Penemuan Ubur-ubur Hantu Raksasa di Laut Dalam Panjangnya Melebihi Bus Sekolah (Tangkapan Layar)
Buletinmedia.com – Sekelompok ilmuwan berhasil menemukan ubur-ubur hantu raksasa yang langka saat melakukan ekspedisi laut dalam di perairan Argentina. Penemuan ini menjadi salah satu momen paling mengejutkan dalam ekspedisi tersebut karena ukuran ubur-ubur yang luar biasa besar, bahkan panjangnya melebihi ukuran bus sekolah.
Spesies ubur-ubur hantu raksasa ini dikenal dengan nama latin Stygiomedusa gigantea. Penampakan hewan laut yang jarang terlihat ini terjadi pada Desember 2025 lalu di Samudra Atlantik, sekitar 820 kaki (sekitar 250 meter) di bawah permukaan laut. Lokasi penemuan berada di zona laut tengah yang dikenal sebagai “midnight zone”, wilayah yang gelap total dan sangat sulit dijangkau manusia.
Momen Mengejutkan bagi Tim Ekspedisi
María Emilia Bravo, ahli biologi kelautan dari University of Buenos Aires sekaligus kepala peneliti ekspedisi, menyebut penemuan ubur-ubur hantu raksasa sebagai momen yang mengejutkan dan sulit dipercaya. Ia mengaku merasakan campuran antusiasme dan ketidakpercayaan ketika melihat makhluk tersebut muncul di layar.
“Ada campuran rasa antusias dan tidak percaya,” ujar Bravo, mengutip The New York Times.
“Kehadirannya yang terasa halus dan rapuh di lingkungan yang sangat ekstrem itu benar-benar mengejutkan,” tambahnya.
Kesan “halus dan rapuh” ini menguatkan kesan bahwa ubur-ubur hantu raksasa adalah makhluk laut dalam yang adaptif terhadap tekanan tinggi dan kegelapan total. Meski ukurannya besar, tubuhnya tetap tampak lembut dan hampir transparan, seperti bayangan yang bergerak pelan di dalam kegelapan.
Penemuan Terjadi Saat Mengoperasikan ROV SuBastian
Tim peneliti menemukan ubur-ubur hantu raksasa saat mengoperasikan kendaraan bawah laut tanpa awak (ROV) bernama SuBastian. ROV ini digunakan untuk menjelajahi dasar laut dalam ekspedisi yang menyusuri garis pantai Argentina. Ekspedisi tersebut dioperasikan oleh Schmidt Ocean Institute, lembaga riset yang fokus pada eksplorasi laut dalam.
Kehadiran ROV menjadi kunci penemuan ini. Dengan teknologi canggih, ilmuwan bisa menjelajah area laut yang sebelumnya sulit dijangkau, merekam video, serta mengambil data penting tanpa harus turun langsung ke kedalaman ekstrem.
Ubur-Ubur Hantu Raksasa Tidak Memiliki Tentakel Penyengat
Berbeda dari ubur-ubur pada umumnya, ubur-ubur hantu raksasa tidak memiliki tentakel penyengat. Hewan ini menangkap mangsa dengan cara yang unik, yakni menggunakan lengan berbentuk pita untuk menarik plankton atau ikan kecil ke mulutnya. Cara makan ini membuat ubur-ubur hantu raksasa terlihat seperti “jaring hidup” yang bergerak perlahan di perairan dalam.
Ukuran ubur-ubur ini pun sangat mengesankan. Tubuhnya dapat tumbuh hingga berdiameter sekitar 1 meter, sementara lengan atau pita panjangnya dapat mencapai hingga 10 meter. Panjang ini bahkan lebih panjang daripada bus sekolah di Indonesia yang rata-rata sekitar 7 meter. Meski memiliki ukuran besar, ilmuwan hanya mencatat sekitar 120 penampakan ubur-ubur hantu raksasa sejak spesimen pertama dikoleksi pada 1899.
Habitat di “Midnight Zone” yang Gelap Total
Stygiomedusa gigantea hidup di zona laut tengah yang dikenal sebagai midnight zone, pada kedalaman antara 3.300 hingga 13.100 kaki (sekitar 1.000 hingga 4.000 meter). Zona ini sepenuhnya gelap dan memiliki tekanan air yang sangat tinggi. Karena kondisi ekstrem tersebut, manusia jarang bisa mengamati makhluk laut dalam secara langsung.
Teknologi seperti ROV menjadi alat penting untuk menembus kegelapan dan tekanan laut dalam. Steve Haddock dari Monterey Bay Aquarium Research Institute menyebut bahwa ROV memungkinkan ilmuwan melihat hewan laut dalam di habitat alaminya, bukan hanya dari spesimen yang diangkat ke permukaan.
Target Ekspedisi: Mencari Cold Seep di Dasar Laut
Ekspedisi Argentina yang dioperasikan Schmidt Ocean Institute sebenarnya memiliki target utama mencari cold seep. Cold seep adalah area dasar laut tempat gas metana dan hidrogen sulfida keluar dari retakan batuan. Gas tersebut menjadi sumber energi bagi mikroba laut dalam dan membentuk dasar rantai makanan di lingkungan tersebut.
Dalam ekspedisi tersebut, tim berhasil menemukan satu cold seep aktif dengan luas hampir setengah mil persegi. Penemuan ini menjadi salah satu temuan penting karena cold seep memiliki peran besar dalam ekosistem laut dalam dan menjadi lokasi yang kaya akan keanekaragaman hayati.
Keanekaragaman Hayati Tinggi di Laut Dalam Argentina
Selain menemukan ubur-ubur hantu raksasa, tim peneliti juga mencatat tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi di perairan Argentina. Mereka berhasil mengidentifikasi terumbu karang Bathelia candida terbesar dengan luas sekitar 0,15 mil persegi, hampir setara luas Kota Vatikan. Terumbu karang ini ditemukan sekitar 370 mil lebih selatan dari sebaran yang selama ini diketahui, sehingga menjadi penemuan baru yang penting bagi ilmu kelautan.
Tim juga mendokumentasikan fenomena whale fall, yakni bangkai paus yang jatuh ke dasar laut dan menjadi sumber makanan bagi berbagai organisme laut dalam. Bangkai paus tersebut ditemukan pada kedalaman sekitar 12.800 kaki dan menjadi catatan pertama whale fall yang tercatat di Argentina. Fenomena whale fall menciptakan ekosistem sementara yang dapat menopang kehidupan organisme laut dalam selama bertahun-tahun.
Penemuan 28 Spesies Baru yang Potensial
Tak hanya ubur-ubur hantu raksasa, peneliti juga mencatat adanya 28 spesies yang berpotensi baru bagi sains. Temuan tersebut mencakup berbagai organisme laut dalam seperti cacing, bulu babi, karang, siput laut, dan anemon laut. Penemuan ini menunjukkan bahwa laut dalam masih menyimpan banyak misteri dan potensi keanekaragaman hayati yang belum terungkap.
Pentingnya Eksplorasi Laut Dalam untuk Sains dan Konservasi
Penemuan ubur-ubur hantu raksasa di laut dalam Argentina menegaskan pentingnya eksplorasi laut dalam bagi ilmu pengetahuan. Laut dalam merupakan wilayah yang masih minim dijelajahi, padahal di dalamnya terdapat ekosistem unik yang memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan planet.
Selain itu, data dan temuan dari ekspedisi ini dapat membantu para ilmuwan memahami perubahan iklim, migrasi spesies, hingga potensi sumber daya laut yang ramah lingkungan. Dengan terus mengembangkan teknologi eksplorasi, seperti ROV dan sensor canggih, ilmuwan dapat mengungkap lebih banyak rahasia laut dalam tanpa merusak habitat aslinya.
Sumber : www.kumparan.com
