Ilustrasi mengetik (Tangkapan Layar)
Buletinmedia.com – Bekerja di depan komputer atau laptop sudah menjadi bagian dari rutinitas banyak orang. Mengetik, mengolah dokumen, mengirim pesan, hingga mengerjakan berbagai pekerjaan menggunakan keyboard bisa dilakukan selama berjam-jam dalam sehari.
Kebiasaan tersebut sering kali dianggap sebagai aktivitas biasa. Padahal, posisi tangan dan pergelangan tangan ketika mengetik juga perlu diperhatikan. Terlalu lama mengetik dengan posisi yang kurang tepat dan dilakukan berulang-ulang dapat memberikan tekanan pada saraf di sekitar pergelangan tangan.
Dalam kondisi tertentu, tekanan tersebut dapat memunculkan berbagai keluhan, mulai dari kesemutan, mati rasa, nyeri, hingga kelemahan pada tangan.
Karena itu, menjaga posisi tangan tetap nyaman dan senetral mungkin menjadi salah satu hal penting, terutama bagi orang yang sehari-hari bekerja menggunakan komputer.
Posisi Tangan Saat Mengetik Perlu Diperhatikan
Kepala Staf Medik Fungsional Neuroscience Siloam Hospitals TB Simatupang, Ferry Senjaya, mengatakan posisi tangan ketika mengetik sebaiknya dijaga agar tetap senetral mungkin.
Menurutnya, posisi tangan yang terlalu menekuk dalam waktu lama dapat memberikan tekanan pada saraf.
“Apalagi dilakukan dengan cara yang kurang tepat. Kalau posisi menekuk, saraf menyempit, kejepit. Itu sebabnya harus diperbaiki posturnya, saat mengetik posisi siku senetral mungkin,” kata Ferry dalam keterangannya.
Posisi tangan yang kurang baik biasanya tidak langsung menimbulkan masalah serius. Seseorang mungkin hanya merasakan pegal setelah bekerja cukup lama.
Namun, ketika kebiasaan tersebut dilakukan setiap hari dan berlangsung dalam waktu panjang, keluhan dapat menjadi semakin sering muncul.
Karena itu, bukan hanya lama waktu mengetik yang harus diperhatikan. Cara duduk, posisi siku, ketinggian meja, posisi keyboard, serta keadaan pergelangan tangan juga perlu menjadi perhatian.
Mengetik Terlalu Lama Bisa Berkaitan dengan Carpal Tunnel Syndrome
Salah satu gangguan yang dapat berkaitan dengan tekanan berulang pada saraf di pergelangan tangan adalah carpal tunnel syndrome (CTS) atau sindrom terowongan karpal.
CTS terjadi ketika saraf median yang melewati bagian depan pergelangan tangan mengalami tekanan.
Saraf median memiliki fungsi penting. Saraf tersebut membawa sensasi dari sebagian tangan sekaligus membantu menggerakkan sejumlah otot pada tangan.
Saraf median melewati sebuah ruang sempit yang disebut terowongan karpal. Ruang tersebut berada di bagian pergelangan tangan.
Ketika tekanan di dalam terowongan karpal meningkat, saraf median dapat mengalami gangguan. Kondisi inilah yang kemudian dapat menimbulkan berbagai gejala pada tangan dan jari.
Keluhan dapat muncul secara perlahan dan pada awalnya mungkin tidak terlalu mengganggu.
Seseorang mungkin hanya merasakan kesemutan sesekali ketika bekerja. Namun, jika penyebabnya terus berlangsung, keluhan dapat menjadi lebih sering dan intens.
Bukan Hanya Mengetik yang Bisa Memberikan Tekanan pada Saraf
Aktivitas mengetik dalam waktu lama memang menjadi salah satu kebiasaan yang perlu diperhatikan, terutama jika dilakukan dengan posisi pergelangan tangan yang tidak tepat.
Namun, aktivitas tersebut bukan satu-satunya faktor yang dapat memberikan tekanan pada saraf di sekitar tangan.
Penggunaan ponsel dalam waktu lama juga membuat tangan melakukan gerakan berulang.
Begitu pula dengan aktivitas yang mengharuskan seseorang mencengkeram benda dengan kuat atau melakukan gerakan tangan yang sama berulang kali.
Pada sebagian orang, kebiasaan tersebut dapat berkontribusi terhadap munculnya keluhan pada pergelangan tangan.
“Karena itu, bukan hanya durasi mengetik yang perlu diperhatikan, tetapi juga posisi tangan dan pergelangan tangan selama bekerja,” kata Ferry.
Artinya, seseorang yang bekerja menggunakan komputer tidak harus berhenti mengetik sepenuhnya. Hal yang lebih penting adalah memperhatikan ergonomi dan menghindari posisi tangan yang terus-menerus memberikan tekanan.
Kesemutan Bisa Menjadi Salah Satu Tanda Gangguan Saraf
Salah satu hal yang sering dianggap sepele adalah kesemutan.
Kesemutan pada tangan dapat terjadi setelah seseorang berada dalam posisi tertentu dalam waktu singkat. Kondisi seperti itu biasanya akan membaik setelah posisi tubuh diubah.
Namun, kesemutan yang muncul berulang kali, berlangsung lama, atau disertai keluhan lain perlu mendapat perhatian.
Pada sindrom terowongan karpal, misalnya, seseorang dapat mengalami kesemutan atau mati rasa pada tangan dan jari.
Selain itu, muncul pula rasa nyeri, sensasi terbakar, hingga rasa seperti tersengat listrik.
Keluhan tersebut dapat terasa lebih mengganggu pada waktu tertentu, termasuk ketika seseorang sedang beristirahat atau tidur.
Pada kondisi tertentu, rasa tidak nyaman di tangan bahkan dapat membuat seseorang terbangun dari tidur.
Jika sudah demikian, keluhan tidak lagi sekadar masalah kenyamanan ketika bekerja.
Gejala Gangguan Saraf Bisa Berkembang Secara Bertahap
Gangguan saraf tidak selalu muncul secara tiba-tiba.
Pada beberapa kasus, gejala berkembang perlahan. Awalnya seseorang mungkin hanya mengalami kesemutan ringan.
Setelah beberapa waktu, kesemutan dapat menjadi lebih sering.
Kemudian muncul rasa kebas atau mati rasa, nyeri, sensasi terbakar, hingga kelemahan.
Perubahan tersebut perlu diperhatikan karena gangguan saraf yang tidak ditangani dapat memengaruhi fungsi anggota tubuh.
Pada kondisi yang lebih berat, seseorang bisa mengalami penurunan kemampuan menggenggam.
Benda yang sebelumnya mudah dipegang dapat terasa lebih sulit untuk dikendalikan. Aktivitas yang membutuhkan gerakan tangan secara presisi juga bisa terganggu.
Misalnya, membuka tutup botol, memegang alat makan, menggunakan ponsel, menulis, mengetik, atau melakukan pekerjaan yang membutuhkan koordinasi jari.
Karena itu, jangan langsung menganggap semua keluhan pada tangan sebagai akibat kelelahan setelah bekerja.
Gangguan Saraf Tepi Tidak Selalu Terasa Seperti Pegal
Keluhan pada tangan, bahu, lengan, atau tungkai sering kali dianggap sebagai masalah otot.
Padahal, pada kondisi tertentu, keluhan tersebut dapat berhubungan dengan saraf tepi.
Saraf tepi atau peripheral nerve merupakan jaringan saraf yang menghubungkan otak dan sumsum tulang belakang dengan berbagai bagian tubuh.
Saraf tersebut memiliki fungsi penting dalam mengirimkan informasi dari tubuh menuju otak dan membawa perintah dari otak menuju anggota tubuh.
Melalui saraf, tubuh dapat mengenali berbagai sensasi seperti sentuhan, panas, dingin, dan nyeri.
Saraf juga berperan dalam mengendalikan gerakan.
Ketika saraf mengalami tekanan atau cedera, proses penghantaran sinyal tersebut dapat terganggu.
Akibatnya, muncul sejumlah keluhan yang terkadang sulit dibedakan dari masalah otot atau sendi.
Gejala Saraf Tepi yang Perlu Dikenali
Gangguan saraf tepi dapat menimbulkan sejumlah gejala.
Beberapa di antaranya adalah:
- Kesemutan.
- Mati rasa atau kebas.
- Nyeri yang menjalar.
- Sensasi seperti terbakar.
- Rasa seperti tersengat listrik.
- Kelemahan pada tangan atau kaki.
- Gangguan gerakan.
- Penurunan kemampuan menggenggam.
Ferry mengatakan, gangguan saraf tepi sering kali tidak langsung dikenali oleh pasien.
“Keluhan pada saraf tepi sering kali tidak langsung dikenali oleh pasien. Sebagian pasien datang dengan keluhan nyeri menjalar, baal, kesemutan, rasa seperti tersetrum, kelemahan, atau gangguan gerak pada area leher, bahu, lengan, tangan, maupun tungkai,” katanya.
Karena gejalanya dapat menyerupai keluhan pada otot dan sendi, pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya.
Penyebab Gangguan Saraf Tepi Beragam
Gangguan saraf tepi tidak hanya disebabkan oleh aktivitas mengetik.
Ada banyak kondisi yang dapat memengaruhi saraf.
Cedera akibat kecelakaan, luka sayat, patah tulang, saraf terjepit, tumor, hingga komplikasi tertentu setelah operasi dapat menyebabkan gangguan pada saraf tepi.
Karena penyebabnya beragam, penanganannya juga tidak dapat disamakan untuk setiap orang.
Seseorang yang mengalami kesemutan akibat posisi tangan ketika bekerja tentu memiliki kondisi yang berbeda dengan pasien yang mengalami gangguan saraf akibat cedera.
Itulah sebabnya diagnosis menjadi bagian penting dalam menentukan penanganan.
Nyeri di Bahu dan Lengan Tidak Selalu Berasal dari Otot
Keluhan di sekitar bahu dan lengan juga perlu diperhatikan.
Rasa nyeri atau pegal di bagian tersebut sering dianggap sebagai akibat posisi duduk yang salah atau terlalu lama bekerja.
Memang, otot dan sendi dapat menjadi sumber keluhan.
Namun, gangguan saraf juga dapat menimbulkan rasa nyeri yang menjalar dari satu bagian tubuh ke bagian lainnya.
Misalnya, keluhan dapat dirasakan mulai dari leher menuju bahu, lengan, hingga tangan.
Jika disertai mati rasa, kesemutan, sensasi tersengat, atau kelemahan, pemeriksaan medis dapat membantu memastikan sumber masalahnya.
Cara Mengetik yang Lebih Aman untuk Pergelangan Tangan
Bagi orang yang sehari-hari bekerja menggunakan komputer, memperbaiki posisi kerja menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan.
Saat mengetik, usahakan pergelangan tangan berada dalam posisi netral.
Hindari membiarkan pergelangan tangan terus menekuk ke atas atau ke bawah.
Posisi siku juga sebaiknya tidak berada dalam keadaan yang membuat tangan harus menjangkau keyboard secara berlebihan.
Keyboard sebaiknya ditempatkan pada posisi yang memungkinkan tangan tetap rileks.
Selain itu, perhatikan pula ketinggian meja dan kursi.
Jika meja terlalu tinggi, seseorang mungkin tanpa sadar mengangkat bahu atau menekuk pergelangan tangan.
Sebaliknya, posisi meja yang terlalu rendah juga dapat membuat postur tubuh tidak nyaman.
Hal-hal sederhana tersebut sering kali luput dari perhatian karena seseorang sudah terbiasa bekerja dengan posisi yang sama setiap hari.
Jangan Menunggu Tangan Sakit untuk Mengubah Kebiasaan
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan adalah baru memperhatikan posisi kerja setelah muncul rasa sakit.
Padahal, pencegahan dapat dilakukan sejak awal.
Jika pekerjaan mengharuskan seseorang berada di depan komputer selama berjam-jam, berikan waktu bagi tangan untuk beristirahat.
Tidak perlu menunggu sampai tangan terasa nyeri.
Jeda singkat secara berkala dapat dimanfaatkan untuk melepaskan tangan dari keyboard dan melakukan gerakan ringan.
Selain itu, posisi duduk juga dapat diperbaiki agar tubuh tidak berada dalam posisi yang sama sepanjang waktu.
Stretching Bisa Menjadi Bagian dari Istirahat
Peregangan atau stretching ringan dapat dilakukan ketika bekerja.
Gerakan sederhana pada tangan, jari, pergelangan tangan, lengan, dan bahu dapat menjadi bagian dari rutinitas istirahat.
Namun, peregangan sebaiknya dilakukan secara nyaman dan tidak dipaksakan.
Jika suatu gerakan justru menimbulkan nyeri atau memperburuk keluhan, sebaiknya dihentikan.
Pada orang yang sudah mengalami keluhan tertentu, jenis latihan atau peregangan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Penanganan Awal Disesuaikan dengan Kondisi Pasien
Ferry menjelaskan bahwa pada kasus awal ketika fungsi saraf masih baik, penanganan dapat dilakukan sesuai gejala.
Perubahan aktivitas, perbaikan posisi tangan, peregangan, dan obat-obatan sesuai kondisi pasien dapat menjadi bagian dari penanganan.
“Selain salah satunya stretching, kasus awal secara fungsi saraf masih baik, sesuai gejalanya, biasanya kita dengan obat-obatan. Supaya posisi tangannya tetap netral,” ujar Ferry.
Artinya, penanganan tidak selalu langsung membutuhkan tindakan operasi.
Dokter akan melihat kondisi pasien terlebih dahulu sebelum menentukan langkah yang diperlukan.
Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?
Kesemutan sesekali belum tentu menunjukkan adanya gangguan saraf yang serius.
Namun, ada beberapa kondisi yang sebaiknya tidak diabaikan.
Misalnya, ketika kesemutan muncul berulang dan semakin sering.
Begitu pula jika mati rasa tidak kunjung hilang, nyeri semakin berat, atau tangan mulai terasa lemah.
Keluhan yang sampai mengganggu tidur atau aktivitas sehari-hari juga sebaiknya diperiksakan.
Pemeriksaan dokter dapat membantu menentukan apakah keluhan berasal dari saraf, otot, sendi, atau penyebab lainnya.
Dengan mengetahui penyebabnya, penanganan dapat diberikan secara lebih tepat.
Jangan Menganggap Semua Kesemutan sebagai CTS
Kesemutan pada tangan tidak otomatis berarti seseorang mengalami carpal tunnel syndrome.
Ada berbagai kondisi lain yang dapat menimbulkan gejala serupa.
Gangguan saraf di area leher, misalnya, juga dapat menyebabkan nyeri atau kesemutan yang menjalar ke lengan dan tangan.
Begitu pula dengan cedera, peradangan, atau masalah lain pada saraf.
Karena itu, diagnosis tidak sebaiknya dilakukan hanya berdasarkan gejala yang ditemukan sendiri.
Jika keluhan menetap atau semakin mengganggu, pemeriksaan medis menjadi langkah yang lebih tepat.
Pada Kondisi Berat, Operasi Bisa Dipertimbangkan
Dalam kondisi tertentu, ketika saraf mengalami tekanan berat atau kerusakan, dokter dapat mempertimbangkan tindakan operasi.
Salah satu prosedur yang berkaitan dengan penanganan saraf tepi adalah Peripheral Nerve Surgery.
Tindakan tersebut dapat bertujuan memperbaiki, melepaskan, menyambungkan, atau mengalihkan saraf yang mengalami gangguan di luar otak dan sumsum tulang belakang.
Namun, tindakan operasi bukan pilihan pertama untuk semua kasus.
Keputusan mengenai operasi bergantung pada penyebab, lokasi gangguan, tingkat kerusakan, fungsi saraf, serta kondisi pasien.
Diagnosis dan Penanganan Saraf Membutuhkan Waktu yang Tepat
Ferry menekankan pentingnya diagnosis dan rujukan yang tepat, terutama pada kasus cedera saraf.
“Pada cedera saraf, waktu diagnosis dan rujukan menjadi sangat penting. Literatur menunjukkan bahwa keterlambatan diagnosis dan referral masih menjadi salah satu hambatan dalam penanganan cedera saraf perifer, sementara cedera saraf bersifat kompleks dan time-sensitive,” kata Ferry.
Hal ini menunjukkan bahwa gangguan saraf sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama tanpa pemeriksaan, terutama ketika gejalanya terus berkembang.
Semakin jelas penyebab gangguan, semakin mudah bagi dokter menentukan langkah penanganan yang sesuai.
Kebiasaan Kecil Bisa Berdampak Jika Dilakukan Terus-Menerus
Mengetik bukan aktivitas yang secara otomatis menyebabkan kerusakan saraf.
Banyak orang menggunakan komputer setiap hari tanpa mengalami masalah serius.
Yang perlu diperhatikan adalah kombinasi antara durasi aktivitas, gerakan berulang, posisi tubuh, serta kondisi individu.
Mengetik berjam-jam dengan pergelangan tangan dalam posisi tertekuk tentu berbeda dengan mengetik dalam posisi yang lebih ergonomis dan diselingi waktu istirahat.
Karena itu, tidak perlu langsung khawatir setiap kali harus bekerja menggunakan keyboard.
Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan kerja yang baik.
Tips Sederhana Menjaga Kesehatan Tangan Saat Bekerja
Berikut sejumlah kebiasaan yang dapat diterapkan bagi orang yang sering mengetik:
- Jaga pergelangan tangan tetap netral
Hindari posisi pergelangan tangan yang terlalu menekuk ke atas atau ke bawah dalam waktu lama.
- Berikan jeda
Jangan menggunakan keyboard terus-menerus tanpa istirahat. Manfaatkan jeda untuk melepaskan tangan dari keyboard.
- Lakukan peregangan ringan
Gerakkan jari, tangan, pergelangan tangan, dan bahu secara perlahan saat beristirahat.
- Perhatikan posisi siku
Pastikan posisi siku tidak membuat tangan harus bekerja dalam posisi yang terlalu tegang.
- Atur posisi keyboard
Letakkan keyboard pada posisi yang membuat tangan dan pergelangan tangan tetap nyaman.
- Jangan mengabaikan gejala
Jika kesemutan, mati rasa, atau nyeri muncul berulang, jangan terus memaksakan aktivitas.
- Periksakan diri jika keluhan menetap
Pemeriksaan diperlukan apabila gejala semakin berat atau mulai mengganggu aktivitas.
Kesimpulan
Terlalu lama mengetik tidak berarti secara otomatis menyebabkan kerusakan saraf. Namun, aktivitas mengetik yang dilakukan berulang dalam waktu lama, terutama dengan posisi pergelangan tangan yang tidak tepat, dapat meningkatkan tekanan pada saraf tertentu.
Salah satu gangguan yang dapat berkaitan dengan tekanan pada saraf di pergelangan tangan adalah carpal tunnel syndrome.
Gejalanya dapat berupa kesemutan, mati rasa, nyeri, sensasi terbakar, rasa seperti tersengat listrik, hingga kelemahan pada tangan.
Gangguan saraf juga tidak selalu disebabkan oleh aktivitas mengetik. Cedera, saraf terjepit, patah tulang, tumor, hingga kondisi tertentu setelah operasi juga dapat menjadi penyebab.
Karena itu, kesemutan atau mati rasa yang terus berulang sebaiknya tidak dianggap sekadar pegal setelah bekerja.
Memperbaiki posisi tangan, menjaga pergelangan tangan tetap netral, memberikan jeda, dan melakukan peregangan ringan dapat menjadi bagian dari kebiasaan kerja yang lebih baik.
Jika keluhan tidak kunjung membaik, semakin sering muncul, atau mulai mengganggu tidur dan aktivitas sehari-hari, pemeriksaan dokter diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Dengan mengenali gejala sejak awal dan memperhatikan kebiasaan saat bekerja, risiko gangguan yang lebih berat dapat diantisipasi dan penanganan dapat dilakukan sesuai kondisi masing-masing.
Sumber : www.cnnindonesia.com
