Wakil Ketua DPRD Cirebon Akhirnya Minta Maaf imbas Viral Komentar Soal Pendemo MBG (Foto : Darfan)
CIREBON, Buletinmedia.com – Komentar Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon, Nana Kencanawati, terhadap seorang perempuan yang mengikuti aksi demonstrasi terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sorotan publik. Pernyataan yang disampaikan melalui media sosial tersebut ramai diperbincangkan setelah dinilai mengarah pada penghinaan fisik atau body shaming terhadap peserta aksi.
Komentar tersebut menyebar luas di berbagai platform media sosial dan memicu beragam reaksi dari masyarakat. Sejumlah warganet menyayangkan pernyataan tersebut karena dianggap tidak mencerminkan sikap seorang pejabat publik dalam merespons penyampaian aspirasi masyarakat.
Nana Kencanawati yang merupakan politisi Partai Gerindra Kabupaten Cirebon kemudian menjadi sasaran kritik dari pengguna media sosial. Setelah polemik tersebut berkembang, ia akhirnya memberikan klarifikasi sekaligus menyampaikan permintaan maaf atas komentar yang sebelumnya dibuat.
Menurut Nana, komentar tersebut ditulis secara spontan dan tidak bermaksud untuk menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat. Ia juga menegaskan bahwa pernyataan tersebut merupakan tanggung jawab pribadi dan tidak berkaitan dengan sikap partai maupun lembaga DPRD Kabupaten Cirebon.
Kronologi Komentar Wakil Ketua DPRD Cirebon yang Viral
Peristiwa ini bermula saat aksi unjuk rasa yang melibatkan ribuan mahasiswa berlangsung di Kota Cirebon, Jawa Barat, pada Senin sore. Dalam aksi tersebut, sejumlah masyarakat turut hadir untuk menyampaikan pendapat, salah satunya seorang perempuan bernama Denok.
Dalam aksi tersebut, Denok menyampaikan dukungan terhadap tuntutan mahasiswa yang salah satunya berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Aksi dan pernyataannya kemudian mendapat perhatian setelah sejumlah media memberitakan kehadirannya dalam demonstrasi tersebut.
Salah satu unggahan mengenai aksi tersebut kemudian mendapatkan komentar dari akun media sosial milik Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon, Nana Kencanawati.
Komentar yang ditulis Nana berbunyi:
“Lagian siapa yang mau kasih lo makan???? Udah gembrot!!!!”
Komentar tersebut kemudian viral setelah tangkapan layarnya beredar luas di media sosial. Banyak masyarakat menilai kalimat tersebut tidak pantas disampaikan, terlebih berasal dari seorang pejabat publik yang memiliki posisi sebagai wakil rakyat.
Sejumlah warganet menilai komentar tersebut dapat dikategorikan sebagai bentuk penghinaan terhadap fisik seseorang atau body shaming. Kritik pun bermunculan karena masyarakat menganggap pejabat publik seharusnya mampu menjaga etika komunikasi, terutama ketika memberikan tanggapan terhadap masyarakat yang sedang menyampaikan aspirasi.
Tuai Kritik dari Warganet
Setelah komentar tersebut ramai diperbincangkan, akun media sosial Nana Kencanawati mendapatkan berbagai tanggapan dari pengguna internet. Banyak warganet menyampaikan kritik dan meminta agar pejabat publik lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial.
Menurut sejumlah masyarakat, perbedaan pendapat dalam demokrasi merupakan hal yang wajar. Namun, penyampaian kritik maupun respons terhadap sebuah aksi sebaiknya tetap dilakukan dengan bahasa yang santun dan menghargai pihak lain.
Terlebih, aksi demonstrasi merupakan salah satu bentuk penyampaian aspirasi yang dilindungi dalam sistem demokrasi. Karena itu, setiap pihak, termasuk pejabat publik, dinilai perlu mengedepankan komunikasi yang bijak ketika memberikan tanggapan.
Komentar tersebut juga mendapat perhatian karena berkaitan dengan isu sensitif mengenai penghinaan fisik. Body shaming menjadi salah satu persoalan yang sering mendapatkan sorotan karena dapat berdampak pada kondisi psikologis seseorang.
Nana Kencanawati Sampaikan Permintaan Maaf
Di tengah gelombang kritik yang muncul, Nana Kencanawati akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui akun media sosial pribadinya.
Ia mengaku komentar tersebut dibuat secara spontan dan menyadari bahwa pernyataannya telah menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat. Nana juga menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada Denok sebagai pihak yang menjadi sasaran komentar tersebut.
“Saya atas nama pribadi memohon maaf untuk Bunda Denok atas komentar saya yang viral kemarin. Semoga dengan kejadian ini membuat pembelajaran buat saya ke depan agar menjadi pribadi yang lebih baik,” ujar Nana Kencanawati.
Selain meminta maaf, Nana juga menegaskan bahwa komentar tersebut merupakan pendapat pribadi dan tidak mewakili Partai Gerindra maupun lembaga DPRD Kabupaten Cirebon.
Permintaan maaf tersebut menjadi langkah Nana untuk meredam polemik yang sebelumnya berkembang luas di masyarakat.
Akun Media Sosial Nana Diubah Menjadi Privat
Setelah menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf, kolom komentar pada akun media sosial Nana Kencanawati ditutup. Akun tersebut juga diubah menjadi mode privat sehingga tidak dapat diakses secara terbuka oleh pengguna lain.
Meski demikian, tangkapan layar komentar yang sebelumnya telah beredar masih terus menjadi pembahasan masyarakat. Sebagian warganet masih memperbincangkan persoalan tersebut dan menyoroti pentingnya etika komunikasi bagi pejabat publik.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa penggunaan media sosial oleh tokoh publik memiliki perhatian yang besar dari masyarakat. Setiap pernyataan yang disampaikan dapat dengan cepat menyebar dan mendapatkan respons luas.
Pentingnya Etika Pejabat Publik dalam Bermedia Sosial
Kasus komentar Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon ini kembali menunjukkan bahwa media sosial bukan hanya menjadi ruang interaksi pribadi, tetapi juga menjadi ruang publik yang dapat memengaruhi citra seseorang, terutama bagi pejabat pemerintahan maupun wakil rakyat.
Pejabat publik memiliki tanggung jawab lebih besar dalam menjaga komunikasi dengan masyarakat. Kritik terhadap kebijakan atau tindakan tertentu dapat disampaikan dengan berbagai cara, namun tetap harus memperhatikan etika dan menghormati pihak lain.
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran dalam mengawasi sikap dan perilaku para pejabat yang dipilih untuk mewakili kepentingan publik.
Polemik komentar Nana Kencanawati terhadap pendemo MBG menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah pernyataan singkat di media sosial dapat berkembang menjadi isu besar. Ke depan, kehati-hatian dalam berkomunikasi di ruang digital menjadi hal penting agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun konflik di tengah masyarakat.
