Ilustrasi anak bermain gawai (Sumber Foto: iStock)
Buletinmedia.com – Anak yang lebih sering bermain gawai dan jarang beraktivitas di luar ruangan memiliki risiko lebih besar mengalami miopia atau mata minus sejak usia dini. Bahkan, kondisi tersebut bisa muncul sebelum anak berusia 8 tahun. Para dokter spesialis mata mengingatkan bahwa perubahan gaya hidup modern menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya kasus miopia pada anak-anak dalam beberapa tahun terakhir.
Aktivitas belajar yang semakin padat, penggunaan smartphone, tablet, dan komputer dalam waktu lama, serta minimnya paparan sinar matahari membuat kesehatan mata anak semakin rentan terganggu. Kondisi ini menjadi perhatian serius para ahli kesehatan mata karena miopia tidak lagi dianggap sekadar gangguan penglihatan biasa, tetapi juga dapat berkembang menjadi gangguan mata yang lebih berat apabila tidak ditangani sejak dini.
Kasus Mata Minus pada Anak Terus Meningkat
Miopia merupakan kondisi ketika seseorang mengalami kesulitan melihat objek yang berada pada jarak jauh. Hal ini terjadi karena bayangan benda jatuh di depan retina akibat bola mata memanjang atau kornea terlalu melengkung.
Beberapa tahun terakhir, jumlah anak yang mengalami mata minus terus mengalami peningkatan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Para ahli menyebut perubahan pola hidup menjadi penyebab terbesar meningkatnya angka tersebut.
Kini anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan dibandingkan bermain di luar rumah. Setelah pulang sekolah, banyak anak langsung melanjutkan kegiatan belajar tambahan atau menghabiskan waktu dengan bermain gadget.
Kondisi tersebut membuat mata terus bekerja dalam jarak dekat selama berjam-jam tanpa mendapatkan waktu istirahat yang cukup.
Paparan Sinar Matahari Penting untuk Kesehatan Mata
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Jakarta, Julie Dewi Barliana, menjelaskan bahwa aktivitas di luar ruangan memiliki manfaat besar dalam menjaga kesehatan mata anak.
Menurutnya, paparan cahaya alami dari sinar matahari membantu menghambat perkembangan miopia.
Sebaliknya, anak yang lebih sering melakukan aktivitas jarak dekat seperti membaca, menggunakan komputer, menonton tablet, maupun bermain ponsel dalam waktu lama memiliki peluang lebih tinggi mengalami mata minus.
Julie menjelaskan bahwa ada sejumlah faktor yang dapat membuat seorang anak masuk ke kelompok berisiko mengalami pre-miopia atau kondisi awal sebelum mata minus berkembang.
Beberapa faktor tersebut antara lain:
- Berusia di bawah 8 tahun.
- Berasal dari etnis Asia.
- Memiliki riwayat keluarga dengan mata minus.
- Jarang bermain di luar ruangan.
- Kurang mendapatkan paparan sinar matahari.
- Terlalu sering melakukan aktivitas melihat jarak dekat.
Apabila faktor-faktor tersebut ditemukan secara bersamaan, maka orang tua disarankan segera membawa anak melakukan pemeriksaan mata secara rutin.
Apa Itu Pre-Miopia?
Pre-miopia merupakan kondisi ketika mata anak sebenarnya belum mengalami rabun jauh, tetapi sudah menunjukkan tanda-tanda yang mengarah pada perkembangan mata minus.
Fase ini dianggap sebagai waktu terbaik untuk melakukan pencegahan agar miopia tidak berkembang semakin parah.
Pada anak usia sekitar 6 hingga 7 tahun, mata normal masih memiliki cadangan rabun dekat atau hiperopia sekitar +1 hingga +1,5 dioptri.
Namun apabila angka tersebut berkurang terlalu cepat atau bahkan menghilang sebelum waktunya, kondisi tersebut menjadi sinyal awal bahwa mata anak sedang menuju miopia progresif.
Semakin cepat kondisi ini dikenali, semakin besar peluang untuk memperlambat perkembangan mata minus.
Aktivitas Belajar dan Gadget Jadi Pemicu
Perubahan sistem pendidikan turut memengaruhi kebiasaan anak sehari-hari.
Jika dahulu anak biasanya pulang sekolah sekitar tengah hari dan masih memiliki banyak waktu bermain di luar rumah, kini jadwal sekolah jauh lebih panjang.
Banyak siswa baru pulang pada sore hari, kemudian melanjutkan les atau mengerjakan tugas sekolah.
Saat waktu senggang tiba, sebagian besar memilih bermain game, menonton video, atau menggunakan media sosial melalui smartphone.
Akibatnya, waktu untuk bermain di luar rumah menjadi semakin sedikit.
Padahal aktivitas luar ruangan memiliki manfaat penting bagi perkembangan mata.
WHO Ikut Menyoroti Gaya Hidup Anak
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya juga telah memberikan perhatian terhadap perubahan gaya hidup anak.
Peningkatan aktivitas sedentari atau gaya hidup kurang aktif serta tingginya durasi penggunaan layar dinilai berdampak tidak hanya terhadap kesehatan mata, tetapi juga kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan berbagai risiko kesehatan lain seperti obesitas, gangguan tidur, hingga penurunan kebugaran.
Karena itu, keseimbangan antara belajar, bermain, olahraga, dan penggunaan perangkat digital menjadi hal yang sangat penting.
Bermain di Luar Bisa Menekan Risiko Mata Minus
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa aktivitas di luar ruangan merupakan salah satu cara paling efektif untuk mencegah munculnya mata minus pada anak.
International Myopia Institute (IMI) bahkan memasukkan aktivitas luar ruangan sebagai salah satu rekomendasi utama dalam panduan pengendalian miopia.
Lembaga tersebut menyarankan anak menghabiskan waktu minimal dua jam setiap hari di luar ruangan.
Paparan cahaya alami dipercaya membantu merangsang pelepasan dopamin pada retina sehingga dapat menghambat pemanjangan bola mata yang menjadi penyebab utama miopia.
Selain itu, bermain di luar membuat mata lebih sering melihat objek dengan jarak yang bervariasi sehingga tidak terus-menerus fokus pada objek dekat.
Tanda-Tanda Mata Minus pada Anak
Orang tua sebaiknya mengenali beberapa gejala awal mata minus agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Beberapa tanda yang sering muncul antara lain:
- Sering memicingkan mata saat melihat benda jauh.
- Duduk terlalu dekat dengan televisi.
- Memegang ponsel atau buku sangat dekat dengan wajah.
- Mengeluh pandangan kabur.
- Sering mengucek mata.
- Mengalami sakit kepala setelah membaca.
- Prestasi belajar menurun karena kesulitan melihat tulisan di papan.
Jika gejala tersebut mulai terlihat, pemeriksaan ke dokter spesialis mata menjadi langkah yang disarankan.
Faktor Keturunan Juga Berpengaruh
Selain gaya hidup, faktor genetik juga memiliki peran penting.
Anak yang memiliki salah satu atau kedua orang tua dengan riwayat mata minus memiliki peluang lebih besar mengalami kondisi serupa.
Meski demikian, faktor keturunan bukan berarti tidak dapat dicegah.
Pola hidup sehat tetap mampu membantu memperlambat perkembangan miopia.
Karena itu, anak yang memiliki riwayat keluarga dengan mata minus justru dianjurkan lebih sering beraktivitas di luar ruangan.
Pentingnya Pemeriksaan Mata Sejak Dini
Pemeriksaan mata secara rutin menjadi salah satu langkah terbaik untuk mendeteksi gangguan penglihatan sebelum gejalanya semakin berat.
Idealnya, anak mulai menjalani pemeriksaan mata sejak usia prasekolah, terutama jika memiliki faktor risiko.
Dokter dapat memantau perkembangan mata sekaligus menentukan langkah penanganan apabila mulai ditemukan tanda-tanda pre-miopia.
Semakin cepat kondisi diketahui, peluang mengendalikan perkembangan mata minus juga semakin besar.
Teknologi Lensa untuk Mengendalikan Miopia
Perkembangan teknologi kesehatan mata juga menghadirkan berbagai inovasi untuk membantu mengendalikan miopia pada anak.
Presiden Direktur EssilorLuxottica Indonesia, Dailami Aziz, mengatakan miopia kini menjadi perhatian serius dalam dunia kesehatan sehingga diperlukan penanganan yang lebih komprehensif.
Perusahaan tersebut mengembangkan teknologi lensa HALT (Highly Aspherical Lenslet Target) yang dirancang tidak hanya memperbaiki penglihatan, tetapi juga membantu memperlambat pertambahan panjang bola mata.
Pertambahan panjang bola mata merupakan salah satu penyebab utama mata minus terus bertambah setiap tahun.
Meski demikian, penggunaan teknologi lensa tetap perlu disertai perubahan pola hidup sehat agar hasilnya lebih optimal.
Cara Mencegah Mata Minus pada Anak
Orang tua dapat melakukan sejumlah langkah sederhana untuk membantu menjaga kesehatan mata anak, di antaranya:
- Membatasi penggunaan gadget sesuai usia.
- Mengajak anak bermain di luar ruangan minimal dua jam setiap hari.
- Memberikan waktu istirahat mata setiap 20 menit saat belajar atau menggunakan layar.
- Menjaga jarak membaca sekitar 30 hingga 40 sentimeter.
- Memastikan pencahayaan ruangan cukup saat belajar.
- Mengonsumsi makanan bergizi yang kaya vitamin A, vitamin C, vitamin E, lutein, dan omega-3.
- Melakukan pemeriksaan mata secara berkala.
Kesimpulan
Meningkatnya kasus mata minus pada anak menjadi peringatan bagi orang tua untuk lebih memperhatikan pola aktivitas sehari-hari. Kebiasaan terlalu lama menggunakan gadget, minim bermain di luar ruangan, serta kurang mendapatkan paparan sinar matahari dapat mempercepat munculnya miopia, bahkan sebelum anak berusia 8 tahun.
Para dokter menegaskan bahwa pencegahan sejak dini jauh lebih efektif dibanding mengobati ketika kondisi sudah berkembang. Memberikan kesempatan anak bermain di luar rumah, membatasi waktu penggunaan perangkat digital, serta melakukan pemeriksaan mata secara rutin menjadi langkah sederhana yang dapat membantu menjaga kesehatan penglihatan mereka hingga dewasa. Dengan pola hidup yang lebih seimbang, risiko mata minus progresif dapat ditekan sehingga kualitas penglihatan anak tetap terjaga dalam jangka panjang.
Sumber : www.cnnindonesia.com
