Ilustrasi/copyright shutterstock.com
Buletinmedia.com – Kerak telor merupakan salah satu kuliner khas Betawi yang telah menjadi ikon tak tergantikan dalam identitas Jakarta. Meskipun sering dijajakan di pinggir jalan, makanan ini bukan sekadar jajanan biasa. Ia mencerminkan kekayaan budaya masyarakat Betawi dan menjadi bagian penting dalam berbagai perayaan kota, terutama saat ulang tahun DKI Jakarta. Cita rasa dan tampilannya yang khas membuat kerak telor tetap bertahan di tengah gempuran kuliner modern.
Secara sederhana, kerak telor adalah campuran beras ketan dan telur ayam atau bebek, yang kemudian diberi ebi (udang kering), bawang goreng, dan serundeng. Sajian ini dimasak di atas wajan kecil dengan bara api, tanpa menggunakan minyak. Setelah satu sisi matang, wajan dibalik sehingga adonan matang sempurna langsung di atas bara. Teknik memasak ini menjadi ciri khas yang menarik perhatian wisatawan dan pecinta kuliner tradisional.
Tekstur kerak telor sangat unik: bagian luarnya renyah, sementara bagian dalamnya lembut dan lengket. Perpaduan bumbu seperti lada putih, kencur, jahe, garam, dan gula menciptakan rasa yang gurih dan aromatik. Kekayaan rasa inilah yang membuat kerak telor tetap digemari lintas generasi, dari anak-anak hingga orang tua, baik warga lokal maupun wisatawan yang datang ke Jakarta.
Menariknya, meskipun dikenal luas sejak tahun 1970-an di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, jejak sejarah kerak telor sebenarnya sudah ada sejak masa kolonial Belanda. Kala itu, sajian ini sempat dianggap sebagai hidangan eksotis oleh kaum elite Belanda karena penggunaan bahan-bahan lokal yang kaya rempah. Di bawah kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin, kerak telor mulai dipromosikan sebagai makanan khas Jakarta dan semakin dikenal masyarakat luas, terutama lewat kehadirannya di Pekan Raya Jakarta setiap Juni.
Kini, kerak telor tidak hanya dikenal sebagai makanan khas, tapi juga simbol budaya Betawi. Penjualnya kerap tampil dengan pakaian adat seperti baju pangsi dan membawa pikulan sebagai bagian dari tradisi. Keunikan bahan, cara memasak, dan nilai sejarah yang terkandung menjadikan kerak telor sebagai warisan kuliner yang patut dijaga dan dikenalkan ke generasi berikutnya. Lebih dari sekadar makanan, kerak telor adalah cerminan identitas dan kekayaan budaya masyarakat Betawi.
