sumber foto : cnnindonesia
Meski kalender menunjukkan bahwa Indonesia telah memasuki musim kemarau, langit Jakarta dan sekitarnya justru terus menumpahkan hujan deras selama beberapa hari terakhir. Alih-alih mereda, hujan ini bahkan berpotensi memburuk dalam waktu dekat.
Pakar klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, mengingatkan bahwa curah hujan tinggi yang melanda wilayah Jabodetabek belum akan berhenti dalam waktu dekat. Lewat unggahan di media sosial X (sebelumnya Twitter) pada Senin (7/7), ia menyebut pola hujan ekstrem saat ini didorong oleh sistem awan raksasa yang disebut Mesoscale Convective Complex (MCC)—fenomena meteorologis skala menengah yang mampu memicu hujan deras secara persisten selama lebih dari dua jam.
“Ini benar-benar pola yang bisa menimbulkan hujan ekstrem. MCC itu sangat tinggi dan persisten. Dan memang terbukti terjadi dua hari terakhir, menyebabkan banjir di sejumlah titik,” tulisnya.
Erma juga memberi peringatan keras bahwa puncak gangguan cuaca belum terjadi. Ia menyebut, kondisi ekstrem ini akan terus berlangsung hingga setidaknya 10–11 Juli, dan bahkan bisa melonjak dua kali lipat pada akhir Agustus mendatang, tepatnya di periode dasarian ketiga (21–31 Agustus).
“Agustus nanti, hujannya bisa dua kali lipat dibanding sekarang. Kalau sekarang sudah banjir, bayangkan dampaknya nanti,” tegasnya.
Lebih jauh, Erma menyuarakan keprihatinan terhadap kesiapan pemerintah daerah, terutama di kawasan padat seperti Jabodetabek. Ia mengkhawatirkan potensi banjir besar yang meluas serta kerugian ekonomi yang bisa mencapai Rp2 hingga Rp10 triliun jika banjir berlangsung selama sepekan.
“Saya enggak tahu sudah dipersiapkan belum oleh pemerintah. Kalau tidak segera dimitigasi, dampaknya bisa sangat besar,” tulisnya lagi di akun Instagram.
Fenomena ini juga diamini oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Dalam laporan terbaru mereka, BMKG menyebut bahwa hanya 30 persen wilayah Indonesia yang sudah masuk musim kemarau pada akhir Juni—angka yang jauh dari rata-rata normal 64 persen.
Fase netral pada dua indikator iklim global utama—ENSO (El Niño–Southern Oscillation) dan IOD (Indian Ocean Dipole)—sebenarnya tidak menunjukkan sinyal ekstrem. Namun, sejumlah anomali tetap terjadi karena dinamika lokal seperti melemahnya Monsun Australia dan tetap hangatnya suhu permukaan laut di selatan Indonesia. Kondisi tersebut mendorong terbentuknya awan hujan secara terus-menerus, menciptakan apa yang dikenal sebagai “kemarau basah”—periode musim kering yang tetap diselingi hujan deras.
BMKG memperkirakan bahwa kondisi cuaca yang tidak menentu ini akan bertahan hingga Oktober 2025. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama mereka yang bermukim di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan wilayah rawan genangan air.
