Foto: Dok.10969taka/ @yamada_mphoto
Buletinmedia.com – Musisi Jepang sekaligus vokalis ONE OK ROCK, Takahiro Moriuchi atau yang lebih dikenal dengan nama Taka, tengah menjadi sorotan setelah memberikan dukungan kepada Ed Sheeran di tengah kontroversi yang melibatkan rapper Macklemore dan isu Palestina.
Dukungan tersebut awalnya disampaikan Taka melalui media sosial setelah Ed Sheeran memberikan pernyataan terkait situasi yang terjadi dalam rangkaian tur konsernya. Namun, respons Taka justru memicu reaksi keras dari sebagian penggemar ONE OK ROCK atau OOR.
Sejumlah penggemar menilai pernyataan Taka tidak sejalan dengan pesan yang selama ini mereka tangkap dari karya-karya ONE OK ROCK. Kritik semakin ramai karena persoalan tersebut berkaitan dengan situasi di Gaza dan dukungan terhadap Palestina, isu yang selama beberapa tahun terakhir menjadi perhatian publik dunia.
Kontroversi bermula dari keputusan mengeluarkan Macklemore dari rangkaian konser Ed Sheeran di Amerika Serikat. Macklemore sebelumnya tampil sebagai salah satu artis pembuka dalam Loop Tour dan menyampaikan dukungan terhadap Palestina ketika berada di atas panggung.
Macklemore mengucapkan dukungan kepada Palestina dalam penampilannya di MetLife Stadium, New Jersey, pada awal September 2026. Setelah itu, ia tidak lagi menjadi bagian dari sisa rangkaian tur Ed Sheeran di Amerika Serikat.
Peristiwa tersebut kemudian berkembang menjadi perdebatan panjang mengenai kebebasan berekspresi musisi, posisi artis terhadap isu politik, hingga tanggung jawab publik figur ketika berbicara mengenai konflik dan krisis kemanusiaan.
Di tengah polemik tersebut, Taka memberikan dukungan kepada Ed Sheeran.
Dukungan itulah yang kemudian membuat vokalis ONE OK ROCK tersebut ikut terseret dalam kontroversi.
Taka Dukung Ed Sheeran di Tengah Kontroversi Macklemore
Hubungan Taka dengan Ed Sheeran bukan sekadar hubungan antarsesama musisi.
Taka dan ONE OK ROCK pernah terlibat dalam sejumlah rangkaian pertunjukan yang mempertemukan mereka dengan Ed Sheeran. Karena kedekatan tersebut, Taka kemudian memberikan respons ketika Ed Sheeran berada di tengah tekanan publik akibat polemik mengenai Macklemore.
Setelah Ed Sheeran tampil di Philadelphia dan berbicara mengenai situasi Gaza, Taka memberikan komentar dukungan melalui media sosial.
Taka menilai keberanian Ed Sheeran untuk berbicara mengenai persoalan tersebut patut dihargai.
Komentar singkat itu kemudian menjadi perhatian penggemar ONE OK ROCK. Sebagian fans merasa dukungan tersebut tidak cukup mempertimbangkan persoalan yang menjadi latar belakang kontroversi.
Di media sosial, sejumlah penggemar mempertanyakan bagaimana Taka memandang persoalan Gaza dan Palestina.
Kritik tidak hanya diarahkan kepada dukungan Taka terhadap Ed Sheeran, tetapi juga terhadap cara penyanyi tersebut menggunakan istilah untuk menggambarkan situasi yang terjadi.
Sejumlah penggemar menggunakan istilah genosida ketika membahas kondisi di Gaza. Mereka merasa istilah tersebut penting karena menurut pandangan mereka, situasi yang terjadi tidak cukup disebut sebagai perang biasa.
Di sisi lain, Taka menyampaikan bahwa dirinya tidak mendukung perang maupun kekerasan terhadap warga sipil.
Taka Kemudian Memberikan Klarifikasi
Setelah mendapat banyak kritik, Taka memberikan penjelasan mengenai komentarnya.
Ia menyebut dukungan terhadap Ed Sheeran berasal dari hubungan personal sebagai teman dan bukan dimaksudkan sebagai pernyataan dukungan terhadap seluruh keputusan yang berkaitan dengan persoalan politik.
Laporan mengenai kontroversi tersebut menyebut Taka meminta maaf apabila komentarnya menimbulkan kesalahpahaman. Ia menjelaskan bahwa dirinya merasa tidak bisa diam ketika melihat seorang teman berada dalam situasi sulit.
Taka juga menegaskan bahwa dirinya menolak perang dan kekerasan terhadap warga sipil.
Ia menghormati hak setiap orang untuk menyampaikan pandangan politik, termasuk Macklemore.
Penjelasan tersebut menjadi bagian penting dalam kontroversi karena memperlihatkan bahwa dukungan Taka kepada Ed Sheeran tidak otomatis berarti ia mendukung seluruh tindakan atau posisi politik yang dikaitkan dengan penyanyi asal Inggris tersebut.
Namun, klarifikasi tersebut tidak langsung menghentikan kritik.
Sebagian penggemar tetap mempertanyakan pilihan kata dan posisi Taka dalam persoalan yang dianggap sangat sensitif.
Fans ONE OK ROCK Merasa Kecewa
ONE OK ROCK memiliki basis penggemar yang besar di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Bagi sebagian penggemar, lagu-lagu ONE OK ROCK bukan hanya sekadar hiburan.
Pesan mengenai kehidupan, tekanan sosial, perjuangan, kebebasan, hingga persoalan manusia menjadi alasan mengapa karya band asal Jepang tersebut memiliki tempat khusus di kalangan penggemarnya.
Karena itu, ketika Taka memberikan komentar mengenai kontroversi Gaza dan Ed Sheeran, sebagian fans menghubungkan sikap tersebut dengan pesan yang mereka tangkap dari karya ONE OK ROCK.
Kekecewaan tersebut kemudian muncul di berbagai platform media sosial.
Ada penggemar yang mempertanyakan mengapa seorang musisi yang selama ini dianggap membawa pesan tentang perlawanan dan kemanusiaan justru memberikan dukungan kepada Ed Sheeran dalam situasi yang berkaitan dengan Palestina.
Sebagian lainnya meminta Taka untuk lebih memahami konteks persoalan sebelum memberikan komentar.
Kritik tersebut tidak hanya datang dari penggemar internasional.
Fanbase ONE OK ROCK Indonesia juga menyampaikan sikap mereka secara terbuka.
Fanbase ONE OK ROCK Indonesia Ikut Bersuara
Fanbase resmi ONE OK ROCK di Indonesia kemudian menyampaikan pernyataan melalui media sosial.
Dalam pernyataan tersebut, mereka menjelaskan kekecewaan terhadap situasi yang sedang terjadi.
Mereka menghubungkan album terbaru ONE OK ROCK, Detox, dengan pesan yang selama ini mereka pahami sebagai bentuk kritik terhadap berbagai persoalan dunia.
Bagi mereka, album tersebut memiliki makna yang cukup kuat.
Namun, mereka kemudian melihat adanya perbedaan antara pesan yang mereka tangkap dari karya tersebut dengan sikap sejumlah pihak yang berada di balik karya itu.
Dalam unggahan pada 21 September, akun @oneokerock_indo menuliskan pernyataan mengenai posisi mereka.
“Pada awalnya, bagi kami, album Detox merupakan sebuah bentuk pendobrak terhadap situasi dunia yang sedang mengalami berbagai persoalan. Namun, kami kemudian melihat adanya perbedaan makna antara pesan yang kami tangkap dari album tersebut dengan sikap orang-orang yang membuatnya. Hal ini menjadi sesuatu yang sulit untuk kami terima,” tulis mereka.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan yang muncul bukan hanya mengenai satu komentar Taka.
Bagi fanbase tersebut, persoalannya menyentuh hubungan antara karya seni dan sikap penciptanya.
Mereka merasa ada jarak antara pesan yang selama ini mereka percaya dengan sikap yang muncul dalam kontroversi terbaru.
Fanbase Batalkan Sejumlah Kerja Sama
Sebagai bentuk protes, fanbase ONE OK ROCK Indonesia juga mengambil keputusan untuk menghentikan sejumlah kerja sama yang sebelumnya telah direncanakan.
Keputusan tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi mereka.
“Oleh karena itu, One Ok Rock Indonesia memutuskan untuk membatalkan kerja sama dengan event-event yang sebelumnya telah kami rencanakan, sampai waktu yang belum dapat kami tentukan,” lanjut pernyataan tersebut.
Keputusan itu menunjukkan bahwa kontroversi Taka tidak berhenti di media sosial.
Respons tersebut juga mulai memengaruhi kegiatan komunitas penggemar di Indonesia.
Fanbase memiliki peran penting dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan musisi, mulai dari acara nonton bersama, proyek ulang tahun, penggalangan dana, hingga berbagai kegiatan komunitas.
Ketika fanbase mengambil keputusan untuk membatalkan kerja sama, hal itu menjadi bentuk sikap yang cukup signifikan.
Namun, keputusan tersebut merupakan sikap dari komunitas penggemar dan tidak secara otomatis mewakili seluruh penggemar ONE OK ROCK di Indonesia.
Di media sosial sendiri, respons fans terlihat beragam.
Ada yang mengkritik Taka.
Ada pula yang meminta penggemar tidak mencampuradukkan hubungan personal Taka dengan persoalan politik.
Sebagian lainnya memilih menunggu penjelasan lebih lengkap dari sang vokalis.
Kontroversi Berawal dari Macklemore
Untuk memahami mengapa Taka ikut terseret, persoalan tersebut tidak dapat dilepaskan dari kontroversi Macklemore.
Macklemore sebelumnya menjadi salah satu artis pembuka dalam tur Ed Sheeran.
Dalam penampilannya di MetLife Stadium pada 4 September 2026, Macklemore menyampaikan dukungan kepada Palestina.
Ia mengatakan ingin masyarakat di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki mengetahui bahwa mereka tidak dilupakan.
Sehari setelahnya, Macklemore kembali menyampaikan dukungannya terhadap Palestina.
Dalam pernyataannya, ia juga membedakan antara kritik terhadap Israel dan kebencian terhadap orang Yahudi. Ia menekankan bahwa kritik terhadap kebijakan Israel dan penolakan terhadap genosida bukanlah kritik terhadap identitas Yahudi.
Pernyataan tersebut kemudian memicu reaksi dari sejumlah pihak.
Ada petisi yang meminta Macklemore dikeluarkan dari rangkaian tur Ed Sheeran.
Sejumlah pemilik venue juga menyatakan keberatan terhadap penampilannya.
Akhirnya, Macklemore tidak lagi tampil dalam sisa rangkaian tur Ed Sheeran di Amerika Serikat.
Ed Sheeran Bantah Keputusan Itu Berasal Darinya
Ed Sheeran kemudian memberikan penjelasan mengenai keputusan tersebut.
Ia mengatakan keputusan untuk mengeluarkan Macklemore dari tur bukan berasal darinya.
Menurut Sheeran, keputusan tersebut dibuat oleh promotor setelah adanya persoalan dengan sejumlah venue.
Sheeran mengatakan dirinya mencoba menjadi penengah di antara berbagai pihak, tetapi keputusan akhir mengenai lineup berada pada promotor dan pihak venue.
Penjelasan tersebut kemudian tidak sepenuhnya meredakan kontroversi.
Sejumlah artis pendukung akhirnya memilih meninggalkan rangkaian tur sebagai bentuk solidaritas kepada Macklemore.
Finneas, Lukas Graham, Aaron Rowe, dan Beoga termasuk nama-nama yang dikabarkan menarik diri dari tur tersebut.
Situasi tersebut membuat tur Ed Sheeran menjadi sorotan besar di luar persoalan musik.
Ed Sheeran Akhirnya Bicara soal Gaza
Setelah mendapat tekanan publik, Ed Sheeran akhirnya membicarakan persoalan Gaza secara langsung ketika tampil di Philadelphia pada 19 September 2026.
Dalam konser tersebut, Sheeran menyampaikan bahwa situasi di Gaza sangat berat.
Ia menggambarkan kondisi tersebut sebagai sesuatu yang “catastrophic and unjustifiable”.
Sheeran juga mengatakan dirinya merasa terpukul melihat banyaknya korban warga sipil dan anak-anak.
Namun, ia tetap menyampaikan bahwa dirinya ingin musik dan konsernya menjadi ruang yang menyatukan manusia, bukan arena politik.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu perkembangan penting dalam kontroversi yang sebelumnya hanya berkutat pada keputusan mengeluarkan Macklemore dari tur.
Sheeran juga menyampaikan bahwa dirinya tidak pernah berniat menjadi musisi aktivis.
Menurutnya, situasi yang berkembang membuat dirinya masuk ke dalam perdebatan mengenai kebebasan berbicara dan persoalan politik yang sangat kompleks.
Taka Memuji Keberanian Ed Sheeran
Dalam situasi tersebut, Taka memberikan dukungan kepada Ed Sheeran.
Komentar Taka kemudian dibaca sebagian fans sebagai bentuk keberpihakan kepada Ed Sheeran.
Padahal, menurut penjelasan Taka setelah mendapat kritik, komentarnya lebih berkaitan dengan hubungan personalnya dengan Sheeran.
Taka dan Ed Sheeran memang pernah memiliki hubungan profesional dan pertemanan.
ONE OK ROCK juga pernah menjadi bagian dari perjalanan konser Ed Sheeran di Asia.
Karena itu, tidak mengherankan jika Taka memberikan dukungan ketika Ed Sheeran berada di bawah tekanan.
Namun, dalam isu yang sangat sensitif seperti Palestina dan Gaza, dukungan kepada seseorang bisa dengan cepat ditafsirkan sebagai dukungan terhadap posisi politik tertentu.
Hal inilah yang kemudian membuat komentar Taka berkembang menjadi kontroversi yang lebih besar.
Perdebatan soal Istilah Perang dan Genosida
Salah satu bagian yang paling banyak diperdebatkan penggemar adalah penggunaan istilah untuk menggambarkan situasi di Gaza.
Taka menyampaikan bahwa dirinya tidak mendukung perang.
Namun, sejumlah penggemar merasa persoalannya bukan semata-mata mengenai perang.
Mereka menggunakan istilah genosida untuk menggambarkan situasi yang terjadi terhadap masyarakat Palestina di Gaza.
Istilah tersebut memiliki konsekuensi hukum dan politik yang sangat serius sehingga penggunaannya juga menjadi bagian dari perdebatan internasional.
Dalam konteks kontroversi musik ini, istilah tersebut muncul terutama dari pihak yang mengkritik Taka dan Ed Sheeran.
Karena itu, penting membedakan antara istilah yang digunakan para pengkritik dengan posisi pribadi Taka.
Taka sendiri dalam klarifikasinya menyatakan menolak perang dan kekerasan terhadap warga sipil.
Perbedaan sudut pandang inilah yang membuat kontroversi semakin panjang.
Album Detox Ikut Disorot
Selain komentar Taka, album Detox milik ONE OK ROCK juga ikut menjadi pembahasan.
Bagi penggemar, karya musik tidak berdiri sendiri.
Lagu-lagu yang memiliki pesan sosial atau kritik terhadap keadaan dunia sering kali membuat pendengar menghubungkan lirik dengan sikap para musisi.
Album Detox kemudian dianggap oleh sebagian fans sebagai salah satu karya yang membawa pesan mengenai persoalan dunia dan tekanan sosial.
Karena itu, ketika Taka terlibat dalam kontroversi politik dan kemanusiaan, muncul pertanyaan mengenai konsistensi antara pesan dalam karya dan sikap pribadi.
Perdebatan seperti ini sebenarnya bukan hal baru dalam industri musik.
Banyak musisi di seluruh dunia menghadapi situasi serupa ketika pandangan pribadi mereka berbeda dengan interpretasi pendengar terhadap karya.
Namun, kontroversi Taka menjadi lebih sensitif karena menyangkut isu Gaza dan Palestina yang selama ini memiliki dampak emosional sangat besar di berbagai negara.
Tidak Semua Fans Mengambil Sikap yang Sama
Meski kritik terhadap Taka cukup ramai, bukan berarti seluruh penggemar ONE OK ROCK memiliki pandangan yang sama.
Sebagian fans tetap mendukung Taka.
Mereka berpendapat bahwa seorang musisi tetap memiliki hak untuk memiliki pandangan pribadi dan hubungan pertemanan dengan siapa pun.
Ada pula penggemar yang menilai dukungan Taka terhadap Ed Sheeran tidak dapat langsung diartikan sebagai dukungan terhadap kebijakan tertentu dalam konflik Israel-Palestina.
Di sisi lain, penggemar yang kecewa merasa bahwa figur publik dengan basis penggemar besar perlu lebih berhati-hati ketika memberikan komentar mengenai isu kemanusiaan.
Dua pandangan tersebut kemudian berkembang di media sosial.
Kontroversi ini akhirnya tidak hanya membahas Taka, tetapi juga pertanyaan yang lebih luas mengenai batas antara karya seni, kehidupan pribadi, pertemanan, dan tanggung jawab seorang figur publik.
P!nk Juga Ikut Terseret
Selain Taka, nama penyanyi P!nk juga ikut muncul dalam pembahasan mengenai kontroversi tur Ed Sheeran.
Di media sosial, P!nk mendapat sorotan terkait dinamika yang terjadi dalam rangkaian tur tersebut.
Namun, sejumlah klaim mengenai peran P!nk dalam upaya mengeluarkan Macklemore dari tur perlu dibedakan dari fakta yang telah dikonfirmasi.
Macklemore sendiri sebelumnya menyebut Taka, Ed Sheeran, dan P!nk dalam pernyataannya terkait kontroversi tersebut, tetapi keterlibatan setiap pihak dalam keputusan tur tidak dapat disimpulkan hanya dari klaim di media sosial.
Informasi yang telah dikonfirmasi menunjukkan bahwa Ed Sheeran menyebut keputusan mengeluarkan Macklemore berasal dari promotor, bukan dirinya sendiri. Sementara sejumlah venue dikabarkan menyatakan keberatan terhadap penampilan Macklemore.
Karena itu, berbagai tudingan mengenai siapa yang menjadi pihak utama di balik keputusan tersebut masih menjadi bagian dari perdebatan publik.
Kontroversi Meluas ke Dunia Musik
Kasus Taka ONE OK ROCK dan Ed Sheeran memperlihatkan bagaimana sebuah persoalan di dunia musik dapat berkembang menjadi perdebatan internasional.
Awalnya, persoalan tersebut berkaitan dengan penampilan Macklemore di konser Ed Sheeran.
Namun, setelah Macklemore dikeluarkan dari tur, sejumlah musisi ikut menyatakan sikap.
Ada yang memilih mundur dari tur.
Ada yang memberikan dukungan kepada Macklemore.
Ada pula yang tetap mendukung Ed Sheeran.
Situasi tersebut kemudian berkembang menjadi perdebatan mengenai apakah musisi seharusnya bersikap terhadap persoalan politik dan kemanusiaan.
Bagi sebagian musisi, panggung merupakan ruang untuk menyuarakan isu yang mereka anggap penting.
Bagi musisi lainnya, konser merupakan tempat untuk mempertemukan orang dari berbagai latar belakang tanpa membawa persoalan politik.
Ed Sheeran sendiri menekankan keinginannya agar konser menjadi ruang persatuan dan kemanusiaan.
Sementara Macklemore mengambil posisi yang jauh lebih terbuka dalam menyuarakan dukungannya kepada Palestina.
Perbedaan pendekatan tersebut menjadi salah satu sumber utama konflik.
Taka dan Perdebatan tentang Sikap Musisi
Keterlibatan Taka menambah dimensi lain dalam kontroversi.
Ia tidak terlibat langsung dalam tur Ed Sheeran maupun keputusan mengenai Macklemore.
Namun, karena komentarnya menunjukkan dukungan kepada Ed Sheeran, namanya kemudian ikut masuk dalam perdebatan.
Bagi sebagian fans, persoalan tersebut menjadi kesempatan untuk mempertanyakan kembali hubungan antara musisi dan pendengarnya.
Apakah penggemar berhak mengharapkan seorang musisi memiliki nilai yang sama dengan pesan yang mereka tangkap dari lagu-lagunya?
Atau apakah musisi tetap memiliki kebebasan untuk mengambil posisi yang berbeda dalam kehidupan pribadinya?
Pertanyaan tersebut tidak memiliki jawaban sederhana.
Musik memang sering kali menjadi ruang bagi pendengar untuk menemukan makna yang sangat personal.
Sebuah lagu yang ditulis dengan tujuan tertentu dapat dimaknai berbeda oleh pendengar.
Begitu pula sebaliknya, sikap seorang musisi di luar karya dapat memengaruhi cara penggemar memahami lagu-lagu yang selama ini mereka dengarkan.
Respons Fans Menjadi Bagian dari Fenomena Fandom
Dalam perkembangan industri musik modern, hubungan antara musisi dan penggemar semakin dekat.
Media sosial membuat komunikasi berlangsung secara langsung.
Musisi dapat memberikan pernyataan kepada jutaan pengikut hanya melalui satu unggahan.
Namun, kedekatan tersebut juga membuat reaksi publik dapat muncul dalam waktu sangat singkat.
Ketika seorang musisi memberikan pernyataan kontroversial, penggemar dapat langsung memberikan respons.
Hal tersebut yang terjadi pada Taka.
Dukungan yang awalnya ditujukan kepada seorang teman berubah menjadi kontroversi di antara penggemar ONE OK ROCK.
Sebagian fans meminta penjelasan.
Sebagian lainnya menyampaikan kritik.
Fanbase ONE OK ROCK Indonesia bahkan memilih mengambil tindakan dengan membatalkan sejumlah kerja sama yang sebelumnya sudah direncanakan.
Kontroversi Belum Sepenuhnya Berakhir
Meski Taka sudah memberikan klarifikasi, perdebatan di kalangan penggemar belum sepenuhnya berakhir.
Sebagian fans masih mempermasalahkan dukungan awalnya kepada Ed Sheeran.
Sementara lainnya menerima penjelasan bahwa komentar tersebut berasal dari hubungan personal Taka dengan Ed Sheeran.
Di sisi lain, kontroversi Ed Sheeran dan Macklemore juga masih menjadi pembahasan.
Tur Ed Sheeran tetap berlanjut meski beberapa artis pendukung memutuskan untuk mundur.
Macklemore sendiri terus menyuarakan dukungannya terhadap Palestina.
Ed Sheeran juga akhirnya berbicara lebih terbuka mengenai kondisi Gaza ketika tampil di Philadelphia.
Situasi tersebut membuat persoalan ini kemungkinan masih akan menjadi bahan perbincangan di kalangan penggemar musik internasional.
Taka ONE OK ROCK Jadi Sorotan karena Dukung Ed Sheeran
Kontroversi Taka ONE OK ROCK pada akhirnya bukan hanya tentang satu komentar di media sosial.
Persoalan tersebut berkembang menjadi perdebatan mengenai hubungan antara musisi, karya, pertemanan, kebebasan berekspresi, dan isu kemanusiaan.
Taka memberikan dukungan kepada Ed Sheeran setelah penyanyi Inggris tersebut berada di tengah kontroversi terkait keluarnya Macklemore dari Loop Tour.
Namun, dukungan itu mendapat reaksi keras dari sebagian penggemar ONE OK ROCK karena mereka menganggap situasi di Gaza tidak bisa dipandang semata-mata sebagai persoalan perang.
Fanbase ONE OK ROCK Indonesia kemudian menyampaikan sikap mereka dan menyebut adanya perbedaan antara pesan yang mereka tangkap dari album Detox dengan sikap yang muncul dalam kontroversi tersebut.
Mereka juga mengambil keputusan untuk membatalkan sejumlah kerja sama acara sampai waktu yang belum ditentukan.
Di sisi lain, Taka telah memberikan klarifikasi mengenai komentarnya. Ia menyatakan tidak mendukung perang dan kekerasan terhadap warga sipil serta menjelaskan bahwa dukungannya kepada Ed Sheeran berasal dari hubungan personal sebagai seorang teman.
Kontroversi tersebut menunjukkan bahwa bagi sebagian penggemar, karya seorang musisi tidak dapat dipisahkan begitu saja dari sikap yang ditunjukkan di luar panggung.
Sementara bagi pihak lainnya, seorang musisi tetap memiliki ruang untuk memiliki hubungan pribadi dan pandangan sendiri.
Perdebatan antara dua sudut pandang itu masih berlangsung.
Yang jelas, nama Taka kini ikut berada di tengah kontroversi musik internasional yang bermula dari keputusan mengenai Macklemore, berkembang menjadi perdebatan mengenai Palestina dan Gaza, lalu melibatkan sejumlah musisi lain.
Bagi ONE OK ROCK dan para penggemarnya, polemik tersebut menjadi salah satu momen yang menguji hubungan antara pesan dalam karya dengan cara setiap orang memaknai sikap para personel band di luar musik.
Sumber : www.voi.id
