Thai Tea (Sumber Foto : www.tasteatlas.com)
Buletinmedia.com – Thai Tea atau yang juga dikenal sebagai Cha-Yen merupakan salah satu minuman khas dari Thailand yang memiliki ciri khas warna oranye cerah serta tampilan yang menggugah selera. Minuman ini tidak hanya populer di negara asalnya, tetapi juga telah menyebar luas ke berbagai negara, termasuk Indonesia, dan menjadi salah satu pilihan favorit di berbagai kalangan.
Popularitas Thai Tea tidak lepas dari perpaduan rasa manis, creamy, dan sedikit sentuhan pahit dari teh yang memberikan sensasi menyegarkan sekaligus memanjakan lidah. Kandungan kafein dalam minuman ini juga dipercaya mampu membantu meningkatkan energi dan menjaga fokus sepanjang hari, sehingga banyak dikonsumsi saat siang maupun sore hari.
Dalam beberapa tahun terakhir, tren konsumsi Thai Tea menunjukkan peningkatan yang signifikan. Berdasarkan data dari LINE MAN Wongnai, minuman ini mencatat lebih dari 400.000 pesanan sepanjang tahun 2024. Angka tersebut menjadi indikator kuat bahwa Thai Tea bukan sekadar tren sesaat, melainkan telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern.
Tidak hanya dari sisi permintaan konsumen, pertumbuhan bisnis Thai Tea juga terlihat dari meningkatnya jumlah gerai dan penjual minuman ini. Pada tahun 2025, berbagai toko spesialis Thai Tea mengalami lonjakan penjualan hingga lebih dari 200 persen. Hal ini menunjukkan bahwa minuman tersebut memiliki daya tarik yang kuat di pasar minuman non-alkohol.
Popularitas yang terus meningkat tersebut akhirnya mengantarkan Thai Tea masuk dalam daftar bergengsi versi TasteAtlas sebagai salah satu Top 10 minuman non-alkohol terenak di dunia tahun 2026. Pencapaian ini semakin memperkuat posisi Thai Tea sebagai minuman yang diakui secara global, tidak hanya dari segi rasa, tetapi juga dari segi popularitas.
Jika ditelusuri lebih jauh, sejarah Thai Tea ternyata memiliki perjalanan yang cukup panjang. Minuman ini mulai dikenal luas sejak sekitar tahun 1980-an. Pada awal kemunculannya, bahan utama yang digunakan adalah teh hitam impor dari China yang dikenal dengan nama Cha Yen Tea. Namun, karena harga bahan tersebut cukup tinggi, para pedagang kemudian mencari alternatif yang lebih terjangkau.
Sebagai pengganti, digunakanlah teh hitam dari Sri Lanka yang dikenal dengan nama Ceylon. Teh ini memiliki aroma yang kuat serta rasa yang khas, sehingga cocok dijadikan bahan dasar Thai Tea. Seiring waktu, racikan minuman ini terus berkembang dengan penambahan berbagai bahan seperti susu kental manis, susu evaporasi, serta gula untuk menciptakan cita rasa yang lebih kaya.
Selain menawarkan rasa yang lezat, Thai Tea juga memiliki sejumlah manfaat kesehatan. Kandungan antioksidan dalam teh hitam dipercaya dapat membantu melawan radikal bebas dalam tubuh. Antioksidan ini berperan penting dalam menjaga kesehatan sel serta mengurangi risiko berbagai penyakit kronis.
Thai Tea juga mengandung vitamin seperti vitamin C dan vitamin E yang bermanfaat untuk menjaga daya tahan tubuh. Meski demikian, konsumsi Thai Tea tetap perlu diperhatikan, terutama karena kandungan gula yang cukup tinggi dalam penyajiannya.
Masuknya Thai Tea ke dalam daftar minuman non-alkohol terenak dunia versi TasteAtlas tahun 2026 menempatkannya di posisi kesembilan. Posisi ini menunjukkan bahwa Thai Tea mampu bersaing dengan berbagai minuman tradisional dari berbagai negara.
Beberapa minuman lain yang juga masuk dalam daftar tersebut antara lain Lulada dari Kolombia, Aguas Frescas dari Meksiko, Lassi Mangga dari India, serta Masala Chai yang juga berasal dari India.
Selain itu, terdapat pula Teh Mint Maghrebi dari wilayah Maghreb, Kafe Cubano dari Kuba, Espresso Freddo dari Yunani, serta Hojicha dari Jepang. Kehadiran berbagai minuman ini menunjukkan betapa beragamnya kekayaan kuliner dunia, khususnya dalam kategori minuman non-alkohol.
Di tengah persaingan tersebut, Thai Tea tetap mampu mempertahankan daya tariknya berkat kombinasi rasa yang unik serta tampilan visual yang menarik. Warna oranye cerah yang dihasilkan dari campuran teh dan susu menjadi salah satu ciri khas yang mudah dikenali.
Kini, menikmati Thai Tea tidak lagi harus pergi ke Thailand. Di Indonesia, minuman ini sudah sangat mudah ditemukan, mulai dari pedagang kaki lima hingga gerai minuman modern di pusat perbelanjaan. Bahkan, banyak pelaku usaha lokal yang mengembangkan variasi Thai Tea dengan tambahan topping seperti boba, jelly, hingga es krim.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Thai Tea telah bertransformasi dari minuman tradisional menjadi bagian dari tren minuman kekinian. Inovasi yang terus dilakukan oleh para pelaku usaha juga menjadi salah satu faktor yang membuat minuman ini tetap relevan di tengah persaingan industri kuliner.
Selain itu, kemudahan dalam penyajian juga menjadi salah satu alasan mengapa Thai Tea begitu digemari. Dengan bahan yang relatif sederhana dan proses pembuatan yang tidak terlalu rumit, siapa pun dapat mencoba membuatnya sendiri di rumah.
Meskipun demikian, kualitas bahan tetap menjadi faktor utama yang menentukan cita rasa akhir dari Thai Tea. Penggunaan teh berkualitas, susu yang tepat, serta takaran gula yang seimbang akan menghasilkan minuman yang tidak hanya lezat tetapi juga nikmat untuk dinikmati kapan saja.
Keberhasilan Thai Tea menembus pasar global sekaligus masuk dalam daftar minuman terbaik dunia menjadi bukti bahwa kuliner tradisional memiliki potensi besar untuk dikenal lebih luas. Dengan sentuhan inovasi dan adaptasi terhadap selera modern, minuman seperti Thai Tea mampu bertahan dan bahkan berkembang di tengah perubahan zaman.
Dengan berbagai keunggulan yang dimilikinya, tidak mengherankan jika Thai Tea terus menjadi favorit banyak orang. Baik sebagai pelepas dahaga di siang hari maupun sebagai teman bersantai, minuman ini menawarkan pengalaman rasa yang sulit dilupakan.
Ke depan, Thai Tea diperkirakan akan terus berkembang dengan berbagai inovasi baru yang mengikuti tren pasar. Namun, satu hal yang tetap menjadi daya tarik utamanya adalah cita rasa khas yang telah melekat sejak pertama kali diperkenalkan.
Masuknya Thai Tea dalam daftar minuman non-alkohol terenak dunia versi TasteAtlas 2026 menjadi pencapaian yang membanggakan sekaligus membuka peluang lebih luas bagi kuliner Asia Tenggara untuk dikenal di kancah internasional.
Sumber : www.kompas.com
