(Foto: Instagram/@akuharusmati)
Buletinmedia.com – Kemunculan billboard promosi film Aku Harus Mati belakangan menjadi perhatian publik. Tidak hanya menarik perhatian masyarakat umum, materi promosi ini juga menuai sorotan dari kalangan profesional, termasuk psikolog. Pesan yang ditampilkan dinilai terlalu ekstrem untuk ruang publik karena berpotensi menimbulkan dampak psikologis, terutama bagi kelompok yang rentan.
Kalimat “aku harus mati” yang terpampang besar di ruang terbuka dinilai tidak sekadar menjadi bagian dari strategi promosi, tetapi juga membawa pesan yang dapat ditafsirkan secara berbeda oleh setiap orang. Dalam konteks tertentu, kalimat tersebut bisa dianggap biasa saja. Namun bagi sebagian individu, khususnya yang sedang mengalami tekanan mental, pesan tersebut dapat memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Psikolog Naomi Ernawati Lestari, M.Psi, menilai penggunaan kalimat tersebut di ruang publik memiliki risiko yang tidak bisa diabaikan. Ia menekankan bahwa ruang publik adalah tempat yang tidak memiliki batasan audiens, sehingga siapa pun dapat melihat pesan tersebut tanpa memahami konteksnya.
Menurut Naomi, kalimat dengan muatan emosional yang kuat seperti itu dapat memicu respons yang berbeda-beda. Sebagian orang mungkin hanya melihatnya sebagai bagian dari promosi film. Namun, bagi individu yang sedang mengalami depresi atau memiliki gangguan kesehatan mental, pesan tersebut bisa terasa sangat personal.
“Kalimatnya cukup keras dan riskan. Di ruang publik, orang melihat tanpa konteks. Bagi yang sedang tidak dalam kondisi baik, ini bisa terasa sangat dekat dengan kondisi mereka,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa bagi individu dengan kondisi psikologis tertentu, terutama mereka yang sedang berjuang dengan depresi atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, paparan kalimat seperti itu bisa menjadi pemicu. Dalam dunia psikologi, kondisi ini dikenal sebagai “trigger”, yaitu rangsangan yang dapat memunculkan atau memperkuat emosi negatif.
Lebih jauh, Naomi menyebut bahwa pesan tersebut bahkan bisa dianggap sebagai bentuk pembenaran atas pikiran negatif yang sudah ada sebelumnya. Alih-alih membantu, pesan tersebut justru berpotensi memperburuk kondisi mental seseorang.
“Dalam beberapa kasus, bisa terasa seperti validasi. Seolah-olah pikiran negatif yang mereka miliki itu benar. Ini yang berbahaya, karena bisa memperkuat dorongan untuk menyakiti diri sendiri,” ujarnya.
Dampak dari pesan semacam ini tidak hanya terbatas pada orang dewasa. Anak-anak juga termasuk kelompok yang rentan terhadap paparan konten visual dan verbal yang ekstrem. Menurut Naomi, penggunaan kata-kata keras serta visual yang menyeramkan dapat menimbulkan rasa takut, kebingungan, bahkan memengaruhi cara anak memahami konsep kehidupan dan kematian.
Anak-anak yang belum memiliki kemampuan berpikir kritis yang matang cenderung menyerap informasi secara mentah. Kata “mati” yang ditampilkan secara berulang dalam konteks yang tidak jelas bisa dianggap sebagai sesuatu yang biasa atau bahkan tidak menakutkan. Hal ini tentu tidak sehat bagi perkembangan psikologis mereka.
“Anak-anak bisa merasa takut atau justru menganggap hal itu sebagai sesuatu yang normal. Ini bisa memengaruhi cara mereka memahami emosi dan realitas,” tambahnya.
Dalam pandangannya, ruang publik seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi semua kalangan. Tidak hanya orang dewasa, tetapi juga anak-anak, lansia, hingga individu dengan kondisi kesehatan mental tertentu. Oleh karena itu, setiap pesan yang ditampilkan di ruang publik perlu mempertimbangkan dampak yang mungkin ditimbulkan.
Materi promosi, terutama untuk film dengan tema sensitif seperti horor atau psikologis, seharusnya dirancang dengan lebih hati-hati. Kreativitas memang penting dalam industri hiburan, tetapi tetap harus diimbangi dengan tanggung jawab sosial.
Naomi menekankan bahwa pelaku industri kreatif memiliki peran besar dalam membentuk persepsi publik. Setiap pesan yang disampaikan, baik melalui media digital maupun fisik seperti billboard, memiliki potensi untuk memengaruhi cara berpikir dan perasaan masyarakat.
“Kita memang tidak bisa mengontrol bagaimana orang merespons, tetapi kita bisa mengontrol apa yang kita tampilkan. Itu yang harus menjadi perhatian,” tegasnya.
Menurutnya, penting bagi para kreator untuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan dampak sebelum mempublikasikan sebuah materi promosi. Terutama ketika pesan yang digunakan berkaitan dengan isu sensitif seperti kematian atau kesehatan mental.
Respons terhadap billboard tersebut juga datang dari pemerintah daerah. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diketahui telah mengambil langkah dengan menurunkan sejumlah billboard yang dianggap kontroversial tersebut. Langkah ini dinilai sebagai bentuk respons cepat terhadap kekhawatiran yang muncul di masyarakat.
Naomi menilai keputusan tersebut sebagai langkah yang tepat. Ia menyebut bahwa semakin cepat materi yang berpotensi memicu dampak negatif dihilangkan dari ruang publik, maka semakin kecil pula risiko yang ditimbulkan.
“Semakin cepat diturunkan, semakin baik. Kita tidak pernah tahu siapa saja yang sudah melihat dan bagaimana dampaknya bagi mereka,” katanya.
Meski demikian, ia tidak sepenuhnya menolak keberadaan materi promosi semacam itu. Namun, ia menyarankan agar penempatannya dilakukan di ruang yang lebih terbatas dan terkontrol, bukan di ruang publik yang dapat diakses oleh semua orang tanpa batasan.
Misalnya, promosi bisa difokuskan di platform digital dengan segmentasi audiens yang lebih jelas, atau di lokasi tertentu yang memang ditujukan untuk penonton dewasa. Dengan demikian, risiko paparan terhadap kelompok rentan dapat diminimalkan.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa ruang publik bukan hanya tempat untuk menyampaikan pesan, tetapi juga ruang bersama yang harus dijaga keamanannya. Setiap konten yang ditampilkan di dalamnya memiliki konsekuensi yang perlu dipertimbangkan secara matang.
Di tengah berkembangnya industri kreatif, keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sosial menjadi hal yang semakin penting. Kreativitas tetap bisa berkembang tanpa harus mengabaikan aspek keamanan dan kenyamanan masyarakat.
Pada akhirnya, pesan yang disampaikan kepada publik seharusnya tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga aman bagi semua kalangan. Terutama dalam isu yang berkaitan dengan kesehatan mental, pendekatan yang lebih sensitif dan bijak menjadi sangat diperlukan.
Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, diharapkan ke depan semakin banyak pihak yang lebih berhati-hati dalam menyampaikan pesan di ruang publik. Karena apa yang terlihat sederhana, bisa saja memiliki dampak besar bagi orang lain yang sedang berjuang dalam diam.
Sumber : www.kumparan.com
