sumber foto : freepik
Kalimat seperti “Semangat ya!” atau “Ayo, kamu pasti bisa!” terdengar positif di telinga. Namun, dalam kondisi tertentu, kata-kata ini bisa justru terasa menyakitkan bagi orang yang sedang terluka atau kesulitan. Fenomena ini disebut toxic positivity, yakni tekanan sosial atau internal untuk selalu terlihat kuat, ceria, dan berpikir positif—tanpa ruang untuk benar-benar merasakan dan mengakui emosi yang sedang terjadi.
Menurut psikolog dari Universitas Ahmad Dahlan, Dr. Riana Mashar, toxic positivity bisa merusak relasi antarindividu. Niat untuk menyemangati bisa berubah menjadi bentuk penyangkalan terhadap perasaan orang lain. “Yang banyak orang butuhkan bukan saran atau motivasi cepat, tapi sekadar pengakuan bahwa perasaan mereka valid,” jelasnya saat diwawancarai oleh Kompas.com.
Alih-alih memberi ketenangan, ucapan seperti “Harusnya kamu bersyukur” atau “Masih banyak orang yang lebih susah” justru bisa memperdalam luka. Kalimat-kalimat ini menyiratkan bahwa kesedihan adalah sesuatu yang salah, padahal itu bagian alami dari pengalaman manusia.
Dampak Toxic Positivity:
Ketika seseorang terus-menerus ditekan untuk selalu positif, ada kecenderungan untuk memendam emosi negatif. Ini bisa berujung pada rasa terisolasi, kesulitan mengungkapkan perasaan, bahkan kehilangan kepercayaan terhadap orang-orang terdekat. Dalam jangka panjang, tekanan ini dapat memperparah kondisi mental seseorang.
Tanda-Tanda Kamu Terjebak dalam Toxic Positivity:
-
Memberi nasihat positif secara refleks tanpa benar-benar mendengar isi hati orang lain.
-
Merasa bersalah hanya karena sedang bersedih atau merasa down.
-
Memaksakan diri untuk terus tersenyum dan terlihat “baik-baik saja”.
-
Menghindari teman yang sedang curhat karena takut merasa ikut terbebani.
Cara Jadi Pendengar yang Lebih Peka dan Peduli:
1. Dengarkan, jangan buru-buru menasihati.
Tak semua keluh kesah butuh solusi. Kadang, “Aku di sini buat kamu” jauh lebih menenangkan dibanding sejuta motivasi instan.
2. Validasi emosi, jangan nilai perasaannya.
Gantilah “Kamu terlalu sensitif” dengan “Perasaanmu bisa dimengerti kok.” Kalimat ini memberi rasa aman dan ruang untuk terbuka.
3. Tawarkan kehadiran, bukan paksaan.
Kalimat seperti “Aku temani ya kalau kamu butuh” lebih terasa hangat daripada “Ayo dong, jangan sedih terus!”
4. Perhatikan bahasa tubuh dan nada suara.
Komunikasi yang hangat datang dari mata dan hati, bukan hanya dari telinga. Ekspresi sering kali lebih jujur daripada ucapan.
5. Bersikap lembut pada diri sendiri.
Toxic positivity tak hanya mengintai saat berinteraksi dengan orang lain, tapi juga ketika kita memaksakan diri untuk “selalu baik-baik saja”. Dr. Riana menegaskan, mengakui rasa lelah atau kecewa bukan kelemahan—melainkan bentuk kejujuran emosional dan langkah awal menuju penyembuhan.
