Ilustrasi Kebaya (dok. Shutterstock)
Buletinmedia.com – Sebuah tonggak sejarah baru saja ditancapkan oleh bangsa Indonesia di panggung budaya global. Setelah melalui perjuangan panjang yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, kebaya kini resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO. Kabar menggembirakan ini dikukuhkan melalui penyerahan salinan sertifikat penetapan yang berlangsung khidmat di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, pada Selasa, 2 November.
Keberhasilan ini bukan sekadar pencapaian administratif, melainkan wujud nyata dari kekuatan kolaborasi dan diplomasi budaya. Penetapan ini merupakan hasil dari Sidang ke-19 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of Intangible Cultural Heritage yang diselenggarakan di Asunción, Paraguay, pada akhir tahun 2024 lalu. Khusus untuk kebaya, pengakuan ini diraih melalui jalur nominasi multinasional bersama empat negara tetangga di Asia Tenggara, yakni Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Kolaborasi Tanpa Batas: Kunci Kesuksesan Kebaya
Ketua Tim Nasional Kebaya Indonesia, Lana T. Koentjoro, dalam sambutannya menegaskan bahwa penyerahan sertifikat ini adalah momentum perayaan atas sinergi yang luar biasa. Menurutnya, keberhasilan membawa kebaya ke level dunia tidak terlepas dari komitmen tak tergoyahkan dari komunitas pengusul serta perjuangan kolektif yang memakan waktu tidak sebentar.
“Penyerahan salinan sertifikat ini adalah bukti nyata kolaborasi berbagai pihak dalam melestarikan kebaya sebagai identitas budaya Indonesia. Komitmen dari komunitas pengusul serta perjuangan panjang yang telah dilakukan adalah pondasi utama dari pengakuan dunia ini,” ujar Lana dengan nada bangga.
Lana juga mengingatkan bahwa pengakuan dari UNESCO bukanlah garis finis. Sebaliknya, ini adalah langkah awal untuk memperkuat strategi pelestarian agar kebaya tetap relevan di mata generasi muda. Ia menekankan pentingnya membangun ekosistem di mana kebaya tidak hanya dipandang sebagai pakaian formal masa lalu, tetapi sebagai bagian dari gaya hidup modern yang membanggakan di tingkat internasional.
Diplomasi Melalui Literasi: Buku “Kebaya Keanggunan yang Diwariskan”
Sejalan dengan semangat pelestarian tersebut, upaya memperluas apresiasi global juga dilakukan melalui jalur literasi. Miranti Serad Ginanjar, Editor Kepala buku “Kebaya Keanggunan yang Diwariskan”, menjelaskan bahwa penerbitan karya literatur ini merupakan strategi jitu untuk memperkenalkan kebaya sebagai living heritage atau warisan yang tetap hidup di tengah masyarakat.
Miranti meyakini bahwa buku tersebut dapat menjadi jembatan diplomasi budaya yang efektif. Melalui narasi dan visualisasi yang apik, dunia internasional dapat melihat lebih dalam mengenai nilai estetika, kerumitan tradisi, hingga kreativitas tinggi yang dituangkan oleh para perempuan Indonesia dalam selembar kebaya.
“Kami ingin membuka ruang apresiasi yang lebih luas bagi pembaca global. Dengan semakin terbukanya akses informasi, peluang kolaborasi antara desainer papan atas, perajin kain tradisional, hingga pelaku UMKM kebaya di pelosok daerah akan semakin terbuka lebar,” tambah Lana T. Koentjoro menanggapi peluncuran buku tersebut.
Prosesi Penyerahan dan Kehadiran Multi-Elemen Budaya
Acara yang berlangsung di Museum Nasional Indonesia tersebut menjadi simbol kerja sama lintas kementerian. Kementerian Luar Negeri secara resmi menyerahkan sertifikat UNESCO kepada Kementerian Kebudayaan. Selanjutnya, sertifikat tersebut akan diteruskan kepada pemerintah daerah serta komunitas pengusul sebagai pemangku kepentingan utama di lapangan.
Kehadiran tokoh-tokoh penting seperti Putri Kus Wisnu Wardani, Lestari Moerdijat, dan Kartini Sjahrir sebagai pembina Tim Nasional Kebaya Indonesia menunjukkan betapa seriusnya dukungan dari berbagai lapisan. Tim Nasional Kebaya sendiri merupakan payung besar bagi beragam komunitas, mulai dari:
-
Perempuan Indonesia Maju
-
Pertiwi Indonesia
-
Citra Kartini Indonesia
-
Kebaya Foundation
-
Perempuan Berkebaya Indonesia
-
Rampak Sarinah, dan banyak lagi.
Tak hanya kebaya, pada kesempatan yang sama, Kementerian Kebudayaan juga menerima sertifikat UNESCO untuk dua elemen budaya agung lainnya, yaitu Kolintang dan Reog Ponorogo. Kehadiran perwakilan negara-negara ASEAN dan Afrika, akademisi, serta mitra diplomasi internasional dalam acara tersebut menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan kekayaan budaya paling berpengaruh di dunia.
Mengukuhkan Nilai Budaya di Mata Dunia
Endah T.D. Retnoastuti, Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, memberikan catatan penting mengenai pengakuan ini. Menurutnya, penetapan oleh UNESCO adalah validasi bahwa budaya Indonesia memiliki nilai-nilai luhur yang diakui secara universal.
“Pengakuan ini membuktikan bahwa budaya kita memiliki makna yang dalam bagi kemanusiaan. Namun, tugas terberat kita sekarang adalah memastikan tradisi ini tetap hidup, tetap dipakai, dan tetap memiliki makna fungsional bagi masyarakat kita sendiri. Kita tidak ingin warisan ini hanya berakhir di dalam kotak pajangan museum,” tegas Endah.
Menuju Masa Depan: Kebaya dan Generasi Z
Tantangan terbesar pasca-penetapan UNESCO adalah bagaimana merangkul Generasi Z dan Milenial agar tidak merasa asing dengan kebaya. Strategi yang diusung oleh Tim Nasional Kebaya Indonesia mencakup promosi melalui media sosial, kolaborasi dengan desainer muda untuk menciptakan potongan kebaya yang lebih kasual, hingga mendorong penggunaan kebaya dalam aktivitas sehari-hari, seperti Kebaya Goes to Campus atau Kebaya Goes to Work.
Dengan statusnya sebagai Warisan Dunia, kebaya kini memiliki “paspor” untuk berkeliling dunia melalui berbagai pameran kebudayaan mancanegara. Hal ini diharapkan mampu mendongkrak industri kreatif dalam negeri, di mana para perajin bordir, penjahit, dan penjual kain tradisional dapat merasakan dampak ekonomi langsung dari popularitas kebaya yang mendunia.
Kesimpulan: Kebaya Adalah Identitas Bangsa
Penetapan kebaya oleh UNESCO adalah kemenangan bagi seluruh perempuan Indonesia. Ia adalah simbol keanggunan, ketangguhan, dan keragaman etnis yang disatukan dalam satu busana. Melalui kolaborasi multinasional dengan Brunei, Malaysia, Singapura, dan Thailand, kebaya juga menjadi simbol persaudaraan rumpun Melayu dan Asia Tenggara di mata dunia.
Kini, tugas kita adalah merawatnya. Memberikan ruang bagi kebaya untuk tetap bernapas dalam dinamika zaman yang terus berubah. Sebagaimana yang disampaikan oleh para tokoh budaya, pengakuan internasional ini adalah undangan bagi kita semua untuk kembali mencintai dan mengenakan identitas bangsa kita sendiri dengan penuh rasa bangga.
Sumber : www.voi.id
