Ilustrasi Human Food (Sumber Foto : Wikipedia)
Buletinmedia.com – Human food menjadi salah satu tren kuliner yang ramai diperbincangkan di China sepanjang 2026. Meski namanya terdengar seperti makanan biasa untuk manusia, tampilannya justru mengingatkan banyak orang pada pakan anjing atau makanan kucing. Fenomena ini pun memicu perdebatan di media sosial, mulai dari dianggap sebagai solusi hidup praktis hingga dinilai menghilangkan kenikmatan menikmati makanan.
Di balik tampilannya yang sederhana, tren ini lahir dari gaya hidup generasi muda China yang mengutamakan efisiensi. Mereka memilih menghabiskan waktu sesingkat mungkin untuk memasak agar memiliki lebih banyak waktu untuk bekerja, beristirahat, atau melakukan aktivitas lain.
Lantas, seperti apa sebenarnya human food yang sedang viral tersebut? Apakah benar-benar sehat atau hanya sekadar tren sesaat?
Apa Itu Human Food?
Human food merupakan istilah yang digunakan netizen China untuk menyebut makanan sederhana yang disiapkan dalam jumlah banyak sekaligus, kemudian disimpan dalam kondisi beku agar dapat dikonsumsi kapan saja.
Konsepnya sangat sederhana. Berbagai jenis sayuran dan sumber protein dipotong, dimasak secara terpisah, lalu disimpan dalam wadah khusus di freezer. Saat ingin makan, pemiliknya cukup mengambil sebagian isi wadah, memanaskannya menggunakan microwave, kemudian menambahkan sedikit garam atau bumbu sesuai selera.
Karena seluruh bahan dicampur tanpa memperhatikan tampilan, hasil akhirnya terlihat menyerupai makanan hewan peliharaan. Dari sinilah muncul sebutan human food.
Meski tampilannya sederhana, makanan ini tetap dibuat menggunakan bahan yang lazim dikonsumsi manusia dan memiliki kandungan gizi yang cukup lengkap.
Berasal dari Gaya Hidup Tang Ping
Popularitas human food tidak bisa dipisahkan dari munculnya budaya tang ping di China.
Tang ping, yang berarti “berbaring datar”, menggambarkan gaya hidup minimalis dengan mengurangi aktivitas yang dianggap menguras tenaga maupun pikiran. Banyak anak muda memilih hidup lebih sederhana dibanding harus terus mengejar standar kesuksesan yang tinggi.
Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip tersebut diterapkan dalam berbagai hal, termasuk memasak.
Alih-alih menghabiskan waktu satu hingga dua jam di dapur setiap hari, mereka cukup memasak sekali dalam seminggu.
Makanan yang sudah disiapkan tinggal dipanaskan beberapa menit sebelum disantap.
Cara ini dianggap jauh lebih efisien, terutama bagi pekerja kantoran yang memiliki jam kerja panjang.
Bahan-Bahan Human Food
Meski tampilannya sederhana, bahan yang digunakan sebenarnya cukup beragam.
Beberapa bahan yang paling sering digunakan antara lain:
- Brokoli
- Paprika hijau
- Jagung
- Jamur
- Wortel
- Daging sapi
- Dada ayam
- Udang
- Telur rebus
Semua bahan tersebut dimasak secara terpisah agar lebih mudah dikombinasikan saat akan disantap.
Sebagian orang hanya menambahkan sedikit garam.
Ada pula yang menggunakan lada hitam, oregano, atau saus rendah kalori agar rasanya lebih menarik.
Viral di Media Sosial China
Fenomena human food berkembang pesat melalui berbagai platform media sosial di China.
Tagar mengenai human food telah ditonton jutaan kali.
Banyak kreator konten membagikan cara menyiapkan stok makanan untuk satu minggu hanya dalam waktu beberapa jam.
Video-video tersebut memperlihatkan proses memotong sayuran, merebus daging, membagi ke dalam kotak penyimpanan, lalu memasukkannya ke freezer.
Banyak pekerja kantoran mengaku metode tersebut membuat mereka tidak perlu lagi memasak setiap hari.
Cukup memanaskan makanan selama beberapa menit, mereka sudah memperoleh menu makan siang maupun makan malam.
Mengapa Banyak Orang Menyukainya?
Ada beberapa alasan mengapa human food begitu diminati.
- Menghemat waktu
Persiapan makanan cukup dilakukan sekali dalam seminggu.
Hal ini membuat rutinitas harian menjadi jauh lebih ringan.
- Praktis
Tidak perlu memasak setiap hari.
Saat lapar, makanan tinggal dipanaskan menggunakan microwave.
- Mudah mengontrol kalori
Karena seluruh bahan ditakar sejak awal, pengguna lebih mudah mengetahui jumlah kalori yang dikonsumsi.
Inilah yang membuat human food juga populer di kalangan pelaku diet.
- Mengurangi pengeluaran
Membeli bahan makanan dalam jumlah besar sekaligus biasanya lebih murah dibanding membeli makanan siap saji setiap hari.
Selain itu, risiko makanan terbuang juga lebih kecil.
Digemari Pecinta Kebugaran
Menariknya, human food tidak hanya populer di kalangan pekerja kantoran.
Banyak pecinta olahraga dan kebugaran juga mulai mengadopsi konsep serupa.
Mereka memang sudah lama menerapkan meal prep atau menyiapkan makanan untuk beberapa hari ke depan.
Perbedaannya hanya pada penyebutan.
Meal prep lebih dikenal sebagai istilah kebugaran, sedangkan human food muncul sebagai istilah populer di media sosial China.
Karena didominasi sayuran, protein tanpa lemak, dan minim bumbu, menu ini dianggap cocok bagi mereka yang sedang menjaga berat badan.
Bahkan, sejumlah pengguna media sosial mengaku mengalami penurunan berat badan setelah rutin mengonsumsi human food selama beberapa hari.
Meski begitu, pengalaman tersebut bersifat individual dan tidak dapat dijadikan acuan ilmiah bagi semua orang.
Tidak Semua Orang Menyukai Tren Ini
Meski memiliki banyak pendukung, human food juga menuai kritik.
Sebagian netizen menilai makanan seharusnya tidak hanya berfungsi mengenyangkan, tetapi juga memberikan kebahagiaan.
Mereka menganggap tampilan human food terlalu sederhana sehingga menghilangkan pengalaman menikmati makanan.
Ada pula yang menilai konsep tersebut terlalu ekstrem.
Beberapa komentar menyebut makanan itu lebih menyerupai pakan hewan dibanding hidangan manusia.
Tak sedikit yang mengaku gagal saat mencoba membuatnya.
Masalah paling sering muncul ketika bahan makanan membeku menjadi satu gumpalan besar sehingga sulit dipisahkan saat akan dipanaskan.
Beberapa pengguna menyarankan agar wadah makanan diaduk beberapa kali selama proses pembekuan agar setiap bahan tidak saling menempel.
Apakah Human Food Benar-Benar Sehat?
Secara umum, bahan-bahan yang digunakan dalam human food memang tergolong sehat.
Sayuran menyediakan vitamin, mineral, dan serat.
Sementara daging, ayam, telur, maupun udang menjadi sumber protein berkualitas.
Namun, pola makan sehat tidak hanya ditentukan oleh bahan makanan.
Cara memasak, variasi menu, porsi, hingga kebutuhan gizi setiap orang juga harus diperhatikan.
Sebagian jenis sayuran bahkan memiliki kandungan nutrisi yang lebih mudah diserap tubuh setelah dimasak dengan teknik tertentu.
Sebaliknya, ada pula vitamin yang justru berkurang akibat proses pemanasan terlalu lama.
Karena itu, ahli gizi mengingatkan bahwa human food tidak bisa dianggap sebagai pola makan ideal bagi semua orang.
Tantangan Menyimpan Makanan Beku
Makanan yang dibekukan memang dapat bertahan lebih lama.
Namun, penyimpanan juga harus dilakukan dengan benar.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
- Gunakan wadah kedap udara.
- Simpan pada suhu freezer yang stabil.
- Pisahkan bahan mentah dan matang.
- Jangan membekukan ulang makanan yang sudah dicairkan.
- Konsumsi sesuai batas waktu penyimpanan.
Cara penyimpanan yang kurang tepat dapat memengaruhi rasa maupun kualitas makanan.
Cocokkah Diterapkan di Indonesia?
Konsep human food sebenarnya cukup mudah diterapkan di Indonesia.
Masyarakat dapat menyiapkan berbagai menu sehat seperti ayam rebus, tumis brokoli, wortel, jagung, buncis, telur, hingga ikan.
Semuanya bisa disimpan dalam wadah berbeda agar mudah dipadukan sesuai kebutuhan.
Namun, cita rasa makanan Indonesia yang kaya rempah membuat sebagian orang mungkin merasa kurang puas jika hanya mengonsumsi makanan dengan sedikit bumbu.
Karena itu, konsep meal prep yang dipadukan dengan bumbu khas Nusantara bisa menjadi alternatif yang lebih sesuai.
Kesimpulan
Tren human food yang viral di China menunjukkan bagaimana gaya hidup modern mendorong masyarakat mencari cara paling praktis dalam memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Dengan menyiapkan stok makanan sehat untuk beberapa hari sekaligus, banyak orang merasa lebih hemat waktu, lebih mudah mengontrol pola makan, sekaligus mengurangi pengeluaran.
Meski demikian, konsep ini bukan tanpa kekurangan. Tampilannya yang sederhana membuat sebagian orang menganggapnya kurang menggugah selera. Selain itu, penyimpanan makanan beku dan variasi nutrisi tetap perlu diperhatikan agar kebutuhan gizi harian terpenuhi secara seimbang.
Pada akhirnya, human food bisa menjadi pilihan bagi mereka yang memiliki aktivitas padat dan ingin menerapkan pola makan praktis. Namun, makanan tetap sebaiknya disusun sesuai kebutuhan gizi masing-masing, menggunakan bahan berkualitas, serta dikombinasikan dengan gaya hidup sehat seperti olahraga rutin dan istirahat yang cukup.
Sumber : www.food.detik.com
