OJK Cirebon prioritaskan edukasi inklusi dan literasi keuangan (Foto : Darfan)
CIREBON, Buletinmedia.com – Kalangan mahasiswa dan anak muda kini menjadi kelompok yang dinilai paling rentan terjerat pinjaman online ilegal maupun judi online. Kemudahan akses layanan keuangan digital di era teknologi saat ini membuat generasi muda semakin dekat dengan berbagai aplikasi dan platform digital, namun di sisi lain juga menghadirkan ancaman baru yang perlu diwaspadai.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon, Jawa Barat. Melalui berbagai program edukasi dan penguatan literasi keuangan, OJK terus menggencarkan upaya pencegahan agar mahasiswa dan generasi muda tidak mudah tergiur tawaran pinjaman online ilegal maupun praktik judi online yang marak berkembang di ruang digital.
Kepala OJK Cirebon, Agus Muntholib, mengatakan tingkat inklusi keuangan masyarakat saat ini memang terus meningkat. Namun peningkatan tersebut belum diimbangi dengan kemampuan literasi keuangan yang memadai, sehingga menimbulkan risiko tersendiri bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Menurutnya, banyak anak muda sudah terbiasa menggunakan layanan keuangan digital seperti dompet elektronik, pinjaman online, hingga transaksi digital lainnya. Sayangnya, tidak semua pengguna memahami risiko dan legalitas dari layanan yang digunakan.
“Berdasarkan hasil Survei Nasional Inklusi Keuangan tahun 2025, indeks literasi keuangan angkanya sekitar 60 persen, sedangkan inklusi keuangan sudah mencapai sekitar 80 persen. Semakin tinggi masyarakat memanfaatkan jasa maupun layanan keuangan, tetapi tidak diimbangi literasi keuangan, maka hal itu menjadi risiko tersendiri. Karena itu, kami membutuhkan dukungan dari berbagai pihak,” ujar Agus Muntholib.
Ia menjelaskan, ketimpangan antara inklusi dan literasi keuangan menjadi tantangan besar di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Banyak masyarakat yang sudah menggunakan layanan keuangan digital, namun belum memahami cara penggunaan yang aman dan bijak.
Mahasiswa dan anak muda disebut menjadi sasaran paling empuk karena memiliki mobilitas digital yang tinggi. Selain aktif menggunakan media sosial, generasi muda juga dinilai lebih mudah tertarik dengan berbagai tawaran instan yang menjanjikan keuntungan cepat.
Fenomena pinjaman online ilegal dan judi online saat ini bahkan semakin berkembang dengan berbagai modus baru. Tidak sedikit aplikasi maupun situs yang dikemas menyerupai permainan digital atau platform hiburan sehingga terlihat aman dan menarik bagi pengguna muda.
Padahal, di balik kemudahan tersebut terdapat risiko besar yang dapat berdampak pada kondisi finansial maupun psikologis seseorang. Banyak korban pinjaman online ilegal terjebak bunga tinggi, intimidasi penagihan, hingga penyalahgunaan data pribadi.
Sementara itu, judi online juga menjadi ancaman serius karena dapat menimbulkan kecanduan dan kerugian ekonomi. Tidak sedikit mahasiswa maupun anak muda yang akhirnya mengalami masalah keuangan akibat tergiur keuntungan instan dari perjudian digital.
Melihat kondisi tersebut, OJK Cirebon terus memperkuat edukasi keuangan kepada masyarakat, khususnya di lingkungan kampus dan kalangan pelajar. Edukasi dilakukan melalui seminar, sosialisasi, diskusi publik, hingga kolaborasi bersama berbagai pihak.
Agus Muntholib menegaskan bahwa peningkatan literasi keuangan tidak bisa dilakukan oleh OJK sendiri. Dibutuhkan keterlibatan banyak pihak mulai dari akademisi, pemerintah daerah, sektor perbankan, hingga legislatif untuk bersama-sama memberikan pemahaman kepada masyarakat.
Menurutnya, edukasi keuangan harus dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat benar-benar memahami cara mengelola keuangan secara sehat dan aman di era digital.
“Peran edukasi sangat penting agar masyarakat, khususnya generasi muda, tidak mudah tergoda layanan keuangan ilegal maupun aktivitas digital yang merugikan,” katanya.
Selain memberikan pemahaman mengenai bahaya pinjaman online ilegal dan judi online, OJK juga mendorong masyarakat agar lebih cermat dalam memilih layanan keuangan digital. Masyarakat diimbau memastikan legalitas aplikasi maupun platform keuangan sebelum digunakan.
Generasi muda juga diminta tidak mudah tergiur tawaran uang instan tanpa mempertimbangkan risiko yang akan dihadapi. Pasalnya, banyak layanan ilegal memanfaatkan kondisi ekonomi dan kebutuhan cepat masyarakat sebagai celah untuk menarik korban.
Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan teknologi digital memang membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Berbagai layanan keuangan kini dapat diakses hanya melalui telepon genggam, mulai dari pembayaran digital, investasi, hingga pinjaman dana cepat.
Namun di balik kemudahan tersebut, ancaman kejahatan digital juga ikut meningkat. Modus penipuan, pinjaman online ilegal, hingga perjudian digital semakin mudah menyasar masyarakat melalui media sosial dan aplikasi digital.
Karena itu, penguatan literasi keuangan dinilai menjadi langkah penting untuk melindungi masyarakat dari berbagai risiko keuangan digital. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat diharapkan mampu membedakan layanan legal dan ilegal serta lebih bijak dalam mengambil keputusan finansial.
OJK Cirebon sendiri terus memperluas jangkauan edukasi keuangan hingga berbagai daerah di wilayah kerjanya, mulai dari Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, hingga Kuningan.
Sosialisasi tidak hanya menyasar mahasiswa di perguruan tinggi, tetapi juga pelajar sekolah, komunitas pemuda, hingga masyarakat umum. Langkah ini dilakukan untuk membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya literasi keuangan sejak usia muda.
Di tengah maraknya penggunaan teknologi digital, generasi muda dinilai harus memiliki kemampuan mengelola keuangan yang baik agar tidak mudah terjebak dalam masalah ekonomi di masa depan. Pemahaman mengenai pengelolaan keuangan pribadi, investasi aman, hingga bahaya utang konsumtif menjadi materi penting dalam edukasi tersebut.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk lebih berhati-hati dalam menjaga data pribadi saat menggunakan layanan digital. Banyak kasus pinjaman online ilegal memanfaatkan akses data pribadi pengguna untuk melakukan intimidasi maupun penyebaran informasi pribadi saat proses penagihan.
OJK berharap melalui edukasi yang masif dan berkelanjutan, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya literasi keuangan dapat terus meningkat. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya menjadi pengguna aktif layanan keuangan digital, tetapi juga mampu memahami risiko dan memanfaatkannya secara bijak.
Peningkatan literasi keuangan juga diharapkan mampu menciptakan generasi muda yang lebih mandiri secara finansial, kritis terhadap tawaran investasi maupun pinjaman ilegal, serta lebih siap menghadapi perkembangan ekonomi digital di masa mendatang.
Melalui kolaborasi bersama berbagai pihak, OJK Cirebon optimistis upaya pencegahan terhadap bahaya pinjaman online ilegal dan judi online dapat berjalan lebih efektif. Generasi muda pun diharapkan menjadi lebih waspada dan tidak mudah terjerumus dalam praktik keuangan digital yang merugikan.
