Foto: Getty Images/iStockphoto/Paul_Brighton
Sebuah perbandingan tak biasa tengah menghebohkan jagat media sosial, khususnya di platform Xiaohongshu. Perdebatan panas muncul setelah sebuah unggahan menyatakan bahwa penjual babi panggang di kaki lima bisa menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan seorang dokter—profesi yang kerap dipandang prestisius oleh masyarakat.
Di tengah stereotip bahwa dokter adalah simbol status sosial dan kesuksesan finansial, muncul argumen mengejutkan: jualan makanan, khususnya babi panggang atau “siu yuk”, justru bisa lebih “cuan”!
Babi panggang (siu yuk) adalah hidangan khas yang sangat populer di Malaysia, khususnya di kalangan etnis Tionghoa. Disajikan dalam berbagai momen spesial dan dijajakan luas di gerai kaki lima, makanan ini memiliki permintaan pasar yang tinggi. Tak heran jika banyak penjual daging babi panggang mampu meraih keuntungan menggiurkan — bahkan disebut menyaingi atau melampaui penghasilan seorang dokter umum.
Namun perlu dicatat, keberhasilan ini tidak datang instan. Faktor seperti lokasi strategis, reputasi rasa, jam terbang, dan jaringan pelanggan loyal jadi kunci utama. Artinya, penghasilan besar para pedagang kaki lima ini lebih bersifat fluktuatif dan berbasis pengalaman panjang.
Di sisi lain, profesi dokter, terutama yang bekerja di sektor publik, menerima gaji tetap dan berbagai tunjangan. Berdasarkan data dari Jobstreet, gaji dokter di Malaysia rata-rata berkisar RM8.000 (±Rp30,7 juta) hingga RM10.000 (±Rp38,4 juta) per bulan. Nilainya bisa naik tergantung spesialisasi, pengalaman, dan apakah mereka bekerja di sektor swasta atau pemerintahan.
Namun, tak sedikit dokter, terutama yang masih junior atau baru lulus, mengaku bahwa penghasilan awal tidak selalu tinggi, dan beban kerja pun sangat besar. Beberapa dokter bahkan membenarkan bahwa dibandingkan pedagang kaki lima mapan, pendapatan mereka memang terasa lebih kecil.
Netizen pun terbelah. Beberapa menyatakan bahwa membandingkan dua profesi ini tidaklah sebanding. Seorang pengguna menulis:
“Tidak adil membandingkan 10% pedagang kaki lima paling sukses dengan 10% dokter yang baru mulai karier.”
Komentar lain juga menyuarakan hal senada, menyebut bahwa pedagang yang sudah 20 tahun berdagang tentu punya keunggulan kapital, loyalitas konsumen, dan pola bisnis yang stabil, sementara dokter butuh waktu lama meniti karier dan naik pendapatan.
Perdebatan ini membuka mata publik bahwa profesi bergengsi tak selalu jaminan cuan, dan sebaliknya, pekerjaan yang kerap dipandang sebelah mata bisa jadi tambang emas jika ditekuni secara serius.
Lebih jauh lagi, perbincangan ini menyiratkan pentingnya menghapus stigma kelas sosial berdasarkan profesi. Baik dokter maupun penjual makanan kaki lima punya kontribusi nyata bagi masyarakat, dan masing-masing memiliki risiko, tantangan, serta nilai ekonomi yang berbeda.
