Sekolah kebanjiran, aktivitas kegiatan belajar mengajar lumpuh (Foto : Darfan)
CIREBON, Buletinmedia.com – Banjir yang melanda Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, tidak hanya merendam permukiman warga, tetapi juga mengganggu aktivitas pendidikan. Pada Selasa pagi, sebuah sekolah menengah pertama di wilayah tersebut ikut terendam banjir, sehingga kegiatan belajar mengajar lumpuh total. Sekolah yang terdampak adalah Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Pangenan, yang berada tepat di jalur Pantura Pangenan dan tidak jauh dari aliran Sungai Singaraja. Air menggenangi hampir seluruh lingkungan sekolah sehingga sarana pendidikan itu tampak seperti kolam, dengan ketinggian air mencapai sekitar 80 sentimeter. Kondisi ini memaksa pihak sekolah mengambil keputusan sulit untuk meliburkan siswa demi keselamatan.
Banjir yang merendam SMPN 2 Pangenan terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah Kabupaten Cirebon sejak malam sebelumnya. Curah hujan yang tinggi menyebabkan Sungai Singaraja meluap dan mengalir deras ke pemukiman serta fasilitas umum di sekitar, termasuk area sekolah. Pada Selasa pagi, seluruh area sekolah dipenuhi genangan air akibat luapan sungai. Air berwarna kecokelatan tampak menutup halaman sekolah hingga masuk ke dalam ruang-ruang kelas. Kondisi ini membuat lingkungan sekolah tidak dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar karena selain licin, juga berpotensi membahayakan siswa dan guru.
Hampir seluruh ruangan di SMPN 2 Pangenan terendam banjir. Ruang kelas, ruang guru, ruang kesiswaan, hingga fasilitas pendukung lainnya tidak luput dari genangan air setinggi sekitar 80 sentimeter. Perabotan sekolah seperti meja, kursi, lemari, dan perlengkapan belajar mengajar tampak terendam air. Beberapa barang berharga terpaksa dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindari kerusakan yang lebih parah. Bahkan, beberapa buku pelajaran dan perangkat teknologi sekolah berisiko rusak akibat air yang merendam ruangan. Kondisi ini menunjukkan bahwa banjir tidak hanya mengganggu proses belajar, tetapi juga berpotensi merusak aset sekolah yang bernilai tinggi.
Kepala sekolah bersama para guru terpaksa mengambil keputusan untuk meliburkan siswa karena kondisi sekolah yang tidak memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat belajar. Selain mengganggu proses belajar mengajar, genangan air juga dinilai membahayakan keselamatan siswa. Aliran listrik di lingkungan sekolah pun dimatikan sebagai langkah antisipasi untuk mencegah terjadinya korsleting. Keputusan peliburan diambil demi menghindari risiko kejadian yang tidak diinginkan, seperti terpeleset atau tersengat listrik. Sementara itu, pihak sekolah juga melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk menunggu kondisi banjir surut dan memastikan keamanan sebelum kegiatan belajar kembali berjalan.
Banjir yang merendam SMPN 2 Pangenan bukanlah kejadian pertama. Sekolah ini diketahui kerap terendam banjir setiap kali hujan deras mengguyur wilayah tersebut dalam waktu yang cukup lama. Sejak musim penghujan berlangsung, sekolah ini sudah beberapa kali mengalami kejadian serupa. Kondisi ini membuat warga sekolah merasa khawatir karena banjir selalu datang setiap musim hujan dan belum ada solusi permanen. Faktor utama penyebab banjir adalah meluapnya Sungai Singaraja yang berada tidak jauh dari lokasi sekolah. Sungai ini menjadi sumber banjir setiap kali debit air meningkat drastis akibat hujan di hulu.
Tingginya kiriman air dari wilayah hulu sungai menjadi pemicu utama meluapnya Sungai Singaraja. Curah hujan yang tinggi membuat kapasitas sungai tidak mampu menampung debit air sehingga air meluap dan menggenangi wilayah sekitar, termasuk area sekolah. Kondisi sungai yang mengalami pendangkalan juga memperparah situasi karena aliran air menjadi tidak lancar. Sedimentasi dan endapan lumpur di dasar sungai mengurangi kapasitas aliran, sehingga air cepat meluap saat hujan deras. Selain itu, sampah yang menyumbat aliran juga menjadi penyebab banjir semakin cepat meluas ke permukiman warga dan area sekolah.
Akibat banjir ini, kegiatan belajar mengajar di SMPN 2 Pangenan lumpuh total. Para siswa harus kembali belajar dari rumah sambil menunggu kondisi sekolah kembali normal. Pihak sekolah juga belum dapat memastikan kapan aktivitas belajar mengajar bisa kembali dilaksanakan secara tatap muka, mengingat hingga siang hari genangan air masih belum surut. Para orang tua siswa pun merasa khawatir karena proses belajar anak-anak mereka terhambat. Banyak orang tua yang harus mencari alternatif belajar, baik melalui daring maupun belajar mandiri di rumah. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri karena tidak semua siswa memiliki akses internet atau fasilitas belajar yang memadai di rumah.
Meski kegiatan belajar mengajar diliburkan, sebagian siswa tetap mendatangi sekolah. Mereka datang bukan untuk mengikuti pelajaran, melainkan untuk melihat kondisi sekolah serta mengambil jatah makan bergizi gratis yang tetap disalurkan. Program makan bergizi gratis tersebut tetap berjalan meskipun sekolah diliburkan, sehingga para siswa datang secara bergantian untuk mengambil jatah makanan. Program ini menjadi salah satu bentuk perhatian sekolah terhadap kebutuhan siswa, terutama bagi mereka yang mengandalkan makanan di sekolah sebagai asupan harian. Kehadiran siswa untuk mengambil makanan menunjukkan bahwa meskipun kegiatan belajar berhenti, kebutuhan dasar tetap harus terpenuhi.
Salah satu siswi SMPN 2 Pangenan, Bunga Riska, mengaku sudah terbiasa dengan kondisi banjir di sekolahnya. Namun, menurutnya, banjir kali ini merupakan yang terparah dibandingkan kejadian sebelumnya. Ia mengatakan bahwa banjir yang terjadi membuat seluruh siswa diliburkan dan menyebabkan kelelahan karena harus membersihkan kelas setelah air surut. “Iya, tetap berangkat ke sekolah untuk ambil makan bergizi gratis saja. Memang sering banjir kalau malamnya hujan besar, tapi yang ini paling parah dan semuanya diliburkan. Maunya sih enggak banjir lagi, karena capek harus bersih-bersih kelas setelah banjir,” ujar Bunga Riska. Ucapan ini menggambarkan betapa banjir tidak hanya mengganggu proses belajar, tetapi juga memengaruhi kondisi fisik dan mental siswa.
Para siswa dan guru mengaku harus bekerja ekstra setiap kali banjir melanda. Setelah air surut, mereka harus membersihkan lumpur dan sampah yang mengendap di lantai kelas, dinding, serta halaman sekolah. Kondisi ini dinilai sangat mengganggu proses belajar mengajar dan berdampak pada kenyamanan serta kesehatan warga sekolah. Lumpur yang menumpuk juga dapat menyebabkan bau tidak sedap dan menjadi sumber penyakit jika tidak segera dibersihkan. Oleh karena itu, proses pembersihan dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan membutuhkan waktu cukup lama. Selain itu, peralatan sekolah yang rusak akibat banjir juga perlu diperbaiki atau diganti, sehingga membutuhkan biaya tambahan.
Hingga siang hari, kondisi SMPN 2 Pangenan masih terendam banjir dengan ketinggian air yang belum mengalami penurunan signifikan. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih mengguyur sejumlah wilayah di Kabupaten Cirebon, sehingga dikhawatirkan genangan air akan bertahan lebih lama. Warga sekolah pun terus memantau perkembangan kondisi cuaca dan genangan air. Jika hujan terus turun, potensi banjir susulan semakin besar. Oleh karena itu, pihak sekolah dan warga sekitar tetap waspada dan menunggu informasi resmi dari pihak terkait.
Pihak sekolah dan warga berharap Pemerintah Kabupaten Cirebon segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan banjir yang terus berulang. Normalisasi Sungai Singaraja, perbaikan sistem drainase, serta pembangunan tanggul penahan air dinilai menjadi solusi yang mendesak agar banjir tidak terus merendam sarana pendidikan. Upaya normalisasi sungai dinilai penting karena dapat meningkatkan kapasitas aliran air dan mencegah luapan ke pemukiman. Selain itu, perbaikan drainase di sekitar sekolah juga dapat membantu mengalirkan air dengan lebih cepat saat hujan deras.
Warga sekolah berharap agar permasalahan banjir ini dapat segera teratasi sehingga kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan normal. Mereka menilai pendidikan tidak seharusnya terganggu oleh bencana yang terus berulang setiap musim hujan. Dengan adanya penanganan yang serius dari pemerintah, diharapkan sekolah dapat menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi para siswa untuk menimba ilmu. Banjir yang merendam SMPN 2 Pangenan menjadi pengingat penting bahwa penanganan banjir harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Jika tidak segera diatasi, banjir akan terus menjadi ancaman yang mengganggu pendidikan dan kehidupan masyarakat di Kabupaten Cirebon.
