Ilustrasi ikan segar. (Unsplash.com/Jeremy Stewart)
Buletinmedia.com – Para ilmuwan dari Universitas Hokkaido berhasil mengembangkan metode baru untuk mengetahui tingkat kesegaran ikan menggunakan model matematika secara real time. Inovasi ini dinilai menjadi terobosan penting dalam dunia pangan, khususnya untuk memastikan kualitas hasil laut tetap terjaga dari proses penangkapan hingga sampai ke tangan konsumen.
Selama ini, cara paling umum untuk mengecek kesegaran ikan masih mengandalkan metode konvensional. Banyak orang menilai ikan segar dari tampilan fisik seperti mata yang jernih, insang berwarna merah, hingga tekstur daging yang kenyal. Namun, pendekatan tersebut sering kali tidak akurat, terutama jika ikan telah melalui proses distribusi yang panjang.
Perjalanan ikan dari laut ke pasar atau restoran bisa memakan waktu berjam-jam hingga berhari-hari. Dalam rentang waktu tersebut, kualitas ikan terus menurun. Sayangnya, perubahan ini tidak selalu terlihat secara kasat mata, sehingga berpotensi menimbulkan kesalahan dalam penilaian.
Melalui penelitian yang dipublikasikan di ScienceDirect dan Journal of Food Engineering, para peneliti menekankan pentingnya teknologi yang mampu memantau kesegaran ikan secara lebih akurat dan cepat. Hal ini menjadi krusial mengingat ikan dan kerang merupakan sumber protein yang sangat diminati dan sering dikonsumsi dalam kondisi mentah, seperti pada hidangan sushi.
Salah satu peneliti utama, Naoto Tsubouchi, menjelaskan bahwa kesegaran ikan sebenarnya mulai menurun segera setelah ikan mati. Proses ini terjadi secara alami dan sulit dipantau secara detail, terutama dalam sistem distribusi yang kompleks.
Menurut Tsubouchi, keterbatasan informasi mengenai perubahan kualitas ikan membuat pelaku industri sering mengambil keputusan yang kurang tepat. Akibatnya, banyak produk yang sebenarnya masih layak konsumsi justru dibuang, sementara yang kualitasnya sudah menurun bisa saja tetap dijual.
Untuk mengatasi masalah tersebut, tim peneliti mengembangkan model matematika berbasis proses biokimia dalam tubuh ikan. Model ini berfokus pada jalur degradasi adenosine triphosphate atau ATP, yaitu senyawa yang berperan sebagai sumber energi dalam sel otot ikan saat masih hidup.
Setelah ikan mati, ATP akan terurai secara bertahap menjadi beberapa senyawa lain. Proses ini menjadi indikator penting dalam menentukan tingkat kesegaran ikan. Peneliti kemudian memanfaatkan pola perubahan tersebut untuk merancang rumus matematika yang mampu menghitung kondisi ikan secara akurat.
Pendekatan ini dikenal dengan istilah K-value, yaitu parameter yang digunakan untuk mengukur tingkat kesegaran ikan berdasarkan komposisi senyawa hasil degradasi ATP. Meski konsep K-value sebenarnya sudah dikenal sejak puluhan tahun lalu, metode lama mengharuskan pengambilan sampel daging ikan untuk diuji di laboratorium.
Proses tersebut tidak hanya memakan waktu lama, tetapi juga merusak produk yang diuji, sehingga kurang praktis untuk digunakan dalam skala industri sehari-hari. Inilah yang menjadi keunggulan utama dari model terbaru yang dikembangkan oleh tim Universitas Hokkaido.
Model matematika ini hanya membutuhkan data sederhana seperti jenis ikan, suhu penyimpanan, serta lama waktu sejak ikan ditangkap. Dengan data tersebut, sistem dapat langsung menghitung tingkat kesegaran ikan tanpa perlu alat laboratorium yang rumit.
Tidak hanya itu, model ini juga mampu memprediksi kondisi ikan dalam beberapa jam atau hari ke depan. Artinya, pelaku usaha maupun konsumen dapat mengetahui kapan waktu terbaik untuk mengolah atau mengonsumsi ikan tersebut.
Keunggulan lain dari teknologi ini adalah kemampuannya dalam menilai kualitas rasa. Dalam proses degradasi ATP, terbentuk senyawa bernama inosine monophosphate (IMP) yang memberikan rasa gurih atau umami pada ikan.
Namun, jika ikan disimpan terlalu lama, senyawa tersebut akan terus berubah menjadi zat lain yang menimbulkan rasa pahit dan bau tidak sedap. Dengan model matematika ini, perubahan tersebut dapat dipantau sehingga kualitas rasa ikan tetap terjaga.
Penelitian ini telah diuji pada berbagai jenis ikan, termasuk makarel, dan menunjukkan hasil yang konsisten dengan pengujian laboratorium konvensional. Hal ini membuktikan bahwa model yang dikembangkan memiliki tingkat akurasi yang tinggi.
“Penelitian ini menunjukkan bahwa satu struktur model dapat diterapkan pada berbagai spesies ikan tanpa mengorbankan akurasi prediksi,” ujar Tsubouchi.
Inovasi ini juga berpotensi memberikan dampak besar terhadap industri perikanan dan distribusi makanan laut. Dengan informasi yang lebih akurat, pelaku usaha dapat mengelola stok dengan lebih efisien dan mengurangi risiko kerugian.
Supermarket, restoran, hingga toko bahan makanan tidak lagi harus membuang produk hanya karena ketidakpastian data kesegaran. Di sisi lain, konsumen juga mendapatkan jaminan kualitas yang lebih baik.
Selain itu, teknologi ini diharapkan dapat membantu mengurangi limbah makanan secara global. Selama ini, salah satu penyebab utama pemborosan makanan adalah ketidakpastian dalam menentukan masa simpan produk.
Dengan adanya sistem yang mampu memprediksi sisa umur simpan ikan secara tepat, distribusi dapat diatur dengan lebih optimal. Produk yang masih layak konsumsi bisa dimanfaatkan secara maksimal, sementara yang mendekati batas dapat segera diprioritaskan untuk digunakan.
Saat ini, teknologi tersebut telah dipatenkan di berbagai negara. Tim peneliti juga berencana mengembangkan sistem ini menjadi perangkat sensor otomatis yang dapat digunakan secara luas di industri.
Ke depan, teknologi ini berpotensi diintegrasikan dengan sistem digital dan Internet of Things (IoT), sehingga pemantauan kesegaran ikan dapat dilakukan secara real time di seluruh rantai distribusi.
Jika berhasil diterapkan secara luas, inovasi ini tidak hanya meningkatkan kualitas pangan, tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan dengan mengurangi limbah makanan.
Dengan menggabungkan ilmu matematika dan biokimia, para peneliti dari Jepang menunjukkan bahwa solusi sederhana dapat memberikan dampak besar. Cara baru ini membuka peluang bagi industri pangan untuk menjadi lebih efisien, aman, dan ramah lingkungan.
Sumber : www.kompas.com
