Peran chief engineer dinilai semakin strategis dalam menghadapi tantangan pengelolaan gedung modern di Cirebon (Foto : Darfan)
CIREBON, Buletinmedia.com – Peran chief engineer kini semakin penting seiring berkembangnya industri dan meningkatnya kebutuhan akan pengelolaan gedung yang aman, efisien, serta ramah lingkungan. Di berbagai sektor, mulai dari hotel, pusat perbelanjaan, kawasan industri, perkantoran, hingga rumah sakit, profesi ini menjadi ujung tombak dalam memastikan seluruh sistem bangunan dapat beroperasi secara optimal.
Tidak hanya bertanggung jawab terhadap perawatan fasilitas, seorang chief engineer juga memegang peran besar dalam menjaga keselamatan penghuni, pengunjung, maupun seluruh pekerja yang beraktivitas di dalam gedung. Berbagai tantangan baru, mulai dari efisiensi energi, pemanfaatan teknologi modern, hingga kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat, membuat profesi ini memiliki tanggung jawab yang semakin luas.
Di Cirebon, kebutuhan akan tenaga chief engineer yang kompeten juga terus meningkat. Pertumbuhan pembangunan hotel, pusat perbelanjaan, kawasan komersial, hingga fasilitas pelayanan kesehatan mendorong pengelola gedung untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang teknik bangunan.
Ketua Wilayah Asosiasi Chief Engineer Cirebon, Sardoyo, mengatakan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah bagaimana memanfaatkan energi secara lebih efisien tanpa mengurangi kualitas pelayanan maupun kenyamanan penghuni gedung.
“Tantangan terbesarnya yaitu bisa memanfaatkan energi yang ada karena itu yang paling banyak pengeluarannya. Kita harus hemat mana yang perlu dipakai atau tidak,” ujar Sardoyo.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa efisiensi energi kini menjadi salah satu fokus utama dalam pengelolaan gedung modern. Pengeluaran terbesar sebuah bangunan umumnya berasal dari penggunaan listrik untuk sistem pendingin ruangan, pencahayaan, pompa air, elevator, hingga berbagai perangkat mekanikal dan elektrikal lainnya.
Karena itu, chief engineer dituntut mampu melakukan perencanaan, pengawasan, serta evaluasi terhadap seluruh penggunaan energi agar operasional gedung tetap berjalan optimal namun tetap hemat biaya. Langkah tersebut tidak hanya memberikan keuntungan bagi pengelola bangunan, tetapi juga mendukung upaya pengurangan konsumsi energi yang berdampak positif terhadap lingkungan.
Selain efisiensi energi, chief engineer juga memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga seluruh sistem bangunan tetap berfungsi dengan baik setiap saat. Pemeriksaan rutin terhadap instalasi listrik, sistem pemadam kebakaran, jaringan air bersih, pendingin udara, generator cadangan, hingga sistem keamanan menjadi bagian dari pekerjaan yang harus dilakukan secara berkala.
Ketika terjadi gangguan teknis, chief engineer menjadi pihak pertama yang melakukan koordinasi untuk memastikan permasalahan dapat segera diatasi. Mulai dari kebocoran instalasi air, aktivasi fire alarm, detektor gempa, gangguan pada lift, hingga kerusakan sistem kelistrikan harus ditangani secara cepat agar aktivitas di dalam gedung tidak terganggu.
Kecepatan dalam mengambil keputusan menjadi faktor penting karena keterlambatan penanganan dapat menimbulkan risiko yang lebih besar, baik terhadap keselamatan manusia maupun keberlangsungan operasional gedung.
Dalam kondisi darurat, chief engineer juga harus mampu berkoordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari tim keamanan, petugas pemadam kebakaran, tenaga medis, hingga instansi terkait apabila diperlukan. Oleh karena itu, kemampuan teknis harus diimbangi dengan keterampilan komunikasi, kepemimpinan, serta pengambilan keputusan yang tepat.
Tidak hanya menguasai aspek teknis, seorang chief engineer juga harus mengikuti perkembangan teknologi yang terus mengalami perubahan. Saat ini berbagai gedung modern telah memanfaatkan sistem otomatisasi bangunan atau building automation system untuk mengendalikan penggunaan listrik, pencahayaan, pendingin ruangan, hingga sistem keamanan secara terintegrasi.
Teknologi tersebut memungkinkan penggunaan energi menjadi lebih efisien karena seluruh perangkat dapat bekerja sesuai kebutuhan operasional. Selain itu, pemantauan kondisi peralatan juga dapat dilakukan secara real time sehingga potensi kerusakan dapat diketahui lebih awal sebelum menimbulkan gangguan yang lebih besar.
Perkembangan teknologi ini membuat profesi chief engineer harus terus meningkatkan kompetensi melalui pelatihan, sertifikasi, maupun kegiatan berbagi pengalaman bersama sesama praktisi.
Wakil Ketua Asosiasi Chief Engineer Cirebon, Kimto, menyampaikan bahwa penerapan teknologi hemat energi di wilayah Cirebon sudah mulai berkembang, terutama dalam penggunaan energi terbarukan.
“Untuk teknologi terbarukan di Cirebon sendiri sudah banyak contoh. Di bidang elektrikal dan penerangan kini menggunakan solar cell. Dengan adanya gathering ini kita bisa belajar tentang penghematan energi berupa pemakaian elektrik, air dan pendingin, dan sejauh ini berjalan dengan baik,” ujar Kimto.
Menurutnya, penggunaan solar cell atau panel surya menjadi salah satu langkah nyata dalam mendukung efisiensi energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap listrik konvensional. Selain itu, pengelolaan penggunaan air serta sistem pendingin ruangan juga menjadi perhatian utama karena kedua sektor tersebut memberikan kontribusi besar terhadap biaya operasional sebuah gedung.
Melalui berbagai kegiatan pelatihan dan gathering yang diikuti para chief engineer, diharapkan terjadi pertukaran pengalaman mengenai teknologi terbaru, metode perawatan fasilitas, hingga strategi penghematan energi yang dapat diterapkan di masing-masing tempat kerja.
Target zero accident juga masih menjadi prioritas utama dalam pengelolaan gedung modern. Seluruh sistem keselamatan harus dipastikan berfungsi dengan baik agar risiko kecelakaan kerja maupun insiden terhadap penghuni gedung dapat ditekan semaksimal mungkin.
Untuk mewujudkan target tersebut, pemeriksaan berkala terhadap seluruh fasilitas wajib dilakukan sesuai standar operasional. Simulasi keadaan darurat, pengecekan alat pemadam api ringan (APAR), hydrant, alarm kebakaran, sistem evakuasi, hingga jalur penyelamatan menjadi bagian dari upaya pencegahan yang tidak boleh diabaikan.
Semakin baik sistem perawatan yang dilakukan, semakin kecil pula kemungkinan terjadinya kerusakan yang dapat mengganggu aktivitas maupun membahayakan keselamatan pengguna gedung.
Di tengah perkembangan pembangunan di Cirebon yang terus meningkat, kebutuhan terhadap chief engineer profesional diperkirakan akan semakin besar. Banyaknya pembangunan hotel, pusat bisnis, kawasan industri, apartemen, rumah sakit, hingga gedung pelayanan publik membutuhkan tenaga teknik yang memiliki kemampuan sesuai perkembangan teknologi.
Hal tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan bagi para profesional di bidang teknik bangunan untuk terus meningkatkan kompetensi agar mampu mengikuti kebutuhan industri yang semakin dinamis.
Asosiasi Chief Engineer Cirebon juga terus mendorong anggotanya untuk meningkatkan kemampuan melalui berbagai kegiatan edukasi, pelatihan, sertifikasi, serta forum diskusi. Langkah tersebut diharapkan mampu menghasilkan tenaga chief engineer yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital dan penerapan konsep bangunan hemat energi.
Dengan kompetensi yang terus ditingkatkan, para chief engineer diharapkan mampu menghadirkan pengelolaan gedung yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan. Keandalan fasilitas, keselamatan penghuni, serta efisiensi penggunaan energi menjadi tiga aspek utama yang harus berjalan secara seimbang agar operasional gedung dapat berlangsung tanpa hambatan.
Ke depan, peran chief engineer diprediksi akan semakin strategis seiring meningkatnya kebutuhan terhadap bangunan modern yang mengedepankan keselamatan, kenyamanan, efisiensi energi, serta pemanfaatan teknologi ramah lingkungan. Melalui profesionalisme dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, chief engineer akan tetap menjadi salah satu elemen penting dalam mendukung perkembangan sektor properti dan industri di Cirebon maupun daerah lainnya.
