Karier politik Wahyudin Moridu, anggota DPRD Provinsi Gorontalo, seketika jungkir balik gara-gara sebuah video yang viral di media sosial. Dalam rekaman itu, Wahyudin terlihat tengah mengemudi menuju Makassar, Sulawesi Selatan, ditemani seorang perempuan. Dengan kondisi diduga mabuk, ia melontarkan kalimat yang membuat publik geram:
“Kita hari ini menuju Makassar menggunakan uang negara. Kita rampok aja uang negara ini. Kita habiskan aja biar negara ini semakin miskin.”
Pernyataan itu memicu badai. Dari hanya sebuah video, dampaknya merembet hingga mengancam kursi DPRD, harta kekayaannya disorot KPK, bahkan masa depannya di partai politik runtuh.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) langsung turun tangan. Jubir KPK, Budi Prasetyo, menegaskan bahwa lembaga antirasuah sedang meneliti Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) milik Wahyudin.
Dari data terakhir tahun 2024, Wahyudin justru melaporkan kekayaan minus Rp 2 juta. Ia mengaku hanya memiliki rumah warisan senilai Rp 180 juta dan tabungan Rp 18 juta, dengan utang mencapai Rp 200 juta.
“Kami akan cek kesesuaian pelaporannya. Pelaporan LHKPN tidak boleh hanya formalitas, tapi harus jujur,” kata Budi mengingatkan.
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), tempat Wahyudin bernaung, juga tak tinggal diam. Pada 20 September 2025, DPP PDI-P menerbitkan Surat Keputusan pemecatan yang ditandatangani langsung oleh Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dan Sekjen Hasto Kristiyanto.
Isi surat itu gamblang: Wahyudin dipecat dari keanggotaan partai dan dilarang melakukan kegiatan atas nama PDI-P. Partai juga menegaskan bahwa ucapannya di video viral itu adalah tanggung jawab pribadi, bukan sikap resmi partai.
Selain soal politik dan harta, publik juga dibuat penasaran dengan sosok perempuan yang terekam bersama Wahyudin. Belakangan, Badan Kehormatan (BK) DPRD Gorontalo mengungkap bahwa wanita berinisial D lah yang menyebarkan video tersebut.
Menurut keterangan Ketua BK DPRD, Fikram Salilama, perempuan itu nekat menyebarkan video karena merasa dikecewakan. D disebut sempat meminta dinikahi oleh Wahyudin, namun keinginannya tak dituruti.
“Wanita ini ngotot ingin dinikahi. Karena tidak dituruti, akhirnya video disebar,” jelas Fikram.
Wahyudin sendiri mengaku tidak tahu kalau dirinya direkam pada saat kejadian. BK DPRD pun berencana memanggil perempuan tersebut untuk dimintai keterangan, guna memastikan motif di balik perekaman dan penyebaran video.
Dalam hitungan hari, hidup Wahyudin berubah drastis. Dari seorang legislator yang punya jabatan, ia kini berhadapan dengan ancaman kehilangan kursi DPRD, sorotan tajam KPK, stigma publik, hingga masalah pribadi yang menyeret hubungannya dengan seorang perempuan.
Satu kalimat yang diucapkan dalam kondisi mabuk kini menyeretnya ke dalam pusaran masalah hukum, politik, hingga rumah tangga.
