ilustrasi data biometrik (unsplash.com/Onur Binay)
Buletinmedia.com – Maraknya aplikasi World yang menawarkan insentif finansial setelah pemindaian iris mata memicu kekhawatiran publik mengenai keamanan data biometrik di Indonesia. Meski pihak pengembang mengklaim data aman dan terenkripsi, banyak yang mempertanyakan di mana data biometrik disimpan dan siapa yang sebenarnya memiliki akses. Hal ini membuka kesadaran masyarakat bahwa data biometrik seperti sidik jari, wajah, dan iris mata merupakan aset digital yang sangat berharga dan rentan disalahgunakan.
Data biometrik bisa diretas melalui berbagai cara seperti skimming, spoofing, hingga replay attack. Skimming dilakukan dengan mencuri data melalui perangkat tersembunyi yang dipasang pada pemindai. Spoofing memanfaatkan replika biometrik seperti sidik jari palsu atau gambar iris untuk menipu sistem. Sedangkan replay attack terjadi ketika peretas merekam data saat pemindaian sah berlangsung, lalu memutarnya kembali untuk mendapatkan akses ilegal. Serangan-serangan ini menunjukkan bahwa teknologi biometrik tidak sepenuhnya kebal terhadap peretasan.
Risiko dari pencurian data biometrik sangat besar karena data ini bersifat permanen dan tidak bisa diubah seperti kata sandi. Jika data jatuh ke tangan yang salah, pelaku bisa menyamar sebagai pemilik data untuk mengakses sistem, rekening, atau layanan tertentu. Di sisi lain, bagi perusahaan, kebocoran data biometrik dapat menimbulkan konsekuensi berat seperti tuntutan hukum, denda, hilangnya kepercayaan konsumen, hingga kerugian finansial jangka panjang. Tidak sedikit bisnis yang kehilangan reputasi akibat lalai melindungi data sensitif pelanggannya.
Untuk mengurangi risiko, individu maupun perusahaan perlu menerapkan langkah-langkah pengamanan seperti Multi-Factor Authentication (MFA). Sistem ini menggabungkan pemindaian biometrik dengan metode autentikasi lain seperti kata sandi atau token fisik, sehingga memperkuat lapisan keamanan. Pembaruan sistem secara rutin juga penting untuk menutup celah keamanan, karena update biasanya mencakup perbaikan terhadap bug atau kerentanan baru. Selain itu, pelatihan keamanan siber bagi karyawan diperlukan agar mereka mampu mengenali potensi ancaman seperti perangkat skimming.
Perlindungan data biometrik harus menjadi prioritas dalam dunia digital yang makin bergantung pada autentikasi tubuh manusia. Pengamanan tidak cukup hanya dengan teknologi, tetapi juga perlu dibarengi dengan edukasi publik. Menjaga data biometrik bukan sekadar menjaga privasi, tapi juga masa depan digital yang aman dan terpercaya untuk semua pihak. Pemerintah, perusahaan, dan individu harus bekerja sama dalam menciptakan sistem keamanan data yang kuat dan berkelanjutan.
