tiktok
Pengalaman kuliner seharusnya memberikan kenangan menyenangkan, tapi yang dialami seorang pria ini justru jadi pelajaran mahal—secara harfiah. Alih-alih puas menikmati hidangan, ia malah kena tegur keras oleh pelayan restoran hanya karena memakan sebutir jeruk yang ternyata bukan untuk umum.
Kejadian tersebut terjadi di sebuah restoran di Amerika Serikat yang mengusung konsep dapur terbuka, sehingga pelanggan bisa melihat langsung proses memasak. Seorang pengunjung bernama Franky Bernstein, yang duduk di bar menghadap dapur, menemukan wadah berisi jeruk segar di depannya. Tanpa bertanya lebih dulu, ia mengambil satu buah jeruk, mengupasnya santai, dan mulai menyantapnya.
Namun, aksinya itu ternyata memicu reaksi keras dari salah satu pelayan. Sang pelayan mendekat dengan wajah kesal, mengambil wadah jeruk itu, lalu langsung membawanya ke dapur. Dengan nada tajam, ia menegur Franky, mengatakan bahwa jeruk tersebut adalah bahan baku penting untuk menu minuman restoran yang saat itu sedang kekurangan stok. Sebagai bentuk ‘hukuman’, sang pelayan bahkan memasukkan jeruk tersebut ke dalam tagihan, lengkap dengan label unik: “Stolen Orange” (Jeruk Curian) seharga USD 12 atau sekitar Rp199.000.
Tak tanggung-tanggung, Franky yang awalnya hanya berniat makan malam santai dengan menu lengkap—seperti iga babi panggang, cumi goreng, burger, sate ayam, hingga margarita—mendapati kejutan di bon pembayarannya. Meski total tagihannya sudah besar, justru item “jeruk curian” itulah yang membuat heboh di media sosial.
Video yang memperlihatkan momen tersebut dibagikan melalui akun X (Twitter) @PicturesFoIder pada 14 Mei 2025 dan telah ditonton lebih dari 24 juta kali. Rupanya video ini merupakan potongan dari konten Franky di TikTok pada awal tahun 2023 lalu. Banyak netizen baru mengetahui kasus ini setelah viral kembali, dan perdebatan pun tak bisa dihindari.
Sebagian warganet menilai pelayan restoran terlalu emosional dan menetapkan harga jeruk yang tidak masuk akal. “Saya paham kalau jeruk itu mungkin digunakan untuk garnish atau campuran minuman, tapi menagih USD 12 itu keterlaluan,” tulis seorang pengguna X. Yang lain berpendapat, tanggung jawab juga ada di pihak restoran karena meletakkan jeruk di area makan pengunjung tanpa tanda larangan atau informasi.
Ada pula yang membela pihak pelayan dan restoran, menyebut tindakan itu sebagai “pelajaran penting” bagi pengunjung agar tidak menyentuh atau mengonsumsi apapun yang bukan untuk umum. “Kalau saya di posisi pelayan, saya juga akan menegur. Itu bahan operasional, bukan buah gratisan,” kata seorang netizen.
Sementara itu, Franky sendiri menanggapi insiden itu dengan santai dalam video lanjutan. Ia mengaku tidak menyangka jeruk yang tampak ‘tidak penting’ itu bisa jadi item paling mahal secara emosional dan viral dalam daftar tagihannya. “Mungkin saya tidak akan kasih tip, anggap saja jeruk itu sudah cukup sebagai ‘bonus’ buat pelayan,” ujarnya bercanda.
Kisah ini menambah daftar insiden viral tentang batas etika dan komunikasi di ruang publik, terutama dalam dunia kuliner. Sekali lagi, pelajaran mahal bisa datang dari buah yang tampak sepele—asal makannya di tempat dan waktu yang salah.
