Gelombang arus balik di jalur arteri Pantura Cirebon, Jawa Barat, kian membludak pada Rabu malam (Foto : Darfan)
CIREBON, Buletinmedia.com – Gelombang arus balik Lebaran di jalur arteri Pantura Cirebon, Jawa Barat, mengalami lonjakan signifikan pada Rabu malam. Ribuan kendaraan dari arah Jawa Tengah menuju Jakarta memadati ruas jalan utama tersebut, menyebabkan kemacetan panjang yang sulit dihindari. Kondisi ini menjadi salah satu titik terpadat selama periode arus balik, khususnya pada H+3 Lebaran.
Kepadatan lalu lintas di jalur Pantura Cirebon didominasi oleh kendaraan roda dua dan roda empat dengan pelat nomor wilayah Jabodetabek. Antrean kendaraan terlihat mengular panjang di sejumlah titik, terutama di persimpangan dan lampu lalu lintas. Para pemudik yang melakukan perjalanan malam hari harus menghadapi kondisi jalan yang padat merayap, bahkan cenderung tersendat.
Lonjakan volume kendaraan ini sebenarnya sudah mulai terlihat sejak Selasa. Namun, memasuki Rabu malam, jumlah kendaraan meningkat drastis seiring dengan berakhirnya masa libur Lebaran dan dimulainya aktivitas kerja. Banyak pemudik memilih kembali ke kota perantauan pada malam hari untuk menghindari terik matahari, tetapi justru menghadapi kemacetan yang cukup parah.
Salah satu penyebab utama kemacetan panjang di jalur arteri Pantura Cirebon adalah durasi lampu merah yang relatif lama di sejumlah persimpangan. Hal ini menyebabkan penumpukan kendaraan yang cukup signifikan, terutama saat arus kendaraan dari berbagai arah bertemu dalam waktu bersamaan. Akibatnya, antrean kendaraan semakin panjang dan sulit terurai dalam waktu singkat.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, petugas kepolisian bersama instansi terkait melakukan berbagai langkah rekayasa lalu lintas. Salah satu upaya yang dilakukan adalah penerapan sistem buka-tutup jalur di beberapa titik rawan kemacetan. Selain itu, durasi lampu hijau juga diperpanjang dari sebelumnya dua menit menjadi sekitar tiga setengah menit guna memperlancar arus kendaraan.
Langkah ini dinilai cukup efektif untuk mengurangi kepadatan, meskipun belum sepenuhnya mampu menghilangkan kemacetan. Petugas di lapangan juga terus melakukan pengaturan lalu lintas secara manual untuk memastikan kendaraan tetap bergerak, terutama di titik-titik yang mengalami penumpukan paling parah.
Namun demikian, kondisi kemacetan semakin diperparah dengan mulai beroperasinya kendaraan truk besar sumbu tiga di jalur tersebut. Kehadiran kendaraan berat ini memperlambat laju arus lalu lintas, terutama di jalur yang memiliki kapasitas terbatas. Perpaduan antara tingginya volume kendaraan pemudik dan kendaraan logistik membuat situasi lalu lintas semakin kompleks.
Berdasarkan data dari Dinas Perhubungan Cirebon, jumlah kendaraan roda dua yang melintas selama arus balik telah mencapai lebih dari 84.000 unit. Angka ini menunjukkan tingginya minat masyarakat menggunakan sepeda motor sebagai sarana transportasi utama saat mudik maupun arus balik Lebaran.
Kabag Ops Polresta Cirebon, Kompol Sutarja, menyampaikan bahwa peningkatan arus kendaraan terjadi dari dua arah, baik dari timur ke barat maupun sebaliknya. Menurutnya, kehadiran petugas di lapangan sangat membantu dalam mengurai kemacetan yang terjadi.
“Ada kepadatan di jalur arteri, baik dari timur ke barat maupun sebaliknya. Dengan penempatan anggota di sejumlah titik, arus lalu lintas bisa lebih terurai meskipun volume kendaraan terus meningkat,” ujarnya.
Pihak kepolisian juga memprediksi bahwa puncak arus balik belum sepenuhnya berakhir. Gelombang kendaraan diperkirakan masih akan meningkat, terutama menjelang akhir pekan. Hari Sabtu dan Minggu disebut-sebut akan kembali menjadi periode dengan volume kendaraan tertinggi di jalur Pantura.
Selain itu, peningkatan jumlah pemudik yang kembali menggunakan sepeda motor juga diperkirakan akan terus terjadi pada Kamis. Hal ini sejalan dengan kebiasaan masyarakat yang memilih waktu perjalanan secara bertahap untuk menghindari penumpukan pada satu waktu tertentu.
Para pengguna jalan diimbau untuk tetap berhati-hati selama melintas di jalur Pantura, khususnya di wilayah Cirebon yang menjadi salah satu titik krusial arus balik. Pengendara diharapkan mematuhi rambu lalu lintas, menjaga jarak aman, serta tidak memaksakan diri jika kondisi tubuh sudah lelah.
Dengan tingginya volume kendaraan yang masih berlangsung, sinergi antara petugas dan kesadaran masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran arus balik Lebaran. Upaya rekayasa lalu lintas yang dilakukan diharapkan mampu meminimalkan kemacetan serta memberikan rasa aman dan nyaman bagi para pemudik yang kembali ke kota tujuan.
