Foto: Getty Images/uzhursky
Pemilihan Paus di Vatikan bukan hanya soal doa dan suara para kardinal, tapi juga menghadirkan sisi tak terduga yang tersembunyi di balik dinding-dinding Istana Apostolik—yakni aturan super ketat mengenai penyajian makanan. Ketika Paus Fransiskus wafat, proses pemilihan pemimpin baru Gereja Katolik dimulai lewat prosesi conclave—ritual sakral yang dilangsungkan secara tertutup dan penuh protokol.
Pada 8 Mei 2025, Kardinal Robert Prevost terpilih sebagai Paus baru dan kini dikenal sebagai Paus Leo XIV. Namun, di balik megahnya momen itu, ada kisah unik tentang bagaimana para kardinal ‘diberi makan’ selama proses suci ini berlangsung. Tidak hanya sekadar makan bersama, melainkan sebuah sistem pengawasan makanan yang menyamai standar intelijen negara.
🍝 1. Makanan Biasa di Tengah Kejadian Luar Biasa
Para kardinal yang datang dari berbagai penjuru dunia untuk berpartisipasi dalam conclave tidak disuguhi makanan mewah. Sebaliknya, menu yang diberikan sangat sederhana. Mereka makan di kantin khusus di Casa Santa Maria yang berada dalam kompleks Istana Vatikan. Makanan yang disajikan berupa spaghetti polos, sayur rebus, sup ringan, dan kadang olahan domba sederhana—tanpa hiasan berlebihan dan cenderung hambar.
Kardinal Gianfranco Ravasi pernah menyebut rasa makanannya “tidak memuaskan,” mencerminkan bahwa kemewahan kuliner bukan bagian dari ritual ini. Justru kesederhanaan rasa ini sengaja dihadirkan untuk menjaga fokus dan kesucian suasana.
🛡️ 2. Larangan Makanan dari Luar Demi Kesucian Proses
Mengapa makanan terasa begitu polos dan terbatas? Jawabannya ada pada kekhawatiran bahwa makanan bisa menjadi saluran komunikasi ilegal. Selama conclave, seluruh kardinal diasingkan dari dunia luar demi menjamin pemilihan berlangsung murni dan tanpa pengaruh.
Oleh karena itu, hanya makanan yang dimasak di dalam Vatikan yang diperbolehkan. Bahkan menu seperti ravioli isi, pie, pasta berlubang, atau ayam utuh dilarang keras—karena bentuk tertutup mereka bisa menjadi ‘kendaraan’ untuk pesan rahasia. Makanan bukan hanya makanan, tapi bisa menjadi alat sabotase.
👩🍳 3. Para Biarawati: Chef Rahasia Vatikan
Tugas mulia (dan berat) untuk menyiapkan makanan ini dipercayakan kepada para biarawati yang telah disumpah untuk menjaga kerahasiaan. Mereka memasak di dapur Domus Sanctae Marthae—rumah kediaman Paus—dan memastikan setiap makanan dikirimkan ke kardinal secara aman, steril, dan penuh kerahasiaan.
Tidak sembarang orang boleh menyentuh makanan ini. Para biarawati tidak hanya berperan sebagai juru masak, tapi juga sebagai ‘penjaga tembok rahasia’ agar tidak ada kebocoran informasi yang bisa mempengaruhi hasil pemilihan.
🕰️ 4. Tradisi Pengawasan Makanan Sejak Abad ke-13
Fakta mencengangkan: sistem ketat ini sudah diterapkan sejak tahun 1274 oleh Paus Gregory X. Jauh sebelum teknologi modern, Vatikan sudah menerapkan sistem pengawasan tinggi terhadap penyajian makanan selama conclave.
Segala hal dicek, mulai dari alat makan, serbet, bahkan limbah makanan. Tujuannya jelas: menjaga proses conclave dari sabotase dan risiko keracunan. Ada petugas khusus yang bertugas memeriksa setiap piring makanan sebelum disajikan—mirip seperti pengujian makanan untuk kepala negara.
Dapur Vatikan selama conclave ternyata bukan sekadar tempat memasak, tetapi juga pusat pertahanan spiritual dan fisik para kardinal. Makanan bukan hanya soal rasa, tapi tentang menjaga kemurnian, kejujuran, dan kesucian pemilihan pemimpin tertinggi umat Katolik sedunia.
