illustrasi/freepik
Jerawat adalah masalah kulit yang bisa menyerang siapa saja, baik remaja maupun orang dewasa. Penyebabnya pun beragam, mulai dari faktor hormonal, genetik, lingkungan, hingga pola makan. Sayangnya, banyak mitos seputar jerawat yang beredar luas, membuat banyak orang percaya pada informasi yang tidak akurat. Akibatnya, cara perawatan yang diterapkan bisa salah dan justru memperburuk kondisi kulit.
Agar tidak terjebak dalam informasi yang keliru, berikut beberapa mitos populer tentang jerawat yang sudah terbantahkan oleh penelitian dan para ahli.
Mitos 1: Jerawat Hanya Dialami oleh Remaja
✅ Fakta: Jerawat tidak hanya menyerang remaja, tetapi juga bisa muncul pada orang dewasa.
Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the American Academy of Dermatology, sebanyak 50% orang berusia 20-29 tahun, 35% di usia 30-39 tahun, 26% di usia 40-49 tahun, dan bahkan 15% orang di atas 50 tahun masih mengalami jerawat.
Para ahli menyebut bahwa jerawat dewasa sering dipicu oleh faktor hormon, stres, penggunaan kosmetik, serta efek samping obat-obatan tertentu. Jadi, jika kamu berpikir jerawat akan hilang seiring bertambahnya usia, sayangnya itu tidak sepenuhnya benar!
Mitos 2: Makan Cokelat Bisa Menyebabkan Jerawat
✅ Fakta: Tidak ada bukti ilmiah yang secara langsung menyatakan bahwa cokelat memicu jerawat.
Sebuah studi kecil memang menemukan bahwa konsumsi cokelat memiliki korelasi dengan munculnya jerawat dibandingkan dengan mengonsumsi makanan lain seperti kacang jelly. Namun, penelitian dalam Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology tidak menemukan hubungan langsung antara cokelat dan jerawat.
Dermatologis menjelaskan bahwa cokelat mengandung gula dan susu, yang dapat berkontribusi terhadap peradangan pada kulit. Namun, belum bisa dipastikan apakah cokelat itu sendiri yang menjadi penyebab jerawat, atau kandungan lain di dalamnya.
Mitos 3: Produk Susu Bisa Memicu Jerawat
✅ Fakta: Beberapa penelitian observasional menunjukkan adanya korelasi antara susu, terutama susu skim, dengan peningkatan jerawat.
Dalam American Journal of Clinical Nutrition, sebuah meta-analisis menemukan bahwa orang yang mengonsumsi susu skim lebih berisiko mengalami jerawat dibandingkan mereka yang tidak. Jillian Greaves, MPH, RD, LDN, seorang ahli diet integratif, menjelaskan bahwa konsumsi susu dapat meningkatkan sekresi insulin dan hormon IGF-1, yang memicu produksi minyak berlebih di kulit.
Namun, penting untuk dicatat bahwa penelitian ini bersifat korelasional—artinya, meskipun ada hubungan antara konsumsi susu dan jerawat, belum ada bukti yang membuktikan bahwa susu secara langsung menjadi penyebab utama jerawat.
Mitos 4: Makanan Berminyak Memperparah Jerawat
✅ Fakta: Tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa makanan berminyak secara langsung menyebabkan jerawat.
Dalam survei oleh Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics, sebanyak 71% responden percaya bahwa makanan berminyak memperburuk jerawat, padahal penelitian belum menemukan hubungan langsung.
Menurut Greaves, pola makan tinggi lemak jenuh dan gula dapat meningkatkan peradangan dalam tubuh, yang bisa berkontribusi terhadap jerawat. Namun, makanan berminyak bukan satu-satunya penyebab jerawat. Justru yang lebih berisiko adalah minyak dari tangan yang menyentuh wajah setelah makan makanan berminyak, karena dapat menyumbat pori-pori dan memicu jerawat.
Mitos 5: Jerawat Disebabkan oleh Kulit yang Kotor
✅ Fakta: Jerawat bukan akibat dari kulit yang kotor.
Sebagian besar reaksi yang menyebabkan jerawat terjadi di dalam kulit, bukan di permukaan. Oleh karena itu, mencuci muka secara berlebihan justru bisa merusak lapisan perlindungan kulit, membuatnya lebih kering, dan memicu produksi minyak berlebih yang memperburuk jerawat. Idealnya, mencuci wajah cukup dua kali sehari dengan pembersih yang lembut.
Mitos 6: Memencet Jerawat Bisa Mempercepat Penyembuhan
✅ Fakta: Memencet jerawat justru bisa memperburuk kondisi kulit.
Menurut penelitian dalam Dermatologic Surgery, memanipulasi jerawat secara fisik (memencet komedo atau jerawat) bisa meningkatkan risiko peradangan, infeksi, hingga hiperpigmentasi yang sulit dihilangkan. Sebaiknya, gunakan perawatan berbasis asam salisilat atau benzoyl peroxide untuk membantu mengatasi jerawat tanpa merusak kulit.
Mitos 7: Aktivitas Seksual Bisa Memengaruhi Jerawat
✅ Fakta: Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa berhubungan seks atau masturbasi bisa memperburuk atau memperbaiki jerawat.
Jerawat lebih banyak dipengaruhi oleh faktor hormon, stres, dan genetika, bukan aktivitas seksual.
Mitos 8: Berjemur Bisa Membantu Menghilangkan Jerawat
✅ Fakta: Paparan sinar matahari bukan solusi untuk mengatasi jerawat.
Sebaliknya, sinar UV dapat merusak kulit, meningkatkan risiko penuaan dini, dan bahkan memperburuk jerawat dalam jangka panjang. Selain itu, banyak obat jerawat yang membuat kulit lebih sensitif terhadap matahari, sehingga berjemur tanpa perlindungan bisa berisiko tinggi bagi kesehatan kulit.
Mitos 9: Jerawat Bisa Menular
✅ Fakta: Jerawat bukan penyakit menular dan tidak bisa berpindah dari satu orang ke orang lain.
Meskipun bakteri Propionibacterium acnes berperan dalam perkembangan jerawat, bakteri ini secara alami hidup di kulit dan bukan merupakan agen infeksi yang bisa menular seperti virus flu atau cacar air.
Mitos 10: Pasta Gigi Bisa Menghilangkan Jerawat
✅ Fakta: Pasta gigi justru bisa membuat jerawat semakin meradang.
Meskipun pasta gigi mengandung zat antibakteri, kandungan fluoride dan deterjen di dalamnya bisa menyebabkan iritasi dan peradangan pada kulit. Menurut penelitian dalam Journal of Dermatological Treatment, penggunaan pasta gigi untuk mengeringkan jerawat malah bisa memperparah kondisi kulit. Sebagai gantinya, gunakan produk spot treatment yang diformulasikan khusus untuk jerawat agar lebih aman dan efektif.
Kesimpulan: Jangan Percaya Mitos, Rawat Kulit dengan Cara yang Benar!
Banyak informasi keliru tentang jerawat yang beredar di masyarakat. Daripada percaya mitos yang belum terbukti kebenarannya, lebih baik berpegang pada fakta ilmiah dan menerapkan perawatan yang tepat. Jika jerawat terus berlanjut atau semakin parah, konsultasikan dengan dokter kulit untuk mendapatkan solusi yang sesuai dengan kondisi kulitmu. 😊✨
