Lontong cap gomeh.(Sumber : shutterstock.com/g/oenmichael)
Buletinmedia.com – Hari ini, tepat 15 hari setelah perayaan Tahun Baru Imlek, warga Tionghoa Indonesia merayakan Cap Go Meh, yang dikenal sebagai malam kelima belas setelah Imlek. Dalam perayaan yang penuh makna ini, salah satu hidangan yang paling dinanti adalah lontong Cap Go Meh, yang menjadi simbol keberuntungan, kemakmuran, dan harapan panjang umur bagi yang menikmatinya.
Kenapa harus makan lontong Cap Go Meh? Hidangan ini memiliki arti khusus bagi etnis Tionghoa di Indonesia, terutama bagi masyarakat Peranakan. Lontong Cap Go Meh bukan sekadar makanan, tetapi juga mengandung makna mendalam. Bentuk lontong yang panjang melambangkan harapan panjang umur, sedangkan telur dianggap sebagai simbol keberuntungan. Kuah santan berwarna kuning keemasan, yang dibumbui dengan kunyit, melambangkan kekayaan dan kemakmuran. Warna kuning keemasan ini juga mencerminkan keberuntungan, mirip dengan warna emas yang melambangkan kejayaan dalam budaya Tionghoa.
Lontong Cap Go Meh sebenarnya merupakan adaptasi kuliner yang muncul dari perpaduan budaya Tionghoa dan Indonesia, khususnya dari Pulau Jawa. Para pendatang Tionghoa pertama kali bermukim di kota-kota pelabuhan pesisir utara Jawa, seperti Semarang, Pekalongan, Lasem, dan Surabaya, sejak zaman Majapahit. Kaum laki-laki Tionghoa yang merantau ke Nusantara kemudian menikahi perempuan Jawa, menghasilkan perpaduan budaya yang disebut Peranakan.
Pada saat perayaan Imlek, khususnya saat Cap Go Meh, hidangan tradisional Tionghoa seperti yuanxiao (bola-bola tepung beras) diganti dengan lontong, yang disajikan dengan berbagai hidangan khas Jawa seperti opor ayam, sambal goreng hati, sayur lodeh, dan acar. Kombinasi tersebut melambangkan asimilasi antara budaya Tionghoa dan budaya lokal Jawa.
Selain menjadi santapan khas saat Imlek, lontong Cap Go Meh juga sering disajikan saat perayaan Cap Go Meh, yang biasanya dilakukan dengan berkumpul bersama keluarga dan menikmati hidangan penuh makna ini. Penyajian lontong Cap Go Meh memiliki aturan khusus. Piring lontong harus terisi penuh dan menjulang tinggi dengan berbagai lauk dan kuah yang melimpah. Hal ini dipercaya melambangkan doa dan harapan untuk rezeki yang melimpah sepanjang tahun.
Bagi masyarakat Tionghoa, menyajikan dan menikmati lontong Cap Go Meh bukan hanya sekadar tradisi kuliner, tetapi juga sebagai cara untuk memohon keberuntungan, kemakmuran, dan kebahagiaan bagi tahun yang akan datang. Keberagaman budaya ini membuktikan bahwa Cap Go Meh bukan hanya tentang makan, tetapi tentang menjaga warisan dan harapan yang terus diteruskan dari generasi ke generasi.
Dengan makna yang mendalam dan tradisi yang kaya, perayaan Cap Go Meh dan lontong yang disajikan mengingatkan kita akan pentingnya kebersamaan, keberuntungan, dan kemakmuran dalam kehidupan.
