Kondisi air yang menggenang di Desa Bangkaloa Ilir, Kecamatan Widasari, Kabupaten Indramayu, Senin (19/1/2026). (Foto: Burhannudin/detikJabar)
Meningkatnya intensitas hujan dalam beberapa waktu terakhir menjadi sinyal kewaspadaan bagi masyarakat, khususnya warga yang tinggal di kawasan bantaran sungai. Curah hujan tinggi di wilayah hulu berpotensi memicu kenaikan debit air yang berdampak langsung ke daerah hilir, termasuk Kabupaten Indramayu.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indramayu mencatat terdapat 45 titik tanggul yang masuk kategori rawan, dengan 23 titik di antaranya berstatus kritis dan membutuhkan penanganan segera.
Puluhan titik rawan tersebut tersebar di sejumlah kecamatan. Kecamatan Tukdana tercatat memiliki 7 titik kritis, disusul Jatibarang dengan 5 titik. Sementara itu, masing-masing 2 titik berada di Kecamatan Losarang, Sukagumiwang, dan Cikedung. Adapun Kecamatan Terisi, Lohbener, Sindang, dan Lelea masing-masing terpantau memiliki satu titik tanggul dalam kondisi mengkhawatirkan. Seluruh tanggul tersebut berada di sepanjang aliran Sungai Cimanuk, Cipanas, dan Cibuaya.
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kabupaten Indramayu, Warhadi, menegaskan bahwa kondisi ini perlu mendapat perhatian serius karena potensi banjir masih cukup tinggi, terutama jika hujan deras terus berlangsung.
Kekhawatiran serupa juga dirasakan warga. Salah satunya Nuryadi, yang mengaku air kerap meluap hingga masuk ke rumahnya saat debit sungai meningkat. Ia mengaku selalu melaporkan kondisi tanggul yang mulai melemah kepada pihak terkait.
“Kadang air masuk sampai ke dalam rumah. Kalau melihat tanggul mulai kritis, saya langsung lapor,” ujarnya.
Warga berharap pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan dengan pemantauan intensif dan perbaikan tanggul secara cepat agar risiko banjir dapat diminimalkan. “Semoga ada langkah nyata sehingga kekhawatiran kami bisa berkurang,” pungkasnya.
