Ilustrasi apem selong (Jawa). (SHUTTERSTOCK/FOTONE AGUS)
Buletinmedia.com – Kue apem, yang kini mungkin lebih dikenal sebagai jajanan pasar, memiliki peran khusus dalam budaya Tionghoa di Batavia (sekarang Jakarta) pada masa lalu. Di tengah perayaan Peh Cun, yang jatuh pada hari keseratus setelah Imlek, kue apem menjadi simbol penting dalam pencarian jodoh. Menurut buku Kisah-kisah Edan Seputar Djakarta Tempo Doeloe karya Zaenuddin HM (2017), pria dan wanita yang saling tertarik akan saling melempar kue apem dan kue tiongcuphia. Kedua jenis kue ini, yang diisi kacang hijau, dianggap melambangkan pengharapan dan harapan untuk menemukan pasangan hidup yang cocok.
Ketika saling melempar kue apem, jika terjadi kecocokan, itu menjadi tanda bahwa hubungan tersebut dapat berkembang menuju pernikahan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi cara unik untuk mengenal seseorang, tetapi juga menunjukkan pentingnya simbolisme dalam tradisi Tionghoa. Setelah saling melempar kue apem, jika pasangan tersebut serius, sang pria harus membawa ikan bandeng saat berkunjung ke rumah calon mertua, yang melambangkan harapan dan keberuntungan dalam perjalanan menuju pernikahan.
Perayaan Peh Cun sendiri memiliki nuansa yang sangat khas di Batavia pada zaman dahulu. Peh Cun dirayakan dengan meriah oleh masyarakat Tionghoa, khususnya di sepanjang Kali Angke. Di sana, perayaan ini menjadi acara besar dengan berbagai kegiatan seperti karnaval perahu yang dihiasi lampion warna-warni. Karnaval ini diiringi oleh orkes gambang kromong, orkes tanjidor, dan pertunjukan seni tradisional China, seperti cokek. Semua elemen ini menciptakan suasana yang penuh keceriaan dan semangat bersama.
Pesta rakyat ini tidak hanya dinikmati oleh komunitas Tionghoa, tetapi juga mengundang partisipasi masyarakat umum. Banyak orang berkebaya yang turut serta dalam perayaan ini, dengan ajakan untuk bergoyang bersama mengikuti alunan musik. Di sepanjang pinggir sungai, terdapat barisan tenda dan gubuk yang menjual berbagai makanan dan minuman khas, yang semakin meriahkan suasana. Peh Cun pada masa itu tidak hanya sebagai perayaan budaya, tetapi juga sebagai ajang bersosialisasi dan berkumpul bagi banyak orang.
Perayaan Peh Cun di Batavia menunjukkan betapa kaya dan meriahnya tradisi budaya Tionghoa, yang penuh dengan simbolisme dan harapan akan keberuntungan. Dengan beragam kegiatan yang menggabungkan elemen budaya China dan lokal, Peh Cun menjadi salah satu perayaan paling berwarna dan penuh makna dalam sejarah Jakarta. Hingga kini, meskipun perayaan tersebut tidak lagi semeriah dulu, kisah-kisah tradisi seperti ini tetap menjadi bagian dari warisan budaya yang berharga bagi masyarakat Jakarta.
