Ilustrasi perawatan skin booster. Foto: istock
Buletinmedia.com – Perawatan kecantikan asal Korea Selatan kembali menjadi perhatian di media sosial. Kali ini, bukan karena penggunaan bahan skincare yang sedang tren, melainkan munculnya istilah skin booster “kulit mayat” yang ramai diperbincangkan.
Istilah tersebut sontak membuat banyak orang penasaran. Sebagian mempertanyakan apakah benar ada perawatan kecantikan yang menggunakan kulit jenazah manusia secara langsung sebagai bahan suntikan. Ada pula yang mempertanyakan bagaimana proses pengolahan bahan tersebut, dari mana asalnya, serta apakah penggunaannya aman untuk kulit manusia.
Perbincangan tersebut kemudian mendapat perhatian dari kalangan dokter spesialis kulit. Perhimpunan Dokter Spesialis Dermatologi dan Venereologi Indonesia atau PERDOSKI memberikan penjelasan mengenai produk yang ramai disebut sebagai “suntik kulit mayat”.
Menurut PERDOSKI, produk yang dimaksud sebenarnya menggunakan Human Acellular Dermal Matrix (hADM). Bahan tersebut merupakan matriks jaringan kulit manusia yang berasal dari donor dan telah melalui proses khusus untuk menghilangkan sel-sel yang dapat memicu reaksi imun.
Dengan demikian, istilah “skin booster kulit mayat” yang beredar di media sosial tidak sepenuhnya menggambarkan proses ilmiah dari produk tersebut. Namun, masyarakat tetap perlu mengetahui bahwa bahan dasarnya memang berasal dari jaringan kulit manusia yang didonasikan.
Ketua Umum PERDOSKI Pusat, Dr dr Hanny Nilasari, SpDVE, Subsp.Ven, menjelaskan bahwa pihaknya belum dapat memastikan secara terbuka apakah jaringan donor yang digunakan berasal dari manusia yang masih hidup atau dari jenazah atau kadaver.
“Jadi, (terbuat dari) matriks jaringan kulit yang berasal dari donor. Tapi donornya memang donor yang kita enggak tahu apakah itu donor hidup, apakah donor mati,” ujar Hanny dalam wawancara bersama detikcom, Rabu, 16 September 2026.
Pernyataan tersebut menjadi penting karena selama ini istilah “kulit mayat” dapat menimbulkan persepsi bahwa produk tersebut berupa kulit jenazah yang digunakan begitu saja. Padahal, hADM merupakan jaringan yang telah melalui proses pengolahan untuk menghilangkan komponen selulernya.
Apa Itu Skin Booster “Kulit Mayat”?
Skin booster pada dasarnya merupakan istilah yang digunakan untuk berbagai prosedur injeksi yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas kulit.
Namun, produk yang sedang ramai dibicarakan memiliki karakter berbeda karena menggunakan Human Acellular Dermal Matrix atau hADM.
Menurut penjelasan PERDOSKI, hADM bukanlah jaringan kulit manusia dalam kondisi hidup. Bahan tersebut telah diproses dengan menghilangkan sel-sel yang dapat memicu reaksi imun. Bagian yang dipertahankan terutama merupakan struktur matriks ekstraseluler, termasuk komponen seperti kolagen dan elastin.
Karena itu, hADM juga berbeda dari produk skin booster berbasis asam hialuronat yang lebih umum dikenal masyarakat.
PERDOSKI menegaskan bahwa hADM bukan jaringan hidup, bukan sel punca atau stem cell, dan bukan sekadar cairan asam hialuronat biasa. Teknologi matriks jaringan seperti ini sebenarnya sudah lama dikenal dalam bidang kedokteran, terutama untuk kebutuhan rekonstruksi.
Yang menjadi perhatian saat ini adalah penggunaannya untuk tujuan estetika wajah.
Penggunaan hADM dalam tindakan medis rekonstruksi sudah memiliki sejarah yang lebih panjang. Bahan tersebut dapat digunakan dalam berbagai prosedur medis, termasuk rekonstruksi luka dan pembedahan.
Sementara itu, penggunaan hADM sebagai skin booster estetika yang disuntikkan pada wajah merupakan perkembangan yang relatif baru.
Mengapa Disebut “Suntik Kulit Mayat”?
Istilah “suntik kulit mayat” muncul karena bahan dasar produk tersebut berasal dari jaringan kulit manusia yang didonasikan.
Namun, menurut PERDOSKI, istilah tersebut bersifat sensasional dan tidak menggambarkan proses ilmiah yang sebenarnya.
Hal yang perlu dipahami adalah adanya perbedaan antara jaringan kulit donor dan kulit jenazah yang digunakan secara langsung.
Dalam proses pembuatan hADM, jaringan donor menjalani pengolahan khusus untuk menghilangkan sel dan komponen yang dapat menimbulkan reaksi imun. Dengan demikian, produk akhir bukanlah kulit manusia dalam bentuk utuh seperti yang mungkin dibayangkan dari istilah “kulit mayat”.
PERDOSKI menyebut hADM sebagai matriks jaringan kulit yang telah mengalami proses pengolahan. Kerangka matriks ekstraseluler seperti kolagen dan elastin menjadi bagian yang dipertahankan dalam produk tersebut.
Meski begitu, penggunaan istilah tersebut tetap memunculkan pertanyaan yang wajar dari masyarakat.
Salah satu pertanyaan utama adalah dari mana sebenarnya jaringan donor diperoleh.
Asal Donor Jaringan Kulit Masih Menjadi Pertanyaan
Ketua Umum PERDOSKI Pusat, Hanny Nilasari, menyebut bahwa bahan hADM berasal dari donor jaringan kulit manusia.
Namun, ia mengatakan belum dapat memastikan apakah jaringan tersebut berasal dari donor yang masih hidup atau dari jenazah.
Hal ini menjadi salah satu bagian yang masih perlu mendapatkan penjelasan lebih terbuka.
Menurut Hanny, hingga saat ini belum ada publikasi ilmiah yang secara terbuka menjelaskan prosedur dan teknik pengambilan jaringan kulit manusia yang digunakan secara spesifik untuk produk skin booster tersebut.
“Untuk teknisnya memang kita belum paham,” kata Hanny.
Pernyataan tersebut bukan berarti hADM sebagai teknologi medis tidak dikenal. Sebaliknya, teknologi matriks dermal tanpa sel telah digunakan dalam bidang medis untuk kebutuhan rekonstruksi.
Yang menjadi persoalan adalah keterbukaan mengenai produk tertentu yang digunakan sebagai skin booster estetika, termasuk asal bahan, proses pengolahan, bukti klinis, serta status legalitasnya.
Karena itu, informasi mengenai produk tidak cukup hanya berdasarkan promosi di media sosial atau klaim dari klinik maupun distributor.
hADM Sudah Digunakan dalam Dunia Medis
Meski sedang ramai karena penggunaannya dalam perawatan kecantikan, hADM bukanlah teknologi yang tiba-tiba muncul karena tren media sosial.
Matriks dermal manusia telah digunakan dalam dunia kedokteran untuk kebutuhan rekonstruksi.
Teknologi tersebut dapat digunakan dalam berbagai tindakan yang membutuhkan material untuk membantu proses rekonstruksi jaringan.
Dalam prosesnya, jaringan donor diproses sehingga sel-sel yang dapat memicu reaksi imun dihilangkan. Struktur matriks yang tersisa kemudian dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan medis.
PERDOSKI menyebut penggunaan hADM selama ini lebih banyak berada dalam konteks tindakan medis rekonstruksi, bukan sebagai perawatan estetika rutin.
Karena itu, ketika bahan tersebut mulai digunakan sebagai skin booster untuk tujuan kecantikan, diperlukan kajian yang berbeda.
Pertanyaan yang harus dijawab bukan hanya apakah bahan tersebut dapat digunakan dalam tubuh manusia, tetapi juga apakah penggunaannya secara khusus untuk estetika wajah sudah memiliki bukti keamanan dan efektivitas yang cukup.
Bukti Ilmiah Skin Booster hADM Masih Terbatas
Salah satu hal yang menjadi perhatian PERDOSKI adalah bukti ilmiah mengenai penggunaan hADM sebagai skin booster estetika.
Menurut penjelasan yang disampaikan PERDOSKI, penelitian awal untuk penggunaan hADM sebagai skin booster wajah masih melibatkan populasi yang kecil, yakni sekitar 20 peserta dengan masa pengamatan sekitar 20 minggu.
Penelitian dengan jumlah peserta dan waktu pengamatan yang terbatas tentu belum dapat digunakan untuk memastikan seluruh kemungkinan efek penggunaan dalam jangka panjang.
Hasil awal memang dapat menunjukkan adanya potensi manfaat terhadap kualitas kulit. Namun, hal tersebut tidak otomatis berarti semua klaim mengenai hasil perawatan telah terbukti secara menyeluruh.
Termasuk klaim bahwa hasil perawatan dapat bertahan selama enam hingga 12 bulan.
Klaim mengenai durasi hasil perlu dilihat berdasarkan bukti klinis yang memadai, bukan hanya pengalaman sejumlah pengguna.
Dalam dunia medis, sebuah prosedur baru biasanya membutuhkan bukti yang cukup sebelum dapat diterapkan secara luas.
Semakin baru suatu penggunaan bahan, semakin penting pula evaluasi terhadap manfaat, efek samping, risiko jangka panjang, serta kelompok pasien yang sesuai.
Risiko Skin Booster Tetap Perlu Diperhatikan
Seperti prosedur injeksi lainnya, penyuntikan hADM juga bukan tindakan yang bebas risiko.
PERDOSKI mengingatkan bahwa prosedur tersebut dapat memiliki risiko seperti nyeri, pembengkakan, infeksi, peradangan, munculnya benjolan atau nodul, hingga komplikasi yang berkaitan dengan pembuluh darah.
Risiko tersebut menjadi alasan mengapa prosedur injeksi seharusnya tidak dilakukan sembarangan.
Penggunaan bahan yang disuntikkan ke dalam tubuh berbeda dengan penggunaan skincare yang hanya diaplikasikan di permukaan kulit.
Ketika suatu bahan dimasukkan melalui prosedur injeksi, terdapat risiko yang berkaitan dengan jaringan, pembuluh darah, serta respons tubuh terhadap bahan tersebut.
Karena itu, pemilihan produk, tenaga medis, fasilitas kesehatan, serta prosedur penanganan komplikasi menjadi bagian yang sangat penting.
Masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap promosi yang hanya menonjolkan hasil estetika tanpa menjelaskan risiko dan keterbatasan bukti ilmiahnya.
hADM Berbeda dengan Skin Booster Asam Hialuronat
Perbedaan antara hADM dan skin booster berbasis asam hialuronat juga perlu dipahami.
Asam hialuronat merupakan salah satu bahan yang telah lama digunakan dalam berbagai prosedur estetika.
Dalam kondisi tertentu, komplikasi akibat filler atau produk berbasis asam hialuronat dapat ditangani menggunakan enzim hialuronidase untuk memecah asam hialuronat.
Namun, menurut PERDOSKI, hADM tidak dapat dilarutkan menggunakan enzim hialuronidase.
Perbedaan tersebut menjadi penting dalam konteks penanganan komplikasi.
Artinya, dokter yang melakukan tindakan harus memahami karakteristik bahan yang digunakan dan memiliki kemampuan menangani komplikasi apabila terjadi.
Pasien pun perlu mengetahui dengan jelas bahan apa yang akan disuntikkan ke dalam tubuhnya sebelum menyetujui tindakan.
Legalitas Skin Booster “Kulit Mayat” di Indonesia
Selain keamanan, persoalan lain yang menjadi perhatian adalah legalitas.
Munculnya sebuah produk dari luar negeri tidak secara otomatis membuat produk tersebut boleh digunakan di Indonesia.
Produk yang legal atau digunakan di negara asalnya tetap harus memenuhi ketentuan yang berlaku di Indonesia apabila ingin diedarkan dan digunakan di dalam negeri.
PERDOSKI menegaskan bahwa status penggunaan produk di Korea Selatan tidak otomatis berarti produk tersebut memiliki izin edar di Indonesia. Penilaian dan izin resmi tetap diperlukan sesuai ketentuan otoritas kesehatan Indonesia.
Hal tersebut menjadi semakin penting ketika produk diperoleh melalui jalur tidak resmi.
Masyarakat mungkin tergoda mencoba perawatan yang sedang viral dengan alasan produk tersebut populer di negara lain.
Namun, popularitas di media sosial tidak sama dengan bukti keamanan.
Begitu pula status legalitas di negara asal tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk menentukan bahwa produk tersebut boleh digunakan di Indonesia.
PERDOSKI Minta Dokter Transparan kepada Pasien
PERDOSKI juga menekankan pentingnya transparansi dari dokter maupun fasilitas kesehatan.
Pasien berhak mengetahui jenis produk yang akan digunakan sebelum menjalani tindakan.
Informasi yang perlu diketahui antara lain nama produk, komposisi atau bahan dasar, produsen, negara asal, status izin edar, nomor bets, tanggal kedaluwarsa, serta cara penyimpanan produk.
Keterbukaan tersebut penting agar pasien dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lengkap.
Dokter juga perlu menjelaskan manfaat yang sudah didukung bukti ilmiah, keterbatasan penelitian, kemungkinan efek samping, alternatif perawatan, serta langkah yang dapat dilakukan jika terjadi komplikasi.
Dengan demikian, keputusan untuk menjalani perawatan tidak hanya didasarkan pada iklan atau konten media sosial.
Jangan Hanya Tergiur Klaim Hasil 6-12 Bulan
Salah satu informasi yang membuat skin booster ini menarik perhatian adalah klaim bahwa hasilnya dapat bertahan selama enam hingga 12 bulan.
Durasi tersebut tentu terdengar menarik bagi orang yang ingin mendapatkan hasil perawatan kulit dalam waktu relatif lama.
Namun, PERDOSKI mengingatkan bahwa penelitian awal mengenai penggunaan hADM sebagai skin booster wajah masih terbatas.
Penelitian dengan sekitar 20 peserta dan masa pengamatan sekitar 20 minggu belum cukup untuk memastikan keamanan jangka panjang maupun memastikan bahwa hasil pada setiap orang akan bertahan selama enam hingga 12 bulan.
Artinya, masyarakat perlu membedakan antara klaim promosi dengan bukti klinis.
Klaim yang muncul dalam materi pemasaran seharusnya tidak langsung dianggap sebagai kepastian medis.
Hasil perawatan juga dapat berbeda antara satu orang dengan orang lainnya.
Kondisi kulit, usia, riwayat kesehatan, teknik penyuntikan, produk yang digunakan, serta berbagai faktor lain dapat memengaruhi hasil.
Risiko Produk Ilegal Tidak Bisa Diabaikan
Perhatian terhadap legalitas juga berkaitan dengan keamanan.
PERDOSKI mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap penggunaan produk hADM yang dibawa melalui jasa titip atau dibawa sendiri dari luar negeri. Masyarakat juga diminta mewaspadai promosi yang berlebihan.
Produk yang diperoleh melalui jalur tidak resmi dapat menimbulkan persoalan mengenai keaslian, penyimpanan, distribusi, dan penanganannya.
Apalagi, bahan yang digunakan merupakan produk jaringan manusia yang membutuhkan proses pengolahan dan penyimpanan sesuai standar.
Masyarakat sebaiknya tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya sumber informasi ketika mempertimbangkan tindakan medis.
Konten viral memang dapat menjadi pintu awal untuk mengetahui adanya sebuah tren. Namun, keputusan menjalani prosedur tetap membutuhkan informasi medis yang lebih lengkap.
Apa yang Harus Diketahui Sebelum Menjalani Skin Booster?
Bagi masyarakat yang tertarik mencoba skin booster berbahan hADM, ada sejumlah hal penting yang perlu ditanyakan terlebih dahulu kepada tenaga medis.
Pertama, tanyakan secara jelas nama dan jenis produk yang akan digunakan.
Jangan hanya menerima istilah seperti “skin booster Korea” atau “suntik kulit mayat”. Pasien berhak mengetahui nama produk dan bahan yang terkandung di dalamnya.
Kedua, tanyakan asal produk serta produsennya.
Informasi mengenai negara asal saja belum cukup. Pasien juga perlu mengetahui pihak yang memproduksi dan mendistribusikan produk tersebut.
Ketiga, tanyakan status legalitasnya di Indonesia.
Jangan menganggap suatu produk otomatis legal hanya karena sudah digunakan di negara lain.
Keempat, tanyakan mengenai bukti ilmiah yang tersedia.
Pasien berhak mengetahui seberapa kuat penelitian yang mendukung penggunaan produk tersebut.
Kelima, tanyakan risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi.
Informasi tersebut penting agar pasien dapat memahami manfaat dan risiko sebelum mengambil keputusan.
Keenam, tanyakan bagaimana dokter akan menangani komplikasi jika terjadi.
Hal ini menjadi semakin penting untuk prosedur injeksi karena beberapa jenis komplikasi membutuhkan penanganan medis segera.
Istilah Viral Tidak Boleh Menggantikan Penjelasan Medis
Fenomena skin booster “kulit mayat” memperlihatkan bagaimana istilah yang muncul di media sosial dapat dengan cepat membentuk persepsi masyarakat.
Istilah tersebut memang mudah menarik perhatian.
Namun, dalam dunia medis, sebuah produk perlu dijelaskan berdasarkan bahan, proses pembuatan, mekanisme kerja, bukti klinis, dan status penggunaannya.
Dalam kasus ini, istilah yang digunakan secara populer adalah “skin booster kulit mayat”, sedangkan istilah medis yang digunakan untuk bahan dasarnya adalah Human Acellular Dermal Matrix atau hADM.
Keduanya tidak bisa disamakan begitu saja.
PERDOSKI sendiri menyebut istilah “suntik kulit mayat” sebagai istilah yang sensasional dan tidak menggambarkan proses ilmiahnya secara tepat. Namun, masyarakat tetap perlu mendapatkan informasi yang jujur bahwa bahan dasarnya memang berasal dari jaringan kulit manusia yang didonasikan.
Penjelasan tersebut menjadi penting agar masyarakat tidak panik, tetapi juga tidak terburu-buru mengikuti tren kecantikan.
Penggunaan hADM untuk Estetika Masih Membutuhkan Kajian
Menurut PERDOSKI, penggunaan hADM dalam rekonstruksi medis bukan sesuatu yang sama dengan penggunaannya sebagai skin booster estetika.
Teknologi tersebut sudah digunakan dalam konteks medis, termasuk rekonstruksi luka bakar dan pembedahan.
Namun, ketika digunakan untuk tujuan estetika wajah, pertanyaan mengenai efektivitas dan keamanan harus kembali dinilai berdasarkan penggunaan tersebut.
Karena itu, diperlukan kajian yang lebih komprehensif.
Bukti ilmiah juga perlu terus dikembangkan agar dokter memiliki dasar yang kuat ketika memberikan rekomendasi kepada pasien.
Hal tersebut bukan berarti teknologi hADM harus langsung dianggap berbahaya.
Sebaliknya, sikap yang diperlukan adalah menunggu bukti yang memadai dan memastikan seluruh aspek keamanan serta legalitas telah dipenuhi.
Keamanan Pasien Menjadi Hal Utama
Dalam prosedur kecantikan medis, hasil estetika bukan satu-satunya hal yang perlu dipertimbangkan.
Keamanan pasien harus menjadi perhatian utama.
Hal tersebut berlaku untuk semua jenis prosedur injeksi, termasuk penggunaan produk yang sedang viral.
Dokter perlu memastikan bahwa pasien mendapatkan informasi yang cukup sebelum tindakan dilakukan.
Pasien juga harus memiliki kesempatan untuk bertanya mengenai bahan yang digunakan, manfaat yang diharapkan, risiko, alternatif tindakan, hingga penanganan apabila muncul komplikasi.
Prinsip tersebut menjadi semakin penting ketika suatu teknologi masih tergolong baru dalam penggunaannya untuk estetika.
Dalam kasus skin booster hADM, PERDOSKI menempatkan aspek patient safety, legalitas, dan transparansi bahan sebagai hal yang perlu diperhatikan sebelum produk tersebut dapat dipertimbangkan untuk digunakan di Indonesia.
Skin Booster “Kulit Mayat” Bukan Sekadar Tren Kecantikan
Viralnya skin booster “kulit mayat” memperlihatkan bagaimana perkembangan teknologi medis dapat dengan cepat menjadi tren di media sosial.
Namun, popularitas sebuah perawatan tidak otomatis menunjukkan bahwa prosedur tersebut cocok untuk semua orang.
Masyarakat perlu memahami bahwa prosedur estetika yang menggunakan bahan jaringan manusia memiliki aspek medis, etika, keamanan, dan regulasi yang harus diperhatikan.
hADM sendiri memiliki sejarah penggunaan dalam dunia medis. Namun, penggunaannya sebagai skin booster untuk estetika wajah masih memerlukan lebih banyak bukti ilmiah.
Karena itu, informasi mengenai bahan, asal donor, proses pengolahan, penelitian, risiko, serta legalitas menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.
Istilah “kulit mayat” mungkin membuat perawatan tersebut terdengar ekstrem. Padahal, bahan yang dimaksud adalah matriks jaringan kulit manusia yang telah melalui proses penghilangan sel.
Namun, fakta bahwa bahan dasarnya berasal dari jaringan donor manusia tetap perlu disampaikan secara terbuka kepada pasien.
Pada akhirnya, masyarakat tidak perlu hanya terpaku pada istilah viral tersebut.
Yang jauh lebih penting adalah memahami apa sebenarnya bahan yang digunakan, bagaimana prosesnya, apakah ada bukti ilmiah yang memadai, bagaimana risiko ditangani, dan apakah produk tersebut memiliki legalitas yang sesuai.
Untuk saat ini, PERDOSKI menilai penggunaan hADM sebagai skin booster estetika membutuhkan kajian komprehensif, bukti ilmiah yang kuat, keamanan pasien, transparansi bahan, serta kepastian legalitas sebelum dapat dipertimbangkan untuk digunakan secara luas di Indonesia.
Dengan begitu, masyarakat dapat melihat tren skin booster “kulit mayat” secara lebih proporsional. Bukan sekadar mengikuti tren karena viral, tetapi juga tidak langsung mengambil kesimpulan hanya berdasarkan istilah yang beredar di media sosial.
Informasi dari dokter dan organisasi profesi menjadi penting agar masyarakat memahami perawatan tersebut berdasarkan fakta medis.
Bagi siapa pun yang mempertimbangkan prosedur ini, memastikan produk dan tenaga medis yang digunakan serta menanyakan seluruh informasi sebelum tindakan merupakan langkah yang jauh lebih penting daripada sekadar mengejar hasil kecantikan yang sedang populer.
Sumber : www.cnnindonesia.com
