Foto: Ilustrasi Gen Z. (Dok. Freepik)
Buletinmedia.com – Generasi Z (lahir 1997–2012) di Indonesia dikenal sebagai generasi yang paling dekat dengan teknologi. Mereka tumbuh di era internet cepat, media sosial, dan berbagai aplikasi digital yang memudahkan aktivitas sehari-hari. Tidak heran jika Gen Z menjadi kelompok yang paling cepat mengadopsi teknologi baru, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Survei APJII 2025 – Profil Internet Indonesia 2025 memberikan data menarik mengenai perilaku penggunaan AI di Indonesia. Salah satu temuan paling mencolok adalah Gen Z Indonesia menjadi generasi paling aktif memanfaatkan AI untuk pembelajaran. Data ini menunjukkan bahwa AI tidak hanya menjadi tren teknologi, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya belajar Gen Z.
AI Jadi Alat Belajar Utama Gen Z Indonesia
Menurut hasil Survei APJII 2025, sebanyak 49,89% Gen Z Indonesia menggunakan AI untuk aktivitas belajar. Penggunaan AI dalam belajar mencakup berbagai bentuk, mulai dari chatbot pendidikan hingga platform kursus berbasis AI.
Penggunaan AI untuk belajar ini menunjukkan perubahan pola belajar generasi muda. AI tidak hanya dipakai sebagai alat bantu mengerjakan tugas, tetapi juga sebagai sarana belajar yang mampu:
-
menjawab pertanyaan secara cepat,
-
membantu memahami materi pelajaran,
-
memberikan latihan soal,
-
hingga menyediakan sumber belajar alternatif.
Kemampuan AI dalam mengolah data dan menyesuaikan konten belajar sesuai kebutuhan pengguna membuat Gen Z semakin nyaman memanfaatkannya.
Tren Penggunaan AI Gen Z untuk Aktivitas Lainnya
Selain belajar, Gen Z juga memanfaatkan AI untuk berbagai kebutuhan lain. Survei APJII 2025 mencatat beberapa kategori penggunaan AI oleh Gen Z sebagai berikut:
1. Hiburan (Pembuatan Konten Video/Gambar AI): 25,89%
Gen Z sangat kreatif dan aktif dalam menciptakan konten digital. AI menjadi alat yang mempermudah proses pembuatan konten, baik video maupun gambar. Penggunaan AI untuk hiburan mencakup:
-
pembuatan video pendek,
-
pembuatan gambar atau ilustrasi,
-
edit foto dan video otomatis,
-
hingga penggunaan filter dan efek AI.
Kreativitas Gen Z yang tinggi membuat mereka sering bereksperimen dengan berbagai fitur AI untuk menghasilkan konten menarik dan viral.
2. Produktivitas (Penulisan Otomatis, Analisis Data): 12,21%
AI juga dimanfaatkan Gen Z untuk meningkatkan produktivitas. Contohnya, AI dipakai untuk:
-
menulis tugas atau laporan secara otomatis,
-
membuat ringkasan materi,
-
mengolah data untuk tugas sekolah atau kerja,
-
membantu pembuatan presentasi.
Dengan AI, Gen Z dapat menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dan efisien. Hal ini sangat membantu terutama bagi pelajar dan pekerja muda yang memiliki banyak aktivitas.
3. Asisten Virtual (Siri, Google Assistant): 11,58%
Penggunaan asisten virtual juga menjadi bagian dari aktivitas AI Gen Z. Asisten virtual membantu dalam:
-
mengatur jadwal,
-
mengingatkan tugas atau deadline,
-
mencari informasi cepat,
-
mengontrol perangkat pintar (smart home).
Asisten virtual memudahkan hidup Gen Z karena bisa diakses melalui smartphone dengan perintah suara.
Gen Z Paling Tinggi Adopsi AI Dibanding Generasi Lain
Survei APJII 2025 juga menunjukkan bahwa Gen Z memiliki tingkat adopsi AI tertinggi di Indonesia, yakni sekitar 43,7%. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding generasi lain, seperti:
-
Milenial: 22,3%
-
Gen X: 12,8%
-
Baby Boomers: 8,9%
Data ini menunjukkan bahwa Gen Z benar-benar menjadi pionir dalam penggunaan AI di Indonesia. Mereka bukan hanya aktif menggunakan internet, tetapi juga menjadi generasi yang paling cepat mengadopsi teknologi baru seperti AI.
Mengapa Sebagian Gen Z Belum Menggunakan AI?
Meski adopsi AI oleh Gen Z cukup tinggi, masih ada 56,3% Gen Z yang belum menggunakan AI. Ada beberapa faktor yang menjadi penghambat penggunaan AI, antara lain:
1. Belum Familiar atau Belum Mendapat Paparan tentang AI (46,56%)
Banyak Gen Z yang belum mengenal AI secara mendalam atau belum mendapatkan edukasi tentang bagaimana cara menggunakan AI. Hal ini menjadi tantangan utama, karena AI tidak bisa diakses jika tidak ada pemahaman dasar.
2. Tidak Merasa Butuh Konten AI (22,68%)
Beberapa Gen Z merasa tidak membutuhkan AI karena aktivitas belajar atau pekerjaan mereka masih bisa dilakukan secara manual. Mereka belum melihat manfaat AI secara langsung dalam keseharian.
3. Tidak Mengetahui Cara Menggunakan AI (15,5%)
Ketidakpahaman cara menggunakan AI juga menjadi alasan utama. Padahal, banyak layanan AI yang sebenarnya mudah digunakan, tetapi belum diketahui oleh sebagian pengguna.
4. Kurangnya Layanan AI yang Menarik (5,88%)
Layanan AI yang belum menarik atau kurang relevan juga membuat beberapa Gen Z enggan mencoba. Layanan AI yang terlalu rumit atau tidak sesuai kebutuhan akan membuat pengguna cepat beralih.
5. Masalah Teknis (Kuota Mahal dan Akses Internet)
Masalah teknis menjadi penghambat terbesar bagi Gen Z di beberapa wilayah. Data menunjukkan bahwa:
-
38,75% Gen Z menganggap kuota internet mahal,
-
30,14% tidak memiliki akses internet di wilayah tinggal.
Masalah ini menjadi tantangan besar karena AI membutuhkan koneksi internet yang stabil.
Gen Z Memimpin Penetrasi Internet di Indonesia
Tidak mengherankan bahwa Gen Z menjadi pengguna AI paling aktif, mengingat profil internet Gen Z sangat dominan di Indonesia. Survei APJII 2025 mencatat bahwa penetrasi internet nasional telah mencapai 80,66%, dengan 229,4 juta pengguna internet.
Secara generasi, penetrasi internet tertinggi ada pada milenial (89,12%), diikuti Gen Z (87,80%). Kontribusi penggunaan internet oleh Gen Z juga cukup signifikan, yaitu 25,54% dari total pengguna internet nasional.
Data ini menunjukkan bahwa Gen Z tidak hanya menjadi generasi paling melek teknologi, tetapi juga menjadi pengguna internet paling masif di Indonesia.
Kesimpulan: Gen Z Indonesia Pionir AI untuk Pembelajaran
Generasi Z di Indonesia tidak hanya dominan dalam penetrasi internet, tetapi juga menjadi pionir dalam memanfaatkan AI sebagai alat pembelajaran. Data APJII 2025 menunjukkan bahwa hampir setengah Gen Z menggunakan AI untuk belajar, serta memanfaatkan AI untuk hiburan, produktivitas, dan asisten virtual.
Meski adopsi AI tinggi, tantangan seperti akses internet, biaya kuota, dan edukasi teknologi masih menjadi hambatan. Untuk mendorong adopsi AI yang lebih luas, dibutuhkan upaya edukasi digital yang merata dan peningkatan infrastruktur internet di seluruh wilayah Indonesia.
Dengan dukungan akses yang lebih merata, bukan tidak mungkin Gen Z akan semakin memaksimalkan AI dalam pendidikan, kreativitas, dan produktivitas. Ini menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk mempercepat transformasi digital dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
