suasana khas Ho Chi Minh yang sulit ditemukan ketika seseorang memilih bersantap di restoran konvensional.
Karakter seperti inilah yang membuat kuliner kaki lima Ho Chi Minh begitu menarik bagi wisatawan dari berbagai negara.
Bukan Hanya Restoran Mewah
Ho Chi Minh sebenarnya juga memiliki perkembangan industri restoran yang cukup pesat. Kota tersebut memiliki sejumlah restoran yang mendapatkan pengakuan Michelin.
Salah satunya adalah Anan Saigon, restoran yang dikenal mengangkat cita rasa Vietnam dalam konsep yang lebih modern. Keberadaan restoran berbintang tersebut menunjukkan bahwa perkembangan kuliner Ho Chi Minh tidak hanya terjadi di sektor makanan kaki lima.
Namun, bagi wisatawan yang ingin merasakan karakter asli kuliner kota tersebut, Time Out justru menyarankan untuk tidak hanya terpaku pada restoran mewah.
Kawasan sekitar Pasar Ben Thanh menjadi salah satu lokasi yang menarik untuk dijelajahi. Di area tersebut, wisatawan dapat menemukan berbagai pedagang makanan yang menawarkan hidangan khas Vietnam dengan suasana yang jauh lebih sederhana.
Semangkuk pho panas yang disantap menggunakan kursi plastik di pinggir jalan bisa memberikan pengalaman berbeda. Begitu juga dengan banh mi yang dapat dinikmati sambil berjalan menyusuri kawasan kota.
Bagi sebagian wisatawan, pengalaman seperti itu justru menjadi bagian paling berkesan selama berada di Vietnam.
Jakarta Masuk 3 Besar Street Food Terbaik Dunia
Prestasi Ho Chi Minh bukan satu-satunya hal menarik dalam daftar Time Out 2026. Indonesia juga mendapatkan sorotan setelah Jakarta berhasil masuk tiga besar.
Jakarta memperoleh tingkat persetujuan 59 persen dan berada di peringkat ketiga bersama Taipei. Posisi tersebut membuat Jakarta berada di atas sejumlah kota yang selama ini dikenal memiliki tradisi street food yang kuat.
Bangkok, misalnya, hanya menempati posisi kesembilan dengan skor 56 persen. Sementara Manila berada di posisi keenam dengan skor 58 persen.
Bagi Jakarta, masuknya ke dalam tiga besar menjadi pengakuan terhadap kekayaan kuliner kaki lima yang berkembang di berbagai penjuru kota.
Jakarta memang memiliki karakter kuliner yang sangat beragam. Makanan tradisional dari berbagai daerah di Indonesia dapat ditemukan dengan mudah, berdampingan dengan makanan yang berkembang dari kreativitas pedagang lokal.
Dari warung sederhana, gerobak kaki lima, pasar tradisional, hingga kawasan street food modern, pilihan makanan di Jakarta hampir tidak ada habisnya.
Kekayaan Kuliner Jakarta Jadi Daya Tarik
Salah satu kekuatan street food Jakarta adalah keberagaman pilihan. Wisatawan tidak hanya dapat menemukan makanan khas Betawi, tetapi juga berbagai makanan dari Jawa, Sumatra, Sulawesi, hingga wilayah Indonesia lainnya.
Sebut saja nasi uduk, kerak telor, soto Betawi, gado-gado, ketoprak, nasi goreng, sate, bubur ayam, hingga berbagai jenis gorengan.
Makanan tersebut dapat ditemukan dalam berbagai bentuk dan harga. Ada makanan yang dijual menggunakan gerobak sederhana dengan harga terjangkau, tetapi ada pula konsep street food yang dikembangkan menjadi tempat makan modern.
Kondisi tersebut membuat Jakarta memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin menjelajahi kuliner.
Salah satu hal yang juga membuat kuliner kaki lima Jakarta menarik adalah aktivitasnya yang berlangsung hampir sepanjang hari. Beberapa kawasan bahkan baru mulai ramai ketika malam tiba.
Warung makan, kedai, gerobak, hingga pusat jajanan dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin menikmati makanan setelah beraktivitas.
Bagi wisatawan asing, suasana tersebut juga memberikan pengalaman untuk melihat kehidupan masyarakat Jakarta secara lebih dekat.
Jakarta Kalahkan Bangkok
Masuknya Jakarta ke posisi ketiga menjadi semakin menarik karena kota tersebut berhasil berada di atas Bangkok dalam daftar tahun ini.
Bangkok selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu destinasi street food paling populer di dunia. Kota tersebut memiliki banyak kawasan kuliner yang menjadi tujuan wisatawan.
Namun, dalam daftar Time Out 2026, Bangkok berada di posisi kesembilan dengan skor 56 persen.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa popularitas sebuah destinasi kuliner tidak hanya ditentukan oleh jumlah makanan yang tersedia. Pengalaman wisatawan, cita rasa, keberagaman, harga, suasana, hingga keaslian makanan turut berpengaruh terhadap penilaian.
Jakarta memiliki keunggulan tersendiri dari sisi keberagaman makanan. Sebagai kota yang dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang daerah, Jakarta menjadi tempat bertemunya berbagai tradisi kuliner Indonesia.
Kuala Lumpur Berada di Posisi Kedua
Sementara itu, Kuala Lumpur, Malaysia, menempati posisi kedua dengan tingkat persetujuan sebesar 62 persen.
Posisi Kuala Lumpur hanya terpaut satu poin dari Ho Chi Minh. Kota tersebut juga dikenal sebagai salah satu destinasi kuliner populer di Asia Tenggara.
Kuala Lumpur memiliki keragaman makanan yang dipengaruhi oleh berbagai budaya. Makanan Melayu, China, India, hingga kuliner modern dapat ditemukan dalam satu kawasan.
Kondisi tersebut membuat wisatawan dapat menikmati banyak pilihan makanan dalam satu perjalanan.
Keberadaan pusat jajanan dan kawasan kuliner malam juga menjadi salah satu daya tarik Kuala Lumpur.
Dengan skor 62 persen, Kuala Lumpur menjadi salah satu pesaing terdekat Ho Chi Minh dalam daftar street food terbaik dunia 2026.
Taipei Berbagi Posisi dengan Jakarta
Taipei berada di peringkat ketiga bersama Jakarta dengan skor yang sama, yakni 59 persen.
Taipei memiliki tradisi kuliner malam yang sangat terkenal. Night market menjadi salah satu tujuan wisata yang banyak dikunjungi ketika berada di Taiwan.
Berbagai makanan tersedia dalam satu kawasan, mulai dari makanan ringan, mi, makanan laut, hingga berbagai jajanan khas Taiwan.
Persamaan skor antara Jakarta dan Taipei menunjukkan bahwa kedua kota memiliki daya tarik street food yang cukup kuat meskipun karakter kulinernya berbeda.
Jakarta menawarkan keragaman kuliner Indonesia, sementara Taipei terkenal dengan budaya night market yang telah berkembang menjadi salah satu identitas wisata kota tersebut.
Daftar 10 Kota dengan Street Food Terbaik Dunia 2026
Berikut daftar lengkap kota yang masuk dalam 10 besar street food terbaik dunia versi Time Out 2026:
- Ho Chi Minh City, Vietnam – 63 persen
- Kuala Lumpur, Malaysia – 62 persen
- Jakarta, Indonesia – 59 persen
- Taipei, Taiwan – 59 persen
- Mexico City, Meksiko – 58 persen
- Manila, Filipina – 58 persen
- Hanoi, Vietnam – 57 persen
- Johannesburg, Afrika Selatan – 56 persen
- Bangkok, Thailand – 56 persen
- Mumbai, India – 55 persen
Daftar tersebut memperlihatkan dominasi kota-kota Asia. Dari 10 kota yang masuk, sebagian besar berasal dari kawasan Asia, terutama Asia Tenggara.
Hal tersebut tidak terlalu mengejutkan karena budaya makanan kaki lima memang memiliki akar yang kuat di kawasan Asia.
Asia Tenggara Mendominasi Daftar
Jika melihat daftar tersebut secara keseluruhan, Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan dengan performa paling kuat.
Ho Chi Minh berada di posisi pertama, Kuala Lumpur kedua, Jakarta ketiga, Manila keenam, Hanoi ketujuh, dan Bangkok kesembilan.
Artinya, enam kota dari Asia Tenggara berhasil masuk dalam 10 besar.
Dominasi tersebut menunjukkan bahwa street food menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat di kawasan ini.
Makanan kaki lima bukan hanya sekadar pilihan makanan murah. Bagi banyak masyarakat Asia Tenggara, makanan yang dijual di pinggir jalan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Warung, gerobak, pasar malam, hingga pusat jajanan menjadi ruang bertemunya masyarakat.
Mengapa Street Food Begitu Populer?
Ada banyak alasan mengapa makanan kaki lima menjadi populer di kalangan wisatawan.
Pertama tentu saja harga. Street food umumnya menawarkan makanan dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan restoran.
Namun, harga bukan satu-satunya alasan.
Wisatawan juga tertarik karena dapat mencicipi makanan lokal yang dibuat menggunakan resep dan teknik memasak yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Selain itu, suasana ketika menikmati makanan juga menjadi pengalaman tersendiri.
Makan di pinggir jalan membuat wisatawan dapat melihat langsung aktivitas masyarakat. Suara kendaraan, pedagang yang melayani pembeli, aroma makanan, hingga keramaian kawasan menjadi bagian dari pengalaman kuliner.
Hal seperti ini sulit digantikan oleh restoran dengan suasana formal.
Street Food Bisa Jadi Penggerak Pariwisata
Popularitas street food juga memiliki dampak terhadap sektor pariwisata.
Wisatawan yang datang ke sebuah kota tidak hanya membutuhkan tempat untuk menginap dan objek wisata. Mereka juga mencari pengalaman yang dapat memberikan kesan berbeda.
Kuliner menjadi salah satu jawabannya.
Tidak sedikit wisatawan yang menentukan tujuan perjalanan berdasarkan makanan yang ingin dicoba. Bahkan, beberapa kota berhasil membangun citra pariwisata mereka melalui kuliner.
Ho Chi Minh menjadi salah satu contoh menarik. Kota tersebut mampu menjadikan makanan kaki lima sebagai bagian dari pengalaman wisata.
Jakarta juga memiliki peluang besar untuk mengembangkan potensi serupa.
Dengan jumlah penduduk yang besar dan keberagaman makanan yang tersedia, Jakarta memiliki modal yang kuat untuk terus mengembangkan wisata kuliner.
Potensi Street Food Indonesia
Masuknya Jakarta ke posisi tiga besar dunia juga dapat menjadi momentum untuk melihat kembali potensi makanan kaki lima Indonesia.
Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang sangat besar. Hampir setiap daerah memiliki makanan khas masing-masing.
Masakan Padang, pempek Palembang, gudeg Yogyakarta, rawon Jawa Timur, sate Madura, nasi liwet, hingga berbagai makanan khas daerah lainnya dapat ditemukan di Jakarta.
Keragaman tersebut menjadi keunggulan tersendiri.
Tidak semua kota di dunia memiliki akses terhadap makanan dari berbagai daerah dalam satu wilayah seperti Jakarta.
Selain makanan berat, jajanan tradisional Indonesia juga memiliki potensi besar untuk diperkenalkan kepada wisatawan asing.
Kue tradisional, gorengan, jajanan pasar, hingga minuman khas dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata kuliner.
Tantangan Mengembangkan Kuliner Kaki Lima
Meski memiliki potensi besar, pengembangan street food juga memiliki tantangan.
Kebersihan menjadi salah satu hal yang sangat penting. Wisatawan membutuhkan rasa aman ketika membeli makanan di pinggir jalan.
Ketersediaan tempat makan yang nyaman juga perlu diperhatikan. Penataan kawasan menjadi faktor penting agar aktivitas pedagang dan wisatawan tidak mengganggu lalu lintas maupun lingkungan sekitar.
Selain itu, kualitas makanan perlu dijaga.
Jika Jakarta ingin terus dikenal sebagai salah satu kota dengan street food terbaik dunia, kualitas makanan harus menjadi perhatian bersama.
Pedagang dapat tetap mempertahankan karakter tradisional makanan, tetapi pada saat yang sama perlu memperhatikan kebersihan, keamanan pangan, dan pelayanan.
Peluang Besar bagi Pedagang Lokal
Pengakuan internasional terhadap street food Jakarta juga dapat memberikan peluang bagi pelaku usaha kecil.
Pedagang kaki lima merupakan bagian penting dari ekosistem kuliner. Mereka tidak hanya menyediakan makanan dengan harga terjangkau, tetapi juga menjadi sumber penghasilan bagi banyak keluarga.
Jika sektor wisata kuliner berkembang, peluang ekonomi bagi pedagang lokal juga semakin besar.
Wisatawan yang datang khusus untuk berburu makanan akan mencari tempat-tempat yang menawarkan makanan khas dan autentik.
Hal ini dapat membantu memperkenalkan usaha kecil kepada pasar yang lebih luas.
Makanan Kaki Lima dan Identitas Kota
Street food pada akhirnya bukan hanya soal makanan.
Di banyak kota, makanan kaki lima menjadi bagian dari identitas.
Ho Chi Minh memiliki pho dan banh mi. Bangkok memiliki berbagai makanan khas yang dijajakan di jalan. Taipei memiliki night market. Sementara Jakarta memiliki beragam makanan yang mencerminkan pertemuan berbagai budaya Indonesia.
Karena itu, pengembangan street food sebaiknya tidak menghilangkan karakter aslinya.
Modernisasi memang diperlukan, tetapi identitas lokal tetap harus dipertahankan.
Wisatawan biasanya mencari pengalaman yang autentik. Mereka ingin menikmati makanan seperti yang disantap masyarakat setempat.
Jakarta Punya Modal untuk Terus Naik
Peringkat ketiga dalam daftar kota street food terbaik dunia 2026 bukanlah akhir. Posisi tersebut justru dapat menjadi pemicu bagi Jakarta untuk meningkatkan kualitas kuliner kaki lima.
Jika pengelolaan kawasan kuliner semakin baik, kebersihan semakin diperhatikan, akses transportasi diperbaiki, dan pedagang mendapatkan dukungan, bukan tidak mungkin Jakarta dapat bersaing lebih kuat dalam daftar serupa pada tahun-tahun berikutnya.
Terlebih, kekayaan makanan Jakarta tidak hanya berasal dari kuliner Betawi.
Jakarta adalah kota yang mempertemukan berbagai budaya. Kondisi tersebut membuat pilihan makanan menjadi sangat beragam.
Bagi wisatawan, satu perjalanan ke Jakarta bisa menjadi kesempatan untuk mencicipi makanan dari berbagai wilayah Indonesia.
Street Food Jadi Bagian dari Pengalaman Wisata
Tren wisata kuliner juga terus berkembang. Wisatawan kini tidak hanya mencari tempat makan dengan interior menarik.
Banyak yang justru ingin mengetahui cerita di balik makanan yang mereka santap.
Bagaimana makanan dibuat, siapa yang membuatnya, dari mana resep tersebut berasal, dan bagaimana makanan tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat menjadi hal yang menarik.
Street food mampu menjawab kebutuhan tersebut.
Wisatawan dapat melihat proses memasak secara langsung, berbincang dengan pedagang, kemudian menikmati makanan di tempat yang sederhana.
Pengalaman seperti ini sering kali justru menjadi cerita yang dibawa pulang setelah perjalanan selesai.
Ho Chi Minh dan Jakarta Punya Karakter Berbeda
Meski sama-sama masuk jajaran teratas, Ho Chi Minh dan Jakarta memiliki karakter street food yang berbeda.
Ho Chi Minh kuat dengan makanan khas Vietnam yang telah dikenal secara global. Pho dan banh mi menjadi dua contoh makanan yang sudah sangat familiar di kalangan wisatawan.
Jakarta memiliki karakter yang lebih beragam. Pengunjung dapat menemukan makanan khas Betawi sekaligus makanan dari hampir seluruh wilayah Indonesia.
Perbedaan tersebut justru menunjukkan bahwa street food memiliki kekuatan masing-masing di setiap kota.
Tidak harus memiliki makanan yang sama untuk menjadi destinasi kuliner populer.
Yang terpenting adalah kemampuan sebuah kota mempertahankan karakter makanan lokal sekaligus memberikan pengalaman yang menarik bagi wisatawan.
Daftar Time Out Jadi Sorotan Dunia Kuliner
Masuknya Jakarta dalam daftar Time Out 2026 tentu menjadi kabar menarik bagi industri kuliner Indonesia.
Peringkat tersebut dapat menjadi promosi tidak langsung bagi Jakarta sebagai destinasi wisata.
Wisatawan yang sebelumnya belum memasukkan Jakarta dalam daftar perjalanan bisa saja mulai tertarik setelah mengetahui bahwa ibu kota Indonesia masuk tiga besar kota dengan street food terbaik dunia.
Pada akhirnya, kekuatan sebuah destinasi kuliner bukan hanya ditentukan oleh restoran terkenal.
Warung kecil, gerobak, pasar, dan pedagang kaki lima juga memiliki peran besar dalam membentuk wajah kuliner sebuah kota.
Jakarta dan Masa Depan Kuliner Kaki Lima
Dengan masuknya Jakarta ke posisi ketiga, perhatian terhadap kuliner kaki lima Indonesia berpotensi semakin besar.
Tantangannya adalah bagaimana mempertahankan cita rasa dan karakter tradisional sambil meningkatkan kualitas pelayanan serta kebersihan.
Jika hal tersebut dapat dilakukan secara konsisten, street food Jakarta tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat lokal, tetapi juga bisa menjadi salah satu alasan wisatawan mancanegara datang ke Indonesia.
Sementara itu, Ho Chi Minh berhasil membuktikan bahwa makanan kaki lima dapat menjadi bagian penting dari identitas sebuah kota sekaligus kekuatan pariwisata.
Jakarta kini memiliki kesempatan untuk menunjukkan hal yang sama.
Dengan kekayaan kuliner yang sangat luas, harga yang beragam, serta budaya makan yang hidup hampir sepanjang waktu, Jakarta memiliki modal kuat untuk mempertahankan posisinya sebagai salah satu destinasi street food terbaik dunia.
Daftar Time Out 2026 akhirnya memperlihatkan satu hal penting: untuk menemukan makanan terbaik, wisatawan tidak selalu harus masuk ke restoran mahal. Kadang, pengalaman kuliner yang paling berkesan justru bisa ditemukan di pinggir jalan, di balik gerobak sederhana, atau di sebuah warung kecil yang ramai didatangi warga lokal.
Bagi Jakarta, peringkat ketiga ini menjadi pengakuan bahwa kekayaan kuliner Indonesia memang memiliki daya tarik yang mampu bersaing di panggung dunia.
Sumber : www.indozone.id
