Demam investasi emas yang tengah melanda masyarakat belakangan ini telah menimbulkan dampak nyata di lapangan: stok logam mulia menipis, toko-toko membatasi pembelian, dan antrean panjang menjadi pemandangan harian. Beberapa toko emas, khususnya yang menjual produk emas batangan Antam, mulai menerapkan pembatasan pembelian secara ketat sebagai respons atas lonjakan permintaan dan ketidakpastian harga.
Salah satu lokasi yang terdampak cukup signifikan adalah butik emas Logam Mulia milik Antam di kawasan Pulogadung, Jakarta. Di sana, pembeli kini harus lebih dari sekadar bermodal uang—mereka harus bersaing memperebutkan nomor antrean terbatas yang dibuka setiap pagi. Cerita ini dibagikan oleh seorang pengunjung bernama Rusni, yang mengaku sudah tiga hari berturut-turut datang ke butik namun baru bisa mendapat giliran hari ini.
“Hari Senin cuma sampai antrean nomor 70, Selasa 75, hari ini dibuka sampai 200 tapi pembelian dibatasi, satu orang cuma bisa beli tiga keping. Jadi walaupun antrean banyak, kuota pembelian dibatasi,” ujar Rusni, menceritakan perjuangannya yang akhirnya membuahkan hasil.
Sementara itu, Deden, pengunjung lain yang juga datang sejak sebelum matahari terbit, mengungkapkan bahwa mendapatkan nomor antrean merupakan perjuangan tersendiri. “Saya datang dari sebelum subuh, dapat nomor 75. Kalau nggak datang pagi-pagi ya bisa kehabisan antrean.”
Fenomena serupa juga terjadi di kawasan Cikini Gold Center (CGC), Jakarta Pusat, yang dikenal sebagai sentra perdagangan emas batangan. Di sana, toko-toko emas mengalami kelangkaan stok khususnya untuk produk Antam ‘redmark’, yang kini mulai langka di pasaran. Salah satu penjaga toko emas bernama Rofa menjelaskan bahwa pembatasan dilakukan karena ketersediaan barang sangat terbatas, bahkan kadang benar-benar kosong.
“Harga naik turun terus, stok susah ditebak. Kalau hari ini kita jual Rp2 juta, tapi besok restock harus beli Rp2,01 juta, kan kita rugi. Makanya kita batasi penjualannya supaya stok lama bisa habis dulu sebelum harga naik lagi,” jelasnya.
Harga emas yang terus naik ini sebagian besar dipicu oleh gejolak geopolitik global, terutama ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China yang kembali menghangat setelah Presiden AS Donald Trump mengobarkan kembali retorika proteksionisnya. Ketidakpastian global tersebut membuat emas kembali dilirik sebagai instrumen lindung nilai (safe haven) oleh investor besar maupun masyarakat umum.
Kondisi ini menciptakan ekosistem baru dalam dunia perdagangan logam mulia: toko-toko emas menjadi lebih selektif, pembeli harus lebih agresif, dan harga menjadi semakin sensitif terhadap dinamika global. Dalam situasi seperti ini, emas bukan hanya simbol kekayaan—melainkan medan kompetisi tersendiri.
