Ilustrasi bahan makanan/Foto: Getty Images/Daniel Megias
Buletinmedia.com – Ketika membicarakan bahan pangan yang paling banyak dikonsumsi masyarakat dunia, beras hampir selalu menjadi salah satu komoditas yang pertama kali terlintas. Beras merupakan makanan pokok bagi miliaran orang, terutama masyarakat di kawasan Asia. Produksi dan perdagangan beras juga berlangsung dalam skala yang sangat besar setiap tahunnya.
Namun, jika ukuran yang digunakan bukan jumlah konsumsi atau peran sebagai makanan pokok, melainkan nilai produksi bruto, beras ternyata bukan komoditas pangan paling berharga di dunia.
Berdasarkan data terbaru yang dirangkum dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa atau Food and Agriculture Organization (FAO) untuk 2024, posisi teratas justru ditempati susu.
Komoditas yang sehari-hari dikonsumsi dalam berbagai bentuk tersebut memiliki nilai produksi global yang sangat besar. Nilainya bahkan sedikit lebih tinggi dibandingkan beras.
Melansir Business Today, Minggu (30/8/2026), data FAO menunjukkan bahwa susu menjadi komoditas pangan dengan nilai produksi bruto terbesar di dunia pada 2024.
Nilai produksi susu secara global mencapai sekitar 379 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 6,71 kuadriliun.
Sementara itu, beras berada di posisi kedua dengan nilai produksi sekitar 362 miliar dolar AS atau sekitar Rp 6,41 kuadriliun.
Selisih keduanya memang tidak terlalu jauh jika dibandingkan dengan besarnya nilai keseluruhan industri pangan dunia. Namun, angka tersebut cukup untuk menunjukkan bahwa komoditas pangan yang memiliki nilai ekonomi terbesar tidak selalu identik dengan makanan pokok yang paling sering dibicarakan.
Menariknya, daftar tersebut juga memperlihatkan bahwa produk hewani memiliki peranan sangat besar dalam perekonomian pangan dunia. Selain susu, daging babi, daging sapi, ayam, dan telur juga masuk dalam daftar komoditas pangan dengan nilai produksi tertinggi.
Di sisi lain, sejumlah tanaman pangan seperti beras, jagung, gandum, dan kedelai tetap memiliki posisi penting.
Jika seluruh 10 komoditas pangan teratas digabungkan, nilai produksi brutonya mencapai sekitar 2,5 triliun dolar AS atau sekitar Rp 44,3 kuadriliun.
Angka tersebut memberikan gambaran mengenai betapa besarnya industri pangan dunia. Di balik kebutuhan masyarakat untuk makan setiap hari, terdapat rantai produksi yang melibatkan petani, peternak, industri pengolahan, distributor, pedagang, hingga konsumen.
Susu Jadi Komoditas Pangan Paling Berharga di Dunia
Susu menempati posisi pertama dalam daftar komoditas pangan berdasarkan nilai produksi global pada 2024.
Nilai produksi bruto susu mencapai sekitar 379 miliar dolar AS atau sekitar Rp 6,71 kuadriliun.
Besarnya nilai tersebut tidak terlepas dari tingginya kebutuhan terhadap susu di berbagai negara. Susu tidak hanya dikonsumsi dalam bentuk minuman, tetapi juga menjadi bahan dasar untuk berbagai produk pangan.
Produk seperti keju, mentega, yoghurt, susu bubuk, krim, dan berbagai makanan olahan lainnya menggunakan susu sebagai bahan baku.
Artinya, nilai ekonomi susu tidak hanya berasal dari produk susu cair yang dikonsumsi secara langsung.
Rantai industri susu juga berkembang sangat luas.
Produksi susu dunia pada 2024 mencapai sekitar 985 juta metrik ton. Sapi menjadi sumber utama produksi susu global dengan kontribusi sekitar 81 persen dari total produksi.
Angka tersebut menunjukkan dominasi sapi dalam industri peternakan susu dunia.
Meski begitu, sapi bukan satu-satunya hewan yang menghasilkan susu untuk kebutuhan manusia.
Kerbau juga memiliki peran besar, terutama di kawasan Asia. Susu kerbau menjadi bagian penting dalam pola konsumsi masyarakat di sejumlah negara dan digunakan untuk menghasilkan berbagai produk olahan.
Besarnya produksi susu menunjukkan bahwa komoditas ini memiliki posisi strategis dalam sistem pangan dunia.
Mengapa Nilai Produksi Susu Sangat Besar?
Ada sejumlah faktor yang membuat susu memiliki nilai ekonomi tinggi.
Salah satunya adalah keragaman produk yang dapat dihasilkan dari susu.
Susu segar dapat diolah menjadi berbagai produk dengan nilai jual yang berbeda. Proses pengolahan tersebut membuat susu memiliki pasar yang sangat luas.
Selain dikonsumsi langsung, susu dapat menjadi bahan baku industri makanan dan minuman.
Keju merupakan salah satu contoh produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Begitu pula mentega dan yoghurt yang dikonsumsi di berbagai belahan dunia.
Industri susu juga memiliki rantai produksi yang panjang.
Peternak membutuhkan pakan untuk menjaga produktivitas ternak. Susu kemudian dikumpulkan, didistribusikan, diproses, dikemas, dan dipasarkan kepada konsumen.
Setiap tahapan menciptakan nilai ekonomi.
Karena itulah, nilai produksi bruto susu dapat mencapai ratusan miliar dolar AS dalam satu tahun.
Beras Berada di Posisi Kedua
Beras menempati posisi kedua dalam daftar komoditas pangan dengan nilai produksi tertinggi.
Pada 2024, nilai produksi beras mencapai sekitar 362 miliar dolar AS atau sekitar Rp 6,41 kuadriliun.
Posisi tersebut sebenarnya tidak mengejutkan jika melihat besarnya jumlah masyarakat dunia yang mengonsumsi beras.
Beras merupakan makanan pokok bagi miliaran orang.
Kawasan Asia menjadi salah satu pusat konsumsi dan produksi beras dunia. Negara-negara seperti China, India, Indonesia, Vietnam, Thailand, dan sejumlah negara Asia lainnya memiliki industri beras yang sangat besar.
Beras juga memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat.
Di banyak negara, beras tidak hanya menjadi sumber karbohidrat, tetapi juga berkaitan dengan budaya, tradisi, dan kehidupan sosial.
Meskipun demikian, jika menggunakan nilai produksi bruto sebagai ukuran, beras masih berada di bawah susu.
Selisih sekitar 17 miliar dolar AS antara keduanya menunjukkan betapa besarnya nilai ekonomi industri susu.
Daging Babi Menempati Posisi Ketiga
Setelah susu dan beras, komoditas pangan dengan nilai produksi terbesar berikutnya adalah daging babi.
Nilai produksinya pada 2024 mencapai sekitar 355 miliar dolar AS atau sekitar Rp 6,28 kuadriliun.
Besarnya nilai tersebut mencerminkan skala industri peternakan babi di dunia.
Daging babi menjadi salah satu sumber protein utama di banyak negara.
Industri ini memiliki rantai produksi yang luas, mulai dari pembibitan, pemeliharaan ternak, produksi pakan, pemotongan, pengolahan, distribusi, hingga penjualan.
Namun, konsumsi daging babi tentu berbeda-beda antarnegara karena dipengaruhi oleh budaya, agama, kebiasaan masyarakat, serta aturan masing-masing wilayah.
Terlepas dari perbedaan tersebut, secara global daging babi tetap memiliki nilai produksi yang sangat besar.
Posisinya yang berada di peringkat ketiga menunjukkan besarnya kontribusi sektor peternakan terhadap industri pangan dunia.
Daging Sapi Masuk Empat Besar
Daging sapi menempati posisi keempat.
Nilai produksi daging sapi pada 2024 mencapai sekitar 306 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 5,42 kuadriliun.
Daging sapi memiliki pasar yang luas di berbagai negara.
Produk ini digunakan dalam berbagai jenis makanan, mulai dari masakan rumahan hingga industri makanan berskala besar.
Selain daging segar, sapi juga menghasilkan berbagai produk lain yang memiliki nilai ekonomi.
Industri peternakan sapi juga berkaitan dengan sektor pakan, pengolahan hasil ternak, transportasi, hingga perdagangan.
Dengan nilai produksi lebih dari 300 miliar dolar AS, daging sapi menjadi salah satu komoditas pangan yang memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi pertanian global.
Jagung Berada di Posisi Kelima
Jagung menjadi komoditas tanaman pangan dengan nilai produksi tertinggi dalam daftar tersebut.
Nilai produksi jagung pada 2024 mencapai sekitar 270 miliar dolar AS atau sekitar Rp 4,78 kuadriliun.
Jagung memiliki peranan yang sangat luas dalam sistem pangan.
Selain dikonsumsi langsung oleh manusia, jagung juga menjadi bahan penting untuk pakan ternak.
Permintaan dari industri peternakan menjadi salah satu faktor yang membuat produksi jagung berlangsung dalam skala besar.
Jagung juga digunakan untuk berbagai produk industri.
Karena memiliki banyak fungsi, kebutuhan terhadap jagung tidak hanya berasal dari rumah tangga, tetapi juga industri makanan, peternakan, dan berbagai sektor pengolahan.
Hal tersebut membuat jagung menjadi salah satu komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Ayam Mencatat Nilai Produksi Rp 4,67 Kuadriliun
Komoditas berikutnya adalah ayam.
Nilai produksi ayam pada 2024 mencapai sekitar 264 miliar dolar AS atau sekitar Rp 4,67 kuadriliun.
Ayam merupakan salah satu sumber protein hewani yang paling banyak dikonsumsi di dunia.
Salah satu alasan utamanya adalah kemampuan industri peternakan ayam menghasilkan produk dalam waktu relatif cepat dibandingkan sejumlah jenis ternak lainnya.
Daging ayam juga dapat diolah menjadi berbagai macam makanan.
Selain daging, telur ayam memiliki nilai ekonomi yang besar dan bahkan masuk dalam daftar 10 besar komoditas pangan berdasarkan nilai produksi.
Industri ayam dengan demikian tidak hanya menghasilkan daging, tetapi juga mendukung rantai pangan melalui produk telur.
Gandum Masih Menjadi Komoditas Penting
Gandum menempati posisi ketujuh dengan nilai produksi sekitar 209 miliar dolar AS atau sekitar Rp 3,70 kuadriliun.
Berbeda dengan beras yang sangat dominan di kawasan Asia, gandum memiliki peranan besar dalam pola konsumsi masyarakat di berbagai wilayah lainnya.
Gandum menjadi bahan dasar untuk berbagai produk seperti roti, mi, pasta, biskuit, dan makanan olahan lainnya.
Produksi gandum juga menjadi bagian penting dalam sistem pangan global.
Perubahan produksi gandum dapat memengaruhi harga pangan karena komoditas ini menjadi bahan baku berbagai makanan.
Faktor seperti cuaca, luas lahan, produktivitas, biaya produksi, serta kondisi perdagangan internasional dapat memengaruhi pasokan gandum.
Telur Masuk Daftar 10 Besar
Telur berada di posisi kedelapan.
Nilai produksi telur pada 2024 mencapai sekitar 157 miliar dolar AS atau sekitar Rp 2,78 kuadriliun.
Telur memiliki posisi unik dalam industri pangan karena dikonsumsi secara langsung sekaligus digunakan sebagai bahan dalam berbagai jenis makanan.
Telur menjadi sumber protein yang relatif mudah ditemukan dan dapat diolah dengan berbagai cara.
Telur juga digunakan dalam industri makanan untuk membuat kue, roti, mi, saus, dan berbagai produk lainnya.
Permintaan yang tinggi membuat produksi telur berkembang di berbagai negara.
Industri telur juga memiliki keterkaitan erat dengan peternakan ayam sehingga keduanya menjadi bagian penting dalam sektor pangan hewani.
Kedelai Bernilai Rp 2,51 Kuadriliun
Kedelai berada di posisi kesembilan dalam daftar.
Nilai produksi kedelai pada 2024 mencapai sekitar 142 miliar dolar AS atau sekitar Rp 2,51 kuadriliun.
Kedelai memiliki fungsi yang sangat luas.
Komoditas ini digunakan sebagai bahan pangan manusia dan juga menjadi bahan penting dalam industri pakan ternak.
Di sejumlah negara Asia, kedelai juga menjadi bahan utama untuk menghasilkan produk seperti tahu, tempe, kecap, dan berbagai makanan olahan lainnya.
Permintaan global terhadap kedelai juga berkaitan dengan pertumbuhan industri peternakan.
Kedelai dapat diolah menjadi bahan pakan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak.
Karena itu, kedelai memiliki posisi strategis dalam rantai pangan dunia.
Tomat Jadi Satu-satunya Buah dalam Daftar
Hal menarik lainnya dari daftar tersebut adalah masuknya tomat ke posisi ke-10.
Nilai produksi tomat pada 2024 mencapai sekitar 136 miliar dolar AS atau sekitar Rp 2,41 kuadriliun.
Tomat menjadi satu-satunya buah yang masuk dalam daftar 10 komoditas pangan dengan nilai produksi tertinggi.
Posisinya bahkan berada di atas beberapa komoditas pertanian yang juga sangat populer, seperti kentang, apel, dan anggur.
Hal tersebut menunjukkan betapa besar skala produksi dan konsumsi tomat di berbagai negara.
Tomat digunakan dalam berbagai jenis makanan.
Mulai dari saus, pasta, sup, salad, hingga berbagai masakan tradisional.
Selain dikonsumsi segar, tomat juga banyak diolah menjadi produk makanan dengan masa simpan yang lebih panjang.
Kebutuhan tersebut membuat tomat menjadi salah satu komoditas hortikultura dengan nilai ekonomi besar.
Produk Hewani Mendominasi Daftar
Salah satu hal yang paling terlihat dari daftar 10 komoditas pangan tersebut adalah dominasi produk hewani.
Susu berada di peringkat pertama.
Kemudian disusul daging babi, daging sapi, ayam, dan telur.
Jika nilai produksi seluruh komoditas hewani tersebut digabungkan, kontribusinya menjadi sangat besar terhadap total nilai produksi 10 komoditas teratas.
Menurut data FAO yang dikutip Visual Capitalist, produksi daging dunia mencapai sekitar 374 juta metrik ton pada 2024.
Angka tersebut memperlihatkan skala industri peternakan global.
Peternakan bukan hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan dan mendukung berbagai industri lain.
Ada industri pakan ternak, obat dan perawatan hewan, transportasi, pengolahan makanan, pengemasan, hingga distribusi.
Karena itu, nilai ekonomi produk hewani tidak dapat dilihat hanya dari harga produk yang dibeli konsumen.
Di belakangnya terdapat rantai ekonomi yang sangat panjang.
Biji-bijian Tetap Memiliki Peran Penting
Meskipun produk hewani mendominasi, biji-bijian tetap menjadi bagian penting dalam daftar.
Beras, jagung, gandum, dan kedelai semuanya masuk dalam 10 besar.
Komoditas tersebut memiliki fungsi berbeda dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dunia.
Beras menjadi makanan pokok bagi banyak masyarakat.
Gandum menjadi bahan utama berbagai produk makanan.
Jagung digunakan untuk konsumsi manusia sekaligus pakan ternak.
Sementara kedelai memiliki peran dalam industri pangan dan peternakan.
Keempat komoditas tersebut menunjukkan bahwa sistem pangan global memiliki struktur yang sangat beragam.
Tidak ada satu jenis bahan pangan yang berdiri sendiri.
Produksi satu komoditas sering kali berkaitan dengan komoditas lainnya.
Misalnya, jagung dan kedelai dapat digunakan untuk mendukung produksi pangan hewani.
Artinya, permintaan terhadap daging dan produk susu secara tidak langsung juga dapat memengaruhi kebutuhan terhadap komoditas tanaman pangan.
Nilai Produksi Pangan Dunia Mencapai Triliunan Dolar
Jika 10 komoditas tersebut digabungkan, nilai produksi brutonya mencapai sekitar 2,5 triliun dolar AS atau sekitar Rp 44,3 kuadriliun.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa sektor pangan merupakan salah satu bagian terbesar dalam perekonomian dunia.
Setiap hari, miliaran orang membutuhkan makanan.
Kebutuhan tersebut menciptakan permintaan yang relatif terus berlangsung.
Namun, produksi pangan tidak sesederhana menanam atau memelihara hewan.
Petani harus menghadapi kondisi cuaca, ketersediaan air, harga pupuk, biaya tenaga kerja, hama, penyakit tanaman, dan perubahan harga pasar.
Peternak juga menghadapi persoalan pakan, kesehatan hewan, perubahan harga, serta kebutuhan distribusi.
Setelah produk dipanen atau dihasilkan, proses belum selesai.
Komoditas tersebut harus diproses, disimpan, dikemas, diangkut, dan akhirnya sampai kepada konsumen.
Setiap tahapan membutuhkan biaya sekaligus menciptakan nilai ekonomi.
Beras Bukan Komoditas Pangan Paling Berharga
Dari daftar tersebut terlihat jelas bahwa beras bukan komoditas pangan dengan nilai produksi terbesar di dunia.
Beras memang menjadi makanan pokok bagi miliaran manusia dan memiliki peranan penting dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, jika indikator yang digunakan adalah nilai produksi bruto global, susu berada di posisi pertama.
Susu mencatat nilai sekitar 379 miliar dolar AS, sedangkan beras sekitar 362 miliar dolar AS.
Selisihnya sekitar 17 miliar dolar AS.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa ukuran “paling berharga” dapat memiliki arti yang berbeda.
Jika berdasarkan jumlah orang yang mengonsumsi sebagai makanan pokok, beras memiliki posisi yang sangat penting.
Namun, jika berdasarkan nilai produksi, susu menjadi yang tertinggi dalam data 2024.
Daftar 10 Komoditas Pangan Paling Berharga
Berikut daftar 10 komoditas pangan dengan nilai produksi terbesar pada 2024 berdasarkan data yang dihimpun dari FAO dan dirangkum Visual Capitalist:
- Susu – 379 miliar dolar AS atau sekitar Rp 6,71 kuadriliun.
- Beras – 362 miliar dolar AS atau sekitar Rp 6,41 kuadriliun.
- Daging babi – 355 miliar dolar AS atau sekitar Rp 6,28 kuadriliun.
- Daging sapi – 306 miliar dolar AS atau sekitar Rp 5,42 kuadriliun.
- Jagung – 270 miliar dolar AS atau sekitar Rp 4,78 kuadriliun.
- Ayam – 264 miliar dolar AS atau sekitar Rp 4,67 kuadriliun.
- Gandum – 209 miliar dolar AS atau sekitar Rp 3,70 kuadriliun.
- Telur – 157 miliar dolar AS atau sekitar Rp 2,78 kuadriliun.
- Kedelai – 142 miliar dolar AS atau sekitar Rp 2,51 kuadriliun.
- Tomat – 136 miliar dolar AS atau sekitar Rp 2,41 kuadriliun.
Daftar tersebut memperlihatkan betapa beragamnya komoditas yang menopang kebutuhan pangan masyarakat dunia.
Industri Pangan Tidak Bergantung pada Satu Komoditas
Besarnya nilai produksi 10 komoditas tersebut juga memperlihatkan bahwa industri pangan global tidak bergantung pada satu jenis bahan makanan.
Beras memang sangat penting.
Namun, susu memiliki nilai produksi yang lebih besar.
Jagung dan gandum juga memiliki peran besar, begitu pula daging, telur, kedelai, dan tomat.
Masing-masing komoditas memiliki pasar dan fungsi yang berbeda.
Perbedaan tersebut membuat sistem pangan global menjadi sebuah jaringan yang saling terhubung.
Ketika produksi satu komoditas mengalami gangguan, dampaknya dapat terasa pada sektor lain.
Perubahan cuaca ekstrem, misalnya, dapat mengurangi produksi tanaman pangan.
Jika produksi pakan turun, biaya produksi peternakan dapat meningkat.
Pada akhirnya, kondisi tersebut dapat memengaruhi harga produk hewani.
Hal serupa dapat terjadi ketika biaya produksi, transportasi, atau energi meningkat.
Apa Arti Data Ini bagi Konsumen?
Bagi konsumen, daftar tersebut memberikan gambaran bahwa makanan yang tersedia sehari-hari memiliki rantai produksi yang sangat besar.
Secangkir susu, sepiring nasi, telur untuk sarapan, daging ayam, atau saus tomat merupakan bagian dari industri pangan global yang bernilai sangat besar.
Setiap produk melalui proses panjang sebelum sampai ke meja makan.
Data tersebut juga menunjukkan pentingnya menjaga keberlanjutan produksi pangan.
Pertumbuhan populasi dan perubahan pola konsumsi akan terus memengaruhi kebutuhan pangan dunia.
Produsen harus mampu meningkatkan produktivitas tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan.
Di sisi lain, konsumen juga memiliki peran dalam menentukan pola permintaan melalui pilihan makanan yang dikonsumsi.
Susu di Puncak, Beras di Posisi Kedua
Data produksi 2024 memberikan kesimpulan yang cukup menarik.
Beras memang menjadi salah satu komoditas pangan paling penting di dunia, tetapi bukan yang memiliki nilai produksi bruto terbesar.
Posisi tersebut ditempati susu dengan nilai produksi sekitar 379 miliar dolar AS.
Beras berada tepat di bawahnya dengan nilai sekitar 362 miliar dolar AS.
Selanjutnya ada daging babi, daging sapi, jagung, ayam, gandum, telur, kedelai, dan tomat.
Dominasi produk hewani dalam daftar tersebut menunjukkan bahwa sektor peternakan memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap ekonomi pangan dunia.
Pada saat yang sama, masuknya beras, jagung, gandum, kedelai, dan tomat menunjukkan bahwa sektor pertanian tanaman tetap menjadi fondasi utama sistem pangan global.
Dengan total nilai produksi sekitar 2,5 triliun dolar AS, 10 komoditas tersebut menggambarkan betapa besarnya industri pangan dunia.
Jadi, jika selama ini beras dianggap sebagai bahan pangan paling bernilai karena menjadi makanan pokok bagi miliaran orang, data terbaru menunjukkan fakta yang sedikit berbeda.
Berdasarkan nilai produksi global pada 2024, susu justru menjadi komoditas pangan paling berharga di dunia, mengungguli beras dengan nilai produksi sekitar 379 miliar dolar AS.
Beras tetap menjadi komoditas yang sangat penting, tetapi dari sisi nilai produksi, susu berada di posisi teratas.
Sumber : www.kompas.com
