Fenomena kematian massal ikan dewa atau ikan kancra putih di wisata Balong Girang Cigugur, Kabupaten Kuningan (Foto : Darfan)
KUNINGAN, Buletinmedia.com – Fenomena kematian massal ikan dewa di objek wisata Balong Girang Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, menjadi perhatian publik. Hingga Rabu siang, jumlah ikan dewa atau yang dikenal juga sebagai ikan kancra putih yang mati dilaporkan telah mencapai lebih dari 800 ekor. Jumlah tersebut diperkirakan masih dapat bertambah seiring proses penanganan dan pendataan yang terus dilakukan petugas di lokasi.
Kematian massal ikan dewa di Balong Girang Cigugur ini diduga disebabkan oleh serangan cacing parasit serta faktor cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kuningan dalam beberapa waktu terakhir. Perubahan cuaca yang tidak menentu dengan intensitas hujan tinggi diduga berdampak pada penurunan kualitas air kolam, sehingga memicu kematian ikan secara bertahap.
Sejumlah petugas tampak disibukkan dengan proses evakuasi bangkai ikan dewa dari dalam kolam. Setiap hari, petugas harus mengangkat puluhan hingga ratusan ikan yang mati. Bahkan dalam satu hari, jumlah ikan dewa yang mati bisa mencapai sekitar 100 ekor. Kondisi ini tentu menjadi pukulan berat, mengingat ikan dewa merupakan ikon Kabupaten Kuningan sekaligus daya tarik utama wisata religi dan budaya di Balong Girang Cigugur.
Ikan-ikan yang mati kemudian dimasukkan ke dalam drum dan ember sebelum akhirnya dikubur untuk mencegah pencemaran lingkungan serta bau tidak sedap. Proses pengangkutan dilakukan secara manual oleh petugas dengan tetap memperhatikan kebersihan area kolam. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi agar bangkai ikan tidak semakin memperburuk kualitas air.
Petugas dari Dinas Perikanan Kabupaten Kuningan juga telah melakukan berbagai upaya penanganan. Salah satunya dengan memisahkan ikan dewa yang masih hidup ke kolam karantina menggunakan pompa mesin untuk mempercepat proses pemindahan air. Kolam karantina disiapkan sebagai langkah penyelamatan terhadap sisa populasi ikan dewa yang masih bertahan.
Namun demikian, upaya tersebut belum sepenuhnya membuahkan hasil maksimal. Kematian ikan dewa dilaporkan masih terus terjadi meski jumlahnya mulai dipantau secara ketat. Dari total sekitar 1.000 ekor ikan dewa yang sebelumnya menghuni kolam Balong Girang Cigugur, lebih dari 800 ekor dilaporkan telah mati. Artinya, sebagian besar populasi ikan dewa di lokasi tersebut terdampak.
Berdasarkan hasil laboratorium sementara, ditemukan adanya cacing parasit pada bangkai ikan dewa yang diperiksa. Parasit tersebut diduga menjadi salah satu penyebab utama melemahnya kondisi ikan sebelum akhirnya mati. Selain itu, faktor cuaca ekstrem yang menyebabkan perubahan suhu dan kualitas air secara drastis turut memperparah kondisi ikan. Air kolam yang keruh dan kadar oksigen yang menurun menjadi lingkungan yang tidak ideal bagi kelangsungan hidup ikan dewa.
Petugas Wisata Balong Girang Cigugur, Rohman Suradi, menjelaskan bahwa jumlah ikan dewa yang mati memang sangat signifikan dalam beberapa hari terakhir. “Jumlah ikan dewa yang mati mencapai kurang lebih 800 ekor. Bahkan dalam sehari bisa mencapai sekitar 100 ekor. Untuk penanganannya sudah ditangani oleh instansi terkait,” ujarnya.
Kematian massal ikan dewa di Balong Girang Cigugur ini tentu menimbulkan kekhawatiran masyarakat, mengingat ikan dewa bukan sekadar satwa air biasa. Ikan kancra putih tersebut memiliki nilai historis dan kultural yang tinggi bagi masyarakat Kuningan. Banyak pengunjung datang ke lokasi tersebut untuk melihat langsung keberadaan ikan dewa yang dianggap sakral dan tidak boleh diperjualbelikan maupun dikonsumsi.
Menanggapi kondisi ini, Pemerintah Kabupaten Kuningan melalui Dinas Perikanan terus melakukan penelitian mendalam guna memastikan penyebab pasti kematian massal ikan dewa. Pemerintah daerah juga berkoordinasi dengan pihak laboratorium dan tenaga ahli perikanan untuk mendapatkan hasil analisis yang lebih komprehensif.
Selain penelitian, langkah konkret yang dilakukan adalah menguras air kolam secara bertahap guna memperbaiki kualitas air. Pengurasan dilakukan untuk mengurangi potensi penyebaran parasit serta meningkatkan kadar oksigen di dalam air. Air kolam yang baru diharapkan dapat membantu menyelamatkan sisa populasi ikan dewa yang masih hidup.
Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, menyampaikan bahwa pemerintah daerah tidak tinggal diam menghadapi kejadian ini. “Pemerintah Kabupaten Kuningan melalui Dinas Perikanan masih terus meneliti penyebab kematian ratusan ikan dewa dan melakukan pengurasan kolam untuk mencegah jumlahnya bertambah,” ujarnya.
Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi berlebihan terkait penyebab kematian ikan dewa sebelum hasil penelitian final diumumkan. Saat ini, fokus utama adalah penyelamatan sisa ikan yang masih hidup serta pemulihan ekosistem kolam di Balong Girang Cigugur.
Peristiwa kematian massal ikan dewa di Kuningan ini menjadi evaluasi penting dalam pengelolaan kawasan wisata berbasis konservasi. Ke depan, pengawasan kualitas air, sistem filtrasi, serta pemantauan kesehatan ikan akan ditingkatkan guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan, diharapkan kondisi kolam Balong Girang Cigugur dapat segera pulih dan populasi ikan dewa sebagai ikon Kabupaten Kuningan dapat kembali terjaga
