10 Bahan Makanan Termahal di Dunia, Ternyata Ada dari Indonesia (Tangkapan Layar)
Buletinmedia.com – TasteAtlas kembali merilis daftar bahan makanan termahal di dunia pada 2026. Daftar tersebut memperlihatkan sejumlah bahan pangan yang memiliki harga sangat tinggi dan tidak mudah ditemukan. Beberapa di antaranya bahkan dibanderol hingga ratusan juta rupiah untuk setiap kilogramnya.
Menariknya, Indonesia masuk dalam daftar bahan makanan termahal di dunia versi TasteAtlas. Bahan makanan tersebut adalah sarang burung walet atau edible bird’s nest, yang selama ini memang dikenal sebagai salah satu komoditas bernilai tinggi dari Indonesia.
Daftar Most Expensive Food tersebut dibagikan TasteAtlas melalui akun Instagram resminya, @tasteatlas, pada Selasa, 18 Agustus 2026. Dalam daftar tersebut, berbagai bahan makanan premium dari sejumlah negara ditempatkan berdasarkan nilai jualnya.
Tidak hanya bahan makanan yang terkenal di kalangan pencinta kuliner kelas atas, daftar tersebut juga berisi produk yang memiliki sejarah panjang, proses produksi rumit, keterbatasan pasokan, hingga karakteristik khusus yang membuat harganya jauh lebih tinggi dibandingkan bahan makanan pada umumnya.
Ada kaviar dari Iran, truffle dari Italia, daging sapi premium dari Jepang, saffron, tuna sirip biru, hingga vanila dari Prancis.
Salah satu yang menarik perhatian adalah sarang burung walet dari Indonesia. Produk ini berada di antara bahan makanan premium dunia lainnya yang memiliki harga fantastis.
Daftar Bahan Makanan Termahal di Dunia 2026
Berdasarkan daftar TasteAtlas, berikut 10 bahan makanan termahal di dunia yang masuk dalam daftar Most Expensive Food:
- Almas Caviar – Iran
- Beluga Caviar – Kazakhstan
- White Truffle – Italia
- A5 Kobe Beef – Jepang
- Saffron – Iran
- Bluefin Tuna Otoro – Jepang
- Jamon Iberico de Bellota – Spanyol
- Edible Bird’s Nest – Indonesia
- Matsutake Mushroom – Jepang
- Tahitian Vanilla – Prancis
Masing-masing bahan makanan tersebut memiliki alasan tersendiri mengapa harganya begitu mahal.
Ada yang mahal karena sangat langka, ada yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diproduksi, sementara lainnya memiliki proses pengolahan yang rumit dan permintaan tinggi di pasar internasional.
Berikut penjelasan mengenai 10 bahan makanan termahal di dunia tersebut.
- Almas Caviar dari Iran
Posisi pertama ditempati Almas Caviar dari Iran.
Kaviar Almas dikenal sebagai salah satu makanan paling mahal di dunia. Produk ini berasal dari telur ikan sturgeon yang terkenal memiliki nilai ekonomi tinggi.
Harga Almas Caviar dapat mencapai sekitar 34.000 dolar Amerika Serikat per kilogram atau sekitar Rp600 juta, berdasarkan nilai konversi yang digunakan dalam daftar tersebut.
Harga fantastis tersebut tidak terlepas dari kelangkaan bahan bakunya.
Kaviar merupakan telur ikan yang biasanya diperoleh dari ikan sturgeon. Salah satu jenis yang terkenal adalah beluga sturgeon.
Ikan sturgeon membutuhkan waktu sangat lama untuk mencapai usia reproduktif. Dalam beberapa kasus, ikan tersebut dapat hidup hingga puluhan tahun sebelum menghasilkan telur yang dapat digunakan sebagai kaviar.
Kondisi tersebut membuat produksi kaviar menjadi tidak sederhana.
Tidak seperti telur ikan biasa yang dapat diproduksi dalam jumlah besar, kaviar premium memiliki proses panjang dan sumber bahan baku yang terbatas.
Beluga Sturgeon dan Kaviar Premium
Beluga sturgeon merupakan salah satu ikan yang dikenal menghasilkan kaviar dengan harga tinggi.
Ikan tersebut memiliki habitat di kawasan Laut Kaspia dan wilayah perairan yang berdekatan.
Kualitas lingkungan, usia ikan, jenis sturgeon, serta karakteristik telur menjadi beberapa faktor yang memengaruhi nilai kaviar.
Semakin langka dan sulit diperoleh, harga produk tersebut semakin tinggi.
Karena itulah, kaviar premium selama bertahun-tahun identik dengan kuliner mewah.
Kaviar juga sering disajikan dalam acara khusus atau restoran kelas atas.
- Beluga Caviar dari Kazakhstan
Di posisi kedua terdapat Beluga Caviar dari Kazakhstan.
Sama seperti Almas Caviar, beluga caviar berasal dari telur ikan sturgeon.
Namun, perbedaan jenis, sumber, kualitas, dan karakteristik produk membuat harga kaviar dapat sangat bervariasi.
Kaviar beluga dikenal memiliki tekstur lembut dengan butiran telur berukuran relatif besar.
Produk ini menjadi salah satu makanan yang banyak dicari di pasar kuliner premium.
Kelangkaan ikan sturgeon menjadi faktor penting yang membuat kaviar beluga memiliki nilai tinggi.
Selain itu, proses produksi dan pengolahan telur ikan juga membutuhkan perhatian khusus.
Kualitas kaviar harus dijaga sejak telur diperoleh hingga produk siap dikonsumsi.
Hal tersebut turut menjelaskan mengapa kaviar premium memiliki harga yang jauh berbeda dibandingkan produk telur ikan biasa.
- White Truffle dari Italia
Bahan makanan termahal berikutnya adalah white truffle dari Italia.
Truffle merupakan salah satu bahan makanan yang sangat terkenal dalam dunia kuliner.
White truffle atau truffle putih memiliki aroma khas dan biasanya digunakan dalam masakan kelas atas.
Salah satu alasan harganya mahal adalah karena truffle tidak mudah dibudidayakan.
Jamur tersebut tumbuh secara alami di lingkungan tertentu dan memiliki hubungan dengan akar pohon.
Proses pencarian truffle juga tidak sederhana.
Pemburu truffle biasanya menggunakan bantuan anjing yang telah dilatih untuk menemukan aroma khas jamur tersebut di dalam tanah.
Kelangkaan, musim panen, kondisi cuaca, serta lokasi tumbuh menjadi beberapa faktor yang memengaruhi harga white truffle.
Italia menjadi salah satu negara yang terkenal sebagai penghasil truffle berkualitas.
Bagi restoran kelas atas, white truffle dapat menjadi bahan istimewa untuk meningkatkan aroma dan cita rasa hidangan.
- A5 Kobe Beef dari Jepang
Jepang memiliki salah satu bahan makanan premium yang terkenal di seluruh dunia, yaitu A5 Kobe Beef.
Daging Kobe dikenal karena teksturnya yang lembut dan tingkat marbling yang tinggi.
Marbling adalah lemak yang tersebar di dalam jaringan otot daging.
Semakin baik kualitas marbling, daging biasanya memiliki tekstur yang lebih lembut dan cita rasa yang lebih kaya.
Label A5 sendiri menunjukkan tingkat kualitas tertentu dalam sistem penilaian daging sapi Jepang.
Untuk mendapatkan daging dengan kualitas premium, peternakan harus memperhatikan banyak aspek, mulai dari pemilihan sapi, perawatan, pemberian pakan, hingga proses pengolahan setelah pemotongan.
Karena prosesnya tidak sederhana, daging sapi berkualitas tinggi dari Jepang memiliki harga yang jauh lebih mahal dibandingkan daging sapi biasa.
Kobe Beef juga memiliki reputasi kuat di dunia kuliner.
Namanya sering muncul dalam daftar makanan premium yang ingin dicoba oleh wisatawan dan pencinta kuliner.
- Saffron dari Iran
Berikutnya ada saffron atau kunyit bunga dari Iran.
Saffron dikenal sebagai salah satu rempah termahal di dunia.
Harga tinggi saffron berasal dari proses produksinya yang sangat membutuhkan tenaga.
Saffron diperoleh dari bagian bunga Crocus sativus.
Setiap bunga hanya menghasilkan sedikit bagian yang dapat digunakan sebagai saffron.
Bagian tersebut harus dipanen dengan hati-hati dan dipisahkan dari bunga.
Karena jumlah yang diperoleh dari setiap bunga sangat sedikit, dibutuhkan banyak bunga untuk menghasilkan saffron dalam jumlah besar.
Proses tersebut membuat produksi saffron membutuhkan banyak tenaga kerja.
Iran menjadi salah satu negara utama dalam produksi saffron dunia.
Saffron biasanya digunakan dalam berbagai hidangan karena mampu memberikan warna kuning keemasan, aroma khas, dan cita rasa yang unik.
Selain digunakan dalam masakan, saffron juga memiliki sejarah panjang dalam berbagai tradisi kuliner dan pengobatan.
- Bluefin Tuna Otoro dari Jepang
Posisi berikutnya ditempati Bluefin Tuna Otoro dari Jepang.
Tuna sirip biru atau bluefin tuna merupakan salah satu jenis ikan yang memiliki nilai tinggi di pasar kuliner.
Bagian yang disebut otoro merupakan bagian perut tuna yang terkenal memiliki kandungan lemak tinggi.
Tekstur otoro lembut dan kaya rasa.
Karakteristik tersebut membuatnya sangat populer dalam hidangan Jepang, terutama sushi dan sashimi.
Permintaan terhadap tuna berkualitas tinggi juga sangat besar.
Sementara itu, jumlah tuna sirip biru yang dapat ditangkap dan dikelola secara berkelanjutan terbatas.
Kombinasi antara permintaan tinggi dan pasokan yang terbatas membuat bagian tertentu dari tuna dapat memiliki harga sangat mahal.
Dalam dunia kuliner Jepang, kualitas tuna sering menjadi salah satu faktor utama yang menentukan harga sebuah hidangan.
- Jamon Iberico de Bellota dari Spanyol
Spanyol memiliki produk makanan premium bernama Jamon Iberico de Bellota.
Produk ini merupakan ham yang berasal dari babi ras Iberia.
Kata bellota mengacu pada biji pohon ek yang menjadi bagian penting dari pola makan babi Iberia dalam sistem produksi tertentu.
Proses pemeliharaan dan pematangan ham Iberico membutuhkan waktu yang cukup panjang.
Tidak seperti produk daging olahan biasa yang dapat diproduksi dalam waktu relatif singkat, jamon Iberico melalui proses penggaraman dan pematangan yang dapat berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
Semakin lama proses pematangan dan semakin tinggi kualitas bahan bakunya, nilai produk dapat semakin meningkat.
Jamon Iberico de Bellota menjadi salah satu ikon kuliner Spanyol.
Produk tersebut biasanya disajikan dalam irisan tipis agar karakter rasa dan teksturnya dapat dinikmati secara maksimal.
- Sarang Burung Walet dari Indonesia
Inilah bahan makanan asal Indonesia yang masuk dalam daftar bahan makanan termahal di dunia versi TasteAtlas.
Sarang burung walet atau edible bird’s nest merupakan salah satu komoditas unggulan yang memiliki pasar internasional.
Harga sarang burung walet sangat bervariasi tergantung kualitas, jenis, kebersihan, warna, bentuk, dan proses pengolahannya.
Untuk kualitas tertentu, harga sarang burung walet dapat mencapai sekitar Rp25 juta per kilogram.
Harga tersebut tentu jauh berbeda dengan bahan pangan sehari-hari.
Namun, nilai tinggi sarang burung walet bukan tanpa alasan.
Sarang ini dibuat oleh burung walet dari air liurnya yang mengeras dan membentuk struktur tertentu.
Proses pemanenan hingga pengolahan sarang burung walet juga membutuhkan ketelitian.
Proses Pengolahan Sarang Burung Walet
Sarang burung walet yang baru dipanen tidak selalu bisa langsung dikonsumsi.
Sarang harus melalui proses pembersihan untuk menghilangkan kotoran dan material lain yang menempel.
Proses tersebut membutuhkan ketelitian karena bentuk sarang harus tetap dijaga.
Setelah dibersihkan, sarang dapat melalui tahap pencucian dan pengolahan sebelum akhirnya dimasak atau dipasarkan.
Berdasarkan informasi yang dikutip dari Kompas.com dari Antara, proses pengolahan sarang burung walet dapat memerlukan waktu berjam-jam, termasuk tahap pembersihan, pencucian, hingga perebusan.
Proses yang panjang tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat produk sarang burung walet memiliki nilai ekonomi tinggi.
Indonesia Salah Satu Penghasil Sarang Burung Walet
Produksi sarang burung walet di Indonesia tersebar di sejumlah wilayah.
Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur merupakan beberapa daerah yang dikenal memiliki aktivitas produksi sarang burung walet.
Dahulu, burung walet lebih banyak membuat sarang di gua-gua alami.
Namun, perkembangan usaha walet membuat masyarakat mulai membangun rumah khusus sebagai tempat burung bersarang.
Rumah walet tersebut dirancang dengan kondisi tertentu agar menyerupai habitat yang disukai burung.
Pengaturan suhu, kelembapan, pencahayaan, dan suara menjadi bagian dari pengelolaan rumah walet.
Dengan cara tersebut, burung walet diharapkan datang dan membuat sarang di tempat yang telah disediakan.
Mengapa Sarang Burung Walet Mahal?
Ada beberapa alasan yang membuat sarang burung walet memiliki harga tinggi.
Pertama, proses produksinya tidak instan.
Peternak atau pengelola rumah walet harus menunggu burung membuat sarang.
Kedua, proses pemanenan dan pembersihan membutuhkan ketelitian.
Sarang harus dibersihkan dari bulu dan kotoran tanpa merusak bentuknya.
Ketiga, permintaan terhadap sarang burung walet cukup besar di pasar Asia.
Produk tersebut telah lama dikenal dalam tradisi kuliner tertentu, terutama di China dan sejumlah negara Asia lainnya.
Permintaan pasar internasional tersebut ikut menjaga nilai ekonomi sarang burung walet.
- Matsutake Mushroom dari Jepang
Jepang kembali masuk dalam daftar melalui matsutake mushroom.
Matsutake merupakan jenis jamur yang terkenal dengan aroma khas.
Jamur ini memiliki nilai tinggi karena sulit dibudidayakan secara komersial dalam jumlah besar.
Matsutake tumbuh secara alami di kawasan hutan tertentu.
Kondisi lingkungan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhannya.
Karena tidak mudah dibudidayakan, jumlah matsutake yang tersedia di pasaran dapat terbatas.
Hal tersebut membuat harga jamur ini cukup tinggi, terutama untuk kualitas terbaik.
Dalam masakan Jepang, matsutake dapat digunakan untuk berbagai hidangan.
Aromanya yang kuat menjadi salah satu daya tarik utama.
Jamur ini sering dianggap sebagai bahan makanan musiman yang istimewa.
- Tahitian Vanilla dari Prancis
Daftar terakhir ditempati Tahitian Vanilla dari Prancis.
Vanila merupakan salah satu bahan yang sangat penting dalam industri makanan dan minuman.
Bahan ini digunakan dalam pembuatan kue, es krim, cokelat, minuman, hingga berbagai hidangan penutup.
Namun, vanila berkualitas tinggi membutuhkan proses produksi yang tidak sederhana.
Tanaman vanila memerlukan kondisi lingkungan tertentu untuk tumbuh.
Proses penyerbukan, pemanenan, pengeringan, dan pematangan polong vanila juga memerlukan perhatian.
Tahitian Vanilla memiliki karakter aroma yang berbeda dibandingkan sejumlah varietas vanila lainnya.
Karakteristik tersebut membuatnya memiliki tempat tersendiri di kalangan produsen makanan premium.
Mengapa Bahan Makanan Bisa Memiliki Harga Sangat Mahal?
Melihat daftar TasteAtlas, terlihat bahwa harga bahan makanan tidak hanya ditentukan oleh rasa.
Ada banyak faktor yang memengaruhi nilai sebuah bahan pangan.
Salah satunya adalah kelangkaan.
Semakin sulit sebuah bahan diperoleh, semakin besar kemungkinan harganya menjadi tinggi.
Contohnya adalah white truffle dan matsutake yang tumbuh dalam kondisi tertentu.
Faktor lainnya adalah proses produksi.
Saffron membutuhkan banyak bunga untuk menghasilkan sedikit rempah.
Sarang burung walet membutuhkan proses pemanenan dan pembersihan yang teliti.
Sementara itu, produk seperti jamon Iberico membutuhkan proses pematangan dalam waktu panjang.
Kualitas Juga Menentukan Harga
Selain kelangkaan dan proses produksi, kualitas menjadi faktor utama.
Tidak semua kaviar memiliki harga yang sama.
Begitu pula tidak semua daging sapi, tuna, truffle, saffron, atau sarang burung walet memiliki nilai jual yang sama.
Grade, ukuran, warna, tekstur, aroma, asal produk, hingga cara pengolahan dapat menentukan harga.
Karena itu, angka harga yang disebutkan dalam daftar makanan termahal tidak selalu berlaku untuk seluruh produk dari jenis yang sama.
Produk dengan kualitas tertentu bisa memiliki harga jauh lebih tinggi dibandingkan kualitas standar.
Bahan Makanan Termahal Tidak Selalu Berarti Paling Mahal di Setiap Negara
Daftar TasteAtlas memberikan gambaran mengenai bahan makanan yang dikenal memiliki nilai tinggi.
Namun, harga di pasar dapat berubah berdasarkan kondisi ekonomi, musim, ketersediaan, kualitas, dan lokasi penjualan.
Harga juga bisa berbeda antara produsen, distributor, restoran, dan konsumen akhir.
Karena itu, daftar tersebut lebih tepat dipahami sebagai gambaran mengenai sejumlah bahan makanan premium yang dikenal memiliki harga tinggi di dunia.
Bukan berarti setiap kilogram produk tersebut selalu dijual dengan angka yang sama.
Indonesia Punya Komoditas Bernilai Tinggi
Masuknya sarang burung walet ke dalam daftar bahan makanan termahal dunia menunjukkan bahwa Indonesia memiliki komoditas pangan yang bernilai tinggi di pasar internasional.
Selama ini, Indonesia dikenal sebagai negara penghasil berbagai komoditas pertanian dan perkebunan.
Kopi, rempah-rempah, kelapa, kakao, dan berbagai produk lainnya memiliki pasar yang luas.
Sarang burung walet menambah daftar komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Produk tersebut bahkan menjadi bagian dari industri yang melibatkan masyarakat di sejumlah daerah.
Mulai dari pembangunan rumah walet, pemeliharaan lingkungan, pemanenan, hingga pengolahan dan perdagangan.
Daftar Ini Menunjukkan Keunikan Kuliner Dunia
Jika diperhatikan, sepuluh bahan makanan dalam daftar TasteAtlas memiliki karakter yang sangat berbeda.
Ada produk dari laut seperti kaviar dan tuna.
Ada hasil hutan seperti truffle dan matsutake.
Ada produk peternakan seperti Kobe Beef dan Jamon Iberico.
Ada rempah seperti saffron dan vanila.
Ada pula produk khas Indonesia berupa sarang burung walet.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa makanan mahal tidak memiliki satu pola tertentu.
Sebuah bahan bisa menjadi mahal karena langka, sulit diproduksi, membutuhkan waktu panjang, atau memiliki permintaan tinggi.
Dari Kaviar hingga Sarang Burung Walet
Kaviar Almas berada di posisi teratas dengan harga yang disebut mencapai sekitar Rp600 juta per kilogram.
Sementara sarang burung walet Indonesia berada di posisi kedelapan dengan harga untuk kualitas tertentu yang dapat mencapai sekitar Rp25 juta per kilogram.
Walaupun terdapat perbedaan harga yang cukup besar, keduanya memiliki kesamaan.
Keduanya merupakan produk yang membutuhkan proses khusus dan memiliki pasar konsumen premium.
Kaviar berasal dari telur ikan sturgeon, sedangkan sarang burung walet berasal dari air liur burung walet yang mengeras.
Keduanya juga tidak dapat diproduksi seperti bahan makanan biasa dalam waktu singkat.
Sarang Burung Walet dan Perdagangan Internasional
Sarang burung walet telah lama menjadi salah satu produk yang diperdagangkan ke berbagai negara.
Permintaan terbesar berasal dari pasar Asia.
Produk ini dikenal dalam berbagai bentuk olahan, mulai dari minuman hingga sup.
Karena nilai jualnya tinggi, perdagangan sarang burung walet menjadi salah satu kegiatan ekonomi yang menarik perhatian pelaku usaha.
Indonesia memiliki posisi penting karena wilayahnya cocok sebagai habitat bagi burung walet.
Kondisi iklim tropis dan keberadaan berbagai kawasan yang mendukung menjadi salah satu faktor berkembangnya industri walet.
Harga Tinggi Membutuhkan Proses Panjang
Jika melihat seluruh daftar, satu hal yang terlihat jelas adalah bahwa makanan premium biasanya memiliki proses panjang di belakangnya.
Harga yang mahal tidak semata-mata muncul ketika produk berada di restoran.
Ada proses sejak bahan tersebut dihasilkan.
Saffron harus dipanen dari bunga.
Truffle harus ditemukan di dalam tanah.
Matsutake tumbuh dalam kondisi alam tertentu.
Jamon Iberico harus melalui proses pematangan.
Sarang burung walet harus dipanen dan dibersihkan.
Kaviar membutuhkan ikan sturgeon yang dapat berusia puluhan tahun.
Semua proses tersebut membutuhkan waktu, tenaga, pengetahuan, serta kondisi tertentu.
Kesimpulan
Daftar 10 bahan makanan termahal di dunia 2026 versi TasteAtlas menunjukkan bahwa dunia kuliner memiliki banyak bahan dengan harga yang jauh di atas makanan sehari-hari.
Almas Caviar dari Iran berada di posisi pertama dengan harga yang disebut dapat mencapai sekitar Rp600 juta per kilogram. Di bawahnya terdapat Beluga Caviar dari Kazakhstan, White Truffle dari Italia, A5 Kobe Beef dari Jepang, Saffron dari Iran, Bluefin Tuna Otoro dari Jepang, Jamon Iberico de Bellota dari Spanyol, Edible Bird’s Nest dari Indonesia, Matsutake Mushroom dari Jepang, dan Tahitian Vanilla dari Prancis.
Kabar yang cukup membanggakan adalah sarang burung walet Indonesia masuk dalam daftar tersebut.
Sarang burung walet untuk kualitas tertentu dapat memiliki harga sekitar Rp25 juta per kilogram. Proses pembuatannya yang alami, pengolahan yang membutuhkan ketelitian, serta tingginya permintaan pasar menjadi sejumlah faktor yang membuat komoditas tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi.
Daftar ini sekaligus memperlihatkan bahwa bahan makanan yang selama ini mungkin dianggap biasa oleh sebagian masyarakat ternyata dapat memiliki nilai yang sangat tinggi di pasar internasional.
Indonesia sendiri memiliki peluang besar untuk terus mengembangkan komoditas sarang burung walet dengan memperhatikan kualitas, kebersihan, proses pengolahan, serta keberlanjutan produksinya.
Pada akhirnya, harga sebuah bahan makanan tidak hanya berbicara tentang rasa. Di balik satu kilogram bahan makanan premium, terdapat proses panjang, keterampilan, kondisi alam, kelangkaan, dan permintaan pasar yang ikut menentukan nilainya.
Sumber : www.kompas.com
