Ilustrasi wanita mengeluh (Tangkapan Layar)
Buletinmedia.com – Mengeluh merupakan hal yang hampir dilakukan setiap orang. Setelah menjalani hari yang melelahkan, menghadapi tekanan pekerjaan, masalah keluarga, atau situasi yang tidak sesuai harapan, banyak orang memilih mencurahkan isi hati kepada teman, pasangan, maupun anggota keluarga. Aktivitas ini sering kali membuat seseorang merasa lebih lega karena emosi yang dipendam akhirnya tersalurkan.
Namun, bagaimana jika kebiasaan mengeluh dilakukan hampir setiap hari? Apakah terlalu sering mengeluh benar-benar bisa melatih otak untuk berpikir negatif?
Sejumlah ahli psikologi menyebut bahwa mengeluh sesekali bukanlah sesuatu yang buruk. Bahkan, curhat kepada orang yang dipercaya dapat membantu seseorang mengurangi tekanan emosional dan memperoleh sudut pandang baru. Akan tetapi, apabila kebiasaan tersebut dilakukan terus-menerus tanpa disertai upaya mencari solusi, dampaknya justru bisa memengaruhi cara otak memproses informasi.
Mengapa Mengeluh Bisa Terasa Melegakan?
Mengeluh pada dasarnya merupakan salah satu bentuk pelepasan emosi. Ketika seseorang mengalami kekecewaan, frustrasi, kemarahan, atau rasa tidak nyaman, mengungkapkan perasaan tersebut dapat membantu mengurangi beban psikologis.
Psikoterapis Lauren Farina, LCSW, MSW, menjelaskan bahwa mengeluh menjadi cara seseorang mengekspresikan pengalaman yang membuatnya tidak nyaman. Dalam kadar yang wajar, kebiasaan ini dapat memberikan efek positif karena emosi yang sebelumnya dipendam tidak lagi menumpuk.
Selain itu, berbicara dengan orang yang dipercaya juga dapat menghadirkan rasa didengar, dipahami, dan didukung. Tidak jarang, seseorang justru menemukan solusi setelah menceritakan masalahnya kepada orang lain.
Inilah alasan mengapa mengeluh tidak selalu identik dengan perilaku negatif. Yang menjadi perhatian adalah frekuensi dan tujuan seseorang ketika mengeluh.
Terlalu Sering Mengeluh Dapat Membentuk Pola Pikir Negatif
Meski memiliki manfaat, mengeluh yang dilakukan secara berlebihan berpotensi memengaruhi cara kerja otak.
Ketika seseorang terus-menerus membicarakan hal-hal negatif tanpa mencoba mencari penyelesaian, otaknya akan semakin terbiasa memusatkan perhatian pada masalah dibandingkan peluang atau sisi positif yang ada.
Kondisi ini berkaitan dengan negativity bias, yaitu kecenderungan alami otak manusia untuk lebih mudah mengingat, memperhatikan, dan bereaksi terhadap pengalaman negatif dibandingkan pengalaman positif.
Secara evolusi, kecenderungan tersebut sebenarnya membantu manusia bertahan hidup karena otak lebih peka terhadap ancaman.
Namun, dalam kehidupan modern, negativity bias dapat membuat seseorang lebih mudah melihat kekurangan, kegagalan, atau masalah dibandingkan berbagai hal baik yang juga terjadi di sekitarnya.
Jika kebiasaan mengeluh dilakukan setiap hari, pola tersebut dapat semakin menguat sehingga seseorang merasa hidupnya selalu dipenuhi persoalan.
Otak Belajar dari Kebiasaan yang Dilakukan Berulang
Salah satu alasan mengapa kebiasaan mengeluh dapat memengaruhi pola pikir berkaitan dengan kemampuan otak yang disebut neuroplastisitas.
Neuroplastisitas adalah kemampuan otak untuk membentuk, mengubah, dan memperkuat hubungan antarsel saraf berdasarkan pengalaman yang terus diulang.
Artinya, aktivitas yang sering dilakukan akan menjadi jalur yang semakin mudah diakses oleh otak.
Jika seseorang terus membiasakan diri mengeluh tanpa mencari jalan keluar, otak akan semakin mahir menemukan hal-hal yang salah, mengecewakan, atau membuat frustrasi.
Sebaliknya, apabila seseorang mulai membiasakan diri mencari solusi, bersyukur, atau melihat sisi positif suatu situasi, jalur berpikir tersebut juga akan semakin kuat.
Inilah sebabnya para psikolog menyarankan agar mengeluh tidak berhenti pada proses melampiaskan emosi, tetapi juga dilanjutkan dengan langkah-langkah penyelesaian masalah.
Dampak Terlalu Sering Mengeluh terhadap Kesehatan Mental
Mengeluh tanpa henti dapat membuat seseorang terjebak dalam siklus pikiran negatif.
Alih-alih merasa lebih tenang, orang tersebut justru terus mengulang masalah yang sama di dalam pikirannya. Kondisi ini dikenal sebagai rumination, yaitu kecenderungan memikirkan persoalan secara berulang tanpa menghasilkan solusi.
Rumination dapat meningkatkan stres karena otak terus berada dalam kondisi siaga menghadapi masalah yang sebenarnya belum tentu dapat diselesaikan saat itu juga.
Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat membuat suasana hati menurun, memicu rasa cemas, mengurangi motivasi, bahkan membuat seseorang merasa kehidupannya dipenuhi hal-hal buruk.
Akibatnya, pengalaman positif yang sebenarnya terjadi menjadi kurang disadari karena perhatian lebih banyak tertuju pada kejadian yang mengecewakan.
Pengaruh Kebiasaan Mengeluh terhadap Hubungan Sosial
Dampak mengeluh secara berlebihan tidak hanya dirasakan oleh diri sendiri.
Orang-orang di sekitar juga dapat merasakan efeknya.
Teman, pasangan, atau anggota keluarga mungkin bersedia mendengarkan keluhan sesekali. Namun, apabila setiap percakapan selalu dipenuhi cerita negatif tanpa adanya keinginan untuk memperbaiki keadaan, mereka bisa merasa lelah secara emosional.
Hubungan sosial yang sehat membutuhkan komunikasi dua arah.
Apabila seseorang hanya terus-menerus mengeluh tanpa memberi ruang bagi percakapan lain, hubungan tersebut dapat menjadi kurang nyaman.
Bukan berarti orang lain tidak peduli, tetapi setiap individu juga memiliki batas kemampuan emosional dalam mendengarkan masalah orang lain.
Perbedaan Curhat dan Mengeluh Berlebihan
Banyak orang menganggap curhat dan mengeluh adalah hal yang sama, padahal keduanya memiliki perbedaan.
Curhat umumnya bertujuan mencari dukungan, memahami situasi, atau memperoleh solusi.
Sementara itu, mengeluh berlebihan cenderung hanya mengulang masalah yang sama tanpa adanya keinginan untuk memperbaiki keadaan.
Curhat biasanya membuat seseorang merasa lebih tenang setelah berbicara.
Sebaliknya, mengeluh terus-menerus justru sering membuat emosi negatif semakin kuat karena perhatian terus diarahkan pada sumber masalah.
Cara Mengeluh yang Lebih Sehat
Para psikolog tidak menyarankan seseorang berhenti mengeluh sepenuhnya.
Mengungkapkan emosi tetap penting agar tekanan batin tidak terus dipendam.
Namun, ada beberapa cara agar kebiasaan tersebut tetap sehat dan tidak membentuk pola pikir negatif.
Pertama, batasi waktu untuk mengeluh. Luangkan beberapa menit untuk mengungkapkan perasaan, kemudian alihkan fokus pada langkah yang dapat dilakukan.
Kedua, pilih orang yang tepat untuk diajak berbicara. Curhat kepada orang yang mampu mendengarkan dengan empati biasanya memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan menyampaikan keluhan kepada banyak orang.
Ketiga, setelah mengungkapkan emosi, cobalah bertanya kepada diri sendiri, “Apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki situasi ini?”
Pertanyaan sederhana tersebut membantu mengalihkan fokus dari masalah menuju solusi.
Keempat, biasakan menyeimbangkan pikiran negatif dengan pengalaman positif yang juga terjadi pada hari itu.
Meluangkan waktu untuk mengingat hal-hal yang patut disyukuri dapat membantu mengurangi dominasi negativity bias.
Kelima, hindari mengulang keluhan yang sama jika memang tidak ada tindakan yang ingin dilakukan.
Semakin sering masalah yang sama diulang tanpa penyelesaian, semakin kuat pula pola berpikir negatif yang terbentuk.
Menjaga Keseimbangan Emosi dalam Kehidupan Sehari-hari
Setiap orang tentu pernah mengalami hari yang buruk. Merasa kecewa, marah, sedih, atau frustrasi adalah bagian dari kehidupan yang normal.
Mengeluh sesekali juga merupakan respons yang wajar terhadap berbagai tekanan tersebut.
Namun, menjaga keseimbangan antara mengekspresikan emosi dan mencari solusi menjadi hal yang jauh lebih penting.
Ketika seseorang mulai terbiasa melihat peluang di balik masalah, menghargai hal-hal kecil yang berjalan baik, dan berfokus pada langkah perbaikan, otak perlahan membentuk pola berpikir yang lebih adaptif.
Dengan demikian, seseorang tetap dapat mengakui bahwa masalah memang ada, tetapi tidak membiarkan seluruh hidupnya dikuasai oleh pikiran negatif.
Pada akhirnya, mengeluh bukanlah musuh yang harus dihindari. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana cara mengelola keluhan tersebut agar menjadi sarana memahami diri sendiri, memperoleh dukungan, serta menemukan jalan keluar. Dengan pendekatan seperti itu, kebiasaan mengeluh tidak hanya membantu melepaskan emosi, tetapi juga menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan mental dan membangun pola pikir yang lebih positif.
Sumber : www.kompas.com
