Ilustrasi sambal leunca. Leunca merupakan lalapan khas Sunda. (SHUTTERSTOCK/HAMZAH KHAIRUL FATAH)
Leunca: Si Bulat Pahit yang Jadi Primadona Kuliner Sunda dan Kaya Manfaat
Dalam episode MasterChef Indonesia musim ke-12 yang tayang pada Minggu (20/4/2025), kehadiran Hesti Purwadinata sebagai bintang tamu membuat dapur kompetisi mendadak terasa lebih etnik. Artis berdarah Sunda ini membawa serta tantangan unik: para peserta diminta mengolah salah satu bahan makanan favoritnya—leunca. Tumbuhan kecil berwarna hijau ini, meski tampak sederhana, menyimpan kisah panjang dalam khazanah kuliner dan kesehatan masyarakat Sunda.
Leunca: Si Kecil dari Ladang Pasundan
Leunca, yang memiliki nama ilmiah Solanum nigrum L., dikenal pula dengan sebutan ranti, bobosa, atau terung hitam di berbagai daerah Indonesia. Di mancanegara, terutama Eropa, tanaman ini dikenal sebagai black nightshade atau makoi. Buahnya berbentuk bulat mungil, berwarna hijau ketika muda dan keunguan saat matang, dengan cita rasa pahit lembut yang khas.
Di wilayah Jawa Barat, leunca tidak sekadar lalapan. Ia adalah elemen penting dalam sajian harian masyarakat Sunda. Meski sederhana, ia menjadi simbol kehangatan, kesederhanaan, dan kenangan kampung halaman yang sering disandingkan dengan sambal, nasi hangat, serta lauk seperti ayam goreng atau ikan asin.
Dari Lalapan ke Beragam Kreasi Masakan
Popularitas leunca di dapur Sunda begitu tinggi hingga melahirkan berbagai hidangan khas yang mengandalkannya sebagai bahan utama. Mulai dari ulekutek leunca oncom yang pedas dan harum, sambal leunca yang segar menggigit, tumis leunca teri dengan gurih renyah, hingga sayur bening leunca daun kelor yang menyejukkan. Dalam semua olahan ini, rasa pahit leunca bukan dianggap sebagai kekurangan, justru jadi daya tarik utama yang menambah keunikan.
Sous Chef Hotel Santika Pasir Koja, Siswanto, menyebutkan bahwa leunca memang populer di tanah Sunda karena fleksibilitasnya. Ia bisa disantap mentah sebagai lalapan atau dimasak menjadi sajian utama yang kompleks. “Kalau enggak dibikin ulekutek leunca oncom, ya biasanya jadi campuran tumisan atau sayur bening,” ujarnya.
Bukan Sekadar Pahit, Tapi Kaya Manfaat
Di balik pahitnya, leunca menyimpan ragam manfaat kesehatan yang jarang diketahui. Menurut Kementerian Kesehatan RI, leunca mengandung antioksidan tinggi dan senyawa antikanker yang diyakini mampu menurunkan risiko kanker. Selain itu, ia juga diketahui membantu memperlancar ASI, menurunkan kadar kolesterol, serta mengendalikan gejala diabetes.
Dikutip dari Healthshots, leunca juga memiliki efek analgesik alami yang bermanfaat untuk meredakan nyeri, seperti kram menstruasi. Sementara dalam pengobatan tradisional, buah mungil ini digunakan untuk menangani gangguan hati, membantu regenerasi sel kulit, hingga mengatasi kecemasan karena kemampuannya dalam mempertahankan kadar oksigen di otak tetap stabil.
Pahit yang Merangkul Jiwa
Lebih dari sekadar sayuran, leunca merupakan cerminan filosofi kuliner Sunda: kesederhanaan yang mendalam dan rasa yang jujur. Tak heran bila leunca sering membangkitkan nostalgia tentang makan siang di dapur nenek atau sekadar duduk di tikar bambu menikmati sajian rumahan. Kehadirannya dalam tantangan MasterChef tak hanya menggoyang lidah, tapi juga mengajak pemirsa mengenal lebih dalam warisan kuliner lokal yang kerap terlupakan.
Lewat leunca, kita belajar bahwa sesuatu yang tampak kecil, pahit, dan sederhana bisa menyimpan kehangatan, kenangan, dan khasiat luar biasa—baik untuk tubuh maupun jiwa.
