Orang yang suka memotret makanan disebut psikolog ingin memiliki kendali. Foto: Getty Images/Wirestock
Di era digital, makanan tak hanya untuk dimakan—tapi juga “dihidangkan” di media sosial. Bagi banyak milenial dan Gen Z, memotret makanan sebelum menyantapnya bukan sekadar gaya hidup, tapi seperti ritual wajib yang menyatu dengan pengalaman kuliner itu sendiri.
Namun, ternyata di balik kebiasaan ini tersimpan sisi psikologis yang mendalam. Menurut para pakar, aktivitas ini lebih dari sekadar tren atau kebutuhan estetika. Inilah lima makna psikologis yang tersembunyi di balik kebiasaan memotret makanan:
1. Bentuk Kontrol di Tengah Kekacauan
Menurut jurnal Personality and Social Psychology Review, memotret momen, termasuk makanan, adalah cara seseorang ‘membekukan’ waktu. Ini dianggap sebagai bentuk micro-ritual yang memberi rasa kontrol di tengah dunia yang serba cepat dan tak pasti. Menyentuh tombol kamera seolah memberi ilusi kendali atas kenangan dan rutinitas.
2. Proses Mengenali Diri Lewat Makanan
Menurut Dr. Susan Shitbourne, foto bisa menjadi cermin untuk mengenali siapa diri kita dan bagaimana emosi kita saat itu. Misalnya, saat seseorang memotret comfort food-nya ketika stres atau sedih, ia sejatinya sedang mencatat kondisi emosionalnya. Bahkan jika foto tidak pernah diposting, ia tetap menjadi arsip pribadi yang bermakna.
3. Tanda Syukur pada Hal Sederhana
Kebiasaan ini juga menunjukkan bahwa seseorang menghargai momen kecil. Ini disebut savoring, yakni kemampuan menikmati hal-hal sederhana dalam hidup. Studi menyebutkan, mereka yang gemar menikmati detail kecil—seperti tampilan makanan yang cantik—cenderung lebih bahagia dan puas dalam hidup.
4. Sensitivitas dan Nostalgia Emosional
Melalui konsep memori asosiatif, satu potret makanan bisa membangkitkan kembali aroma, rasa, bahkan kenangan makan bersama orang tersayang. Ini bukan sekadar dokumentasi visual, tapi juga catatan emosional yang membangun keterikatan dengan masa lalu.
5. Kecenderungan Cemas yang Tersembunyi
Meski terlihat santai, psikolog mengingatkan bahwa sebagian orang yang merasa ‘wajib’ memotret setiap makanan mungkin mengalami anxiety of memory—rasa cemas jika tak bisa mengingat sesuatu. Foto menjadi alat bantu memori, khususnya dalam mengenang tempat dan menu favorit. Tapi penting juga untuk memberi jeda digital, dan benar-benar menikmati makanan tanpa layar.
